
***
Satu bulan pun berlalu...
Gita masih tinggal di kediaman keluarga Zico.
Sejak Gita tinggal di rumahnya, Zico jadi tidak betah hanya berdiam diri di kamar saja, ia sering sekali pergi ke kamar Gita, apalagi seperti saat ini ketika mommy Celine dan daddy Austin sedang tidak di rumah.
Ia berbaring di sofa yang ada di kamar Gita, ia rebahkan kepalanya di atas paha Gita yang sedang duduk di sofa itu.
"Sayang ... Aku sampai kapan sih harus tinggal di sini?" tanya Gita sembari memainkan rambut Zico.
"Ya selamanya lah!" sahut Zico terkekeh.
"Iisshh!!! Kamu tuh! Aku serius, Zico!" Gita mengomel sambil mencubit hidung Zico.
"Auww!!! Sakit, Sayang!" keluh Zico, karena cubitan Gita yang sedang kesal itu terasa agak menyakitkan.
"Suru siapa bikin aku kesal!" ketus Gita dengan bibirnya yang mengerucut.
__ADS_1
"Hehe ... Memang kenapa, Sayang? Kamu nggak betah tinggal di sini?" tanya Zico lembut sambil mengecup punggung tangan Gita yang sedang digenggamnya.
"Bukannya nggak betah, Zi! Aku cuma merasa nggak enak aja, kita kan belum nikah masa udah tinggal serumah," keluh Gita cemberut.
"Ya lagian kamu aku ajak nikah nggak mau!" goda Zico sambil tertawa.
"Iissh! Kamu tuh, ya! Aku lagi serius juga! Udah ah, aku mau tidur aja!" Gita mengangkat kepala Zico dan beranjak ke atas ranjangnya, ia terbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan ia tutupi sampai kepalanya.
Zico duduk di sofa menghela nafas panjangnya.
'Hmmm ... Ngambek mulu!' gumam Zico dalam hati.
Zico pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja.
***
Zico dan Gita sedang menyantap sarapan di ruang makannya, tapi mereka berbeda dari biasanya, mereka hanya saling acuh, tak semanis biasanya.
'Zico kenapa sih? Biasanya kalau aku marah dia bujuk aku, ini malah ikutan diemin aku, nyebelin!' gerutu Gita dalam batinnya, tanpa disadarinya suara benturan sendok dan piring pun terdengar agak nyaring karena kekesalannya.
__ADS_1
mommy Celine yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua pun membatin. 'Hmmm! Nih anak berdua kenapa lagi sih sebenarnya? pasti lagi marahan lagi deh.'
"Kamu kenapa, Sya? Kok seperti sedang kesal?" tanya daddy Austin yang memang tidak peka.
'Ck..., daddy nih, nggak peka banget sih jadi orangtua! Ngapain pakai ditanya segala sih!' mommy Celine membatin lagi karena ketidakpekaan sang suami.
"Eng ... Enggak kok, Pap! Aku nggak kenapa-kenapa, kok!" kilah Gita.
"Oh!" sahut daddy Austin singkat lalu melanjutkan menyantap sarapannya.
Setelah menyelesaikan makanannya, Zico dan Gita berangkat bersama ke kampus, sebenarnya Gita tidak ingin berangkat bersama Zico, tapi ia tidak ingin ada banyak pertanyaan dari daddy Austin, jadi ia memutuskan untuk tetap ikut mobil Zico saja.
Selama diperjalanan pun keadaan di dalam mobil begitu hening, tak terdengar sama sekali suara canda tawa mereka seperti biasanya.
Gita hanya mengerucutkan bibirnya saja dengan dahi yang berkerut di sepanjang perjalanan seraya menatap ke luar jendela.
Setelah tiba diparkiran kampus, saat mereka sedang turun dari mobil tiba-tiba saja ada sosok wanita cantik tinggi bak model papan atas menghampiri Zico dan memeluknya, bahkan ia mencium pipi Zico.
Gita yang melihatnya pun merasakan sesak di dadanya, bahkan nafasnya pun terasa sangat berat, apalagi melihat reaksi Zico yang tidak marah sama sekali, Zico malah tersenyum dan membalas pelukan wanita itu dan mengabaikan keberadaan Gita.
__ADS_1
Gita berlari menjauh dari Zico yang sedang terlihat mesra dengan wanita itu.
Gita berlari sambil menitihkan air matanya, pemandangan yang dilihatnya barusan benar-benar terasa sangat menyakitkan baginya.