
"I-Iya... Aku yang kemarin ke sini, Aku... Eumm... Aku kemarin... sakit perut! Ya benar! Sakit perut, makanya aku buru-buru pergi ke toilet. Hehe.." bohong Yolla, entah apa yang ada di pikirannya sampai menemukan alasan konyol seperti itu.
"Pfffftt.." Gita menahan tawanya karena mendengar alasan konyol sahabatnya itu, ternyata sifat konyol Yolla masih belum hilang sampai saat ini.
"Oh! Memangnya kamu siapa?" tanya Giselle lagi.
Yolla menghampirinya dan memeluk Giselle.
"Aku... Aku Yolla, Sel!" Ucapnya masih dalam posisinya memeluk Giselle.
Degh!
Giselle mematung, tapi jantung Giselle terasa bergemuruh, detak jantungnya terasa tak karuan dan hatinya merasa sakit mengingat momen kemarin saat Yolla melihat dirinya sedang berpelukan dengan Sean. Ia sangat yakin kala itu Yolla pergi karena tidak tahan menahan rasa perih di hatinya, sebab ia melihat betul bagaimana kedua netra Yolla mengembun kemarin.
Tapi di saat tersadar dari lamunannya, ia menatap Gita yang sedang berdiri di hadapannya, ia sampai saat ini pun belum pernah memberi tahu kepada Gita maupun Nadhira tentang dirinya yang sudah mengetahui tentang masa lalu Yolla dan Sean.
Ia mencoba tersenyum walupun terlihat memaksakan dan melepaskan dirinya perlahan dari pelukan Yolla.
"Kapan kamu datang, La?" Ia mencoba membuka obrolan itu.
"Kemarin! Saat tiba di bandara aku langsung memutuskan untuk datang ke sini, aku udah kangen banget soalnya sama Gita, sekalian juga aku mau ketemu kamu sama Nadhira, kita kan cuma kenal lewat telpon aja selama ini." Tutur Yolla yang terlihat ceria, padahal tidak dengan hatinya yang terasa sedang dicabik-cabik saat melihat adegan Sean tadi yang menyuapi Giselle, Apalagi saat ini ada Sean di sisi Giselle.
Tetapi Yolla sama sekali tak menegur Sean, Begitu pula dengan Sean yang enggan untuk menegur Yolla, karena demi menjaga perasaan Giselle yang sudah mengetahui masa lalunya dan juga Yolla.
"Oya! Maaf banget ya kemarin buahnya malah jatuh dan nggak aku beresin pula, itu aku bawain lagi buahnya, Kamu mau makan apelnya nggak? Biar aku kupasin!" Seru Yolla lagi.
"Ppfffft..." Gita menahan tawanya lagi, kemudian melanjutkan menggodanya, "Sejak kapan Princess Yolla bisa pegang pisau, hah?"
"Gue bisa kok!" jawab Yolla mengerucutkan bibirnya sambil berjalan mengambil pisau yang terletak di meja dan mencoba mengupas buah apel yang di ambilnya dari parsel buah yang ia bawa.
Saat Yolla baru ingin mengupasnya, tiba-tiba saja Sean mengambil apel dan pisau yang ada di tangan Yolla, ia sangat tahu kalau Yolla benar-benar tak bisa menggunakan pisau.
"Biar gue aja yang kupas!" ucap Sean dengan sikap dingin pada Yolla.
Semua di ruangan itu terdiam melihat sikap Sean.
Melihat Sean bersikap seperti itu padanya membuat hatinya terasa perih lagi seperti luka tersayat yang di siramkan oleh alkohol, terasa amat perih, tapi dirinya berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan rasa sakitnya itu, ia mencoba tersenyum.
"Oya! Nadhira dimana? Gue mau ketemu dia juga, Git!" Seru Yolla, mencoba memecah keheningan di ruangan itu.
"Dia lagi di jalan, La! Sebentar lagi juga sampai." Sahut Nancy.
"Oh! Ya udah, Aku ke toilet sebentar ya, Sel!" pamit Yolla tersenyum, ia beranjak dari ruangan itu dan pergi ke toilet yang kemudian disusul oleh Nancy.
Gita sangat tahu tujuan Yolla pergi ke toilet bukan karena ingin buang air kecil, melainkan karena ingin menumpahkan rasa sakitnya.
__ADS_1
Di dalam ruangan Giselle...
"Gue beli minum dulu ke bawah ya, Sen!" pamit Zico mencari alasan, padahal sebenarnya ia malas menjadi obat nyamuk di ruangan itu. Sungguh egoisnya Zico, padahal dulu saja Sean sering sekali menjadi obat nyamuknya.
Setelah Zico keluar Giselle menanyakan apa yang sangat ia tanyakan pada Sean, hal yang membuatnya sangat penasaran.
"Sean! Beneran dulu Yolla yang nolak kamu?" tanya Giselle tiba-tiba, karena dari apa yang Sean ceritakan sangat berbeda dengan yang ia perhatikan saat bertemu Yolla.
"Beneran, Sayang! Kalau kamu nggak percaya tanya aja sama Gita atau Zico." Jawab Sean.
"Tapi kok kalau aku lihat dia seperti kelihatan sedih banget matanya setiap ketemu kamu? Kemarin gitu, tadi juga begitu," tanya Giselle lagi.
"Sedih apanya sih? Dia aja ketawa-ketawa gitu kok tadi." kilah Sean, padahal dirinya sendiri pun merasakan hal yang sama.
"Tapi Sen..."
"Sssst!"
Belum selesai Giselle menyelesaikan kalimatnya tetapi Sean sudah menghentikannya dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Giselle yang membuat Giselle tidak melanjutkan kembali kalimatnya itu.
"Udah ya, kamu stop pikirin hal-hal yang nggak penting, kamu fokus aja sama kesehatan kamu ya," Tutur Sean membelai pipi Giselle dengan ibu jarinya.
"Tapi, beneran kamu sayang sama aku? Bukan hanya karena sekedar kasihan sama kondisi aku kan? " lirih Giselle.
"Ya ampun! Ya nggak lah, Sayang! Aku beneran sayang sama kamu, cuma aku baru sadar tentang perasaan aku tuh waktu tau kamu sakit. Kamu tenang aja ya, Aku bener-bener udah nggak ada perasaan apapun kok sama Yolla." Imbuhnya, lantas memeluk gadis yang kini sangat dicintainya.
Yolla bergegas masuk ke salah satu bilik toilet, di situlah ia menumpahkan segala kepedihan yang sedari tadi ia tahan.
Ia menangis terisak sembari menutup mulutnya agar tak ada yang mendengar isakannya, sedangkan air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi wajah cantiknya itu.
"La! Lo baik-baik aja kan?!" panggil Gita dari balik pintu bilik toilet.
Mengetahui ada Gita yang ternyata menyusulnya, Yolla pun segera menyeka air matanya, ia tarik dan buang nafas perlahan berkali-kali, mencoba membuat dirinya merasa agak sedikit lebih tenang. Ia memilih menahan perih yang ia rasakan saat ini, sebab ia sudah berjanji pada Gita untuk mencoba move on dari Sean.
Setelah dirinya merasa lebih tenang, Yolla pun membuka pintu nya dan memasang senyum palsu di depan Nancy.
Gita sebenarnya tahu kalau Yolla pasti habis menangis karena sangat terlihat dari matanya yang sembab, tetapi ia lebih memilih berpura-pura tidak tahu saja agar Yolla tak merasa sedih lagi.
"Ayo kita ke kamar Giselle lagi, Nadhira sepertinya udah datang deh!" Ajak Gita sambil memeluk lengan Yolla yang kemudian dibalas anggukkan oleh Yolla.
'Gue tau hati lo pasti sakit banget, La! Gue yakin suatu saat nanti lo pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari Sean, La!' Gumam Gita dalam batinnya.
Ia merasa sangat kesal pada sikap Sean yang terlihat agak kasar pada Yolla tadi saat merampas apel dan pisau itu dari tangan Yolla.
Yang membuat Gita lebih kesal lagi karena Sean tidak menyapa Yolla satu kata pun, Jangankan menanyakan kabar Yolla, menyapa pun tidak.
__ADS_1
Saat ini ia rasanya ingin sekali memaki Sean, emosinya yang selama ini ia tahan seolah ingin ia luapkan semuanya pada Sean. Ya, dia sudah bertekad untuk berbicara empat mata dengan Sean nanti.
Saat Yolla dan Gita masuk ke kamar Giselle, Gita tak melihat keberadaan Zico, ia pun menanyakannya kepada Giselle.
"Sel! Kemana Zico? Kok nggak ada?"
"Oh! Tadi dia bilang katanya mau ke bawah beli minum, Git!"
"Oh... Ya udah kita duduk di sofa aja yuk, La!" Ajak Gita masih memeluk lengan Yolla.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
"Hei, Nad! Sini-sini!" Seru Gita melambaikan jemarinya saat melihat kedatangan Nadhira dan Alex.
"Lho? Ada tamu ya?" Ucap Nadhira sembari berjalan menghampiri Gita dan Yolla.
"Ayo tebak ini siapa coba?" Gita ingin tahu Alex mengenal Yolla atau tidak dengan penampilan Yolla yang sekarang ini.
"Wait.. Wait!!! Kok kaya nggak asing ya?" Seru Alex sambil menunjuk Yolla dengan jari telunjuknya. "Tapi siapa ya?" Kemudian Alex menggaruk alisnya yang tak gatal.
"Tebak sendiri! siapa coba?" goda Gita yang senang sekali membuat Alex penasaran.
"Ah! Gue nyerah, Git!" kesal Alex tak bisa mengingat siapa sosok gadis modis yang ada di depannya itu.
"Yolla!!!" pekik Gita tertawa.
"What's?" teriak Alex dan Nadhira serempak, Alex tak menyangka gadis berpipi chubby itu sudah berubah menjadi gadis berwajah tirus dan terlihat stylish, nampak seperti idol-idol K-Pop.
Sedangkan Nadhira terkejut karena tak menyangka ternyata sosok Yolla yang selama ini hanya ia kenal lewat telpon terlihat begitu cantik dan stylish.
"Serius ini lo, La? Pipi lo hilang kemana? di sedot bule? Ahaha," Alex terkekeh, tak menyangka ternyata gadis modis yang ada di hadapannya ini adalah Yolla yang dulunya chubby dengan penampilan yang apa adanya.
"Aiishh! Sial, Lo!" balas Yolla tertawa.
"Hai, La! Gue Nadhira!" dengan girang Nadhira yang sedang berdiri di hadapannya itu mengulurkan tangannya mengajak Yolla berjabat tangan, dan seketika Yolla pun berdiri dan menarik tangan Nadhira dan memeluknya.
Mereka pun berbincang dan bersenda gurau di ruangan itu, yang tadinya ruangan itu hening menjadi terdengar ramai.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Terdengar suara getar dari ponsel Yolla.
"Hallo, Mike?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...