
Di Mansion Zico…
Jam 10 malam Zico terbangun, ia membuka sedikit matanya, ia mencium bau wangi nasi goreng di kamarnya, saat ia tersadar kalau ia tadi sedang menunggu Gita memasak, ia pun segera mencari Gita, tapi ia hanya melihat 1 piring nasi goreng di atas nakasnya.
Zico menelpon ke kamar Bu Wati, ingin menanyakan keberadaan Gita.
Zico : (Hallo Bu , maaf Zico menganggu istirahatnya.)
Bu Wati : (Tidak apa den, kenapa den?)
Zico : (Zico mau tanya Bu, apa Gita sudah pulang? Kalau sudah, dia pulang sama siapa ya? Sama Sean kan?) Tanya Zico beruntun.
Bu Wati : (Waduh, Bu Wati tidak tahu, tadi sewaktu Non Gita akan memasak dia meminta Ibu untuk istirahat saja, ya sudah Ibu tinggal ke kamar den, eh Ibu ketiduran.)
Zico : (Oh ya sudah Bu , lanjutin aja istirahatnya, maaf ya Bu kalo Zico mengganggu istirahatnya.)
Bu Wati : (Iya tidak apa-apa den.)
Zico menutup telponnya dan segera menelpon Sean tapi tidak kunjung diangkat, begitupun telpon Gita, sama saja tidak diangkat.
Akhirnya ia menelpon security yang ada di pos gerbang.
Security : (Hallo! Selamat Malam!)
Zico: (Malam pak!)
Security : (Oh Tuan Zico ya? iya Tuan ada apa?)
Zico : (Apa tadi ada Sean kemari membawa mobil saya pak?)
Security : (Oh iya Tuan, tadi Tuan Sean kesini pakai mobil Tuan, tapi tidak lama, lalu dia pergi lagi bersama gadis yang tadi naik taksi dengan Tuan.)
Zico bernafas lega, ia hanya khawatir kalau Gita nekat pulang sendiri.
Zico : (Baiklah, terimakasih pak!)
Security : (Sama-sama Tuan.)
“Hmmph… Syukurlah kalau Gita pulang sama Sean.” Gumam Zico.
Ia pun segera mengambil nasi gorengnya dan menyantapnya.
__ADS_1
“Mmmm.. enak... ternyata dia pintar memasak juga ya.” Gumam Zico senyum-senyum sambil menyantap nasi gorengnya.
***
Pagi Hari dirumah Gita…
Gita bangun agak terlambat, ia bergegas pergi ke sekolah, bahkan tak sempat untuk sarapan, takut bus yang biasa ia tumpangi sudah lewat.
“Ibu… Gita berangkat ya bu!” Teriak Gita pada Sophia yang sedang di kamar mandi.
“Iya nak! Hati-hati ya!” sahut Sophia teriak juga.
“Iya bu!” Teriak Gita lagi.
Gita berlari ke halte bus, beruntung sewaktu ia sampai di halte bus nya baru tiba jadi ia tak tertinggal bus itu.
Didalam bus pun Gita berdiri karena padatnya penumpang.
Setelah sampai disekolah ia langsung ke kelas, ia baru membuka Hp nya, ia terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Zico.
“Aduh, aku lupa nggak kabarin dia kalau aku pulang sama Sean.” Gumam Gita sambil menepuk pelan dahi nya.
Gita pun mengirim Zico pesan.
Zico belum membalas pesannya, Zico dilarang masuk sekolah oleh Mommy nya, karena tak tega melihat anaknya berjalan harus menggunakan tongkat, Daddy nya pun sama melarangnya, kalau sudah Daddy nya yang melarang, Zico tidak bisa berkutik, ia tak pernah berani menentang Daddy nya.
Zico yang sudah mengenakan seragam sekolah pun jadi tertidur lagi karena kesal dengan Mommy dan Daddy nya.
Gita terus menatap layar ponselnya berharap Zico membalas pesannya, tetapi masih belum ada balasan juga dari Zico.
Yolla yang melihat Gita terus menatap layar Hp nya pun menegur Gita.
“Kamu kenapa si? Kok lihatin Hp terus?”
“La, tadi waktu lo datang lo lihat ada mobil Zico nggak diparkiran?” Bukannya menjawab pertanyaan Yolla, ia malah balik bertanya.
“Ada kok mobil Zico.” Sahut Yolla.
“Berarti dia masuk sekolah ya, tapi kok nggak bales pesan gue ya?” Tanya Gita lagi.
“Cieee… kayanya ada yang udah jadian nih.. hahaha.” Yolla tertawa mengejek Gita.
__ADS_1
“Husstt… bisa diem nggak sih La? Berisik banget sih, nanti ada gosip aneh-aneh lagi!” Gita kesal pada Yolla, ia mengerucutkan bibirnya.
Lalu Yolla pun berbisik, “Iya iya maaf, kalau gitu kita bisik-bisik aja deh ngobrolnya, terus kenapa lo nanyain Zico?”
Gita pun menceritakan kejadian yang menimpa Zico, Lalu saat Yolla bertanya kenapa mereka berdua bisa ada direstoran Riccio, Gita menceritakan kalau Zico sudah menyatakan perasaannya.
“What’s?? Terus lo jawab apa? Benar-benar Amazing ya si Zico, ternyata bukan hanya wajahnya aja yang Amazing.. tindakannya pun luarrr biasa, baru juga PDKT sebentar, udah nembak aja dia, nggak sabaran banget.” Seru Yolla sambil menahan tawanya, ia sangat bangga sahabatnya ditembak oleh prince di sekolahnya, dan ia benar-benar tidak menyangka Zico akan secepat itu menyatakan perasaannya.
“Gue belum jawab La, gue kaget banget saat dia mengatakan itu jadi gue cuma diam aja, belum sempat gue jawab, kata dia sih nggak perlu terburu-buru jawabnya.” Cerita Gita sambil merengut, karena sebenernya dia menyesal tidak menjawabnya langsung tadi malam.
“Hemmm… Gita…Gita… lo ini benar-benar ya, ada cowok nembak segitu tampannya, segitu bagusnya, malah disia-siakan...” Ucap Yolla yang agak kesal pada sahabatnya itu, karena ia tahu kalau Gita juga sebenarnya mempunyai perasaan yang sama, ia hanya pura-pura tak tahu saja kalau didepan Gita.
“Gue nggak ada maksud menyia-nyiakan kok, gue cuma kaget karna dia ngomongnya terlalu mendadak.” Jawab Gita dengan cepat.
“hahaha… berarti lo ada perasaan juga kan sama dia? lo masuk kedalam perangkap gue Gita.” Yolla tertawa puas karena telah berhasil mengetahui perasaan Gita kepada Zico.
Gita hanya melirik sinis karna kesal telah dikerjai oleh Yolla. Ia hanya membuka buku dan mulai memperhatikan guru yang sudah masuk ke kelas mereka.
Saat jam istirahat tiba, Gita bergegas keluar kelas, ia ingin mengintip di depan kelas Zico, ia ingin tahu kenapa Zico tidak membalas pesannya.
Tapi ia malah hanya bertemu Sean yang baru keluar dari kelasnya.
“Lho? lo kok sendirian? Zico mana?” Bisik Gita.
“Lo nggak tahu? Zico kan nggak masuk, emang dia nggak bilang?” Jawab Sean.
“Hah?? Nggak masuk? Kenapa? Apa kakinya tambah sakit?” Tanya Gita beruntun, ia cemas pada Zico.
“Haha.. enggak kok! Mommy sama Daddy nya yang melarang dia sekolah, padahal tadi udah gue jemput, dia juga udah rapih pake seragam, eh malah dilarang sekolah, katanya Mommy nggak tega liat dia jalan pake tongkat.” Terang Sean.
“Oh gitu ya, pantas aja dari tadi gue nggak lihat dia lewat.” Gita tertunduk nampak sedih.
“Jiaelah, baru juga sehari nggak masuk udah kangen aja, tar siang juga ketemu.” Goda Sean sembari menaik-naikkan alisnya, ia memang sangat senang mengejek orang, sebelas dua belas lah dengan Yolla. Ia melanjutkan, “Nanti siang lo pulang bareng gue ya, tar gue antar ke rumah Zico, tadi pagi Zico kasih tahu gue begitu soalnya.”
“Iya!” Jawab Gita singkat lalu pergi kembali ke kelasnya.
Mendengar Zico tidak masuk sekolah ia jadi merasa tak nafsu makan, rasa laparnya entah kemana, padahal tadi ia merasa sangat lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan, hanya meminum segelas susu.
Ia hanya duduk dikursinya dan menyandarkan pipinya diatas meja dengan mata terpejam.
“Lho Git? Tadi lo buru-buru keluar kelas, kirain udah sampe dikantin, tadi gue cariin gak ada, eh ternyata lo disini.” Saat Yolla sudah selesai makan ia segera mencari Gita karena Gita tak terlihat dikantin. “lo kenapa si? Kok lesu begitu? lo tadi katanya nggak sarapan, kok malah nggak ke kantin? Nanti pingsan lagi Lho!” Tanya Yolla lagi beruntun.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kok.” Jawab Gita masih dengan mata terpejam, lantas Yolla menyentuh dahinya, ia khawatir kalau Gita sakit, namun ternyata baik-baik saja, tidak demam.
‘apa benar seperti kata Sean ya kalau aku itu kangen sama Zico?’ batin Gita.