First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Ruang Hemodialisa


__ADS_3

Enam bulan pun berlalu...


Hubungan Gita, Nadhira dan Giselle sudah semakin akrab, bahkan mereka sering sekali jalan dan shopping bertiga saja, kadang membuat Alex dan Zico kesal karena merasa di abaikan, kalau Sean? Ya biasa saja, karena memang sampai detik ini pun Sean sama sekali belum menyatakan isi hatinya pada Giselle, padahal hubungan mereka sudah semakin dekat dan saling bergantung satu sama lain, Giselle yang memang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Sean, selalu memberikan perhatian lebih pada Sean, ia sering sekali memasakkan makanan kesukaan Sean dan membawakannya untuk Sean, Sean selalu menyukai makanan yang dibuat Giselle dan semua perhatian Giselle, Apalagi Giselle selalu bersikap lemah lembut pada Sean yang membuat Sean selalu merasa nyaman didekatnya, tetapi entah mengapa Sean masih belum bisa melupakan Yolla sampai detik ini, sebenarnya ia sudah mulai menyukai Giselle , tapi bayangan Yolla selalu ada dibenaknya, sangat sulit untuk menghapus Yolla dari ingatannya.


Sean hanya tidak ingin menyakiti Giselle karena perasaan nya yang masih ada untuk Yolla, oleh sebab itu ia masih belum ingin meresmikan status mereka.


Nadhira sering dibuat jengkel oleh sikap Sean yang seperti membuat harapan palsu pada Giselle , tetapi Alex selalu melarangnya untuk ikut campur dalam hubungan mereka.


Saat ini tiga gadis itu sedang hang out, tanpa Alex, Zico dan Sean, karena mereka sedang latihan basket di Sport Hall kampusnya.


Tiga gadis ini sedang jalan di Grand Mall dekat kampusnya.


"Kita nongkrong di coffee Shop aja yuk? Aku ngantuk banget nih semalaman habis ngerjain tugas." Imbuh Gita.


"What's?? Kamu ngerjain tugas sampai semalaman gitu, Gi?" Kaget Nadhira.


"Iyaa... Aku soalnya lagi ngejar SKS aku, Nad. Biar nanti aku bisa cepat lulus, hehe.." terang Gita nyengir kuda.


"Zico pasti marah ya Git kalau sampai dia tau kamu belajar sampai semalaman gitu?" Ujar Giselle yang tahu kalau Zico sangat posesif pada Gita.


"Pastinya! Makanya kalian jangan cerita sama Sean dan Alex ya, nanti kalau sampai ke Zico kacau urusannya, aku bakal di telpon dia tiap malam, hanya untuk memastikan aku sudah tidur atau belum." Pinta Gita.


"Iya iya tenang aja Gi, kita tau kok kalo Zico tuh bucin akut sama kamu! Hahaha..." Sahut Nadhira, membuat mereka bertiga tertawa bersama.


Ponsel Gita berdering, saat melihat layar ponselnya itu adalah panggilan dari sahabat terbaiknya, Yolla.


(La, kemana aja sih? Kok dua hari kemarin gak telpon gue?)


(Gue kemarin banyak tugas, Git! Maaf ya... Lo baik-baik aja kan, Git?)


(Iya gue baik-baik aja kok, La. Lo sendiri gimana?)


(Gue juga baik-baik aja kok... Lo lagi dimana, Git? Sepertinya lo lagi ditempat ramai ya? Berisik banget.)


(Hehe... Gue lagi di Mall sama Giselle dan Nadhira, La.)


(Ooh.. Zico tau kan Git lo lagi jalan sama mereka?)

__ADS_1


(Pastinya dong, La. Lo kaya gak tau Zico aja deh, kalau gak dikasih tahu gue pergi kemana, nanti manyunnya lama banget dia kalau sekalinya marah.)


"Bucin akut dia tuh, La! Hahaha..." Teriak Nadhira dan Giselle tertawa membuat Yolla tertawa juga.


(Gue sekarang merasa sedikit tenang deh, Git. Lo udah punya temen baru disana, Gue jadi gak sabar mau pulang ke sana, mau kenalan sama mereka.)


(Memangnya kapan lo liburan, La? Nanti kita jalan berempat ya kalau lo pulang ke sini?)


(Okay, Git! Ya udah lo terusin sana senang-senangnya, have fun ya!)


(Iya, La. Lo juga di sana harus happy terus ya.)


(Of course! Hehe..)


(Ya udah, Bye, La!)


(Bye, Git!)


Terdengar bunyi telpon dimatikan.


Brukkkk


Ia tak sadarkan diri, membuat Gita dan Nadhira panik ketakutan.


"Giselle!!!" Teriak mereka berdua, lalu mengerubungi Giselle .


"Sel bangun Sel, Lo kenapa Sel? kok lo sampai pingsan gini sih?" Tanya Nadhira sembari menangis dan menepuk-nepuk pelan pipi Giselle .


"Nad, Lo tenang ya, jangan panik, Lo sekarang juga telpon ambulance, Gue periksa dulu detak jantungnya!"


Nadhira pun menuruti saja apa yang dikatakan Gita, setelah Gita memastikan bahwa ia masih bisa merasakan denyut jantung sahabatnya itu, ia segera memangku kepalanya sembari menunggu ambulance datang.


Untung saja tidak jauh dari Mall itu ada rumah sakit, jadi Giselle bisa cepat ditangani.


Setibanya dirumah sakit Giselle segera  dibawa ke ruang IGD, Gita dan Nadhira menunggu di depan ruang IGD, Nadhira terlihat sangat cemas, ia mondar mandir saja sembari menggigit kuku-kukunya.


Saat mereka menunggu tiba-tiba saja brankar Giselle didorong oleh dua orang perawat laki-laki, Nadhira dan Gita merasa penasaran akan dibawa kemana Giselle sebenarnya.

__ADS_1


Saat dokter keluar dari ruang IGD, dokter pun menghampiri mereka berdua.


"Selamat Sore! Kalian ada hubungan apa dengan pasien?"


"Kami sahabatnya dok, bagaimana keadaannya? Dia mau dibawa kemana, dok?" Tanya Gita beruntun.


"Apa kalian tidak mengingatkan dia kalau dia sudah seharusnya menjalani HD minggu ini?! Ini sudah melewati jadwalnya, Sekarang dia sedang dibawa ke Ruang HD!" Omel dokter itu.


Gita yang notabenenya mahasiswi kedokteran pun sudah mengetahui apa maksud dokter itu, HD? Berarti Hemodialisa yang artinya Cuci darah, Ya, berarti yang dimaksud dokter Giselle adalah pasien gagal ginjal.


Lain halnya dengan Nadhira yang tak mengerti maksud dari ucapan dokter, ia pun memutuskan untuk bertanya apa maksud dari ucapan dokter itu.


"Maaf dok... Maksud dokter apa ya? HD itu apa? Memang dia kenapa dok?" Tanyanya sembari menitihkan air matanya lagi.


"Giselle ini adalah pasien kami, dia mengalami gagal ginjal, sudah empat bulan ini dia menjalani cuci darah di rumah sakit kami." Ujar dokter itu.


DDUUAAAARRRRR!!!!


Mendengar kata 'Gagal Ginjal', Nadhira seperti mendengar petir yang menggelegar, membuatnya seperti tersambar petir di siang bolong, sekujur tubuh nya seperti merasakan efek sambaran petir yang membuatnya lemah seketika dan menjatuhkan tubuhnya terduduk dilantai, tidak menyangka kalau sahabatnya itu ternyata sakit separah ini, dan lebih parahnya ia sebagai sahabatnya sama sekali tidak mengetahuinya, Giselle lebih memilih memendam rasa sakitnya, membuatnya merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat.


Gita yang juga sudah membasahi wajahnya dengan air mata yang tumpah, berusaha menghibur Nadhira, memeluknya yang sedang terduduk dilantai.


Melihat itu dokter itu pun berlalu pergi menyusul Giselle ke ruang HD.


"Nad... kita gak boleh nangis kaya gini, kita harus hibur Giselle, Giselle masih bisa sembuh kok kalau dokter bisa menemukan pendonor yang cocok untuk Giselle." Imbuh Gita.


Mendengar itu, Nadhira mendongakkan kepalanya, "Beneran Gi dia masih bisa sembuh?"


Gita mencoba tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, sekarang kita hapus air mata kita, kita pergi ke ruangannya, Kita hibur Giselle, Okay?" Ucap Gita sembari menyeka air mata Nadhira, lalu menyeka air matanya sendiri.


Nadhira pun menurut dan menganggukkan kepalanya.


"Tunggu Gi! Gue mau telpon Alex dulu untuk kasih tau Sean." Ucap Nadhira, ia berpikir mungkin dengan kedatangan Sean akan membuat Giselle merasa lebih terhibur.


"Jangan, Nad!"

__ADS_1


__ADS_2