
***
Satu bulan pun berlalu ...
"Aku kok belum datang bulan, ya?" gumam Gita saat melihat kalender yang ada di dinding di apartemennya.
"Ah! Mungkin karena aku kecapaian aja kali!" gumamnya lagi sembari bergegas merapihkan tasnya dan hendak pergi ke rumah sakit, karena Zico sudah menunggunya di bawah.
"Sayang!" panggil Gita sambil berlari dan memeluk Zico.
Zico pun memeluknya erat.
Ya, sejak kejadian obat perangsang itu, mereka terlihat jauh lebih lengket dari sebelumnya, bahkan Gita sudah tidak merasa malu lagi bermesraan dengan Zico di depan umum.
"Sayang, dua bulan lagi kan kamu selesai KOAS-nya?" tanya Zico sembari mengemudikan mobilnya, dengan tangan kanan memegang setir dan tangan kiri yang menggenggam tangan Gita.
"Iya, rencananya akhir bulan depan aku menyerahkan laporan aku, Sayang. Memang kenapa?"
"Terus kapan kita membicarakan rencana pernikahan kita ke mommy daddy?" tanya Zico sambil mengecup punggung tangan Gita yang sedang digenggamnya.
__ADS_1
"Lho? Memang harus secepat itu, Sayang?" Gita malah balik bertanya.
"Kan kamu janji sama aku, selesai KOAS kamu siap nikah sama aku."
"Tapi kan maksudnya nanti aja dibahasnya setelah aku udah selesai KOAS-nya, Sayang."
"Ya udah deh terserah kalau itu maunya kamu!"
Wajah Zico seketika terlihat murung dan melepaskan tangannya yang sedari tadi terus menggenggam tangan Gita karena kecewa mendengar jawaban Gita.
Gita yang menyadari hal itu pun mencoba membujuknya, "Sayang, maksud aku tuh jangan bulan ini ... Gimana kalau bulan depan aja kita bicara sama mommy daddy? Setelah aku menyerahkan laporan KOAS aku dan kamu menyelesaikan sidang skripsi kamu."
"Iya, Sayang. Aku serius."
Mendengar jawaban Gita, Zico seketika menepikan mobilnya.
"Makasih ya, Sayang. Aku nggak sabar menantikan hari itu," ucap Zico sambil memeluk Gita dan menciumi kening Gita berkali-kali.
"Aku juga," sahut Gita dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
***
3 minggu pun berlalu...
Satu minggu belakangan ini Gita sering sekali merasa mual, terutama saat pagi hari.
Saat dirinya melihat kalender lagi di dinding apartemennya, ia baru menyadari kalau ternyata sudah 2 bulan ia tak datang bulan.
Ia pun bergegas ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan.
Saat tiba di apartemennya ia bergegas masuk ke dalam toilet untuk mengetesnya.
"Enggak! Nggak mungkin! Aku cuma melakukannya hari itu sama Zico, kenapa bisa aku langsung hamil? Nggak mungkin rahim aku sesubur itu," seketika air mata Gita pun mengalir, ia sangat terkejut setelah melihat hasil testpack yang menunjukan dua garis merah pada alat test kehamilan itu.
Mungkin kalau ia sudah menikah dengan Zico, ia akan sangat merasa bahagia karena diperutnya itu terdapat buah cintanya dengan Zico, tapi ia malu membayangkan harus mengakui kepada mommy dan daddy-nya Zico kalau ia hamil saat belum menikah seperti ini.
Ia menangis terisak membayangkan kekecewaan dari mommy Celine dan daddy Austin setelah mereka mengetahui apa yang terjadi padanya saat ini.
‘Saat ini Zico sedang mengerjakan skripsinya, Zico sedang fokus dengan skripsinya, dia harus mendapatkan nilai yang tinggi untuk bisa meneruskan program masternya di Harvard, karena hanya dia satu-satunya orang yang akan meneruskan perusahaan daddy, dia yang akan melanjutkan bisnis yang selama ini daddy rintis dari nol, aku takut dia tidak akan fokus pada kuliahnya kalau kita mempunyai anak sekarang, tapi aku juga harus pikirkan tentang anak yang ada didalam rahim aku ini, aku harus gimana ya, Tuhan?’ gumam Gita dalam benaknya, ia menangis terisak duduk di toilet sambil meremas rambutnya sendiri.
__ADS_1