First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Tumbang


__ADS_3

Tiga hari sudah Gita dan Zico berada di Maldives. Entah sudah berapa ronde yang mereka lakukan setelah tiga hari ini, bahkan lingerie yang diberikan oleh Yolla pun sudah dipakai oleh Gita tadi malam, dan Zico sangat menyukainya. Benar-benar membuat gairah Zico semakin bergejolak tadi malam.


"Sayang, bangun, yuk! Katanya mau ajak aku jalan-jalan?" ucap Gita mencoba membangunkan Zico setelah mencium pipi dan bibir Zico.


"Aku masih ngantuk, Sayang. Nanti ya tunggu sebentar, satu jam lagi aja, nanti bangunin aku kalo udah satu jam," sahut Zico tanpa membuka matanya, ia justru merubah posisinya menjadi tengkurap.


Gita tak menjawabnya, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tiga puluh menit berselang, Gita keluar dari kamar mandi. Ia duduk di depan cermin dan memakai rangkaian skincare-nya dan juga sun screen di seluruh tubuhnya.


Setelah selesai ia pun mencoba menelepon kedua anaknya.


"Hallo, Mom!"


(Iya, Sayang?)


"Mommy Daddy sehat, 'kan?


(Kami sehat. Kamu sendiri gimana sama Zico gimana, Nak? Kalian happy, 'kan?)


"Of course, Mom. Tempatnya bagus banget. Anak-anak lagi ngapain, Mom?"


(Itu mereka lagi main di taman sama suster Deby dan Kiky ... kamu mau ngomong sama mereka?)


"Nggak usah, Mom. Nanti aja aku telpon lagi kalo mereka lagi sama Mommy."


(Oh ya sudah. Zico ke mana, Sayang?)


"Masih tidur nih, Mom. Katanya mau ajak aku jalan-jalan, tapi dibangunin susah banget. Aku bosan di kamar terus, Mom,"


(Taruh HP kamu di telinga dia, biar Mommy yang bangunin.)


"Iya, Mom."


(Son! Kamu bangun dong! Di ajak jalan itu Gita nya, jangan kamu kurung terus di kamar, kasihan dia!)


"Hmm, iya nanti, Mom. Aku masih ngantuk."


(Enggak ada nanti-nanti! Bangun sekarang juga!)


"Ah! Iya-iya!" jawab Zico kesal sambil mengembalikan ponsel Gita.


(Gimana, Sayang? Udah bangun dia?)


"Merem lagi, Mom. Biarin aja, nanti Gita tunggu dua puluh menit lagi, setelah itu baru Gita bangunin."


(Oh, ya sudah.)


"Iya, Mom. Sudah dulu ya, Mom. Titip anak-anak ya. Maaf ngerepotin Mommy sama Daddy terus."


(Nggak kok, Sayang. Mereka kan cucu Mommy, kami nggak ada sama sekali merasa direpotkan, justru sekarang ini Mommy dan Daddy sangat bahagia, rumah ini sudah nggak sepi lagi karena ada mereka yang selalu menghibur kami. Apalagi kalo kamu sama Zico nambah anak lagi ... oya, kamu nggak KB kan, Sayang?)

__ADS_1


"Nggak kok, Mom. Do'ain aja ya biar kita bisa cepet kasih cucu lagi buat Mommy sama Daddy."


(Pasti dong, Sayang. Tanpa diminta pun Mommy dan Daddy pasti do'ain kalian.)


"Makasih ya, Mom."


(Iya, Sayang. Kamu hati-hati di sana, ya. Nanti kalo pulang kabarin ya, biar kami jemput di airport.)


"Okay, Mom."


(Okay, Sayang. See you!)


"See you too, Mom."


Mereka pun mengakhiri panggilannya.


Baru saja Gita ingin bangkit dari tempat tidurnya, Zico tiba-tiba menarik Gita ke dalam pelukannya.


"Sayang, lepasin! Ayo cepetan bangun ah, kamu udah janji lho mau ajak aku jalan-jalan!"


"Kita buat cucu dulu buat Mommy Daddy, ya?" goda Zico tersenyum menaik-naikkan alisnya.


"Iissh! Kamu tuh! Nggak mau, ah! Aku udah tiga hari kamu kurung di sini! Masa iya aku harus layanin kamu terus sih!" protes Gita mengerucutkan bibirnya, yang kemudian dilu mat oleh Zico, namun Gita diam saja tak membalas seperti biasanya. Ia benar-benar kesal harus melayani gai rah Zico terus di dalam kamar itu.


"Sayang, kok nggak bales? Kamu marah?" tanya Zico setelah melepaskan pagu tannya karena menyadari Gita tak membalas ciumannya.


"Tau ah!" ketus Gita memunggungi Zico.


"Berarti kamu nggak serius tadi malam bilang mau ajak aku jalan-jalan?"


"Serius, Sayang. Ya udah aku mandi dulu, ya," bujuk Zico mencium pipi Gita kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.


Setelah lima belas menit berlalu, Zico sudah selesai membersihkan tubuhnya. Mereka pun pergi berjalan-jalan ke pantai dan menghampiri toko-toko oleh-oleh.


***


Dua hari kemudian mereka pun tiba di bandara, namun mommy Celine dan daddy Austin beserta kedua anaknya tidak bisa menjemputnya, karena Zayn sedang demam. Mereka hanya dijemput oleh pak Hendra supir daddy Austin.


"Tuan, kita ke mana dulu? Ke rumah sakit atau ke rumah dulu?" tanya pak Hendri.


"Rumah sakit? Memang Zayn dibawa ke rumah sakit, Pak?" tanya Gita.


"Iya, Non. Tadi demamnya semakin tinggi, jadi Tuan Gerald segera membawanya ke rumah sakit," terang pak Hendra.


"Ya sudah kita langsung ke rumah sakit aja!" titah Zico. Sedangkan Gita, netranya mulai mengembun.


"Baik, Tuan!" sahut pak Hendra.


"Sayang, kamu yang tenang, ya. Zayn nggak akan kenapa-kenapa kok," ucap Zico mencoba menenangkan Gita.

__ADS_1


"Aku merasa bersalah udah tinggalin anak-anak, Sayang," lirih Gita.


"Enggak, Sayang. Ini cuma kebetulan aja kok. Udah ya. Kamu yang tenang, nanti ketemu kita juga Zayn pasti sembuh," tutur Zico lagi.


Gita pun hanya mengangguk kecil.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka pun tiba di rumah sakit dokter Felix.


Setelah turun dari mobil, Gita berlari menuju kamar rawat VIP yang ditempati Zayn. Karena tadi saat di mobil Gita sudah menghubungi mommy Celine, jadi ia sudah tahu tempat Zayn di rawat.


"Sayang, tunggu!" teriak Zico memanggil Gita yang berlari dengan panik. Padahal tas selempangnya saja lupa ia bawa. Zico berlari menyusul Gita sambil membawakan tas selempangnya.


Tanpa mengetuk pintu, Gita langsung menyerobot masuk ke dalam kamar rawat Zayn. Ia menghampiri tubuh mungil sang putra yang sedang terbaring lemah dan terlelap di atas tempat tidur. Ia membelai pucuk kepalanya dan mencium keningnya beberapa kali sambil menitihkan air mata. Saking khawatirnya, ia sampai melupakan keberadaan Zefa.


"Mommy!" panggil Zefa menghampiri Gita.


"Iya, Sayang? Maafin Mommy ya Mommy baru pulang. Zefa sehat, 'kan?" tanya Gita sambil menggendong Zefa dan menciumi pipi chubby-nya.


"Iya, Mom. Jepa cehat kok," jawab Zefa memeluk leher Gita.


"Syukurlah!" Gita kembali menciumi pipinya.


"Sya! Zico mana?" tanya daddy Austin.


"Sebentar lagi juga sampai, Dad. Tadi turun dari mobil aku langsung lari ke sini, Zico masih di mobil tadi," terang Gita sambil menghampiri daddy Austin yang sedang duduk di sofa dan mencium punggung tangannya.


"Lho? Mommy ke mana, Dad?" tanya Gita yang baru menyadari bahwa ibu mertuanya tak nampak di dalam ruangan itu.


"Mommy ada kok, lagi di toilet," jawab daddy Austin.


"Oh," sahut Gita.


Zico pun masuk ke dalam ruangan itu. Sama seperti Gita tadi, ia langsung menghampiri Zayn dan mencium keningnya.


"Daddy!" panggil Zefa kemudian minta turun dari gendongan Gita dan berlari ke arah Zico meminta di gendong olehnya.


"Uh Princess Daddy! Kamu sehat kan, Sayang?" tanya Zico sama seperti pertanyaan Gita. Karena yang sebenarnya Zico dan Gita khawatirkan selama meninggalkan mereka adalah Zefa. Namun ternyata malah Zayn yang tumbang.


Karena mendengar suara Zefa yang memanggil Zico, Zayn pun membuka matanya sambil memanggil kedua orang tuanya.


"Daddy, Mommy," lirih Zayn dengan suara dan tubuhnya yang begitu lemah.


"Iya, Sayang. Daddy sama Mommy di sini," sahut Zico dan Gita yang menghampiri Zayn.


"Kepala Zayn pusing," keluhnya.


"Kalau pusing Zayn tidur, ya. Nanti setelah bangun tidur pasti hilang pusingnya," bujuk Gita.


"Iya, Sayang. Benar kata Mommy, kamu harus banyak istirahat supaya pusingnya hilang," timpal Zico.

__ADS_1


Zayn pun hanya mengangguk lemah dan kembali memejamkan matanya. Ia terlelap lagi dalam tidurnya.


__ADS_2