First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Maaf!


__ADS_3

Mommy Celine dan daddy Austin menghabiskan waktu mereka sampai siang hari.


Memang darah lebih kental daripada air, baru beberapa jam saja mommy Celine bertemu dengan Zayn dan Zefa, tapi Zayn dan Zefa sudah sangat lengket pada mommy Celine.


Yolla sudah berangkat ke kantor setelah menghabiskan sarapannya.


"Hallo, La! Mana baby sitter yang lo bilang mau datang hari ini? Gue sebentar lagi mau ke kantor nih, La." ucap Gita saat Yolla mengangkat panggilannya.


(Lho? Memangnya belum sampe juga dia, Git?) Yolla malah bertanya balik.


"Belum, La. Gimana dong? Satu jam lagi lho gue harus ke kantor," keluh Gita.


(Wait-wait, gue telpon yayasannya dulu, ya?)


"Ya udah cepetan, ya! Gue tunggu!" seru Gita.


(Iya, Git! Bye!)


Yolla pun mengakhiri panggilannya.


Mommy Celine dan daddy Austin yang mendengar percakapan Gita dengan Yolla pun menegurnya.


"Tasya! Kamu mau pakai jasa baby sitter?" tanya daddy Austin.


"Iya, Dad."


"Jangan! Baby sitter itu kebanyakan kalau tidak kita dampingi, nanti berbuat seenaknya pada anak-anak. Daddy lihat di berita ada yang pakai obat tidur segala hanya untuk menidurkan anak-anak. Daddy tidak mau cucu-cucu Daddy sampai kenapa-kenapa," tegas daddy Austin.


Gita pun terdiam menunduk mendengarnya, ia juga bingung bagaimana dengan anak-anaknya, sedangkan ia pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun daddy Austin selalu memberikan uang bulanan untuk Zayn dan Zefa, tapi Gita hanya menggunakannya untuk anak-anaknya saja, sedangkan untuk keperluan pribadinya ia selalu menggunakan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri.


Ia merasa tidak berhak menggunakan uang itu jika untuk keperluan pribadinya sendiri, karena ia sudah bukan siapa-siapa lagi untuk Zico.


"Sayang, boleh nggak? ... Eumm ... Kalaou Mommy bawa saja mereka ke rumah saja?" tanya mommy Celine hati-hati. Karena ia tahu betul hubungan Gita dengan putranya belum membaik. Namun, ia ingin mencoba membantu Gita menjawab larangan daddy Austin. Ia tahu pasti Gita bingung harus menjawab apa.


Gita pun masih diam saja, ia bingung harus menjawab apa, kalau ia biarkan anak-anaknya ke rumah Zico, pasti nanti anak-anaknya akan bertemu dengan Zico, ia bingung nanti harus menjelaskan apa pada kedua anaknya kalau tiba-tiba Zico mengaku sebagai daddy nya.


"Zico nggak ada di rumah, kok! Dia sekarang tinggal di apartemen, dia jarang sekali pulang ke rumah," ucap mommy Celine lagi. Seolah ia bisa membaca pikiran Gita.


"Tapi, Mom ...."


"Tidak ada tapi-tapi, Tasya! Biar Daddy dan Mommy bawa pulang saja mereka!" belum selesai Gita bicara, daddy Austin sudah memotongnya dan ucapannya pun sama sekali tak ingin di bantah.


Gita yang sangat tahu karakter daddy Austin pun hanya diam saja.


"Sayang, please?" mommy Celine memohon pada Gita dengan tatapan penuh harap sambil tersenyum dan memegang sebelah bahu Gita.


"Ya sudah, Mom, Dad ... Tapi apa tidak merepotkan Mami dan Papi?"


"Tentu saja tidak! Mommy sangat menantikan momen ini sejak Zico dan kamu berpa ...," mommy Celine segera menutup mulutnya saat sadar dirinya mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak di ucapkannya di depan Zayn dan Zefa.


Bukannya mommy Celine tidak ingin kedua cucunya tahu tentang Daddy nya, tapi ia sangat mengerti Gita pasti akan kesulitan saat menjelaskannya pada anak-anak.


"Mommy dan Uncle Zico kenapa, Genma?" tanya Zayn yang selalu saja merasa penasaran dengan sosok Zico. Apalagi saat bertemu dengan Zico ia merasa kalau wajahnya ada kemiripan dengan Zico.


"Ti-tidak, Sayang. Genma hanya salah bicara ... ayo, kita bersiap-siap, kalian mau kan main ke rumah Genma dan Genpa?" tanya mommy Celine mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mau-mau! Jepa mau, Genma!" teriak Zefa terlihat sangat antusias.


"Ya sudah, sekarang kalian siap-siap dulu sama Mommy kalian, ya? Genma dan Genpa tunggu di sini, Okay?" tutur mommy Celine.


"Baiklah, Genma!"


Zefa pun berlari ke kamarnya sambil menarik tangan sang mommy.


"Sayang, hati-hati dong! Jangan berlari!" tegur Gita sambil mengiringi langkah Zefa. Zayn pun mengikuti Zefa dan Gita ke kamarnya.


Setelah selesai bersiap-siap, mereka pun keluar dari apartemen Gita.


"Sayang! Ayo, sekalian kami antar," ajak mommy Celine.


"Enggak, Mom. Gita naik taksi online aja, kan kita beda arah, perusahaan tempat Gita kerja jauh Mom, sekitar 40 menit dari sini," tolak Gita, ia merasa tidak enak jika harus di antar oleh mommy Celine dan daddy Austin, karena memang ke perusahaan tempatnya bekerja itu berbeda arah dengan mansion milik keluarga William.


"Beneran nggak apa-apa kalau kamu naik taksi? Tapi kalau sudah sampai kamu call Mommy, ya?" pinta mommy Celine.


"Iya, Mom."


Mereka pun naik ke mobil daddy Austin, "Zayn, Zefa! Jangan nakal ya, Nak! Kalian harus patuh sama Genma Genpa, dan jangan sampai bertengkar, okay?" tutur Gita dari luar jendela mobil yang masih terbuka.


"Okay, Mom!" jawab Zayn dan Zefa serentak sambil melambaikan tangan mungilnya.


Pak Hendra supir pribadi daddy Austin pun melajukan mobilnya menuju kediaman tuannya.


Gita pun naik taksi online yang sudah dipesannya menuju perusahaannya.


BRUK!!!


"Maaf!" ucap Gita yang sedang mengambil dompetnya yang terjatuh.


Ternyata yang ditabraknya ternyata adalah seorang pria, pria itu ikut membungkukkan tubuhnya hendak mengambilkan dompet Gita yang terjatuh hingga dahi mereka pun terbentur.


"Aauuwww!!!" pekik Gita kesakitan sambil mengusap-usap dahinya yang terbentur.


"Sssst," pria itu pun mendesis merasakan hal yang sama. "Gita?" seru pria itu saat melihat wajah Gita yang sudah tidak menunduk lagi.


"Lo? Lo Vino 'kan?"


"Iya! Aku, Vino. Kamu ke mana aja? Udah lama kita nggak ketemu, kamu ngapain di sini? Kamu kerja di sini?" tanya Vino beruntun.


"Iya, gue kerja di sini, Vino. Tapi maaf banget ya, gue lagi buru-buru, gue ada meeting lima menit lagi! Bye, Vino!" sahut Gita kemudian melambaikan tangannya ke Vino sambil berlari.


Gita pun berlari masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang operasi.


"Enggak nyangka aku, Git. Ternyata kita satu tempat kerja sekarang," gumam Vino tersenyum senang sambil memandang Gita yang sedang berlari, ia sangat senang karena ternyata Gita bekerja di tempat yang sama, persis seperti apa yang ia impikan sejak SMA, sejak dia mengagumi Gita.


Dari lulus kuliah, Vino bekerja di perusahaan itu sampai saat ini.


***


Sore hari menjelang malam pukul enam, saat Gita sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya,


"Bu Gita, ada seseorang yang menunggu Anda di luar," ucap seorang staff di sana.

__ADS_1


"Siapa?" Gita bertanya balik mengerutkan dahinya.


"Saya tidak tau, Bu. Saya tidak mengenalnya, kan saya juga baru, Bu. Tapi sepertinya beliau orang penting,"


"Oh! Ya sudah," sahut Gita mengangguk. 'Siapa, ya?' gumam Gita dalam hati.


Setelah selesai Gita pun keluar dari ruangannya.


"Gita!" tegur Zico yang ternyata dia lah yang sejak tadi menunggu Gita. Ia berdiri di depan Gita sehingga menghentikan langkah kaki Gita.


Gita menatapnya sejenak, lalu melenggang pergi menghindari Zico.


"Git! Aku mau ngomong sama kamu, please?" Zico menarik pergelangan tangan Gita lalu menggenggam jemarinya.


"Maaf! Saya tidak ada waktu, Tuan!" Gita menepis tangannya dengan kasar sambil melangkahkan kakinya dengan cepat. Zico pun mengejarnya lagi menarik pergelangan tangannya lagi.


"Git! Kalau kamu nggak mau ngomong sama aku, Aku cium kamu sekarang juga!" ancam Zico berbisik pada Gita.


Gita mendengus kesal dan menatap kesal pada Zico.


"Mau ngomong di mana?!" ketus Gita sambil memutar bola matanya.


Zico pun tersenyum di buatnya, ternyata kelemahan Gita masih sama.


"Aku tunggu kamu di ruang meeting, ya?"


"Hemmm!!!"


Di dalam ruang meeting Zico sudah menunggunya sekitar 15 menit namun Gita tak kunjung menyusulnya. Zico pun bangkit dari kursi hendak mencari Gita. Namun, baru saja ia berdiri ternyata Gita sudah tiba.


Gita menghampirinya tapi ia menjaga jarak nya, ia tidak mau berada terlalu dekat dengan Zico, ia duduk di kursi yang berjarak 4 kursi dari kursi yang di duduki Zico.


"Gita," panggil Zico sambil mendekati Gita.


"Stop it! Anda di situ saja, Tuan! Jangan mendekati saya, Saya hanya ******, tidak pantas saya dekat-dekat dengan Anda!" cibir Gita dengan raut wajah yang tak ramah.


Mendengar ucapan Gita membuat Zico berlutut di hadapan Gita setelah menggeser kursi di sebelah Gita.


"Sayang! Please maafin, aku. Aku lepas kontrol kemarin. Aku terlalu cemburu melihat kamu sedekat itu sama Kenzo,"


"Cih ... Cemburu? Saya baru tahu ada orang cemburu sampai menghina saya seperti itu!" cibir Gita mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Git, aku mohon, Maafin aku, Gitu. Maafin aku. Aku cuma kesal, karena aku udah nunggu kamu begitu lama, terus tau-tau aku lihat kamu semesra itu sama Kenzo, udah gitu ada anak pula yang panggil kamu Mommy. Aku yakin siapapun yang melihat itu pasti akan beranggapan sama seperti aku! Iya, kan?"


"Ya! Memang semua orang beranggapan sama seperti kamu! Tapi selama ini aku selalu berharap kamu nggak sama seperti mereka! Karena seharusnya kamu tahu betul kita memang pernah melakukannya, kan? Tapi apa? Kamu lebih parah dari mereka! Kamu benar-benar menganggap aku cuma wanita rendahan, Zico!!!" teriak Gita sambil menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.


"Dan tadi kamu bilang apa? Mesra? Seperti itu aja kamu bilang mesra? Terus apa yang kamu pikirin tentang perasaan aku yang lihat dengan jelas di video itu kamu tidur berdua dalam keadaan telanjang di atas ranjang yang sama dengan Priscilla? Apa kamu pernah bayangin perasaan aku seperti apa saat itu, hah? Pernah nggak?!! Apalagi kamu bohongin aku, kamu bilang di pesta itu kamu nggak ketemu siapa-siapa, tapi ternyata kata Nadhira kamu ketemu sama Priscilla! Kamu udah bohongin aku Zico, kamu udah bohongin aku!!!" Gita menjerit, ia benar-benar meluapkan semua perasaan yang dipendamnya selama ini. Ia menundukkan kepalanya di atas meja dan menangis meraung-raung.


Zico pun ikut menangis sambil memeluk Gita dari belakang.


Tak ada yang bisa ia ungkapkan selain kata maaf. Apalagi setelah mendengar semua yang Gita ungkapkan tadi, benar-benar membuat rasa bersalah Zico pada Gita kian membesar.


"Lepas! Lepasin, Aku!" Gita mendorong perut Zico dengan kedua sikunya.


"Sayang, Maafin aku. Tolong maafin aku, aku nggak bisa kehilangan kamu lagi Gita, aku nggak bisa ..., " ucap Zico terisak memeluk erat Gita lagi yang sedang berdiri.

__ADS_1


Gita terus memberontak mencoba melepaskan pelukan Zico, namun Zico malah semakin mempererat pelukannya.


__ADS_2