
Sean membuka jas-nya dan meletakkannya di sandaran sofa.
"Kamu mau minum apa, Han?" tanya Yolla dengan suara yang terdengar sangat kelelahan.
"Honey, kamu kelihatan capek banget. Kamu istirahat aja, ya. Nanti kalau aku mau minum aku bisa ambil sendiri, kok," tutur Sean.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Yolla dengan mata yang tidak dapat terbuka sempurna. Benar-benar terlihat kelelahan.
Sean pun menghampirinya, memeluk erat tubuh Yolla sambil membelai rambut panjangnya.
"Kamu istirahat aja ya, Sayang. Nggak usah pikirin aku. Oya, kamu pasti belum makan malam, ya? Biar aku ke bawah dulu sebentar aja deh cari makanan," tutur Sean melepaskan pelukannya lalu menyambar jas yang tadi diletakkannya di atas sofa.
"Jangan, Han. Aku takut. Aku takut kalo dia tiba-tiba datang ke sini," rengek Yolla manja sambil menarik ujung kemeja Sean.
Sean pun menatap Yolla yang raut wajahnya penuh ketakutan. "Ya udah, aku pesan online aja, ya?"
Yolla pun menjawabnya dengan anggukkan.
Sean duduk di sofa sambil merangkul Yolla. Yolla yang merasakan kenyamanan di bahu Sean pun akhirnya terlelap kembali.
Sean membiarkannya sambil menunggu makanan yang dipesannya tiba.
Tidak lama berselang, kurir yang mengantar makanannya pun tiba. Sean terpaksa membangunkan Yolla karena harus membukakan pintu untuk kurir.
"Honey, maaf ya. Bisa bangun dulu sebentar? Aku mau bukain pintu buat kurirnya," ucap Sean membangunkan Yolla sambil mengelus pipinya.
"Hmm? Maaf, Han. Aku ketiduran lagi," jawab Yolla dengan mata yang hanya terbuka sedikit sambil menguap.
"Iya, Sayang. Nggak apa-apa. Tunggu sebentar, ya. Aku mau buka pintunya dulu," tutur Sean kemudian bangkit dari duduknya dan lekas membukakan pintu dan mengambil makanan yang di antar kurir, tak lupa ia juga memberikan uang tip untuk kurir yang mengantar makanannya.
"Ayo, makan dulu," ucap Sean sambil membukakan makanannya untuk Yolla dan menaruhnya di hadapan Yolla yang sedang duduk dengan mata yang masih terpejam.
"Bisa besok pagi aja nggak makannya? Aku ngantuk banget, Han," rengek Yolla dengan matanya yang terus terpejam.
"Aku suapin, ya?" tawar Sean tersenyum.
"Aku males ngunyahnya," rengek Yolla lagi.
"Ya udah, aku pulang aja deh," ucap Sean sedikit mengancam.
"Iya-iya aku makan, tapi suapin, ya?"
"Iya. Sebentar ya aku ambil air putih dulu," ucap Sean bangkit dari sofa lalu beranjak ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Yolla.
"Ini, Sayang. Diminum dulu," Sean memberikan segelas air putih hangat untuk Yolla dan memberikannya pada Yolla.
__ADS_1
Yolla pun langsung meneguknya. "Makasih, Han."
Sean mulai menyuapi Yolla makan dengan telaten, walaupun hanya setengah yang dihabiskan Yolla, karena kelopak matanya yang sudah tidak sanggup terbuka lagi.
Karena Yolla tertidur di sofa, Sean pun menggendong dan membawa Yolla ke kamarnya.
Setelah membaringkan Yolla di atas ranjangnya, Sean memberikan kecupan hangat untuk Yolla dan menutupi tubuh Yolla dengan selimut sampai menutupi dadanya.
Ia pun pergi keluar dari kamar Yolla dan merebahkan dirinya di atas sofa. Baru saja Sean memejamkan matanya, terdengar jeritan dari dalam kamar Yolla.
"Jangan! Tolong! lepasin aku!!!" teriak Yolla dari dalam kamarnya.
Sean seketika berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar Yolla.
"Honey, kamu kenapa? Bangun, Sayang. bangun," ucap Sean membelai pipinya, mencoba membangunkan Yolla yang sedang mengigau. Sudah pasti kejadian yang menimpanya tadi membuat Yolla benar-benar merasa trauma.
Yolla pun terbangun duduk seketika sambil menangis terisak dan memeluk dirinya sendiri dengan tubuh yang gemetar.
"Sayang, tenang, ya. Ada aku di sini," ucap Sean lembut sambil menangkup kedua pipi Yolla, kemudian memeluknya.
"A ... Aku, t ... takut," ucap Yolla terisak.
"Tenang ya, Sayang. Ada aku di sini. Kamu sekarang tidur lagi, ya. Aku temenin kamu sampai kamu nyenyak, nanti baru aku pindah ke sofa depan," tutur Sean lagi terus mencoba membuat Yolla tenang kembali.
"Aku takut tidur sendiri, Han. Kamu mau nggak tidur di sini aja?" rengek Yolla, membuat Sean kesulitan meneguk salivanya.
"Maksud aku, kamu geser sofa itu ke samping tempat tidur aku sini, jadi kamu tidur di sofa, aku tidur di sini, gitu," terang Yolla.
"O ... ooh, gitu. Ya udah, deh. Aku geserin sofanya dulu ya sebentar," ucap Sean, daun telinganya berubah menjadi merah karena malu pada Yolla.
Yolla merebahkan dirinya lagi di tepi ranjang, begitupun juga dengan Sean yang merebahkan dirinya di atas sofa yang telah ia pindahkan ke sebelah tempat tidur Yolla.
Yolla meminta Sean untuk menggenggam erat tangannya.
Mereka pun tidur saling berhadapan sampai pagi menjelang.
***
Keesokan paginya di kamar Zico dan Gita di kediaman keluarga Austin William.
Gita terbangun lebih dulu, ia beranjak dari tempat tidurnya ke toilet untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia pun menghampiri Zico yang masih tertidur lelap.
"Sayang, bangun. Katanya mau ada meeting di kantor, ini udah jam 7 lho," ucap Gita mencoba membangunkan sang suami sambil membelai pipinya.
"Cium dulu," rengek Zico masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Cup!
Gita mengecup pipi Zico.
"Kok pipi, sih? Jangan pipi dong."
"Iish, manja banget, sih. Udah cepetan bangun, nanti kamu kesiangan, Sayang."
Zico memonyongkan bibirnya meminta kecupan pagi dari sang istri.
Akhirnya Gita pun mengecup bibir Zico sekilas, namun dengan cepat Zico menahan tengkuk Gita dan melu mat bibirnya dengan penuh gairah.
Gita pun membalasnya, namun saat tangan Zico sudah mulai menelisik di bagian tubuh sensitifnya, Gita pun menekan dada Zico dan melepaskan bibirnya yang saling bertaut.
"Iissh, Sayang. Aku kan masih halangan," protes Gita mengerucutkan bibir.
"Lama banget sih, Sayang. Berapa lama sih biasanya?" rengek Zico mengerutkan dahi.
"Lima hari sampai satu minggu biasanya," jawab Gita santai.
Mendengar itu membuat Zico seketika terbangun duduk. "What's? Selama itu, Sayang?"
"Ya memang umumnya segitu, Sayang."
"Berarti setelah resepsi dong baru bisa ...?"
Gita pun terkekeh melihat sang suami merengek.
"Kok kamu malah ketawa, sih? Kamu bohongin aku, ya?" tanya Zico memicingkan matanya.
"Aku serius. Coba aja kamu searching sana," titah Gita tersenyum.
Zico pun lekas mengambil ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia menelusuri aplikasi pencarian di ponselnya, setelah membacanya sendiri, ia pun baru percaya pada apa yang di katakan Gita.
"Gimana? Percaya, 'kan?" tanya Gita mengejek.
Zico pun menghela nafas panjang kemudian memeluk Gita dan menyandarkan dagunya pada bahu Gita.
"Udah siang, Sayang. Cepetan mandi dulu, nanti Sean keburu datang jemput kamu, lho!" omel Gita.
"Tadi dia kirim chat, katanya minta cuti hari ini karena ada urusan sama Yolla," jelas Zico.
"Cuti? Urusan sama Yolla? Urusan apa, Sayang?" tanya Gita beruntun dengan alis yang hampir menyatu.
"Ya mana aku tau, mungkin mau ngedate kali," jawab Zico asal.
__ADS_1
"Hah? Ngedate? Ngedate gimana? Memangnya mereka pacaran?" tanya Gita lagi tersentak. Karena Yolla belum ada mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Sean. Terakhir kali Yolla hanya bercerita tentang Sean yang mengungkapkan perasaannya pada Yolla.
"Lho? Memang kamu nggak tau, Sayang?"