
“Nggak usah, nanti kalau macet kita bisa telat.” Gita tetap ingin berangkat.
Zico bangun dari duduknya dan menarik tangan Gita ke kamar mandi dan mencari sesuatu di rak bawah wastafel.
Gita terkejut dan berpikir ‘Untuk apa dia menarikku ke kamar mandi , dan sedang mencari apa dia?’
Kemudian Zico menemukan hair dryer yang ia cari untuk mengeringkan rambut Gita.
“Kemarilah, aku keringkan rambut kamu.” Pinta Zico.
“Hah? Nggak apa-apa nggak perlu dikeringkan sayang, nanti juga dijalan kering sendiri.” Gita terkejut dengan perilaku Zico dan membuat jantungnya berdebar.
Zico memegang bahu Gita dan menghadapkan Gita ke cermin, dan mengeringkan rambut Gita dengan tangan kanan memegang hair dryer dan tangan kiri membelai rambut Gita.
“Mana mungkin bisa kering sendiri sayang, yang ada nanti kamu masuk angin.” Tegur Zico.
__ADS_1
Gita hanya diam tak menjawab, sentuhan jari-jari Zico yang mengenai kulit kepala Gita membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, jantungnya berdetak sangat cepat.
Awalnya ia menahan, tapi baru 3 menit ia sudah benar-benar tidak tahan dan segera membalikkan badan ingin pergi, tetapi yang terjadi ketika itu…
Gita malah tidak sengaja menabrakkan bibirnya ke bibir Zico karna pada saat Gita berbalik Zico sedangkan membungkuk mengeringkan rambut Gita bagian bawah.
Mereka sama-sama terkejut dengan mata yang sama-sama terbuka lebar saling memandang, mata Gita bertemu dengan mata Zico, bertahan selama lima detik.
Kemudian Gita tersadar dan segera mendorong Zico dan ingin segera pergi keluar dari kamar mandi itu.
Gita awalnya terkejut tidak membalas ciuman itu, tetapi ia merasakan bibir lembut Zico yang manis, Zico terus melu mat bibir tipisnya, Gita tidak dapat menahan hasratnya lagi, dan membalasnya melu mat bibir Zico dengan mengalungkan tangannya di leher Zico, bahkan ia membuka sedikit mulutnya hingga lidah mereka saling bertautan.
Zico tersenyum dan melanjutkan ciumannya dengan menekan tengkuk Gita agar ciumannya lebih dalam lagi.
Namun kali ini Zico kehilangan kendali, ia menginginkan yang lebih dari sekedar ciuman, Zico memasukkan satu tangannya ke dalam baju Gita, memegang gun dukan ke nyal di tubuh Gita, Gita terkejut membelalakkan matanya, ia segera tersadar dan melepaskan ciumannya.
__ADS_1
Gita mendorong Zico, ia segera keluar dari kamar mandi dan mengambil tas bergegas untuk berangkat ke sekolah.
Zico segera berlari menyusul Gita dan membukakan pintu mobilnya, Gita pun masuk ke dalam mobil.
Setelah ciuman itu Gita hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun, dengan bibir yang tertutup rapat dan manik mata yang memandang ke sisi jalan.
Didalam mobil sangat hening, Zico pun tidak tahu bagaimana cara memecahkan keheningan itu, ia tidak tahu harus bicara apa.
‘Kenapa Gita diam aja ya? Apa dia marah? Tapi kan tadi dia juga membalas ciuman itu, dia juga menikmatinya.’ Batin Zico.
Setelah tiba di sekolah, ketika Gita hendak turun, Zico menarik tangannya, ia merasa ada yang harus Gita jelaskan kenapa Gita hanya diam saja sejak tadi.
“Tunggu sayang! kamu kenapa sepanjang perjalanan cuma diam aja? kamu marah ya karna kissing tadi?” Tanya Zico penasaran apa benar itu yang membuat Gita marah.
“Tadi kamu udah keterlaluan, aku nggak suka!” Cebik Gita.
__ADS_1