
Sesampainya di rumah sakit, Sean bergegas pergi ke ruang HD, dia menanyakan kepada Suster yang baru saja keluar dari ruang HD.
"Permisi Sus! Apa Giselle masih HD di dalam?" Sean sengaja menanyakannya langsung to the point agar menemukan jawabannya, karena kalau ia menanyakan apa ada pasien yang bernama Giselle, khawatir Suster itu akan menutupinya karena sudah diberi pesan oleh Giselle.
"Oh, dia sudah pulang... Baru saja, sekitar 10 menit yang lalu." Jawab Suster itu.
DUARRRR!!!
Mendengar jawaban itu membuat hati Sean terasa sakit, sama seperti Nadhira dan Gita saat pertama kali mengetahuinya, hatinya merasa hancur berkeping-keping, bahkan netranya sudah mengembun saat ini.
"Okay, terimakasih Sus!" Ia pun berpamitan pada suster itu dan bergegas keluar rumah sakit dan masuk ke mobilnya, yang tadinya hanya mengembun sekarang buliran bening itu pun tumpah, mengalir tetes demi tetes, kali ini ia menyadari tentang perasaannya, ia merasa sangat takut kehilangan Giselle.
Sean bergegas melajukan mobil ke tempat kost Giselle.
Sesampainya di sana ia menelpon Giselle tetapi tidak ada jawaban, karena Giselle sedang tertidur.
Akhirnya Sean mencoba menelpon Nadhira.
"Hallo, Nad!"
(Iya Sean, kenapa?)
"Apa Giselle ada di kamar nya?"
(Ada kok, emang kenapa?)
"Nggak apa-apa, gue cuma pengen ketemu aja... Bisa tolong bilang Giselle nggak, Nad? Bilang dia gue ada di gerbang kost."
(Hah?? Lo di depan kost? Ngapain?) Seketika Nadhira membuka tirai jendela kamarnya, ternyata benar saja, Sean ada di sana sedang bersandar di mobilnya.
"Kan gue udah bilang gue mau ketemu Giselle, makanya cepetan lo kasih tau dia gue ada di sini ya." Tutur Sean.
(Iya iya!) Nadhira mematikan panggilannya.
Ia pun bergegas ke kamar Giselle yang tidak di kunci, karena Giselle sering tiba-tiba tidak sadarkan diri, jadi Gita dan Nadhira meminta Giselle untuk tidak pernah mengunci pintu kamarnya jika dia sedang sendirian di dalam, Bahkan Gita pun jarang sekali pulang ke asramanya, ia lebih sering menemani Giselle di kamar kost nya.
Ceklek...
"Sel... Jiah, dia tidur." Nadhira memanggilnya tapi ternyata Giselle sedang tertidur, ia mencoba membangunkan Giselle dengan menepuk-nepuk pelan bahunya.
"Sel... Sel.. Ada Sean Sel di depan, dia mau ketemu tuh sama lo." ujar Nadhira.
Melihat Nadhira yang terlihat tidak bergerak hanya diam saja, Nadhira menjadi panik, ia membalikkan badan Giselle yang sedang berbaring miring menjadi posisi terlentang, ia pun menepuk-nepuk pipi Giselle agak keras, tetap saja Giselle tidak bergerak, ia menjadi panik setengah mati melihat Giselle seperti ini, karena biasanya setelah melakukan HD pasti keadaannya membaik, tapi kenapa dia malah tak sadarkan diri seperti ini setelah menjalani Hemodialisa itu.
__ADS_1
Karena Gita tadi bergegas pulang setelah mengantar Giselle, ia pergi ke asramanya untuk mengambil bukunya yang tertinggal, jadi Gita belum sempat membahas tentang keadaan Giselle yang memburuk pada Nadhira.
Nadhira pun tak punya pilihan lain, ia berlari ke bawah hendak meminta tolong pada Sean, karena hanya Sean yang bisa menolong Giselle saat ini.
"Sean! Tolong, dong! Giselle pingsan! Tolong bawa dia ke rumah sakit ..." Teriak Nadhira sembari terisak.
"Pingsan?! Ya udah ayo antar gue ke kamarnya, Nad." Sean seketika panik.
"Ayo, lo ikut gue, Sean!"
Sean pun berlari mengikuti Nadhira, dengan gesit ia menggendong Giselle turun ke bawah dan membaringkan Giselle di mobilnya.
"Nad, lo gimana dong?" Sean bingung karena mobil sportnya itu hanya terdapat dua kursi saja.
"Gue gampang Sean, gue nyusul ya, kebetulan Alex lagi di jalan mau ke sini, Gue tunggu dia dulu, lo bawa dia ke rumah sakit Brawijaya ya, nanti di sana lo bilang aja dia pasiennya dr. Eric." Titah Nadhira.
Sean menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Sean menggendong Giselle ke ruang IGD, dan ia bilang pada perawat sesuai dengan yang Nadhira perintahkan tadi.
Setelah dr. Eric memeriksa keadaannya, ternyata Giselle dalam kondisi yang memburuk, jadi dokter meminta para perawat memindahkannya ke ruang ICU.
Saat Sean menyadari Giselle dibawa ke ruang ICU, tanpa sadar ia menitihkan air matanya, ia benar-benar sangat menyesal, kenapa tidak dari dulu ia menyadari perasaannya kepada Giselle, kenapa baru sekarang di saat Giselle sakit barulah ia merasakan takut kehilangannya.
"Dok, bagaimana keadaannya dok?" Tanya Sean.
"Kamu ada hubungan apa dengan pasien?" dr. Eric ingin memastikan dulu ada hubungan apa lelaki ini dengan pasiennya, karena baru pertama kali ini ia melihat Sean, tentu saja ia tidak bisa berterus terang tentang kondisi Giselle kepada sembarang orang.
"Sa.. saya.. saya pacarnya dok!" Ucap Sean asal, karena ia berharap kalau dokter bisa berterus terang padanya tentang kondisi Giselle.
"Oh!" Sahut dr. Eric singkat, 'Kalau memang benar dia pacarnya, kenapa baru kali ini dia mengantar Giselle?' gumam dr. Eric dalam benaknya.
"Dimana Gita?" Bukannya menjawab, dr. Eric malah bertanya menanyakan keberadaan Gita, karena yang paling sering mengantar Giselle menjalani HD adalah Gita, dan Gita lah yang saat ini menjadi wali dari Giselle.
"Gita sedang di jalan menuju kesini dok." Jawab Sean.
"Oh baiklah, kalau Gita sudah tiba di sini, minta tolong datang ke ruangan saya ya." Titah dr. Eric.
"Baik dok." Sahut Sean pasrah, karena dr. Eric benar-benar tidak ingin memberitahunya tentang kondisi Giselle.
Sean hanya duduk di kursi depan ruang ICU, karena Giselle belum diperkenankan untuk dijenguk.
Sekitar lima menit kemudian Gita tiba di rumah sakit bersama Zico, Nadhira dan Alex, tapi mereka tidak menemukan Giselle di ruang IGD maupun ruang HD, setelah menanyakannya pada Suster di ruang HD, barulah mereka bergegas ke ruang ICU, dan mereka melihat Sean yang sedang duduk di kursi tunggu sambil meremas rambutnya.
__ADS_1
"Sean! Gimana keadaan Giselle?" Tanya Nadhira dengan mata yang masih sembab, sebab sedari Giselle dibawa Sean ke rumah sakit, ia tak henti-hentinya menangis, saat Alex tiba baru lah ia menjadi sedikit lebih tenang.
"Gue gak tau! dr. Eric minta Gita ke ruangannya." Ketus Sean sambil melirik sinis pada Alex dan Zico bergantian, ia sangat kesal kedua sahabatnya itu menyembunyikan masalah serius seperti ini darinya.
"Ya udah ayo kita ke ruangan dr. Eric, Lo mau ikut gak, Sean?" Ajak Gita.
Sean hanya menganggukkan kepalanya.
Gita, Zico dan Sean pun beranjak ke ruangan dr. Eric, sedangkan Nadhira dan Alex lebih memilih menunggu Giselle.
Di ruangan dr. Eric...
"Permisi dok..." Sapa Gita.
"Ya.. Silahkan duduk." Sahutnya mempersilahkan duduk, ia melirik Sean.
"Ya dokter, bagaimana keadaan Giselle, dok?" Tanya Gita sembari menyeka air matanya.
"Dia... Keadaannya semakin memburuk Gita, saya harap saat ini orang tuanya harus tau kondisinya." Tutur dr. Eric.
"Tapi Giselle bersikeras tidak mau berterus terang pada orang tuanya, dok." Sahut Gita.
"Apa?! Jadi bukan cuma gue yang gak tau soal ini, Git? Bahkan orang tuanya pun gak tau tentang hal ini?" sentak Sean yang benar-benar tak mengerti kenapa Giselle seperti ini.
Gita hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya ampuun, Giselle!" Gerutu Sean lalu beranjak keluar dari ruangan itu, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Giselle.
Setelah selesai berbincang dengan dr. Eric, Gita dan Zico keluar dari ruangan itu, dan mendapati Sean sedang duduk di kursi depan ruangan dr. Eric.
"Git! Apa sebenernya alasan Giselle gak mau gue dan orang tuanya tau tentang hal ini?" Selidik Sean menatapnya tajam.
"Pertama, dia gak mau lo merasa kasihan sama dia! kedua, dia takut kalau orang tuanya tau tentang penyakitnya ini, dia pasti akan dibawa pulang oleh orang tuanya ke kampung halamannya, dan dia takut gak bisa ketemu lo lagi, Sean!" Ucap Gita dengan tegas.
Sean terbelalak mendengar penjelasan Gita, ternyata semua ini demi dia? Kemana saja dia selama ini yang tidak pernah menyadari ketulusan Giselle padanya, ternyata perasaan Giselle benar-benar begitu dalam padanya.
'Maafin aku Sel, ini semua salah aku!' Gumam Sean dalam batinnya dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Ia segera berlari kembali ke ruang ICU, ditatapnya Giselle dari balik kaca ruangan itu, memandang Giselle yang terbaring lemah, hati Sean semakin terasa sakit melihatnya, air mata pun terus mengalir dari sudut matanya.
Alex dan Zico begitu iba melihat Sean seperti itu, baru kali ini mereka berdua melihat Sean menangis, mereka pun memeluk sahabatnya itu.
Bersambung...
__ADS_1