
Zico pun ikut tertidur sambil memeluk Zefa.
"Zi ... Zi ... bangun!" ucap Gita membangunkan Zico namun Zico tak kunjung bangun dari tidurnya, wajahnya terlihat sangat damai tidur sambil memeluk sang buah hati untuk pertama kalinya.
Gita memandang wajah Zico dan juga putra putrinya yang sedang tertidur lelap, bahagia sekali rasanya melihat tiga mahluk bernyawa di hadapannya kini.
Rasa sesal karena telah meninggalkan Zico pun menjadi semakin besar, karena ia baru menyadari karena kebodohannya membuat anak-anaknya terpisah dari ayah kandungnya, bahkan anak-anaknya belum mengetahui kalau Zico adalah ayah kandung mereka. Mau di jelaskan pun ia bingung cara menjelaskannya seperti apa.
Gita terisak karena perasaan sesal dan rasa bersalah di dalam hatinya membuatnya semakin merasakan sakit yang luar biasa di relung hatinya.
Mendengar suara Gita yang terisak membuat Zico terbangun dari tidurnya.
"Sayang? kamu kenapa?" tanya Zico sambil bangkit dari tidurnya dan menghampiri Gita yang sedang duduk di tepi ranjang.
Gita hanya menggeleng dan semakin terisak hingga Zico duduk disampingnya kemudian menariknya ke dalam pelukannya sembari mencium pucuk kepalanya.
"Ma-af ... maafin aku ...," ucap Gita sambil terisak.
"Kenapa lagi, Sayang? Kok tiba-tiba minta maaf?" tanya Zico sembari mengelus lembut kepala Gita.
"Aku ... aku udah pisahin kamu sama anak-anak kita, Zi."
"Enggak, Sayang. Kamu nggak perlu minta maaf, apa yang kamu lakuin itu semua demi aku dan anak-anak kita, kamu itu udah banyak berkorban buat aku, Zayn dan Zefa. Udah ya, kamu jangan nangis lagi, kamu itu Mommy yang luar biasa untuk anak-anak kita, sekaligus calon istri terbaik untuk aku," tutur Zico tersenyum sambil menangkup wajah Gita dan menghapus air matanya.
Kata-kata Zico membuat Gita berhambur kembali ke dalam pelukan Zico, membuat Zico memeluk Gita semakin erat dan juga mencium keningnya.
Setelah perasaan Gita sudah jauh lebih tenang, Zico pun menarik tangan Gita ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tempat di mana anak-anaknya tertidur.
"Kita mau ke mana, Zi?" tanya Gita berbisik, karena jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, suasana mansion Zico sangatlah hening.
Zico tak menjawabnya, ia tiba-tiba mengunci pintu kamar mandi dan menyambar bibir ranum Gita, Gita pun terbelalak dibuatnya, ia mendorong kedua bahu Zico sampai Zico melepaskan ciumannya.
"Zi, ingat ya! Kita belum resmi menikah, kalau kamu kaya gini lagi, aku nggak akan mau ketemu kamu lagi!" ancam Gita.
"Sayang, apa kamu lupa? Waktu SMA juga kita sering kissing, tapi kamu nggak pernah nolak."
"Aku nggak mau kita kebablasan, Zi."
"Aku cuma mau kissing aja lho sama kamu, bukannya mau bikin dedek buat si twins," tutur Zico terkekeh pelan.
Berkat jawaban Zico, pipi Gita merah merona bak kepiting rebus dibuatnya.
Dengan cepat ia pun segera membalikkan tubuhnya dan membuka pintu kamar mandi, lalu bergegas naik dan berbaring di atas ranjang sambil memeluk Zefa yang sedang terlelap.
"Sayang, aku tidur di sini boleh?" bisik Zico menyusul Gita dengan wajah memelas.
"Ngaco! Udah cepetan balik ke kamar kamu sana!" omel Gita berbisik pula.
Zico mengecup pipi Gita lalu beranjak kabur menuju kamarnya.
***
Keesokan paginya pukul 6 pagi Zefa sudah terbangun dari tidurnya dan membangunkan Mommy nya yang masih terlelap.
__ADS_1
"Mom ... bangun, Mom ... Jepa mau poop, peyut Jepa cakit," Zefa membangunkan Mommy nya dengan menggoyangkan bahu Gita.
"Eeummm? Iya, Sayang. Sebentar ya, Nak," sahut Gita sambil meregangkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ceklek...
"Daddy!" teriak Zefa saat melihat Zico, ia turun dari ranjang kemudian berlari menghampiri Zico yang baru saja membuka pintunya.
"Princess Daddy sudah bangun, ya?" ucap Zico sambil berlutut dan menyambut Zefa, kemudian memeluknya erat.
"Daddy?" ucap Zayn yang baru saja terbangun.
"Iya, ini Daddy Zico, Kak!" sahut Zefa menatap ke arah sang kakak yang masih mengucek matanya di atas ranjang.
"Kenapa kamu panggil dia Daddy?" tanya Zayn dengan raut wajah dingin.
"Kalna nanti Daddy dan Mommy akan menikah cepelti plincess dan pangelan," jelas Zayn polos.
Sedangkan Zayn tidak menjawab, ia hanya turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Zico tersenyum, ia benar-benar merasa Zayn sama persis dengan dirinya.
"Kakak! Aku kan mau poop, kenapa kakak macuk duluan!" Zefa berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Melihat Gita yang sedang terlelap lagi, Zico segera menghampiri Zefa dan mencoba membujuknya.
"Di mana kamal Daddy?"
"Di atas, Sayang. Mau ya?"
Zefa pun mengangguk dan digendong Zico beranjak pergi ke kamarnya.
Namun saat Zefa sedang di dalam toilet, Zico menelpon mommy nya.
"Mom, tolong ke kamar Zico ya, ini Zefa lagi poop di toilet kamar Zico."
(Lho? Gita ke mana?) sahut mommy Celine.
"Gita lagi tidur, Mom. Kasian dia wajahnya kelihatan lelah banget, Zico nggak tega banguninnya."
(Oh ya sudah, Son. Sebentar lagi mommy ke kamar kamu ya,) sahut mommy Celine lagi.
"Thank's ya, Mom!" ucap Zico lalu menutup telponnya.
***
Tiga puluh menit pun berlalu, Zefa sudah sekalian dimandikan oleh mommy Celine saat buang air besar tadi. Beruntung kemarin saat mengajak cucu-cucunya ke Mall, ia membelikan begitu banyak pakaian untuk kedua cucunya.
Zico tersenyum, ia merasa bahagia melihat interaksi antara mommy dan putri kecilnya. Ia menjadi sangat tidak sabar menantikan momen di mana ia dan Gita akan menikah. Tapi ia pun tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Gita untuk menikah secepatnya, karena jelas-jelas kemarin Gita mengatakan kalau Gita tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Zico yang tadinya tersenyum mendadak menjadi murung. Mommy Celine yang menyadari itu pun menghampiri Zico yang sedang melamun di sofa, sedangkan Zefa sedang di atas ranjang serius memainkan boneka barbie yang di belikan genmanya kemarin.
"Son! Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Ehm? Eng ... enggak apa-apa kok, Mom," sahut Zico saat tersadar dari lamunannya.
"Kamu nggak bisa bohong sama Mommy, Nak. Ayo, cerita sama Mommy," pinta mommy Celine sambil membelai tangan Zico.
"Zico cuma lagi bingung, Mom. Gimana selanjutnya hubungan Zico dengan Gita ya, Mom?"
"Lho? Bukannya kalian sudah baikan? Ya tinggal di ajak menikah aja."
"Entahlah, Mom. Kemarin Gita bilang sama Zico, dia nggak mau menjalin hubungan dengan siapapun, dia cuma mau menjalani hidupnya bertiga aja sama anak-anak."
"Kamu sabar ya, Nak. Mungkin Gita masih trauma sama masa lalu kalian, kamu dekati saja terus, kamu terus sayangi dan perhatikan dia seperti dulu. Mommy yakin lama-lama hati Gita pasti akan luluh."
"Semoga ya, Mom. Zico nggak sanggup Mom kalau harus kehilangan Gita lagi," lirih nya sambil menitihkan air mata.
Mommy Celine pun menghapus air matanya dan memeluk sang putra, "Mulai sekarang kamu berubah ya, Nak. Kembali menjadi Zico yang dulu, jangan pernah kamu mabuk-mabukan lagi, Gita pasti akan kecewa kalau melihat kamu yang seperti itu, yang Gita mau pasti Zico yang seperti dulu."
Zico hanya mengangguk mendengar perkataan sang mommy.
"Daddy! Daddy kenapa menangis?" tanya Zefa saat melihat wajah Daddy-nya yang basah.
"Eng-enggak Sayang. Daddy nggak apa-apa, kok! Cuma kelilipan," sahut Zico mencoba mengulas senyumnya dan menghampiri sang putri yang sedang bermain dengan bonekanya di atas ranjang.
"Cini Jepa tiupin mata Daddy," ucap Zefa sambil berdiri lalu meniup mata Daddy nya. Zico dan mommy Celine tertawa melihat tingkah polos Zefa. "Thankyou, Sayang ... Zefa sudah lapar belum? Kita breakfast, yuk?" ajak Zico.
"Iya, Jepa lapal cekali, Daddy! Kan tadi ici pelut Jepa kelual cemua."
Mendengar jawaban Zefa, Zico dan mommy Celine pun terkekeh lagi di buatnya.
"Ya udah, Ayo kita turun!" ajak mommy Celine menggendong Zefa.
"Zefa turun duluan sama Genma, ya? Daddy nanti menyusul, Daddy mau mandi dulu."
"Jangan lama-lama ya, Daddy."
"Siap Tuan Puteri!" ucap Zico sambil membelai pipi chubby sang putri.
Mommy Celine pun membawa Zefa ke ruang makan, sedangkan Zico sedang membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, kemudian menyusul Zayn dan Gita ke kamarnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ceklek...
Zico mencari Zayn di kamar yang ditempati Gita dan anak-anaknya, namun ia tak melihat ada Zayn di kamar itu, hanya ada Gita yang masih tertidur berbalut selimut sambil memeluk guling begitu erat.
Zico menghampiri Gita dan duduk perlahan di tepi ranjang. Ia pandangi wajah cantik Gita yang masih terlihat sama seperti 6 tahun lalu.
Ia belai lembut rambut Gita yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Kamu cantik banget sih, Sayang? Makin cinta aku sama kamu," gumam Zico sambil membelai pipi Gita.
Cup...
Zico mencium bibir Gita sekilas.
__ADS_1