
"Sayang kamu kenapa?!" Tanya Zico panik.
"Ibu! Ibu dimana Zi?" Tanya Gita dengan nafas tersengal.
"Ibu... Ibu di..." belum selesai Zico menyelesaikan kalimatnya Gita sudah memotongnya.
"Antar aku ke Ibu Zi." pinta Gita.
"Tapi say...." lagi-lagi Gita memotong kalimatnya.
"Antar aku sekarang!!!" Sentak Gita.
Zico menatap manik mata Gita yang sedang dipenuhi oleh amarah, baru kali ini ia melihat Gita marah seperti itu, ia pun hanya bisa menuruti keinginan Gita.
"Baiklah, ayo!" Jawab Zico lembut sembari membantu Gita berdiri.
Mereka pun berjalan menuju Ruang ICU, Tangan kanan Zico merangkul Gita, sedangkan tangan kirinya memegangi tiang infusan.
Saat tiba didepan ruang ICU, Gita menatap Ibunya yang sedang diperiksa Dokter Felix dari balik kaca.
Membayangkan kenangan-kenangan masa lalu disaat Ayahnya dulu meninggalkannya dan Ibunya, membuat Gita tak kuasa menahan tangisnya, lagi-lagi ia terisak.
Flashback On
"Ibu... Ibu jangan pernah tinggalin Gita seperti Ayah ya Bu!" Ucap Gita sambil menangis setelah satu minggu kepergian sang Ayah.
"Iya nak, Ibu akan selalu ada untuk Gita, Gita jangan menangis lagi ya..." Jawab Sophia sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah putri tercintanya, ia menghapus air mata sang putri.
Sebenarnya air matanya juga sudah mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya, tetapi ia tahan sebisa mungkin, karena ia sudah tak tega melihat putrinya yang sering menangis.
"Iya Bu, tapi Bu... Gita gak mau sekolah disitu lagi Bu, Gita mau pindah, Gita gak mau tinggal di kota ini lagi." Lirih Gita, ia di bully oleh teman-temannya di sekolah karena Ayahnya yang melakukan bunuh diri, terlebih lagi Ayahnya terkena kasus malpraktek sebelum kejadian nahas itu.
"Baiklah nak.. Gita maunya kita pindah kemana?" Tanya Sophia lembut.
"Kalau kita pindah ke Jakarta aja gimana Bu?" Pinta Gita.
__ADS_1
"Ya sudah nak, kalau memang itu mau kamu... Mulai sekarang kita packing, minggu depan kita pindah ke Jakarta ya nak." Tutur Sophia.
"Baik bu." Jawab Gita yang sudah berhenti menangis.
Setelah pindah ke Jakarta, Sophia dan Gita mendatangi rumah Austin William di komplek perumahan elite yang dulu ditempati Austin, Celine dan Zico, tetapi ternyata rumah itu sudah kosong, mereka pun kembali ke salah satu unit di Apartemen kecil yang sudah dibelinya, di Apartemen Surya Kencana yang sampai sekarang masih ditempati mereka.
Sophia mencari Austin karena beberapa hari sebelum David suaminya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, David pernah berkata pada Sophia, "Sayang, nanti kalau suatu saat terjadi sesuatu denganku, kamu cari Austin ya."
Setelah kepergian suaminya, Kata-kata itu selalu terngiang dipikirannya, oleh karena itu setelah tiba di Jakarta ia berpikir untuk mendatangi Austin terlebih dahulu.
Flashback Off
Zico memeluknya dengan erat mengecup pucuk kepalanya,
"Kamu yang tenang ya sayang." Zico hanya dapat mengeluarkan kata-kata itu, karena ia tak tahu lagi kata-kata apa yang dapat menghibur hati Gita, hanya kesadaran Ibunya lah yang dapat menyembuhkan luka hati Gita saat ini.
"Zi, aku gak mau kehilangan Ibu Zi... aku takut Zi... aku takut Ibu ninggalin aku seperti Ayah." Lirih Gita sembari terisak.
Zico tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata untuk menghibur Gita, manik matanya mengembun, hatinya benar-benar ikut merasakan sakit yang dirasakan Gita.
"Git!" Panggil Yolla sembari berlari menghampiri Gita.
"Hussssst.. udah udah.. Lo yang tenang ya, jangan mikir aneh-aneh, okay?" Yolla mencoba menenangkan Gita padahal pipinya sendiri sudah basah karena air matanya yang tak sanggup lagi ia tahan.
Gita hanya menganggukkan kepalanya yang masih mendekap di pelukan Yolla.
Tadi Yolla menghubungi Gita tapi tidak ada jawaban, kemudian ia menghubungi Zico, dan Zico memberitahunya bahwa Sophia sedang kritis, akhirnya Yolla pun bergegas pergi ke rumah sakit.
Dokter Felix keluar dari ruang ICU setelah memeriksa keadaan Sophia.
"Uncle, gimana Uncle?" Tanya Zico.
Gita pun melepaskan pelukannya dari Yolla dan menatap Dokter Felix.
"Maaf Zi... Kak Sophia... Sekarang koma... Kita banyak berdo'a saja ya, semoga beliau bisa cepat bangun." Jawab Dokter Felix sembari mengelus bahu Gita, mencoba menghibur anak gadis dari sahabat kakaknya yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Gita tidak menjawab, ia hanya menghampiri kaca, dan menatap Ibunya dengan air mata yang berderai.
Zico dan Yolla hanya bisa menghela nafas panjang.
***
Satu bulan sudah Sophia mengalami koma, Gita dan Zico jarang datang ke sekolah. Ia selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit, kalau pun ia sedang ke sekolah, setelahnya ia selalu pulang ke rumah sakit.
Saat hari pertama Sophia koma, mereka baru saja menyelesaikan ujiannya, saat ini mereka ke sekolah hanya untuk mengurus beberapa berkas untuk masuk ke universitas yang mereka tuju.
Hari ini ia sedang berada didalam ruang ICU, di setiap jam besuk ia selalu masuk ke ruangan itu untuk menemani Ibunya.
"Bu... Ibu bangun ya bu... Kita pulang ke rumah yuk bu, Gita kangen sama Ibu, Gita kangen ngobrol sama Ibu diruang TV, Gita kangen dibelai sama Ibu, Gita kangen masakan Ibu, Gita kangen semuanya Bu, Gita kangen sekali sama Ibu, Gita mohon Ibu bangun ya Bu..." Ucap Gita dengan air mata yang membasahi pipinya dan isak tangis yang tertahan, ia menggenggam dan menciumi tangan Sophia.
Zico menatap dari luar dari balik kaca, manik matanya mengembun, hatinya benar-benar merasakan sakit melihat Gita yang murung dan sering menangis seperti ini, ia tak tahu dengan cara apa ia bisa menghibur Gita.
Tiba-tiba alarm di monitor alat vital Sophia berteriak kencang, ia melihat Gita yang panik dan Sophia yang sedang kejang. Ia bergegas menghampiri tempat para perawat berjaga, "Sus, Tolong Sus, itu Bu Sophia Kejang lagi, Tolong panggilkan Dokter Felix cepat!" Teriak Zico panik.
Para Suster dan Dokter jaga berbondong-bondong memasuki ruangan.
Gita diminta untuk menunggu diluar ruang ICU.
Gita berlinang air mata memandang hancur kepada Sophia yang sedang dikerubungi tenaga medis. Tidak hanya mengalami serangan kepanikan, Gita juga sepertinya sudah lupa caranya untuk berhenti menangis.
Zico berada didepan Gita, ia membelakangi pintu ruang ICU yang masih terbuka, tubuhnya memeluk Gita erat, bila ia lepaskan pasti Gita akan menerobos masuk dan khawatir akan mengganggu para petugas medis yang sedang melakukan tindakan.
"Sayang, kamu tenang ya, jangan panik, aku udah minta Suster panggil Uncle Felix."
Baru saja Dokter Felix tiba dan masuk ke ruang ICU, dengung panjang terdengar dari monitor jantung Sophia.
"Flatline!" Teriak Dokter jaga ketika melihat garis lurus di layar monitor. Detak jantung Sophia telah berhenti.
Bersambung.......
Penasaran kan? Penasaran pasti donk besok dibaca lagi yaa Bab selanjutnya.
__ADS_1
🤗
jangan lupa like komen dan vote nya ya... makasih semuanya...