First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kloningan Zico


__ADS_3

"Mereka anak gue, Sean," ucap Gita.


"Hah?" Sean tersentak membuka mulutnya.


"Mommy ... aku haus, Mom," Zefa merengek lagi.


"Oh iya, Sayang. Minta sama Bunda dulu ya, Nak. Soalnya di rumah ini belum ada air minum, rumah ini kan sudah lama kosong."


"Sini Zefa. Ini Bunda punya air minum, kamu minum punya Bunda dulu ya, Sayang," bujuk Yolla sambil berjongkok agar sejajar dengan Zefa.


"La, bisa minta tolong bawa anak-anak ke kamarnya dulu, nggak? Gue mau ngobrol sama Sean sebentar," pinta Gita.


"Iya, Git. Anak-anak Bunda, kita ke kamar kalian, yuk!" Yolla pun menuntun Zayn dan Zefa berjalan ke kamar ibunya Gita yang saat ini sudah didekorasi menjadi kamar anak-anak. "Ini dulu kamar Oma kalian, lho! Terus kemarin Bunda minta bantuan orang dekor kamar ini untuk kalian. Kalian suka 'kan?" tutur Yolla saat membuka pintu kamar itu.


"Gue nggak nyangka, La. Ternyata lo punya sisi keibuan juga," batin Sean yang sedang memandangi Yolla sambil tersenyum.


"Ekheum ..., " Gita yang melihat Sean terus memandangi Yolla sambil tersenyum pun menegurnya.


Sean pun seketika menoleh, daun telinganya bahkan memerah karena malu telah kepergok oleh Gita saat memandangi Yolla.


"Giselle apa kabar, Sean?" tanya Gita tiba-tiba.


"Dia udah married, Git," sahut Sean menundukkan pandangannya sambil memainkan jemarinya.


"Lo sama dia udah married?!" ucap Gita terkejut.


"Bukan! Bukan sama gue, Git. Dia married sama temen sekantornya," tutur Sean.


"Lho? Kan sebelum gue pergi kalian masih pacaran."


"Sekitar satu tahun setelah lo pergi, kita putus, Git."


"Tapi kenapa? Bukannya kalian langgeng-langgeng aja? Bertengkar aja hampir nggak pernah 'kan?"


"Entahlah, Git. Dia tiba-tiba minta putus dari gue dengan alasan ngerasa udah nggak cocok sama gue katanya,"


"Nggak mungkin kan kalau Giselle selingkuh?"


"Enggak, Kok. Dia baru jadian sama cowok yang sekarang jadi suaminya itu dua tahun setelah dia putus sama gue," jelas Sean.


"Ooh ... terus sekarang dia tinggal di mana?"

__ADS_1


"Entahlah, gue nggak tau kabar dia, Git. Coba aja lo tanya ke Nadhira."


"Enggak mungkin lah gue tanya dia."


"Lho? Kenapa?"


"Ya, belum saatnya aja."


"Oya, ngomong-ngomong anak-anak itu anak lo sama siapa, Git? Apa bener dugaan gue kalau lo itu married sama Kenzo?" tutur Sean penasaran.


"Coba deh, lo perhatiin Zayn, lo liat dia baik-baik, menurut lo muka dia mirip siapa? ... bentar ya, gue panggil dia dulu sebentar," Gita pun berdiri dan berjalan ke kamar ibunya yang sekarang sudah menjadi kamar anak-anaknya itu.


"Zayn ... sini sebentar, Nak," pinta Gita pada putra tampannya itu.


Zayn pun menurut, ia berjalan dengan tangan mungilnya yang digandeng Gita. Mereka berjalan menghampiri Sean yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Sean yang sedang memandangi wajah mungil Zayn yang tampan sedang berjalan ke arahnya pun tersentak melihatnya, ia membelalakkan matanya, ternyata Zayn adalah Zico junior, ia benar-benar seperti kloningan Zico sewaktu kecil. Jelas ia sangat hafal wajah Zico kecil, karena mereka memang bersahabat sejak mereka masih sekolah taman kanak-kanak


"Maksud lo? Mereka anak Zi ...," belum selesai Sean menyelesaikan kalimatnya, Gita meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sambil memejamkan matanya, memberi kode untuk tidak menyebutkan nama Zico di depan Zayn.


"Oh, Sorry!" lanjut Sean.


"Mommy, Uncle ini siapa?" tanya Zayn sambil mendongakkan wajahnya dengan mengernyitkan dahinya, menatap Gita yang sedang berdiri di sampingnya. Raut wajah dan tatapannya benar-benar datar dan dingin seperti Sean.


Zayn pun menurut, ia mencium punggung tangan Sean dengan raut wajah yang datar dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Walaupun sedari kecil mereka tinggal di luar negeri, tapi Gita selalu mengajarkan attitude dan budaya orang Indonesia kepada anak-anaknya.


"Oh, God! Dia beneran kloningan Zico. Sikapnya juga sama banget, kaya freezer! Ckck ... Mommy Celine pasti seneng banget kalau tau dia ternyata udah punya cucu, mana sekaligus dua pula ... Zi ... Zi ... pinter bener sih lo bikinnya sampe langsung jadi dua sekaligus,"  gumam Sean dalam batinnya sambil nyengir seperti kuda.


"Lo kenapa? Kok nyengir-nyengir gitu?" tanya Gita melihat ekspresi Sean.


"Hah? ... eng-enggaaaaak!" sahut Sean mengulum bibirnya.


"Uncle kenal dengan Uncle Zico tidak?" tanya Zayn tiba-tiba, membuat Gita dan Sean terbelalak sambil menatap.


"Sayang, kamu kok tau Uncle ... Zico? Kamu tau dari siapa?" tanya Gita yang terasa berat saat bibirnya akan menyebut uncle Zico, lidahnya pun terasa kelu, karena Zico bukanlah uncle nya, melainkan daddy nya yang selama ini selalu ditanyakan oleh Zefa.


Berbeda dengan Zefa, Zayn tidak pernah sekali pun menanyakan keberadaan daddy nya, karena ia tau pertanyaan seperti itu hanya akan membuat mommy nya menangis. Bahkan ia sering sekali memarahi adiknya, Zefa. Kalau Zefa sedang menanyakan tentang siapa daddy nya.


"Bunda Yolla, Bunda sama Uncle Ken pernah membicarakannya," tutur Zayn.


"Yolla!" pekik Gita dalam hati.

__ADS_1


Sean pun menjadi kikuk, ia tak tahu harus menjawab apa.


Yolla yang mendengar pembicaraan mereka dari kamar si kembar pun menenggelamkan kepalanya di bawah bantal, ia takut Gita marah.


"Bunda, bunda kenapa? Kok ngumpet?" tanya Zefa bingung.


"Enggak apa-apa, Sayang. Sini Zefa ikut ngumpet yuk sama Bunda," Yolla memeluk Zefa dan berbaring di atas ranjang Zefa, mereka selimutan sampai menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya.


Di ruangan keluarga, Zayn masih menatap Gita dan Sean bergantian, ia tak mengerti kenapa mommy-nya dan paman yang ada di hadapannya itu kesulitan menjawab pertanyaan semudah itu. Zayn pun memilih kembali ke kamarnya.


Di saat mereka saling menatap, ponsel Sean berdering.


"Waduh, Zico! Gue harus ngomong apa nih?" gumam Sean di benaknya.


"Iya, Zi!"


(Gimana, Sean? Apa udah ada hasil? Lo udah tau di mana Gita?) tanya Zico yang tak sabar menunggu kabar dari Sean.


"Gue ... Gue ...," Sean tak bisa melanjutkan perkataannya karena melihat Gita yang menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan tatapan memohon untuk tidak bilang pada Zico tentangnya.


(Gue kenapa? Lo kenapa jadi gagap begitu?) selidik Zico.


"Ekhemm ... Nggak apa-apa, Zi. Tenggorokan gue nih tiba-tiba nggak enak," bohong Sean.


(Oh! Terus gimana hasilnya?) Zico bertanya lagi.


"Gue belum dapet hasil apa-apa, Zi," bohong Sean lagi sambil melirik Gita. "Lenyap deh 1M, gue!"  batin Sean. Ia terpaksa merelakan 1M nya karena tidak tega melihat tatapan Gita yang begitu memohon, ia juga ingin mendengar lebih dulu alasan Gita kenapa ia masih tetap ingin bersembunyi dari Zico.


Gita pun bernafas lega setelah mendengar jawaban Sean.


(Beneran? Lo nggak lagi bohongin gue, kan?) selidik Zico lagi.


"Enggak lah, Zi. Mana berani sih gue bohongin Boss gue."


(Awas, lo! Kalau sampe gue tau lo bohongin gue, gua lempar lo ke laut!)


"Tega banget sih lo sama gue, Zi."


Tut... Tut... Tut...


Zico mengakhiri panggilannya sepihak.

__ADS_1


"Huh! Dasar Boss kejam!" gerutu Sean sambil memaki ponselnya.


"Boss? Lo kerja sama Zico?" tanya Gita.


__ADS_2