First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Perihal Cemburu 2


__ADS_3

"Baik, Kak," sahut Gita.


"Dan, Lo! Ayo cepetan ikut ke kamar lo, Zi. Gue periksa dulu perkembangan lo, kayanya sih otak lo tambah berantakan deh, Zi. Soalnya kadar cemburu lo tuh makin akut," tutur Gerald terkekeh.


"Damn!" gerutu Zico.


"Gue periksa di sini aja lah, sama aja, 'kan? kenapa juga mesti di kamar gue?" lanjutnya.


"Ya udah terserah lo deh mau di mana juga, mentang-mentang bentar lagi mau nikah, nggak mau banget jauh-jauh!" sindir Gerald sambil memeriksa Zico.


"Bentar lagi? Lo tau dari mana?" tanya Zico mengernyitkan dahi menatap Gerald dan mommy Celine bergantian.


"Mommy yang bilang kalau tiga hari lagi kalian akan menikah," jelas mommy Celine.


"What's? Tiga hari lagi? Sejak kapan Mommy memutuskan hal itu?" pekik Zico memicingkan matanya pada mommy Celine.


"Ya sejak tadi sebelum Gita kembali ke kamar ini. Gita bilang katanya terserah Daddy dan Momny saja. Jadi, ya sudah Mommy dan Daddy memutuskan tiga hari lagi kita akan menikahkan kalian," terang mommy Celine.


"Memangnya bisa kita mempersiapkan acaranya hanya dalam waktu hanya tiga hari aja, Mom? Belum buat booking gedung, undangan dan sebagainya. itu kan membutuhkan waktu paling cepat dua minggu, Mom."


"Eits, wait! Mommy belum selesai menjelaskannya sama kamu, Son! Kami itu cuma akan menikahkan kalian, untuk resepsi kita akan mengadakan itu nanti setelah wanita itu tertangkap. Biar dia tidak membuat ulah lagi," jelas mommy Celine.


"Oh gitu, Mom. Tapi kamu nggak keberatan 'kan, Sayang?" tanya Zico pada Gita yang sedang menyimak pembicaraan Zico dengan mommy Celine.


"Enggak kok, Sayang," sahut Gita tersenyum lemah.


"By the way, ini resep obat dan vitamin untuk Gita dan Zico, Aunty," ujar Gerald sembari mengulurkan tangannya memberikan secarik kertas yang bertuliskan resep obat untuk Gita.


"Thankyou, Gerald. Kalau begitu Mommy minta Hendri untuk membelikan obatnya dulu di apotek, ya," pamit mommy Celine kemudian berjalan keluar dari kamar Gita.


"Sya, Kakak balik ke rumah sakit dulu, ya. Mau ada operasi soalnya," pamit Gerald pada Gita.


"Iya, Kak. Terima kasih banyak ya, Kak," sahut Gita tersenyum.


"You're welcome, cantik," sahut Gerald sambil melirik Zico. Tentu saja ucapan Gerald membuat Zico menatapnya tajam.


"Kenapa lo melototin gue kaya gitu? Gue kan jujur, emang calon istri lo ini cantik, 'kan?"

__ADS_1


Zico terdiam, memang benar sih yang di bilang Gerald. Namun, ia benci jika mendengar kata pujian itu keluar dari mulut Gerald.


Setelah menyelesaikan tugasnya dan merapihkan tas kerjanya, Gerald pun berpamitan kembali pada Gita.


"Bye, Sya."


Gita pun membalasnya hanya dengan anggukkan.


"Oya, Sya. Salamin buat Yolla ya dari Kakak," pintanya.


Gita hanya tersenyum mendengar ucapan Gerald.


"Kok kamu ketawa? Kakak serius lho!"


"Dia udah punya pacar, Kak. Namanya, Mike."


"Lho? Selama dia belum terikat janji suci pernikahan. Berarti masih bisa dong kakak rebut," ucap Gerald sambil menaik-naikkan alisnya. Membuat Gita terkekeh pelan.


"Kakak boleh minta nomernya nggak, Sya?" Gerald malah menghampiri Gita lagi sambil memberikan ponselnya pada Gita. Namun, segera di tepis oleh Zico. "Udah sana pulang! Tar gue kirimin nomernya!" Zico mengusirnya sambil mendorong tubuh Gerald agar secepatnya keluar dari kamar Gita. Ia sudah sangat jengah mendengar ocehan Gerald.


"Bener ya, Zi? Kalo lo nggak kirimin nomer Yolla ke gue, gue bakalan teror lo terus!" ancam Gerald.


"Heh! Sial lo! Lo bilang apa tadi, Zi!" teriak Gerald dari balik pintu. Namun Zico mengabaikannya kemudian kembali menghampiri Gita yang sedang tertawa melihat tingkah Gerald dan Zico.


"Akhirnya, istri aku ketawa juga," goda Zico sambil mencubit ujung hidup Gita.


"Istri? Belum lah, Zi. Nikah aja belum," dengus Gita.


"Ya kan tinggal menghitung hari aja, Sayang."


"Oya, Zi. Nanti kamu kabarin Alex sama Kenzo juga, ya?" pinta Gita.


"Kenzo? Kenapa harus ada dia?" tanya Zico yang seketika raut wajahnya berubah drastis menjadi dingin.


"Sayang, aku kan pernah bilang sama kamu, kalo kamu mau nikah sama aku, kamu harus hilangin dulu rasa cemburu kamu yang berlebihan itu sama Kenzo," tegas Gita.


"Tapi, Say ..."

__ADS_1


"Enggak ada tapi-tapi! Pokoknya aku mau kamu sendiri yang telpon Kenzo untuk mengundang dia, titik!" tegas Gita lagi.


Zico hanya diam mendengar permintaan Gita, ia tahu kalau perkataan Gita sudah tidak bisa dibantah lagi. Ia tak mau Gita merajuk dan menolak untuk menikah dengannya.


"Atau kamu mau kalau aku aja yang telpon Kenzo?" lanjut Gita.


"No! Okay! Aku aja yang akan telpon Kenzo. Tapi, kamu jangan coba-coba telpon Kenzo tanpa seizin aku!" ancam Zico mengingatkan.


Gita pun tersenyum sambil menatap wajah Zico sambil bangkit dari tidurnya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang.


"Zi!" panggil Gita membuat Zico menoleh.


Cup!


Gita menangkup wajah Zico dengan telapak tangannya yang masih terasa hangat dan mengecup sekilas bibir Zico.


Tentu saja Zico tidak akan melewatkan kesempatan itu, ia menyambar bi bir ranum Gita dan melu matnya dengan lembut. Gita membalasnya beberapa saat kemudian melepasnya kembali sambil menangkup wajah tampan Zico yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


"Sayang, kamu percaya nggak kalau aku cinta sama kamu?" tanya Gita tersenyum lembut.


"Percaya lah! Emang kenapa kamu nanya kaya gitu?" tanya Zico mengernyitkan dahi.


"Tapi aku nggak percaya kalau kamu percaya aku, Zi."


"Why?"


"Seharusnya kalo kamu percaya sama aku, kamu nggak akan cemburu-cemburu nggak jelas sama Kenzo, apalagi Kak Gerald," terang Gita.


"Bukanya aku nggak percaya sama kamu, Sayang. Aku tuh cuma takut kalau mereka merebut kamu dari aku. Just that!"


"Sayang, mau mereka mencoba merebut hati aku seperti apapun, aku cuma cinta sama kamu, harusnya kamu tau itu ... coba deh kamu pikir, kalo aku segampang itu untuk berpindah ke lain hati, mungkin dari dulu aku udah buka hati aku untuk Kenzo dan mungkin sekarang aku dan anak-anak udah bahagia sama Kenzo tanpa ada yang mengganggu hubungan kami seperti hubungan kita yang selalu ada gangguan seperti ini. Tapi apa? Aku selalu memberikan batas yang begitu tinggi di hati aku, jadi Kenzo nggak bisa masuk begitu aja di hati aku, Zi. Bahkan aku nggak pernah biarin dia ngungkapin perasaannya sama aku. Dan aku yakin, Kenzo pun menyadari kalo hati aku ini cuma untuk kamu, Zi," jelas Gita dengan matanya yang mengembun. Ia sungguh sangat lelah jika harus sering bertengkar perihal sifat cemburu Zico yang sering berlebihan.


"Maafin aku, Sayang. Aku janji mulai sekarang aku akan mencoba untuk lebih dan lebih lagi mempercayai kamu," ucap Zico sambil memeluk Gita.


"Aku nggak butuh janji, Sayang. Aku cuma butuh bukti dari kamu ... mulai sekarang, aku minta kamu jangan lagi bersikap dingin sama Kenzo. Dan aku mau kamu berterima kasih sama dia karena selama ini dia udah jaga aku dan membantu aku merawat anak-anak kita selama enam tahun ini. Can you say thankyou for him?"


"Yes! I will do it for you!"

__ADS_1


"No! Jangan lakukan itu demi aku, Zi. tapi lakukan itu karena memang kamu harus berterima kasih sama dia," pinta Gita.


"Okay, Sayang! I will," jawab Zico.


__ADS_2