First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Harus Kuat


__ADS_3

Sean tak bergeming, ia tetap fokus mengemudikan mobilnya dengan tatapan yang terus lurus ke depan.


"Maafin gue, Git. Gue nggak tega kalo harus jelasin sama lo,"  lirih Sean dalam batinnya.


Kesal karena Sean tak kunjung menjawab pertanyaannya, Gita hanya diam saja sambil terus mengirim chat pada Zico.


Gita terus memandangi layar ponselnya, namun benar-benar tak ada jawaban sama sekali. Padahal biasanya Zico selalu cepat saat membalas pesannya. Tidak pernah lebih dari lima menit. Hati Gita semakin terasa perih dibuatnya.


Saat tiba di lobi rumah sakit lagi-lagi Gita bertanya pada Sean.


"Sean, kok ke rumah sakit ini? Siapa yang sakit? Apa daddy kambuh lagi?" tanya Gita beruntun sambil menatap ke sekitar rumah sakit.


"Lo turun dulu ya, Git. Gue mau parkirin mobil dulu," Sean malah mengabaikan segala pertanyaan Gita.


"Sean! Lo jawab dulu dong pertanyaan gue!" sentak Gita karena emosinya benar-benar sudah memuncak.


"Git, lo turun dulu sebentar aja ya, nanti setelah lo masuk ke dalam, lo bakal tau," bujuk Sean.


Gita pun turun dari mobil dan menunggu di lobi. Setelah Sean memarkirkan mobilnya ia pun mengajak Gita menuju ruang operasi.


"Sean, kenapa kita ke sini? Siapa yang lagi di operasi?" tanya Gita menghentikan langkahnya saat keluar dari lift.


Ia berdiri mematung di depan lift sambil mengedarkan pandangannya, di sana ia melihat ada Miss Cantika, kedua buah hatinya, mommy Celine dan juga daddy Austin. Hanya Zico yang tak ada di sana.


"Git, Ayo!" seru Sean menarik pergelangan tangan Gita yang kemudian ditepis kasar olehnya.


Dengan langkah gontai dan netranya yang mengembun, ia menghampiri wajah-wajah tak asing yang berada di depan ruang operasi itu.


Melihat Zico tak ada di sana, air mata Gita begitu cepat meluncur dari kelopak matanya.


"Mom ... Zico mana, Mom? Kenapa Zico nggak ada di sini? Terus kalian ngapain di sini?" lirih Gita pada mommy Celine dengan air mata yang terus meluncur di wajahnya.

__ADS_1


Mommy Celine dan daddy Austin pun menatap Sean penuh tanya, dan Sean membalasnya dengan menggelengkan kepala, menandakan kalau ia belum memberitahu tentang Zico.


Seketika mommy Celine berhambur memeluk Gita.


"Kamu yang tenang ya, Sayang. Everything's is gonna be okay ... and now, kita berdoa saja semoga operasinya lancar, hmm?" tutur mommy Celine menangis sambil menangkup wajah Gita.


"Mak-Maksud, Mommy? Siapa yang operasi, Mom? Bu-Bukan Zico kan, Mom?" tanya Gita memastikan.


"Mommy ... maaf ... Zayn minta maaf, ini semua gara-gara Zayn, Mom," ucap Zayn terisak menghampiri Gita.


"Maksud Zayn apa? Miss Cantika, apa maksud Zayn? Tolong jelasin dong! Jangan cuma pada diam!" teriak Gita dengan wajah yang merah padam.


Akhirnya Miss Cantika pun menjelaskannya secara detail tentang kejadiannya. Setelah mendengar penjelasan Miss Cantika, seluruh tubuh Gita gemetar dan terkulai lemas hingga tergeletak duduk di atas lantai. Lututnya terasa sangat lemah, tak mampu untuk berdiri tegak.


Netranya menatap kosong dengan bulir bening yang terus mengalir. Bayangan wajah tampan Zico yang terlihat sangat bahagia ketika Gita bersedia untuk menikah secepatnya dengannya pun terlintas di benak Gita.


Ciuman di kening saat tadi pagi sebelum ia turun di halte dekat kantor pun masih begitu terasa hangat di dahinya.


Zayn dan Zefa pun menghampiri dan memeluknya begitu erat. Mereka bertiga berpelukan erat sambil terisak.


Semua yang ada di ruangan itu pun ikut menitihkan air mata saat melihatnya.


Yolla datang karena tadi Sean menelpon ke kantornya saat sedang memarkirkan mobil di halaman parkir. Sean berpikir untuk mengabari Yolla, karena ia pikir mungkin Yolla bisa membuat Gita sedikit lebih tenang. Karena ia belum mendapatkan nomer ponsel Yolla yang baru, jadi ia memutuskan untuk menelpon ke kantornya saja. Setelah di telepon Sean, Yolla pun bergegas pergi ke rumah sakit.


Saat ini Yolla baru saja sampai, saat keluar dari lift ia berlari kecil menghampiri Gita dan memeluknya.


"La ... Zico La ... Zico ...." Gita benar-benar terisak di pelukan Yolla.


"Git, don't worry ... everything is okay ... Zico pasti kuat melalui semua ini ... Lo nya juga harus kuat, ya. Jangan lemah seperti ini di depan anak-anak, kasian mereka," bisik Yolla mencoba menguatkan Gita sambil mengusap-usap punggung Gita.


Gita pun melepaskan pelukannya dan menatap nanar pada kedua buah hatinya. Ia segera menyeka pipinya yang basah, dan mencoba mengulas sedikit senyuman. Ya, walaupun terlihat sangat memaksa. Ia harus memaksa dirinya sendiri untuk kuat menjalani musibah ini demi sang buah hati.

__ADS_1


Gita menelepon kedua baby sitter yang merawat kedua buah hatinya untuk menjemput Zayn dan Zefa ke rumah sakit, agar anak-anaknya bisa beristirahat dengan nyaman di mansion.


Walaupun awalnya Zayn menolak, tapi akhirnya ia menurut juga untuk dibawa pulang.


Setelah memakan waktu kurang lebih lima jam lamanya, akhirnya operasi Zico telah selesai. Gita segera menghampiri dokter Gerald yang keluar dari ruangan itu lebih dulu.


"Kak, gimana keadaan Zico? Operasi nya lancar, kan? Dia baik-baik aja kan, Kak?" tanya Gita beruntun dengan wajah yang sangat terlihat panik.


Dokter Gerald tersenyum pada Gita dan mengacak sedikit rambut di pucuk kepala Gita.


"Operasinya lancar, kok. Kita berdoa aja semoga kesadaran Zico bisa cepat kembali, ya," jawab dokter Gerald.


Mereka semua bisa bernafas lega juga pada akhirnya.


Setelah proses operasi benar-benar telah selesai, mereka membawa Zico ke ruang ICU, karena memang kondisi Zico yang belum terlalu stabil.


"Kak, apa aku boleh masuk sekarang?" tanya Gita pada dokter Gerald dengan tatapan memohon penuh harap.


"Iya, kamu masuk aja, Git. Jangan lupa pake APD dulu, ya?"


"Baik, Kak!" Gita pun bergegas masuk ke ruangan ICU. Setelah memakai APD nya, Gita berjalan dengan langkah gontai dan tangan yang gemetar sambil menatap tubuh Zico yang terbaring di brankar-nya.


Gita menggenggam jemari Zico dengan lembut, menatapnya sendu sambil mencoba mengukir senyuman indah untuk Zico walaupun memaksa.


"Zi ... kamu cepetan bangun ya, Sayang. Katanya kamu mau nikah cepet sama aku, dua hari lagi kita nikah lho, Sayang. Kamu bangun, ya? Aku kangen banget sama kamu," tutur Gita tersenyum namun air matanya tak bisa tertahan lagi, air matanya meluncur bebas di pipinya.


Gita terus memandangi kelopak mata Zico yang masih tertutup rapat, berharap Zico akan segera membuka matanya. Namun ternyata tidak ada pergerakan sama sekali pada kelopak matanya.


Gita kecup punggung tangan Zico berkali-kali, tetap tidak ada pergerakan juga. Zico sama sekali tidak merespon untuk menggerakkan jemarinya.


Rasa sesak yang sedari di tahannya pun akhirnya memuncak. Gita menundukkan pandangannya dan terisak.

__ADS_1


__ADS_2