
"Aku juga baik kok Mom." Jawab Gita tersenyum lembut.
"Tapi kok kamu terlihat kurusan sayang? Apa di asrama makanannya gak enak ya? Nanti Mommy suru Zico bawakan masakan Bu Wati ya setiap hari?" Seru Celine yang khawatir melihat Gita yang memang terlihat agak kurus.
"Nggak Mom, gak usah... Gita cuma lagi diet aja kok." Jawab Gita malu-malu.
"Untuk apa kamu diet segala? Apa Zico yang memintanya?" Selidik Austin menatap tajam Zico.
"Lho kok jadi aku sih yang disalahin? Sayang, Emang aku pernah minta kamu diet?" Tanya Zico.
"Hehe.. nggak kok Dad, ini bukan salah Zico, aku diet atas dasar kemauan aku, bukan Zico yang minta." Gita terkekeh.
"Oh! Baiklah kalau begitu ayo kita masuk kedalam." Ajak Austin.
"Iya sayang, ayo..." Ajak Celine pula, ia memeluk lengan Gita sambil berjalan disisi kanan Gita, dan Austin berjalan disisi kiri Gita dengan tangannya yang merangkul Gita.
Zico menghela nafas panjang.
'Sebenernya aku atau Gita sih yang jadi anak mereka?' keluh Zico dalam hati sambil menggelengkan kepalanya dan berjalan dibelakang mereka bertiga.
Mereka pun duduk dan berbincang-bincang di ruang keluarga, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak.
Mereka berbincang hanya bertiga, sedangkan Zico yang sedari tadi duduk di sofa single hanya diabaikan keberadaannya.
Niat hati membawa Gita ke rumahnya agar ia bisa menikmati waktunya lebih lama berduaan, eh Gita malah dikuasai oleh kedua orang tuanya.
Ia yang sudah satu jam merasa di abaikan pun seketika berdiri, rasa kesalnya sudah sampai puncak ubun-ubunnya, ia melangkahkan kakinya menuju lift ingin naik ke kamarnya.
Gita yang menyadari ekspresi Zico pun segera menegurnya.
"Zi, kamu mau kemana?" Tanya Gita bingung.
"Aku mau ke kamar!" Sahut Zico singkat dan tetap melanjutkan langkah kakinya.
'Hmmm... Zico kenapa ya? Kok mukanya kaya kesel gitu ya?' gumam Gita dalam hati.
Celine menghela nafas panjang sambil tersenyum.
"Hemmmm... Dia pasti ngambek gara-gara kita cuekin." Seru Celine senyum-senyum.
"Udah biarin aja... Kita makan siang yuk, Daddy udah lapar nih." Sahut Austin.
"Ya udah ayo kita ke ruang makan... Oya Gita, kamu susulin Zico ya sayang, suru turun ke bawah kita lunch bareng." Titah Celine.
"Jangan! Jangan ke kamar Zico! Biar Daddy aja yang panggilkan!" Tegas Austin, ia tak mengizinkan Gita untuk menyusul ke kamar Zico, ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ia khawatir Gita akan diterkam oleh anak kandungnya sendiri, karena ia pun dulu sangat kesulitan untuk menahan gairahnya jika sedang bersama Celine di dalam kamar.
Ia hanya tidak ingin kalau Zico sampai merusak putri dari sahabat baiknya itu.
Celine menarik tangan Austin yang hendak berjalan menuju lift, ia pun berdecak.
__ADS_1
"Ck... Dad.... Sudah biarkan aja Gita yang kesana, kalau kamu yang susul Zico, yang ada kalian nanti malah berdebat, biarkan Gita aja yang susul Zico ke atas." Tegur Celine pada suaminya yang over protektif itu. Ia melanjutkan meminta Gita menyusul Zico ke atas.
"Gita, Cepetan sana nak naik ke atas ajak Zico turun." Titah Celine.
"Memang gak apa-apa Mom, Dad?" Tanya Gita ragu-ragu karena Austin tadi sempat melarangnya.
"Nggak apa-apa kok sayang, udah cepetan sana naik, kasian nih Daddymu sudah kelaparan." Titah Celine lagi.
"Iya Mom, aku ke atas ya Mom, Dad."
Pamit Gita dengan wajah canggungnya.
"Iya sayang." Sahut Celine.
Gita segera beranjak dari ruang makan dan sudah berada di depan kamar Zico.
Setelah Gita tidak terlihat lagi, Austin pun mengomel pada Istrinya.
"Mom, kenapa sih kamu biarkan Gita yang susul Zico? Daddy gak mau ya kalau sampai Zico apa-apain Gita!" Gerutu Austin.
"Ck... iiishh Daddy nih kaya gak pernah muda aja sih, Daddy sendiri dulu apain Mommy hayo?" Goda Celine yang membuat Austin malu.
"Ya justru itu, Daddy tuh gak mau Zico ngerusak Gita." Elak Austin.
"Hmmmm.. kamu tuh Dad... Tau gak itu Zico kenapa malah naik keatas?" Tanya Celine membuat Austin penasaran.
"Kenapa memangnya?" Tanya Austin menyatukan alisnya.
"Masa sih? Masa sama pacar sendiri jealous? Harusnya dia seneng dong kalau kita sayang sama Gita." Ucap Austin.
"Tau ah, malas Mommy berdebat sama Daddy!" Celine meninggalkan Austin yang sedang duduk di kursi makan, ia menghampiri Bu Wati untuk membantunya menyiapkan buah-buahan.
Dikamar Zico...
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang... ini aku..." Panggil Gita.
Zico yang sedang rebahan di ranjangnya pun segera duduk.
"Hmmm... Masuk!" Sahut Zico sedikit teriak.
Ceklek...
Gita membuka handle pintu dan berdiri di pintu, "Ayo kita ke bawah sayang, Daddy sama Mommy ngajak kita lunch di bawah." Ajak Gita.
Zico hanya diam saja, ia masih merasa kesal.
Melihat Zico seperti itu, Gita menutup pintu kamarnya dan menghampiri Zico, ia berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? Kamu kesal sama aku?" Tanya Gita lembut sembari menatap Zico yang tidak mau menatap ke arahnya.
Akhirnya Gita pun duduk diranjang dihadapan Zico.
Gita membelai pipi Zico.
"Sayang... kamu beneran marah sama aku?" Tanya Gita lagi.
Zico masih tidak mau menatapnya, Zico masih berpura-pura sibuk membaca komiknya dan mengabaikan Gita.
Gita menjadi kesal terus diabaikan oleh Zico.
"Ya udah kalau kamu marah sama aku! aku pulang aja ke asrama! buat apa juga aku disini!" Ketus Gita mengerucutkan bibirnya berdiri dan hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zico.
Zico yang menyadari kemarahan Gita segera menarik tangan Gita dengan cepat, sehingga Gita berada diatas pangkuannya sekarang.
Netra mereka saling menatap, tangan kanan Zico segera menahan tengkuk Gita, sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang Gita, ia pun segera melu mat bibir Gita dengan penuh gairah, Gita membelalakkan matanya saat Zico tiba-tiba ******* bibirnya agak kasar dengan nafas yang terdengar memburu.
Awalnya Gita memukul-mukul bahu Zico agar Zico melepaskan panggutannya, tetapi Zico malah semakin menjadi, nafasnya terdengar semakin memburu.
Gita pun membalas panggutannya, ia ikut melu mat bibir tipis Zico.
Mereka benar-benar sedang menikmati ciuman ini, namun tiba-tiba saja bunyi telpon berdering.
Mereka berdua terkejut dan melepas panggutannya dengan deru nafas yang masih terdengar saling memburu.
Setelah nafasnya sedikit lebih tenang, Zico mengangkat telponnya.
(Zico... cepetan turun Son, Daddy kamu sudah kelaparan tuh.)
"Okay Mom! Tadi Zico habis dari toilet dulu Mom, sakit perut." Bohong Zico, ia tahu Daddynya yang protektif itu pasti akan berpikir kalau Zico dan Gita sedang berbuat yang macam-macam.
Padahal memang benar mereka berdua sedang macam-macam.
Setelah menutup telponnya Zico dan Gita tertawa.
"Iisssh kamu bohong sama Mommy." Ejek Gita.
"Lho terus aku harus jujur sama Mommy kalau kita itu lagi kissing?" Balas Zico menggoda Gita.
"Dih ngaco! Ya janganlah!" Sahut Gita tertawa kecil.
"Aku gak kebayang deh sayang.. kalau sampai Daddy mergokin kita kaya gini, pasti kita langsung disuru married." Seru Zico tertawa kecil.
"Janganlah ah...." Sahut Gita mengerucutkan bibirnya.
Zico pun yang merasa gemas seketika mengecup bibir mungil Gita sekilas.
Cup
__ADS_1
Gita seketika tersenyum tersipu malu.
"Sayang... will you marry me?" Seru Zico tiba-tiba.