
Melihat Giselle diam saja, Sean pun kembali mengajaknya ke rumah sakit, "Ayo, Sel! Atau kamu beneran mau aku gendong?"
Saat kebingungan harus bertindak apa, Seolah Dewi fortuna benar-benar berpihak pada Giselle, Dewi Fortuna itu adalah Gita, ia melihat Gita datang dengan Zico menghampirinya.
"Git, antar aku ke rumah sakit yuk, aku mau check up, kayanya aku mau flu, Git," bohong Giselle memberikan kode pada Gita melalui tatapan matanya.
"Oh gitu! Ya udah ayo, Sel. Aku antar!" sahut Gita ikut berakting.
"Aku ikut ya, Sel? Kamu naik mobil aku aja, lagian kamu nggak akan muat di mobil Zico, Sel. Kan cuma dua kursi," tutur Sean mencari alasan, ia benar-benar khawatir pada Giselle dan ingin sekali pergi menemaninya ke rumah sakit.
Zico menunjukkan kunci mobilnya pada Sean, Sean yang hafal semua mobil beserta remotnya yang dimiliki Zico pun mengerti, Zico ternyata membawa mobil Audi E-Tron Sportback yang dimilikinya, yang mempunyai empat kursi. karena Gita yang memintanya untuk mengantar Giselle ke rumah sakit, karena hari ini memang jadwalnya Giselle untuk melakukan HD.
Sean tak tahu harus bicara apa lagi, tapi ia tetap memaksa ingin mengantar Giselle.
"Git, lo mending jalan aja sama Zico, Giselle biar gue aja yang bawa ke rumah sakit, ya?" pinta Sean dengan wajah penuh harap pada Gita.
Sebenarnya Gita tak tega melihat Sean memohon seperti itu, tapi karena ia melihat wajah Giselle yang bertambah pucat itu menggelengkan sedikit kepalanya, akhirnya Gita pun menolaknya dengan tegas.
"Enggak bisa! Gue aja yang antar, ayo, Sel!" Gita merangkul bahu Giselle dan menuntunnya berjalan, meninggalkan Sean dan Zico yang masih berdiri mematung, baru saja Zico akan melangkahkan kakinya menyusul Gita dan Giselle, Sean menarik lengan Zico.
"Zi, tunggu!" pinta Sean.
Zico hanya berbalik dengan menyatukan alisnya.
"Zi, lo tau nggak sih kenapa Giselle seperti menjauhi gue?" tanya Sean, berharap Zico tau jawabannya dan akan memberitahunya.
Zico hanya menggendikkan bahunya dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah, kemudian ia melanjutkan,
"Sean, gue mau tanya deh sama lo! Lo itu sebenernya suka apa nggak sih sama Giselle?" tanya Zico menatap Sean serius.
"Gu ... Gue ... Gue juga nggak tau, Zi." Lirih Sean menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Mending lo pikirin baik-baik tentang perasaan lo, deh. sebelum lo menyesal nantinya."
Zico menepuk bahunya dan meninggalkan Sean untuk menyusul Gita dan Giselle.
"Maksud lo apa, Zi?" teriak Sean yang penasaran maksud dari perkataaan sahabatnya itu, Zico tidak menatap hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Sean.
Sean memutuskan untuk pulang ke rumahnya, ia berpikir keras tentang maksud dari perkataan Zico, tetapi sampai tertidur di ranjangnya pun ia masih belum menemukan jawabannya.
***
Di ruang HD rumah sakit...
"Sel, apa nggak sebaiknya Sean tau aja, Sel? Sepertinya dia udah mulai suka sama kamu deh, tadi aja dia terlihat khawatir banget." terang Gita.
"Nggak, Git. Dia nggak perlu tau, aku nggak mau dia tau kondisi aku yang lemah seperti ini." Ucap Giselle menitihkan air matanya, membuat Gita tak sanggup membujuk Giselle lagi, Gita lekas menyeka air mata Giselle.
Sebenarnya sangat sulit berada di posisi Gita, kedua wanita yang Sean sukai adalah sahabatnya, ia tak bisa berpihak pada salah satunya, ia hanya berharap Sean dapat mengikuti kata hatinya untuk menentukan siapa yang diinginkannya untuk berada di sisinya.
Saat ini Giselle sedang tertidur, Suster masuk ke ruang HD meminta Gita dan Zico untuk datang ke ruangan dokter yang menangani Giselle.
"Selamat sore, dok!" sapa Gita saat memasuki ruangan dr. Eric.
"Sore... Kalian teman dari Giselle, ya?" tanya dr. Eric.
"Iya, dok. Benar, kami sahabatnya." sahut Gita.
"Apa keluarga Giselle sudah mengetahui kondisi Giselle saat ini?" tanya dr. Eric lagi, karena ia tidak pernah melihat keluarga Giselle mendampinginya saat sedang melakukan HD.
"Sepertinya belum, dok." sahut Gita, ia juga sering sekali membujuk Giselle untuk berterus terang pada orang tuanya yang berada di kampung halamannya di kota Makassar, tapi Giselle bersikukuh tidak ingin orang tuanya tahu tentang penyakitnya. Karena jika orang tuanya tahu tentang ini semua, hati orang tuanya pasti akan sangat hancur, dan Giselle akan dibawa pulang ke kampung halamannya, sedangkan ia tidak ingin berhenti kuliah, ia juga tidak sanggup pergi jauh dari Sean, walaupun ia sering menghindari Sean, tapi diam-diam Giselle sering memandangi Sean dari Jauh.
Selama Gita dan Nadhira tahu tentang penyakit Giselle, Gita lah yang selalu membiayai rumah sakit Giselle, karena terakhir Giselle pingsan itu karena tidak menjalani HD, karena ia sudah kehabisan uang untuk menjalani pengobatan, ia tidak bisa meminta pada orang tuanya karena takut orang tuanya curiga.
__ADS_1
Kebetulan Gita mempunyai tabungan dari peninggalan Sophia, dan juga setiap bulannya ia selalu mendapat transferan dari Austin papi nya Zico.
Melihat dokter yang menghela nafas dengan kasar, membuat Gita penasaran kenapa dokter memanggilnya, ia pun bertanya lagi pada dr. Eric.
"Apa kondisi Giselle membaik, dok?"
"Maaf, tapi keadaannya memburuk, Giselle harus mendapat donor ginjal yang cocok dalam waktu dua bulan ini, kalau tidak ...," dr. Eric menggantung kalimatnya.
"Dok, saya mau menyumbangkan ginjal saya untuk Giselle, dok. tolong cek saya aja, dok. siapa tahu ginjal saya cocok dengan Giselle." ucap Gita menitihkan air matanya, terang saja ucapan Gita ini membuat Zico tersentak, ia tidak ingin Gita mendonorkan ginjalnya.
"Enggak, dok! Gita nggak boleh mendonorkan ginjalnya, saya akan meminta bantuan Uncle saya dr. felix william untuk menemukan pendonor yang cocok untuk Giselle." Zico yang sedari tadi tak bersuara pun akhirnya mengeluarkan suaranya, karena tak rela kalau Gita menjadi pendonor.
"Tapi, Zi ...," belum selesai Gita menyelesaikan kalimatnya, ia sudah disentak oleh Zico.
"Diam!" sentak Zico tak ingin dibantah dengan mode kulkasnya itu, membuat Gita hanya bisa menundukkan pandangannya.
"Oh, kamu keponakan Profesor Felix?" Tanya dr. Eric terkejut kalau Zico ternyata keponakan dari Professor Felix, beliau adalah dokter pengawasnya dr. Eric saat menjalani Koas dulu.
"Ya!" Jawab Zico singkat.
Melihat ekspresi Zico seperti itu, dr. Eric tidak berani melanjutkan lagi, ia hanya menebak sendiri di benaknya kalau Zico ini anak dari Austin William, CEO tersukses se-Asia, yang juga merupakan satu-satunya saudara kandung dari Prof. dr. Felix William.
***
Di kamar Sean...
Sean terbangun dari tidurnya, ia masih saja kepikiran tentang perkataan Zico, lalu ia terbayang wajah pucat Giselle tadi, ia pun berpikir kalau Giselle sepertinya tidak hanya sakit flu biasa.
Tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan Kenzo di telpon saat malam itu, karena telponnya di loud speaker oleh Alex, jadi Sean sangat mengingat jelas kata-kata Kenzo saat itu, ia ingat kalau Kenzo melihat Gita dan Nadhira di depan ruang HD, lalu di mana Giselle? Apa mungkin yang sedang melakukan HD itu adalah Giselle? Itulah yang ada di benak Sean, ia pun bergegas pergi ke rumah sakit Brawijaya untuk memastikan dugaannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1