
Tiga hari lagi adalah pesta resepsi pernikahan Zico dan Gita. Dan sesuai dengan janjinya pada Gita, Zico sedang berusaha keras menyelesaikan tuduhan kasus malpraktek ayah Gita. Ia bekerja sama dengan sekretaris Om Aryo dalam menyelidiki kasus ini.
Pagi ini, Zico belum terbangun dari tidurnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Gita sudah berusaha membangunkannya, namun Zico tak kunjung membuka kelopak matanya. Zico terlihat kelelahan karena semalam baru saja sampai di rumah jam satu malam.
Seharian kemarin ia dan Sean pergi ke kalimantan menggunakan jet pribadi milik sang daddy, untuk menyelidiki kasus ayah Gita. Ia pun berhasil mendapatkan bukti-bukti itu. Sayangnya, orang yang sudah menjebak ayah Gita sudah meninggal satu tahun yang lalu karena terkena serangan jantung. Zico sangat menyesal karena tidak dari dulu menyelidiki kasus ini. Namun, Gita tak masalah dengan hal itu, ia hanya ingin membersihkan nama ayahnya saja.
Melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan, Gita yang telah selesai sarapan dan sedang bermain bersama kedua buah hatinya pun, menyusul Zico kembali ke kamar mereka.
Benar saja dugaan Gita, ternyata Zico masih tertidur lelap di ranjangnya. Ia menghampiri Zico dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kamu nggak ke kantor?" tanya Gita sambil menghujani ciuman di pipi Zico.
Zico seketika memeluk tubuh Gita kemudian memeluknya erat seperti memeluk guling.
"Iiih, Sayang. Ayo bangun! udah siang lho!" omel Gita sembari berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Biarin sebentar kayak gini dulu dong, Sayang. Aku kangen banget sama kamu," rengek Zico manja.
"Kangen? kita kan setiap hari ketemu, Sayang."
"Tapi kan kemaren sebelum aku berangkat kamu nggak kasih aku morning kiss."
"Ya kan kamu berangkat pagi-pagi banget, salah sendiri kamu nggak bangunin aku," gerutu Gita.
"Ya udah sekarang aja," rengek Zico lagi manja.
"Mandi dulu, baru nanti aku kasih morning kiss," titah Gita.
"Aku masih ngantuk, Sayang. Aku ke kantornya nanti siang kok."
"Ya udah, aku mau temenin anak-anak main aja deh di bawah," ucap Gita sambil melepaskan diri dari sang suami. Namun, dengan cepat Zico menariknya kembali dan mengungkungnya, kemudian melu mat bibir Gita dengan begitu bergairah.
Hidung Gita terasa pengap karena Zico yang menciumnya begitu bergai rah. Gita mendorong tubuh Zico, "Sayang, pelan-pelan dong, jangan kasar gitu, pengap hidung aku nggak bisa nafas tau!" omel Gita mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, aku nggak tahan banget, kamu masih datang bulan?" keluh Zico dengan tatapan yang penuh naf su bira hi.
"Masih sedikit, mungkin besok atau lusa baru bersih, Sayang," jelas Gita sembari menangkup wajah sang suami dan membelai kedua belah pipinya dengan kedua ibu jari.
"Lusa? Berarti habis pesta resepsi baru bisa?" tanya Zico terbelalak.
Gita hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
Zico pun merebahkan dirinya kembali di sebelah tubuh Gita. Menatap langit-langit sembari mengatur napasnya perlahan.
"Sayang, maaf," ucap Gita yang merasa bersalah pada sang suami karena tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Iya nggak apa-apa, Sayang. Tapi kamu janji ya, di malam pertama nanti kamu nggak boleh nolak lho!" ancam Zico menatap wajah sang istri.
"Ya kalo datang bulannya udah selesai aku nggak bakal nolak lah, aku juga mau," jawab Gita keceplosan.
"Beneran kamu mau juga?"
__ADS_1
"Iya lah, Sayang. Mana mungkin aku nggak mau disentuh sama suami aku yang super tampan ini," goda Gita sambil mengusap lembut bibir Zico dengan ibu jarinya.
Karena bibirnya yang di sentuh lembut oleh Gita, Zico pun menyambar kembali bibir Gita, namun kali ini ia melu matnya dengan begitu lembut, hingga Gita pun terbuai akan ciuman yang diterimanya.
Tangan Zico mulai menelisik ke dalam baju Gita, membelai perut Gita dengan ujung-ujung jemarinya.
"Eummmhhh," Gita mulai mende sah ketika jemari Zico mulai mere mas pelan sebelah buah kehidupannya.
"Enak, Sayang?" tanya Zico saat melepaskan bibirnya yang saling bertaut. Gita hanya menjawabnya dengan anggukan dan tatapan yang sangat menginginkan.
Zico mulai menenggelamkan wajahnya di leher Gita. Ia mulai menelusuri leher Gita dengan bibir dan li dahnya, dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan di sana. Namun, saat Zico baru saja akan membuka baju Gita, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang begitu ramai di depan pintu kamarnya, mereka pun terkejut dan seketika merapihkan dirinya masing-masing dengan napasnya yang masih belum teratur. Kemudian terkekeh berdua.
Ternyata yang menghampiri kamar mereka adalah Zayn dan Zefa.
"Daddy!" teriak Zefa sambil berlari menghampiri Zico yang masih merebahkan dirinya di atas ranjang.
Zayn dan Zefa masuk ke dalam kamar Zico, sedangkan kedua baby sitter yang mengantarnya kembali ke lantai bawah.
"Kenapa, Sayang?" tanya Zico sambil memeluk putri kecilnya yang ikut merebahkan dirinya di atas tubuh Zico.
"Jepa kangen cama Daddy. Kemalin Daddy ke mana?" ucap Zefa manja yang kemudian duduk di atas perut Zico. Sedangkan Gita masih rebahan di sisi kiri Zico dan menjadikan bahu Zico sebagai bantalan kepalanya.
Memang seharian kemarin Zico tidak bertemu kedua buah hatinya sama sekali karena jam lima pagi Zico sudah berangkat dan jam satu malam Zico baru pulang dari Kalimantan.
Sebenarnya Sean sudah memesankan hotel untuk mereka berdua menginap, namun Zico lebih memilih untuk pulang, karena merindukan sang istri juga kedua buah hatinya.
"Daddy juga kangen sama Zefa, Kakak Zayn dan juga Mommy. Kemarin Daddy ke luar kota sama uncle Sean, Sayang," jawab Zico.
"Naik pesawat jet punya kita," jawab Zico.
"Pecawat jet punya kita? Memang kita punya pecawat jet, Daddy?"
"Iya, Sayang. Itu punya Genpa. Tapi apa yang di miliki Genpa dan Genma, itu milik kamu dan Kak Zayn juga," terang Zico.
"Benarkah, Daddy? Kita punya jet pribadi?" tanya Zayn.
"Iya, Nak. Sini! Zayn nggak mau peluk Daddy?" ucap Zico pada Zayn sambil mengulurkan tangannya meraih tangan Zayn. Zayn pun menghampiri mereka dan ikut merebahkan diri dan memeluk sisi kanan Zico.
"Daddy nggak ke kantor?" tanya Zayn menatap wajah sang daddy dengan mendongakkan kepalanya.
"Nanti siang, Sayang. Daddy masih capek," jawab Zico sambil memejamkan matanya. Ia merasa sangat nyaman saat ini, karena dikelilingi oleh keluarga kecil yang sangat dicintainya membuat hatinya sangat bahagia.
"Daddy, boleh nggak Jepa ikut bobo cama Daddy?"
"Oh Princess Daddy mau bobo juga?memangnya Zefa masih mengantuk?"
"Iya, Daddy. Habis makan Jepa jadi ngantuk," ucap Zefa mengerucutkan bibirnya. Pernyataan Zefa membuat Gita dan Zico terkekeh.
"Habis makan nggak boleh tidur, Sayang. Apa lagi tadi Zefa makannya banyak sekali," jawab Gita.
"Nggak apa-apa lah, Sayang. Sesekali aja, asal jangan setiap hari." Zico berusaha membela sang putri.
__ADS_1
"Hmm, kamu tuh belain Princess-nya terus," cecibirbik Gita.
"Bukannya belain, Sayang. Aku cuma pengen kita berempat kaya gini sesekali. Aku seneng aja kumpul berempat seperti ini di atas ranjang yang sama. Baru kali ini kan kita seperti ini?" tutur Zico melirik wajah sang istri.
"Iya juga, sih. Ya udah hari ini Zefa boleh bobo lagi, tapi besok-besok nggak boleh lagi ya, Sayang," jawab Gita membelai tangan sang putri.
"Yeeeee ...," sorak Zefa kegirangan.
"Jepa bobonya di mana dong?" tanyanya pada sang daddy.
Baru saja Gita akan bergeser agar Zefa tidur di tengah-tengah mereka, namun Zico menahan bahunya agar Gita tak bergeser.
"Zefa bobonya di atas Daddy aja sambil peluk Daddy, ya?" tawar Zico.
"Asiiiiikkkk," sorak Zefa lagi, kemudian ia tengkurap di atas tubuh Zico.
Mereka pun terlelap kembali di atas ranjang yang sama. Kecuali Zayn yang bangkit dari tidurnya setelah yang lain tertidur lelap. Ia mengendap-ngendap turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu. Ia pergi menghampiri daddy Austin dan mommy Celine yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Lho? Zayn turun sendiri? Yang lain ke mana?" tanya mommy Celine terkejut melihat cucu laki-lakinya itu hanya turun sendirian.
"Daddy, Mommy sama Zefa tidur lagi di kamar, katanya Daddy masih capek karena tadi malam pulangnya larut. Eh Zefa ikut-ikutan mau bobo juga. Katanya habis makan banyak dia jadi mengantuk," ujar Zayn membuat grandma dan grandpanya terkekeh.
"Terus Zayn kok nggak ikut tidur lagi?" tanya mommy Celine.
"Zayn nggak ngantuk, Genma. Zayn mau main PS aja boleh nggak?" Zayn meminta izin pada Genmanya. Karena Gita sudah menasihati Zayn agar tidak terlalu sering bermain PS, karena tidak baik untuk matanya.
"Zayn mau ikut Genma ke mall aja, nggak?" tawar mommy Celine yang memang ingin mengunjungi salon miliknya yang berada di sebuah mall.
"Mau, Genma," sahut Zayn antusias.
"Genpa ikut kan, Genma?" tanyanya lagi.
"Daddy mau ikut?" tawar mommy Celine.
"Tentu saja, kalau cucuku yang sudah meminta, pasti aku turuti," sahut daddy Austin sambil memeluk cucu laki-lakinya dan menghujani ciuman di wajah sang cucu.
"Eh tapi, nanti Zefa marah nggak ya kalau kita tinggal?" tanya mommy Celine pada sang suami. Karena cucu perempuannya itu memang sering sekali marah jika dirinya ditinggal. Kalau mommy Celine pergi lama saja, Zefa marah padanya dan tidak mau berbicara dengan genmanya.
"Sudah tidak apa-apa, nanti kalau dia menangis, minta saja dia menyusul bersama mommy nya," jawab daddy Austin.
"Ya sudah, mommy siap-siap dulu, ya," ucap mommy Celine pada daddy Austin. "Oya, Sus Deby!" teriak mommy Celine memanggil baby sitter yang biasa mendampingi Zayn. Deby pun menghampirinya.
"Iya, Nyonya."
"Tolong gantikan baju Zayn, ya. Saya mau membawa dia ke Mall, kamu juga ikut!" titah mommy Celine.
"Baik, Nyonya," jawab Deby.
"Oya, tolong beri tahu pada Suster Kiki, nanti kalau Gita dan Zefa bertanya, bilang saja kita sedang pergi ke salon, nanti mereka suru menyusul ke sana," pesan mommy Celine.
"Baik, Nyonya. Nanti saya sampaikan," sahut suster Deby lagi.
__ADS_1
Mereka pun bersiap dan berangkat menuju ke tempat tujuan mereka.