
Gita yang tadinya berusaha keras melepaskan diri dari pelukan Zico.
Akhirnya terhanyut dalam pelukannya, pelukan yang sangat ia rindukan, pelukan yang selalu membuatnya nyaman yang sudah 6 tahun lamanya tidak ia rasakan, pelukan yang selalu membuat hatinya tenang saat dirinya merasakan kesedihan yang mendalam.
Setelah merasa kalau Gita sudah terlihat lebih tenang dan berhenti dari isakannya, Zico pun melepaskan pelukannya perlahan. Ia menangkup wajah Gita yang masih basah karena air matanya yang sampai saat ini masih sulit untuk berhenti mengalir. Ia hapus air mata Gita begitu lembut dengan ibu jarinya.
"Sayang, kamu mau kan maafin aku?" tanya Zico lagi dengan tatapan yang penuh harap, harapan agar Gita mau memaafkan dan menerimanya kembali dalam hidupnya.
Gita menghela nafasnya yang masih tersengal karena menangis terisak tadi.
Gita pun mengangguk lemah, "Tapi maaf, Zi. Kalau untuk kayak dulu lagi, aku belum bisa, hati aku masih sakit kalau ingat kata-kata kamu kemarin," tutur Gita sambil melepaskan pelan tangan Zico yang masih menangkup wajahnya.
"Sayang, jangan kayak gitu dong! Aku kan udah minta maaf ... aku nggak sanggup kalo harus liat kamu sama cowok lain, aku nggak akan sanggup, Sayang. Please?"
"Kamu nggak usah khawatir, Zi. Aku nggak ada niat sedikitpun untuk menjalin hubungan sama siapapun. Siapa juga yang mau sama aku? Janda bukan, perawan apa lagi."
"Apa nggak sebaiknya kalau kita menikah aja? sekarang juga aku akan nikahin kamu kalau kamu nya siap! Kasihan anak-anak kita, Sayang. Mereka pasti bahagia kalau punya orang tua yang lengkap, iya 'kan?" bujuk Zico dengan netranya yang masih mengembun.
Namun Gita menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau, Zi. Aku mau hidup sama anak-anak aja bertiga," tolak Gita yang membuat hati Zico seperti teriris saat mendengarnya.
"Enggak bisa, Sayang! Kamu itu sekarang tinggal di Indo, mana bisa anak-anak kita tinggal di sini dengan statusnya yang seperti sekarang? Mungkin kalau di luar mereka fine fine aja, tapi kalau di sini, mereka bisa di rendahkan teman-temannya nanti! Aku nggak mau anak-anak aku dipandang rendah sama orang lain!"
Mendengar perkataan Zico, Gita pun terdiam. Benar apa kata Zico, ia tidak bisa membiarkan anak-anaknya nanti ada yang menghinanya karena statusnya yang tidak mempunyai ayah, apalagi dengan status mommy nya yang belum pernah menikah, Itu pasti akan sangat melukai perasaan Zefa yang sensitif, karena saat di Paris saja ia sering menangis hanya karena di tanya oleh temannya tentang di mana keberadaan daddy-nya.
Apalagi di Indo, pasti yang mengejeknya bukan hanya teman-temannya saja, bahkan para ibu dari teman-temannya pun akan ikut menggosipkan tentang status mereka.
Namun, ia pun tidak bisa memaksakan hatinya untuk begitu cepat menerima cinta Zico kembali walaupun sejujurnya ia pun masih sangat mencintai Zico.
"Apa kamu nggak takut kalau reputasi kamu menjadi kurang baik atau mungkin hancur karena mempunyai anak di luar nikah?"
"Ya enggak dong, Sayang. Dari awal ini semua memang kesalahan aku, aku memang harus bertanggung jawab atas apa yang pernah aku perbuat sama kamu dan juga anak-anak kita. Jadi, apapun resikonya harus aku tanggung sendiri akibatnya. Aku nggak akan pernah biarin orang-orang menganggap rendah kamu dan juga anak-anak kita."
Gita hanya diam saja mendengar jawaban Zico. Ia benar-benar merasa tersentuh mendengar jawaban Zico. Ia menyadari kesalahpahaman Zico terhadapnya pun karena kesalahannya juga. Andaikan saja ia tidak melarang Sean saat Sean ingin menghubungi Zico untuk segera memberitahunya, mungkin Zico tidak akan salah paham padanya, apalagi sampai menghinanya seperti itu.
Namun ia pun belum bisa menjalani hubungan lagi dengan Zico, apalagi menikah, hatinya sama sekali belum siap, ia masih trauma akan masa lalunya.
Dulu, di saat Zico dan dirinya sudah merencanakan pernikahan, tiba-tiba saja ada badai yang begitu besar yang membuatnya pergi menjauh dari hidup Zico, ia hanya takut kejadian itu akan terulang kembali.
__ADS_1
Melihat Gita hanya terdiam saja, Zico pun menanyakan keberadaan anak-anaknya.
"Oya, kamu lagi kerja di sini, lalu anak-anak kita di mana, Sayang? Siapa yang menjaga mereka? Yolla?"
"Zi, please! Jangan panggil aku Sayang Sayang lagi, ya? Kita kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Zi," ucap Gita yang merasa risih kalau Zico terus memanggilnya dengan kata Sayang. Bukannya risih karena merasa jijik atau apapun, tapi ia hanya takut Zico memanggilnya dengan sebutan itu di depan orang-orang yang berada di perusahaan itu, ia tak ingin di anggap ia bisa menempati posisi sekretaris eksekutif di perusahaan itu karena bantuan Zico.
"Kenapa? Takut gebetan kamu dengar?"
"Oh My God! Kan aku udah bilang, aku nggak mau menjalani hubungan sama siapapun!" Gita mulai memasang wajah kesal, dari dulu ia selalu kesal setiap Zico sedang cemburu seperti ini.
"Tapi kamu sama Kenzo kayaknya dekat banget," ucap Zico menunduk.
"Zi! Aku mau maafin kamu, tapi kamu janji ya kamu jangan pernah marah sama Kenzo?" pinta Gita menatap Zico yang sedang murung, membuat Zico semakin kesal mendengar permintaannya.
"Kenapa? Wajar dong aku marah sama dia! Selama kamu menghilang, aku sering banget tanya sama dia ada ketemu sama kamu atau nggak, tapi dia selalu bilang nggak, tapi nyatanya apa? Dia ternyata yang selama ini sembunyiin kamu!" Zico benar-benar kesal karena Gita membahas Kenzo. Ia merasa Gita sangat memihak pada Kenzo sekarang.
"Zi! Banyak hal yang benar-benar berbeda dengan apa yang kamu pikirin!"
"Maksud kamu?"
"Kenapa? Kenapa aku harus bersyukur di saat sahabat aku suka sama pacar aku?!"
"Zi! Aku itu dulu pingsan waktu sampai di airport heathrow, terus saat aku di bawa sama pihak airport ke rumah sakit, Kenzo lihat aku waktu aku di dorong di atas brankar. Terus, dia yang udah urusin aku selama aku tinggal di sana karena aku nggak bisa nemuin saudara sepupu Ayah. Aku itu dulu pergi cuma mengandalkan alamat saudara sepupu Ayah aku, Zi. Tapi ternyata beliau dan keluarganya udah nggak tinggal di sana."
"Kan ada Yolla, kenapa nggak sama Yolla? Kenapa harus sama dia?"
"Yolla itu baru berhasil nemuin aku waktu Zayn dan Zefa umur enam bulan. Disaat kamu menghubungi Mike dan kasih kabar ke dia kalau kamu udah nemuin aku, saat itu aku baru aja beberapa hari ketemu sama Yolla. Saat aku tau kamu lagi terbang ke london, aku, Yolla dan Kenzo secepatnya pindah ke Paris, Zi."
Lagi-lagi Zico memeluk Gita dengan erat, "Kenapa sih kamu tinggalin aku? Kamu tau nggak? Hati aku sakit banget kamu tinggal pergi kayak gitu, hati aku rasanya kosong banget nggak ada kamu di samping aku, Sayang," lirih Zico menitihkan air matanya lagi.
"Kamu janji ya jangan pernah pergi jauh dari aku lagi?" pinta Zico sambil menangkup wajah tirus Gita lagi.
Gita pun mulai mengulas sedikit senyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Terus gimana? Apa kita bisa menikah besok?" tanya Zico tiba-tiba dengan kedua lengannya yang masih memeluk tubuh Gita, namun wajah mereka berhadapan dan saling menatap satu sama lain hanya berjarak sekitar 5 cm.
"Zi, kan aku udah bilang tadi, aku belum siap menjalin hubungan lagi sama siapapun, termasuk sama ka ...."
__ADS_1
Cup...
Zico mengecup bibir manis Gita sekilas saat Gita belum menyelesaikan kalimatnya hingga membuat Gita terbelalak.
Melihat raut wajah Gita yang terkejut membuat Zico semakin gemas dan ingin segera melu mat bibir manis Gita yang sudah sangat ia rindukan itu.
Namun, baru saja Zico mendekati bibir Gita lagi dan hendak melu matnya, Gita segera menutup dan mendorong mulut Zico dengan telapak tangannya agar menjauh dari wajahnya.
"Sayang, sebentaaaar aja! Emang kamu nggak kangen sama aku?" pinta Zico memelas bersikap manja.
"Enggak!" sahut Gita sambil melenggang pergi meninggalkan Zico.
"Sayang, kamu mau kemana?" teriak Zico sampai suaranya menggema di dalam ruangan itu membuat Gita yang mendengarnya pun merasa khawatir jika ada orang lain yang mendengarnya dari balik pintu.
Ia pun kembali menghampiri Zico dengan tatapan kesal.
"Kalau kamu panggil-panggil aku Sayang Sayang seperti itu lagi, apa lagi di depan banyak orang, aku nggak akan izinkan kamu untuk ketemu sama anak-anak!" ancam Gita sambil menunjuk wajah Zico dengan jari telunjuknya. Zico yang merasa gemas pada Gita pun menangkap jari telunjuk Gita dan menggigit ujung jarinya.
"Iiiisssh! Apa sih kamu tuh! Iseng banget!" gerutu Gita sambil menarik jarinya dengan bibir yang mengerucut.
"Jangan cemberut gitu dong, kamu tuh kalau cemberut gitu bikin aku tambah gemas mau cium bi bir kamu tau," bisik Zico menggoda Gita.
Gita mendengus kesal dan hendak meninggalkan Zico lagi, namun Zico mencegahnya dengan menarik pergelangan tangannya lagi.
"Kamu pulang jam berapa? Aku tunggu kamu di lobby ya, kita pulang bareng, Okay? Aku pengen banget ketemu sama anak-anak kita, Sa ...,"
"Kan aku udah bilang, jangan panggil itu lagi! Atau aku nggak a ...,"
"Iya-iya!" belum selesai Gita bicara, Zico sudah mengiyakan perkataannya.
"Aku pulang jam tujuh, Zi. Aku harus siapin berkas-berkas untuk meeting kamu besok pagi."
"Oh! Ya udah, aku tunggu di depan lobby, ya?"
Gita pun mengangguk dan pergi meninggalkan Zico di ruangan itu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Gita pun bersiap untuk pulang. Namun, saat baru saja Gita keluar dari ruangannya dan sedang berjalan di menuju lift, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya.
__ADS_1