First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Zane William


__ADS_3

"Sayang, kamu bangun ya, Sayang. Please. Aku tau kamu bisa, buka mata kamu, ya. Kamu sendiri kan yang bilang nggak sabar mau lihat wajah bayi kita, ayo kamu lihat ini, Sayang. Dia sangat tampan. Please, buka mata kamu, ya," tutur Zico terus mencoba menyemangati Gita agar cepat bangun.


"Sayang, aku belum kasih nama dia. Kamu yang udah bertaruh nyawa untuk melahirkan dia, aku mau kamu yang kasih dia nama, Sayang. Kamu bangun, ya. Kasih dia nama, kasihan dia belum dikasih nama, Zayn dan Zefa aja memanggilnya adik," lanjutnya.


Perlahan Gita mengerjapkan matanya sekilas karena silaunya lampu di ruangan itu, ia memejamkan matanya lagi kemudian membukanya lagi perlahan.


"Emmh," gumam Gita saat kedua matanya terbuka.


"Sayang? Kamu bangun, Sayang? Kamu beneran bangun! Astaga ... terima kasih ya, Tuhan!"


"Sayang ... anak ... kita?" tanya Gita lirih dengan suaranya yang lemah.


"Iya, Sayang. Ini anak kita. Lihat nih, tampan, 'kan?" jawab Zico mendekatkan bayinya mendekat ke wajah Gita.


Gita tersenyum mengangguk lemah, air matanya pun mengalir seketika dari kedua sudut matanya, karena sebelum ia tak sadarkan diri saat jatuh terpeleset, ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada bayinya.


Uncle Felix pun tiba bersama dokter jaga dan dua orang perawat, karena Gerald sedang jadwal libur hari ini, maka dari itu uncle Felix lah yang memeriksanya.


Setelah memastikan kondisi Gita telah membaik, uncle Felix memerintahkan dokter jaga untuk melepaskan masker oksigen yang terpasang di mulut Gita.


Ketika uncle Felix kembali ke ruangannya, beliau memberi tahu Zico agar tidak lagi membiarkan Gita mengandung lagi di kemudian hari, karena akan lebih beresiko ketika melahirkan di banding saat ini.


Tanpa perlu diberi tahu oleh uncle Felix pun Zico memang sudah memutuskan seperti itu. Bahkan ia sempat menyesal meminta Gita untuk memberikannya anak lagi.


"Sayang, kasih dia nama dong," ucap Zico saat Gita sedang menyusui buah hatinya.


Saat Gita terbaring koma, tubuh Gita tidak mengeluarkan ASI, namun saat baru sehari saja ia terbangun dari komanya, entah mengapa ASI nya pun keluar setelah mencoba menyusui bayinya.


"Lho? Memangnya belum dikasih nama?" tanya Gita.


"Belum, Sayang. Aku kalut mikirin kamu yang lagi koma, aku juga maunya kamu aja yang kasih dia nama, kan kamu yang udah mempertaruhkan nyawa buat melahirkan dia," tutur Zico.

__ADS_1


Gita tersenyum dan memandang wajah bayi itu. "Zane William," ucap Gita tersenyum seraya memandangi buah hatinya.


"Zane? Mmm ... bagus!" seru Zico tersenyum kemudian mengecup kening sang istri.


***


Dua minggu berlalu, Gita pun sudah diperbolehkan untuk pulang ke mansionnya.


Mereka benar-benar bahagia dengan kehadiran Zane William, bayi mungil yang sangat tampan.


Mereka pun mengadakan pesta kecil bersama para keluarga dan kerabat terdekat mereka.


Setelah acara selesai, Gita berisitirahat di kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidurnya saling berhadapan bersama Zico. Sedangkan Zane sudah tertidur di kamarnya yang terletak di sebelah kamar mereka.


"Sayang, kamu lemas banget? capek, ya?" tanya Zico mengelus pipi Gita dengan ibu jarinya.


"Iya, Sayang. Capek banget. Aku tidur duluan nggak apa-apa, ya?"


Zico merengkuh Gita ke dalam pelukannya dan kemudian tertidur lelap sampai pagi.


***


Keesokkan paginya, Gita sudah terbangun lebih dulu dari tidurnya. Baru saja ia ingin bangkit dari tidurnya ingin menghampiri Zane di kamar sebelah, namun Zico tiba-tiba menarik Gita ke dalam pelukannya.


"Sayang! Aku mau lihat Zane, aku tidur kebablasan tadi malam, takutnya tadi malam dia nangis-nangis kita nggak dengar."


"Tadi malam dia nangis sebentar doang, kok. Pas aku gendong dan kasih stock ASI kamu yang sudah dihangatkan, terus dia tidur lagi. Tadi jam enam dia udah bangun terus sekarangĀ  pasti udah di mandiin sama suster Kiki, soalnya tadi aku suru gitu."


"Oh, ya udah deh. Aku mau mandi dulu!" ucap Gita hendak bangkit lagi dari tidurnya. Namun, lagi-lagi Zico memeluknya begitu erat dan tak mau melepasnya.


"Sayang," rengek Zico manja.

__ADS_1


"Apa?"


"Udah libur lama banget, Sayang. Mau ya? Please!"


"Mau apa sih?"


"Akh! Masa kamu nggak ngerti. Jangan pura-pura deh, Sayang."


Gita menghela napas panjang kemudian menghadapkan tu buhnya menghadap Zico dan mulai melu mat bibirnya dengan lembut. Namun, Zico meresponnya dengan begitu bergai rah.


Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi kasar dan menuntut. Bahkan saat ini Gita dan Zico sudah tak memakai sehelai benang pun. Akhirnya mereka pun mengawali pagi mereka dengan bergum ul di atas ranjang dengan penuh gai rah setelah libur hampir tiga bulan lamanya. Untung saja Zico sudah berpesan kepada suster Kiki untuk tidak datang ke kamarnya di pagi hari, karena memang ia sudah berniat meminta jatah pada sang istri.


Satu jam berlalu, pergulatan mereka di atas ranjang pun selesai. Seperti biasa, mereka selalu menghabiskan waktu beberapa saat untuk saling bertukar pikiran setiap kali mereka selesai bercin ta.


"Sayang, kapan aku boleh mulai kuliah kedokteran?" tanya Gita tiba-tiba.


"Hah? Kuliah? Kan Zane masih bayi, Sayang. Memangnya kamu tega tinggalin dia kuliah? Lagian nanti kalo kamu jadi dokter kamu pasti lebih sibuk dibanding aku. Kasihan anak-anak kita," kata Zico.


"Jadi dokter itu cita-cita aku dari kecil, Sayang. Aku dulu pernah janji sama ibu, aku bakal berusaha keras untuk jadi dokter. Lagian, aku merasa sayang aja kayaknya kalo ilmu yang selama ini aku perjuangkan dari kecil, aku belajar keras demi jadi seorang dokter, eh udah nikah malah nggak dipake ilmunya," keluh Gita menundukkan pandangannya dengan raut wajah sedihnya.


"Yaudah, kamu boleh kuliah lagi, tapi tunggu Zane umur dua tahun, ya!" sahut Zico mengalah, ia sebenarnya tidak rela jika Gita bekerja, namun demi kebahagiaan Gita, ia rela memberikan apapun untuk istri tercintanya itu.


"Hah? Dua tahun? Lama banget!"


"Memang kamu tega Zane masih bayi kayak gitu di tinggal kerja? Belum lagi kalo nantinya kamu lagi ada operasi sampai berjam-jam gitu. Pokoknya keputusan aku nggak bisa diganggu gugat! Kalo kamu mau kuliah, tunggu Zane berumur dua tahun, titik!" tegas Zico.


"Iya deh iya!" ucap Gita sambil bangkit meninggalkan tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dari pada Zico benar-benar tidak mengizinkannya kuliah selamanya, lebih baik ia menuruti apa kata suaminya. Lagi pula benar kata Zico, kasihan Zane jika harus di tinggal bekerja, lagi pula Zayn dan Zefa juga masih butuh perhatian lebih dari Gita.


***


Delapan tahun telah berlalu. Gita telah kembali bekerja sebagai dokter di rumah sakit miliknya sendiri, Zico membuka rumah sakit untuk Gita. Namun, rumah sakit itu bukanlah rumah sakit yang diperuntukkan untuk orang-orang elit, namun khusus untuk orang-orang yang tidak mampu. Karena Gita merasa apa yang dimilikinya saat ini sudah cukup, jadi ia kembali menjadi dokter bukan karena uang. Namun, karena rasa kemanusiaan semata. Dan agar ilmu yang selama ini ia dapatkan dapat bermanfaat untuk semua orang.

__ADS_1


Mommy Celine dan daddy Austin sangat bangga mempunyai menantu yang berhati emas seperti Gita. Dan Gita pun sangat bersyukur karena dikelilingi keluarga Zico dan para sahabat yang sangat menyayanginya.


__ADS_2