
'Oh My Lord! Siapa nih cewek? So pretty girl!' gumam Gerald dalam benaknya sambil menatapi Gita tanpa berkedip.
"Wah! Ada beautiful girl! Siapa Nama kamu, cantik?" goda Gerald dengan gayanya yang tengil.
Gita yang tadinya tersenyum ramah seketika senyuman itu berubah menjadi kaku karena mulai merasa risih dengan tatapan Gerald, tapi ia tetap menjawab pertanyaannya untuk sekedar menghargai Mommy Celine dan Daddy Austin.
"Nama Ak..." belum sempat Gita menyebutkan namanya, Zico seketika terbangun, menggapai pergelangan tangan Gita dan menarik Gita agar berdiri di dekatnya.
Zico pun menyadari tatapan Gerald, karena ia sangat hafal dengan karakter Gerald yang playboy.
Mommy Celine yang menyadari perilaku Zico pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia girlfriend lo, Zi?" tanya Gerald yang menyadari tatapan cemburu pada kedua netra Zico.
"Iya! Dia cewek gue!" ketus Zico.
"Ahahaha ... Boleh juga lo, ya! Nggak pernah pacaran tapi sekalinya punya cewek, cantik banget." goda Gerald. Melihat Zico hanya diam saja dan menatapnya tajam bukannya berhenti menggodanya, Gerald malah semakin menjadi menggoda Zico.
"Boleh buat gue aja nggak?" ejek Gerald menaik-naikkan alisnya dengan senyum senyum tengilnya.
Zico tidak membalas perkataannya, ia lemparkan bantal yang ada disampingnya ke wajah Gerald yang membuat Gerald tertawa lepas melihat wajah kesal Zico.
Gerald adalah anak dari Felix William, Felix William mempunyai 2 orang anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Putra pertamanya laki-laki bernama Reyga William yang bekerja di Berlin, Jerman. sedangkan putra keduanya Gerald William yang berprofesi sebagai dokter mengikuti jejak sang ayah, walaupun memiliki sifat yang usil tapi IQ nya tak perlu diragukan lagi, dan yang terakhir adalah putrinya yang bernama Sienna William yang masih sekolah di bangku SMP.
Felix menikah lebih dulu dibanding sang kakak, Austin William. Karena Austin mempunyai karakter yang dingin dan sangat serius dalam membangun bisnisnya sebelum bertemu Celine Lee, Mommy dari Zico. Hanya Celine yang mampu memikat hati seorang Austin William.
"Ckck... Kalian ini! Sudah dewasa masih saja berkelahi!" cetus Daddy Austin.
"Hehe," Gerald menunjukan barisan gigi putihnya seperti kuda.
Ya, Zico dan Gerald memang tidak pernah akur sejak kecil karena karakternya yang berbanding terbalik. Zico mempunyai sifat dingin, sedangkan Gerald memiliki sifat yang usil. Ia sangat senang menggoda dan mengusili Zico.
"Oya! By the way, lo sakit apa, Zi?" tanya Gerald.
"Ngapain Mommy manggil lo ke sini kalau lo malah tanya gue sakit apa?!" ketus Zico.
"Oh iya ya! Ya udah itu tangan dilepas dulu kali! Gue kan mau periksa, Lo!" sindir Gerald yang melihat Zico terus menggenggam jemari Gita.
Gita yang mendengar itu pun seketika melepaskan tangannya dari genggaman Zico, ia merasa sangat malu, saat ini pipinya memerah bak kepiting rebus.
Setelah itu Gerald pun duduk di tepi ranjang, ia keluarkan stetoskop dan pen light dan termometer dari tas kerjanya untuk mengecek kondisi Zico yang sudah terbaring.
"Ini cuma radang sama mau flu aja, Kok. Manja aja nih anak Aunty!" seru Gerald sambil mencatat resep obat untuk Zico setelah selesai mengecek kondisinya.
Zico hanya mendengus kesal dan menatap sinis pada Gerald.
"Ini resepnya, Aunty." Gerald mengulurkan tangannya memberikannya pada Mommy Celine.
"Sini biar aku aja yang ke apotek, Mom!" Gita mengulurkan tangannya meminta resepnya pada Mommy Celine.
"Minta tolong Pak Hendri aja, Mom! Gita biar di sini," sahut Zico.
"Hmmm ... Ternyata lo bucin juga ya?! Ahahaha," Gerald mulai mengejek Zico lagi.
"Berisik, Lo! cepetan pulang sana!" usir Zico yang sudah merasa jengah karena ejekan Gerald.
"Zico!!! Sepupu kamu tuh baru menginjakkan kakinya lagi di rumah ini setelah 2 tahun, bukannya disambut malah kamu usir!" omel Daddy Austin.
Gerald sangat puas melihat Zico dimarahi oleh Daddy Austin, karena ia tahu benar kalau Zico tidak pernah berani menentang Daddy nya.
__ADS_1
Zico diam saja menatap tajam Gerald.
"Sudah, Gerald! Kamu juga stop mengejek Zico! Kamu ikut Uncle saja ke bawah, kita sarapan," titah Daddy Austin sambil berlenggang keluar dari kamar Zico.
"Okay, Uncle!" sahut Gerald sembari memasukkan kembali peralatannya ke dalam tas.
"Bye, Cantik!" Gerald menggoda Gita sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Damn!!!" Zico yang melihat itu seketika berdiri dan ingin menghajar Gerald, tapi segera di halau oleh Gita dan Mommy Celine.
"Zico, tahan emosi kamu dong, Nak! Kamu kan lagi sakit." ucap Mommy Celine, ia pun melanjutkan,
"Gerald! Cepetan kamu susul Uncle kamu! Pusing, Aunty! Sudah besar masih saja kalian tuh berantem terus!" omel Mommy Celine.
"Okay, Aunty!" seru Gerald yang berjalan mundur sambil mengedipkan matanya lagi pada Gita, Zico mulai hendak menyambar Gerald lagi tapi tubuhnya dipeluk erat oleh Gita.
"Gerald!!!" sentak Mommy Celine yang emosinya mulai meledak.
"Zico! Udah dong! Aku pulang nih kalau kamu begini terus!" ancam Gita.
Zico pun akhirnya membaringkan dirinya lagi di atas ranjangnya.
Setelah Gerald keluar dari kamar Zico, keadaan di kamar itu pun menjadi lebih tenang.
"Sayang, kamu sudah sarapan belum? Kalau belum, ayo kita ke bawah sarapan dulu." ajak mommy Celine.
"No, Mam! Minta tolong Bu Ambar aja bawain makanan ke sini buat Zico sama Gita." sanggah Zico. Ya, tentu saja ia tak akan membiarkan Gita sarapan di bawah bersama Gerald.
Mommy Celine pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Gita sudah sarapan kok, Mam." sahut Gita.
Gita memang selalu makan tepat waktu, ia selalu menjalani pola hidup sehat sejak dulu, ia sarapan hanya meminum air lemon hangat dan dua butir telur rebus dan salad saja.
"Iya, Mom." sahut Gita mengulas senyumnya.
Mommy Celine pun beranjak keluar dari kamar Zico, dan kini hanya ada Zico dan Gita berdua di dalam kamar, Gita masih berdiri didekat sisi ranjang Zico.
"Sayang, sini duduk," titah Zico sembari menepuk seprai disampingnya, mengisyaratkan Gita agar duduk di sampingnya, Gita pun menurut, ia duduk di samping Zico.
Gita mulai memeras handuk kecil dan diletakkannya di dahi Zico.
Zico menatap Gita penuh cinta, saat Gita sedang merawat dirinya seperti ini, Zico merasa rasa cintanya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Ia jadi teringat ketika masa-masa Zico mendekati Gita, ia tiba-tiba tersenyum saat mengingatnya.
"Kamu, kenapa? Kok senyum-senyum gitu? Memang ada yang lucu? Apa ada sesuatu di wajah aku?" tanya Gita beruntun sambil memeriksa apa ada sesuatu di wajahnya, membuat Zico tertawa kecil karena melihat tingkah Gita seperti ini yang selalu berhasil membuatnya merasa gemas padanya.
Zico genggam tangan Gita dan ia kecup berkali-kali, kalau saja dirinya sedang tidak flu, sepertinya bukan hanya tangannya saja yang dikecupnya, bahkan bibir Gita yang mungil itu pun pasti jadi incarannya.
"Kamu sebenarnya kenapa sih, Zi?" tanya Gita lagi, sambil mengerutkan dahinya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku hanya tiba-tiba lagi teringat sewaktu kamu merawat aku dulu saat kita masih PDKT," tutur Zico.
"Ooooh, terus kenapa ketawa? memang ada yang lucu, ya?" tanya Gita bingung. Ia tak mengerti, bagian mana sebenarnya yang membuat Zico tertawa seperti itu.
"Nggak, Sayang. Aku cuma ... Enggak deh, aku nggak apa-apa," kilah Zico, ia tiba-tiba teringat kalau sebentar lagi anniversary mereka yang kedua, ia sudah lama menantikan momen itu, karena saat anniversary yang pertama mereka tidak merayakannya sama sekali karena keadaan Gita yang sedang berduka saat kehilangan ibunya.
"Hmmm, Kamu tuh!" Gerutu Gita mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Bu Ambar pun tiba di kamar Zico mengantarkan makanan untuk Zico dan Gita. Padahal Gita sudah bilang pada Mommy Celine kalau dirinya sudah sarapan, tapi Mommy Celine tetap saja meminta bu Ambar untuk mengantarkannya.
Saat bu Ambar sudah keluar dari kamar, Gita pun menyodorkan piring yang berisi bubur ayam beserta sendoknya untuk Zico.
Namun Zico menggelengkan kepalanya.
"Lho? Kenapa? Kamu nggak mau makan?" tanya Gita menyatukan alisnya.
"Suapin," lirih Zico yang sangat terlihat manja yang membuat Gita mengembuskan kasar nafasnya.
"Hemmm ... Ya udah, sini aku suapin," ucap Gita dengan senyum cantiknya.
Ia pun menyuapi bayi besarnya itu.
Selesai menyantap makanannya, Gita mengulurkan tangannya memberikan obat yang tadi sudah dibawakan bu Ambar.
"Nih, minum obatnya!"
"Makasih ya, Sayang," ucap Zico.
"Iyaaaaa," sahut Gita.
"Iya, Apa?" Zico mulai menggoda Gita.
"Iya, Sayang," sahut Gita lagi.
"Nah, gitu dong!" seru Zico membelai pipi Gita dengan ibu jarinya.
Setelah meminum obatnya, Zico pun tertidur dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari Gita.
Saat genggaman tangan Zico mulai melemah tak se erat tadi, Gita pun melepaskan tangan Zico perlahan.
Gita pun berjalan menuju ruang keluarga untuk mencari Mommy Celine dan Daddy Austin, sudah lama ia tak berbincang dengan kedua orangtua Zico yang sangat menyayanginya itu.
Tapi sayang, yang dicarinya malah tidak terlihat di ruang keluarga itu, Gita pun hendak berbalik ingin mencari mereka ke ruangan lain.
"Aaaaa!!!" teriak Gita, ia sangat tersentak karena saat dirinya membalikkan badannya, tiba-tiba saja ada wajah Gerald persis di depan wajahnya.
"Jiah! Gitu aja kaget! Gugup ya ketemu, Aku?" goda Gerald sambil menaik-naikkan alisnya.
"Eng ... Enggak kok, Kak!" jawab Gita gugup.
Bagaimana tidak gugup jika tiba-tiba ada wajah tampan di depan wajahnya persis.
Ya, Gerald pun tak kalah tampan dari Zico, bahkan senyumnya terlihat sangat menawan dan mempesona karena lesung pipi nya yang begitu dalam, membuat para gadis mabuk kepayang dibuatnya.
"Oya! kata Uncle, kamu kuliah di fakultas kedokteran, ya?" tanya Gerald.
"i...iya, Kak." sahut Gita masih gugup.
"Kamu tertarik mau ambil spesialis apa?" tanya Gerald lagi sembari duduk di sofa ruang keluarga yang bernuansa mewah dan elegan itu.
"Kardiotoraks, Kak." jawab Gita lagi.
"Kok sama seperti aku? Sini-sini! Kamu duduk di situ! Aku akan sharing sama kamu tentang kardiotoraks." titah Gerald meminta Gita agar duduk di sofa single di ruangan itu.
Gita pun menurut, ia sangat antusias kalau bisa mendapatkan informasi tentang kardiotoraks.
Mereka pun berbincang, Gita sudah tidak merasa canggung lagi pada Gerald, karena Gerald memiliki karakter yang sangat humble dan humoris, Gita pun jadi merasa nyaman berbincang dengannya.
__ADS_1
Mereka bahkan tertawa terbahak-bahak sampai tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap tajam pada mereka.
"Gita!!!"