First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Diam Seribu Bahasa


__ADS_3

"Sepertinya iya, Sayang. Soalnya waktu itu aku lihat mobil itu seperti sedang menunggu momen yang tepat untuk mencelakai Zayn. Di hari-hari sebelumnya pun aku sering lihat mobil itu ada di dekat sekolah," terang Zico, lalu ia menatap Sean.


"Sean, La! Lo berdua pasti tau sesuatu tentang hal ini, 'kan?" tanya Zico, karena melihat mereka tadi beradu pandang.


Sean dan Yolla pun mengangguk lemah.


"Terus kalian udah tau siapa pelakunya?" tanya Zico lagi penasaran.


"Priscilla, Zi," sahut Sean menunduk.


Gita yang mendengarnya pun menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Sorry ya, Zi. Andaikan waktu itu gue nggak coba bujuk lo untuk meringankan hukuman dia, mungkin ini semua nggak akan pernah terjadi, Zi," tutur Sean yang benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Zico. Padahal ini tidak ada sangkut paut dengannya, memang Priscilla saja yang keterlaluan.


"What's? Lo ngapain pake minta Zico buat meringankan hukuman dia? Lo cinta sama si nenek sihir itu, hah?!" maki Yolla pada Sean. Yolla benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Sean membela Priscilla seperti itu.


"Bukan-bukan ... gue sama sekali nggak ada rasa sama dia, gue cuma kasian sama dia, La. Soalnya gue denger dari temen-temen sekolah dulu, katanya dia itu tinggal sama ibu sambungnya, terus dia suka di kasarin gitu sama ibu sambungnya kalo bokapnya dia lagi nggak ada di rumah. Makanya sifat dia jadi cenderung kasar kaya gitu, karena di rumahnya dia merasa tertekan. Jadi pelampiasannya ya gitu, suka jahatin orang," jelas Sean panjang lebar.


"Ah itu sih emang sifat asli dia yang jahat! Lo nya aja yang bego!" umpat Yolla pada Sean sambil menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja. Ia pun pamit pada mommy Celine dan daddy Austin kemudian pamit pula pada Gita dan melirik tajam pada Zico, lalu bergegas pulang meninggalkan Sean yang diam mematung.


Ia benar-benar kesal sekali mendengar Sean yang melindungi Priscilla seperti itu. Bagi Yolla, Priscilla adalah musuh bebuyutannya sejak dulu ia berkelahi dengan Priscilla karena Priscilla merundung Gita.


"Terus kamu kenapa nurutin kemauan Sean? Kamu tau betul kan jahat nya dia sama aku seperti apa? Kenapa dia nggak kamu laporin polisi aja saat kamu tau kalo dia menjebak kamu?" tanya Gita beruntun dengan wajah penuh amarah.


"Sayang, aku pikir dia tuh bisa berubah kalo udah dikasih pelajaran seperti itu. Sean udah memastikan kalo dia pergi ke New York waktu itu. Jadi aku pikir ya hidup kita udah aman karena dia jauh. Aku nggak tahu sejak kapan dia kembali ke indo," terang Zico panjang lebar.

__ADS_1


"Sudah-sudah ... Zico kan baru sadar, jangan membuatnya berpikir keras seperti itu, Sayang," sahut mommy Celine sambil menghampiri dan mengelus punggung Gita.


"Benar kata Mommy, lebih baik kita bahas masalah ini nanti saja setelah keadaan Zico pulih dan sudah diperbolehkan pulang," tegas daddy Austin menimpali. Yang tentu saja Gita tidak berani membantahnya. Namun hatinya masih benar-benar merasa sangat kesal pada Zico.


Gita yang tadinya bersikap naif dan selalu memaafkan kesalahan orang lain, sekarang ia benar-benar sudah merasa muak pada semua perbuatan Priscilla. Ia tidak bisa lagi mentolerir Priscilla yang hampir merenggut nyawa pria yang dicintainya.


"Aku ke bawah dulu, Mom. Cari makanan," pamit Gita sambil menggendong Zefa keluar dari ruangan.


"Sean, tolong ikutin Gita, ya!" titah Zico meminta tolong pada Sean.


Sean pun segera beranjak melangkahkan kakinya ingin menyusul Gita.


"Sean, Wait! Tolong mulai sekarang lo cari bodyguard buat jagain keluarga gue. Mulai sekarang, semua anggota keluarga harus didampingi bodyguard," titah Zico lagi.


"Okay, Zi," jawab Sean mengangguk kemudian ia pun melanjutkan langkahnya menyusul Gita dan Zefa.


Gita tidak menegur Sean sama sekali, ia hanya fokus membeli makanan sambil menuntun Zefa. Hatinya masih benar-benar merasa sangat kesal pada Sean dan Zico. Ia tak habis pikir, sudah dua kali Priscilla menyakiti Gita, tapi mereka malah membebaskan Priscilla yang akhirnya berujung dengan apa yang menimpa Zico, yang hampir merenggut nyawanya.


Setelah selesai ia segera ke atas untuk kembali ke ruangan Zico. Namun Gita benar-benar diam seribu bahasa. Tak sepatah kata pun ia berbicara dengan Zico.


Setelah mengantar Gita sampai ke ruangan Zico, Sean pun langsung kembali ke apartemennya. Ya, sejak bekerja dengan Zico ia mendapatkan fasilitas dari perusahaan, ia tinggal di apartemen yang sama dengan Zico. Hanya berbeda unit saja.


Gita membuka sebuah bungkusan yang ia beli di resto tadi. Setelah memberikan makanannya pada Zayn, Zefa, mommy Celine dan daddy Austin yang sedang duduk di sofa, Gita mendorong meja makan dan memposisikan nya tepat di depan Zico.


Ia pun membantu Zico untuk duduk, lalu membukakan bungkusan makanan yang di dalamnya berisi nasi merah dan capcay seafood favorit Zico, lalu meletakkannya di meja itu beserta alat makannya dan juga segelas air putih hangat. Ia melakukan itu semua tanpa bicara sama sekali. Kemudian ia meninggalkan Zico sendiri dan kembali ke sofa, menghampiri calon mertua dan juga anak-anaknya yang sedang menyantap makanan yang ia belikan.

__ADS_1


Zico benar-benar merasa sangat tidak nyaman karena didiamkan seperti itu oleh Gita. Padahal tadi sebelum membahas Priscilla, senyuman selalu terulas di wajah cantik Gita. Namun sekarang Gita hanya diam saja mengacuhkan dirinya.


"Sayang, kamu kok nggak makan?" tanya mommy Celine mengernyitkan dahi.


"Hmm? Gita nggak laper, Mom," sahut Gita singkat.


"Sayang, dari tadi mommy belum lihat kamu makan, lho! Masa iya nggak laper?"


"Kamu makan, ya? Biar mommy minta Hendri untuk membelikan kamu makanan," tutur mommy Celine sambil mengambil ponselnya di dalam tas.


"Enggak usah, Mom. Nanti kalo Gita udah laper, Gita makan, kok," tolak Gita.


Mommy Celine menghembuskan nafas panjang. Terkadang ia merasa kesal pada Gita karena sulit sekali untuk makan, apalagi sekarang tubuhnya menjadi bertambah kurus karena selama lima minggu Zico terbaring koma, dia benar-benar jarang sekali makan jika tidak dipaksa olehnya dan juga Yolla.


Namun, ia benar-benar tak bisa marah pada Gita, ia terlalu menyayangi Gita seperti putri kandungnya sendiri.


Mommy Celine pun menyadari kemarahan Gita pada Zico, karena Gita benar-benar tak berbicara sama sekali pada Zico.


"Sayang! Suapin," rengek Zico memasang wajah memelas. Sebenarnya ia malas makan, hanya karena Gita yang menawarkannya dan ia tak tega untuk menolaknya.


Mommy Celine tersenyum sambil menggeleng pelan melihat tingkah manja putra semata wayangnya itu pada Gita. Kepada mommy nya saja Zico tidak pernah se manja itu. Mommy Celine sangat tahu kalau Zico sedang mencoba menjinakkan Gita.


"Suapin bayi besar dulu sana," titah mommy Celine pada Gita sambil terkekeh pelan.


Gita pun terpaksa menghampiri Zico karena tidak berani membantah mommy Celine yang selalu bersikap lembut padanya.

__ADS_1


Gita mengambil makanannya dan menyuapkan makanannya pada Zico, masih diam seribu bahasa.


Sebenarnya Zico sudah tak tahan ingin membahasnya dengan Gita agar Gita tidak mendiamkannya terus seperti ini, namun ia memilih untuk membahasnya nanti saja saat orang tua dan anak-anaknya sudah pulang ke mansion.


__ADS_2