
"Ya, Mike!" sahut Zico.
"Gita, Yolla di mana?" tanya Mike.
"I don't know, Mike!" lirih Gita.
Mereka pun mencari Yolla ke mall tempat biasa Gita shopping dan nonton dengan Yolla.
Tetapi Yolla tetap tidak terlihat sehelai rambut pun.
Gita dan Mike mencoba menghubunginya berkali-kali tetap tidak ada jawaban.
Tetapi akhirnya mereka merasa lega setelah ada panggilan di ponsel Gita dan tertera nama Yolla di sana.
"Hallo?" sahut Gita menyatukan alisnya saat mengangkat panggilan itu, karena dari sebrang telpon sana terdengar suara yang sangat bising.
(Maaf, Kak! Apa Kakak teman dari pemilik ponsel ini?) tutur seorang pria dari sebrang telpon.
"Iya! Siapa, lo? Kenapa lo yang pegang ponselnya?" tanya Gita beruntun dengan nada ketus.
(Maaf, Kak! Saya pelayan di Sky Light Bar, teman kakak ini mabuk, saya tidak tahu harus bagaimana, karena Kakak ini hanya datang sendiri!)
"WHAT'S?? BAR??" kaget Gita Membelalakkan matanya.
Karena yang ia tahu selama ini Yolla sama seperti dirinya yang tidak pernah mengunjungi tempat-tempat seperti itu.
(Iya, Kak! Kami tung ... Auww!!!) teriak pelayan bar itu yang tiba-tiba saja dipukul kepalanya oleh Yolla.
(Siapa, lo?!! Kenapa? Kenapa lo ambil ponsel gue, hah?!!) suara Yolla yang terdengar seperti orang mabuk yang sedang marah-marah, membuat Gita benar-benar membelalakkan matanya lagi sembari menutup mulutnya yg terbuka karna terkejut.
"Zi! Ini beneran Yolla, Zi!" lirih Gita.
"Ya udah, Sayang. Ayo kita ke sana sekarang! Ayo, Mike!" seru Zico turut mengajak Mike.
Mike pun hanya mengerti kata bar yang diucapkan Gita, Ia merasa bingung, mengapa Gita merasa terkejut mendengar Yolla ada di bar, padahal di paris Yolla sudah biasa pergi ke bar dengannya, ia pun tak banyak tanya dan hanya mengikuti saja Gita dan Zico.
Di Sky Light Bar...
Setibanya di bar itu mereka mendapati Yolla yang tertidur menyandarkan wajahnya di meja.
"La! Ya ampun, La! Lo kok bisa-bisanya sih datang ke tempat seperti ini?" gerutu Gita menitihkan air matanya.
Yolla yang masih setengah sadar ternyata mendengar perkataan Gita padanya, ia pun membuka sebelah matanya.
__ADS_1
"Gita!!! Lo? Kenapa lo di sini, hah?! Pergi lo! Gue benci sama lo! Gue benci!!!" maki Yolla yang sedang merasa kesal pada Gita karena telah memberitahu Sean tentang perasaannya, yang membuat Yolla tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Sean, terlebih lagi Giselle.
"La, Maafin gue, La. Maafin gue!" ucap Gita terisak sambil memeluk Yolla sangat erat.
"Nggak!!! Pergi Lo!!! Pergi!!!" teriak Yolla yang mengamuk dengan air mata yang mengalir deras dan mendorong Gita sangat kasar, untung saja ada Zico yang segera menangkapnya.
Mike pun bergegas memeluk tubuh Yolla agar berhenti dari amukannya.
"La, Stop it! Calm down. Okay?" ucap Mike mencoba menenangkan Yolla.
Ia tak mengerti ada hal apa sebenarnya yang sudah membuat Yolla benar-benar marah seperti itu pada Gita, tapi ia tak mungkin menanyakannya saat ini juga.
Padahal yang Mike tahu, Yolla sangat menyayangi Gita, hanya Gita teman yang selalu di ceritakannya pada Mike, ia selalu mengeluh saat merasa rindu pada Gita.
Selama di paris sebenarnya Yolla selalu saja pergi ke bar di saat dirinya merasa jenuh, bahkan ia bertemu dengan Mike pada saat dirinya sedang mabuk di bar dan diganggu oleh para pria hidung belang, Mike lah yang menolongnya saat itu.
Mike memang sudah jatuh cinta pada Yolla saat sering melihat Yolla sedang minum sendirian, Tapi Mike tak berani mendekatinya karena Yolla yang sering memasang wajah tak ramah.
Saat Yolla sedang diganggu oleh para pria hidung belang yang ingin melecehkannya saat dirinya sedang mabuk, barulah Mike berani mendekati Yolla dan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya, dari situlah Mike mulai berani mendekati Yolla.
Semakin lama hubungan mereka semakin dekat, Bahkan Mike sudah pernah menyatakan perasaannya pada Yolla, tetapi Yolla menolaknya dengan tegas, Yolla memberitahunya bahwa Yolla belum bisa melupakan cinta pertamanya, jadi Yolla belum bisa untuk membuka hatinya untuk pria lain sebelum perasaanya pada cinta pertamanya itu benar-benar menghilang dari hatinya. Ia tidak ingin hanya menjadikan Mike sebagai pelampiasannya saja.
"Mike, Ayo kita bawa Yolla ke hotel dekat sini saja." titah Zico, karena membawa Yolla pulang dengan keadaan seperti ini sangat tidak mungkin, bisa-bisanya mama nya syok melihat kondisi Yolla yang mabuk seperti itu, dan membawa ke apartemen Gita sepertinya tidak mungkin juga karena ada orang tua Giselle yang menempatinya, jadi mau tidak mau mereka hanya bisa membawanya ke hotel terdekat saja.
Gita memegangi punggung Yolla di belakangnya takut kalau Yolla terjengkang ke belakang.
Setelah sampai di hotel, Gita pun segera mengganti pakaian Yolla yang sudah bau karena ada bekas muntahan dirinya sendiri saat di bar tadi, bahkan ia pun membersihkan muka Yolla menggunakan kapas dan pembersih wajah.
Mereka menyewa dua kamar di hotel itu, satu untuk Yolla dan Gita, dan satunya lagi untuk Zico dan Mike.
***
Pagi hari tiba, Gita yang sudah terbangun lebih dulu memandangi wajah Yolla.
"Maafin gue ya, La! Gue terima kalo lo mau tampar gue dan memaki gue, La. Tapi gue nggak bisa kalo lo musuhin gue, Gue nggak bisa, La. Selain Zico, cuma lo yang paling gue sayang di dunia ini, La. Cuma, Lo." gumam Gita sembari menitihkan air matanya.
Yolla yang mendengarkan pun segera membuka matanya perlahan, sebenarnya Yolla sudah terbangun, tapi ia menunggu Gita menyelesaikan perkataannya.
"Lho, La? Lo ... udah bangun?" ucap Gita yang tersentak saat melihat Yolla membuka matanya.
Yolla hanya menjawabnya dengan anggukkan.
"Sebentar ya, La! Gue mau pesan dulu air lemon madu hangat buat lo, biar pengar lo agak menghilang." Gita beranjak dari ranjangnya dan hendak menelpon untuk memesannya sebelum tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Yolla.
__ADS_1
"Git!" Panggil Yolla.
"Hmm? Kenapa, La?" Tanya Gita khawatir.
"Maaf ya, gue udah kasar tadi malam sama, lo." Ucap Yolla dengan perasaan menyesal, membuat Gita duduk kembali di atas ranjang.
"Gue yang minta maaf sama lo, La. Gue yang udah salah karena kasih tahu Sean tentang lo, nggak seharunya gue kasih tau dia." tutur Gita menundukkan pandangannya.
"Nggak, Git! Nggak apa-apa, setidaknya gue pun jadi ada alasan untuk benar-benar melupakan dia, Git. Besok gue akan benar-benar kembali ke paris bersama Mike, mungkin sekarang udah waktunya gue menutup pintu hati gue untuk Sean dan membuka pintu hati lainnya untuk, Mike." Imbuh Yolla.
"Ya! Lo benar, La. Mike sepertinya benar-benar cinta sama lo, dia kemarin benar-benar terlihat mengkhawatirkan lo." tutur Gita.
Yolla menghela nafas panjang.
"Hemmm ... Memang Mike selalu seperti itu, Git. Bahkan pertama kalinya kita bertemu pun saat kita bertemu di bar, dia yang menolong gue dari para pria hidung belang yang hampir melecehkan gue saat gue sedang mabuk." tutur Yolla menunduk.
"La! Sejak kapan lo pergi ke tempat kaya gitu?" tanya Gita yang benar-benar penasaran kenapa Yolla yang dikenalnya polos seperti dirinya bisa menjadi seperti, yang melampiaskan amarahnya pada alkohol.
"Udah lama, Git!" sahut Yolla singkat masih menundukkan pandangannya tak berani menatap Gita.
"Apa ini semua karena Sean?" selidik Gita lagi.
Yolla pun menganggukkan kepalanya.
"Di saat gue ke paris dan gue nggak pernah dapet lagi balasan pesan dari Sean, Hati gue terasa kosong, Git. Gue merasa separuh jiwa gue hilang, nggak ada lagi yang menghibur gue di saat gue lagi bete, nggak ada lagi yang bisa memperbaiki mood gue saat gue sedang badmood, Git. Karena selama gue berteman dengan Sean, hanya dia yang mampu menghadapi gue yang keras ini, dia selalu menghibur gue dengan semua caranya, semakin lama gue semakin merasa rindu berat sama dia, Git. Semakin merindukannya hati gue semakin sakit, hati gue terasa semakin kosong, Git." yutur Yolla menitihkan air matanya lagi, lalu melanjutkan, "Sejak saat itu, hanya alkohol yang mampu menghilangkan rasa sakit itu, Gita."
"Tapi kan alkohol itu nggak baik untuk kesehatan, La. Lo jangan minum alkohol lagi ya, La? Lo mau nggak janji sama gue kalo lo nggak akan menyentuh minuman itu lagi?" pinta Gita.
"Gue nggak bisa janji, Git." lirih Yolla menitihkan air matanya lagi.
"Lo kan katanya mau membuka hati lo untuk, Mike? Nah, mulai sekarang kalau lo lagi badmood lo minta temani Mike aja." tutur Gita.
Yolla menghembuskan nafasnya kasar.
"Okay, Git. Gue akan mencobanya. Mungkin kalo gue bisa menerima Mike, maka perlahan gue pun akan melupakan dia, Git." Lirihnya.
Gita mengangguk dan mengulas senyum di wajahnya.
"Terus, Lo jadi pulang besok? Memangnya lo udah nggak kangen ya sama, gue?" tanya Gita murung, ia benar-benar berat melepaskan Yolla pergi lagi ke negara fashion tersebut.
BERSAMBUNG...
____________________________________________________________________
__ADS_1