
***
Satu minggu pun berlalu. Zico telah diperbolehkan pulang ke mansionnya. Ia tinggal di mansionnya, tidak lagi tinggal di apartemen. Sebenarnya Zico ingin sekali segera melangsungkan pernikahannya yang sempat tertunda. Namun, Gita menolaknya sampai Zico benar-benar pulih.
Karena Gerald memberitahunya, bahwa Zico saat ini masih dalam masa pemulihan. Di izinkan pulang bukan berarti sudah pulih sepenuhnya. Ia masih butuh waktu untuk beristirahat selama beberapa minggu ke depan.
***
Hari ini Sean baru menemui Yolla setelah kemarahan Yolla saat di rumah sakit itu, karena Sean fokus menyeleksi bodyguard terbaik untuk mengawal keluarga Zico.
Sean datang ke kantor Yolla, karena Mika sudah mengenal Sean dan Yolla selalu mengizinkan Sean masuk ke ruangannya, jadi Mika mempersilahkan Sean masuk tanpa bertanya pada Yolla terlebih dahulu.
Sean mengetuk sebentar pintu kaca dan mendorongnya masuk ke ruangan Yolla, setelah mendapat jawaban dari Yolla untuk masuk. Namun, saat Yolla melihat Sean yang masuk, ia berteriak.
"Mika!!!"
Mendengar bos nya berteriak memanggilnya dengan penuh amarah, Mika pun bergegas bangkit dari kursinya dan masuk ke ruangan bos nya.
"I-iya, Bu. Ada apa?" tanya Mika ketakutan menundukkan pandangan.
"Atas dasar apa kamu mengizinkan dia masuk tanpa bertanya pada saya?" maki Yolla masih duduk di kursi meja kerjanya. Padahal selama ini ia tak pernah sekalipun marah pada Mika, tapi kali ini ia benar-benar terlihat marah pada Mika. Sepertinya ia hanya melampiaskan amarahnya pada Mika karena kekesalannya pada Sean.
Selama satu minggu ini walaupun Sean sibuk ia selalu menyempatkan menghubungi dan mengirim pesan pada Yolla. Namun, tak pernah ada jawaban dari Yolla. Oleh karena itu, setelah ia sudah mendapatkan bodyguard untuk keluarga Zico, Sean bergegas menghampiri Yolla ke kantornya.
"La, dia nggak salah, La. Gue yang salah, gue yang udah nerobos masuk ke ruangan lo," jawab Sean membela Mika. Ia tak tega melihat Mika kena amukan Yolla.
"Mika, kamu keluar, ya. Saya mau bicara dengan Bu Yolla," ucap Sean tersenyum. Ia merasa tidak enak pada Mika karena menjadi pelampiasan amarah Yolla.
Setelah Mika keluar ruangan, Sean menghampiri Yolla dan berdiri di depan meja kerja Yolla.
"La, maafin gue, ya. Gue tau lo pasti kecewa banget sama gue," tutur Sean sambil memandangi Yolla yang sedang sibuk menandatangani dokumen-dokumen yang berada di atas meja.
Yolla hanya diam dan fokus memeriksa berkas-berkas yang akan ditandatanganinya. Sedangkan Sean masih diam berdiri mematung di depan meja Yolla.
"La," panggil Sean lagi.
Yolla pun meletakkan penanya di atas meja sambil menggebrak mejanya.
Yolla menatap tajam pada Sean yang sedang berdiri.
"Lo ngapain minta maaf sama gue? Kalo lo mau minta maaf, minta maaf lah sama Gita, bukan sama gue," tegas Yolla.
"Gue udah minta maaf sama Gita, La. Dan dia udah maafin gue."
"Ya udah, kalo Gita udah maafin berarti masalahnya udah clear, 'kan? Jadi ngapain lo ke sini?"
"La, gue tau lo pasti sama kecewanya sama Gita. Gue tau gue udah salah karena percaya sama omongan Priscilla begitu aja. Gue waktu itu cuma kasian aja sama dia, La. Nggak ada faktor apapun selain itu."
"Gue nggak peduli, lo mau kasian atau pun cinta sama dia, itu semua nggak ada sangkut pautnya sama gue."
"Tapi, La ...."
"Apa? Tapi apa? Udah deh, gue udah males ngebahas nenek sihir satu itu, lo urus sendiri aja gebetan lo itu."
__ADS_1
"Gebetan? Kan gue udah bilang gue nggak ada perasaan apapun sama dia, La."
"Gue pun udah bilang, mau lo ada hubungan apapun sama dia, gue nggak peduli."
"Tapi gue peduli, La! Gue nggak mau lo diemin gue kaya gini, gue sayang sama lo!" sentak Sean yang tanpa sadar sudah mengungkapkan perasaannya pada Yolla.
"What's? Apa lo bilang?" Yolla terbelalak, tak percaya akan apa yang didengarnya barusan.
"SAYANG! Gue sayang sama lo, La!"
Yolla mematung mendengar pernyataan Sean.
"Tapi, Sean. Gue udah punya Mike," ucap Yolla setelah hening beberapa saat.
"Gue tau, La. Tapi gue yakin, lo masih punya perasaan yang sama kan ke gue?" tanya Sean.
Yolla terdiam mendengarnya. Ia pun tak yakin dengan perasaannya saat ini, ia memang mengakui jika dirinya masih mempunyai perasaan yang sama pada Sean. Tapi ia pun tak tega untuk menyakiti hati Mike yang selama ini selalu menyayanginya dengan tulus.
Walau pun Mike adalah seorang Bule yang sering dikaitkan dengan pergaulan *** bebas, namun tidak dengan Mike. Mike belum sama sekali menyentuh tubuh Yolla, ia menghargai komitmen Yolla yang tidak ingin melakukan hubungan intim sebelum menikah. Pernah di satu hari Mike ingin mencium bibir Yolla, namun Yolla menolaknya. Dan sejak saat itu, Mike lebih menghargai Yolla. Ia tidak pernah mencoba untuk mencium bibir Yolla lagi. Hubungan mereka hanya sebatas cium kening dan pipi saja.
"Sorry, Sean. Gue lagi sibuk, sebentar lagi ada meeting penting," bohong Yolla mengalihkan topik sambil menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya.
"La. Tolong, La. Kamu harus jujur sama perasaan kamu. Jangan lakuin kesalahan yang sama seperti dulu," tutur Sean.
"Please, Sean! Stop bahas ini!" sentak Yolla. Ia tak ingin menyakiti hati Mike, di saat dulu hatinya sakit karena patah hati saat melihat Sean dengan Giselle, Mike lah yang membantunya menyembuhkan luka hati itu. Ia tak mungkin tega menyakiti hati Mike hanya demi orang yang pernah membuat luka di hatinya itu. Ya walaupun ia juga mengakui tentang perasaannya yang masih ada untuk Sean. Apalagi hampir dua bulan ini ia menjadi sangat dekat dengan Sean karena kasus tabrak lari Zico.
Yolla pun pergi ke ruang meeting, padahal ia tidak ada meeting apapun, ia hanya ingin menghindari Sean.
Sean berdiri mematung di tempatnya berdiri tadi, kemudian ia bergegas pergi ke mansion Zico mengantarkan beberapa dokumen yang perlu di tandatangani Zico.
***
"Lo kenapa?" tanya Zico sambil menandatangani dokumen-dokumen yang di bawa Sean. Sejak Sean masuk ke kamarnya ia memperhatikan wajah Sean yang terlihat seperti sedang banyak masalah yang di hadapi.
"Hmm? Eng-enggak apa-apa, Zi," sahut Sean singkat.
"Enggak usah bohong sama gue. Nggak apa-apa gimana? Muka lo aja kusut gitu, kok," Zico menghentikan aktifitasnya menatap Sean penuh tanya.
Sean menghela nafas kasar.
"Tuh, kan! Lo aja ngehela nafasnya sampe kaya gitu."
Sean tetap diam tidak mau bercerita masalah yang dihadapinya.
Zico pun menggelengkan kepalanya dan melanjutkan menandatangani dokumennya.
Ceklek...
Zayn membuka pintu kamar Zico dan masuk sendirian.
"Lho? Kamu ke sini sama siapa, Nak?" tanya Zico terkejut melihat Zayn hanya datang sendirian, padahal biasanya ia ke kamar Zico dengan Gita atau mommy Celine.
"Aku sendirian, Daddy," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Sendiri? Naik tangga atau lift? Memang Mommy ke mana?" tanya Zico lagi.
"Naik lift," sahut Zayn lagi.
"Astaga ... jangan lagi-lagi kamu naik lift sendirian ya, Nak. Takutnya kalo lift itu lagi error, kamu nanti sendirian di dalam lift," tutur Zico khawatir.
"Iya, Daddy."
"Kamu kenapa? Tumben ke sini sendirian? Zefa sama Mommy ke mana?"
"Mommy lagi temenin Zefa, kata Mommy, Zefa badannya demam," ucap Zayn.
"Demam? Kok Mommy nggak bilang Daddy?"
Zayn hanya menggendikkan bahunya.
"Ya udah, ayo kita ke kamar kamu," ajak Zico.
"Sean, lo jangan pulang dulu ya, ada hal penting yang mau gue omongin sama lo. Lo tunggu di tempat biasa kita main PS aja," pinta Zico pada Sean.
"Daddy, aku mau main PS sama Uncle Sean, boleh?"
"Oh, Zayn mau main PS? Ya udah sana ajak Uncle Sean main PS biar dia nggak galau," sindir Zico terkekeh pelan.
"Ayo, Uncle!" ajak Zayn sambil menarik tangan Sean mengajaknya turun ke lantai bawah. Sean pun turun ke lantai bawah bersama Zayn. Sedangkan Zico pergi ke lantai 2 menemui Gita dan Zefa.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ceklek...
"Princess Daddy kenapa?" tanya Zico mendekati putri kecilnya. Dikecupnya kening Zefa dan ternyata benar saja, suhu tubuhnya terasa sangat panas.
"Sayang, kok panas banget?" tanya Zico terbelalak menatap Gita saat bibirnya menyentuh kening Zefa.
"Iya, barusan udah aku kasih obat kok, Sayang. Sebentar lagi juga turun," jawab Gita.
"Kita bawa ke rumah sakit aja, ya? Ini panas banget, Sayang."
"Enggak usah, Sayang. Udah kamu istirahat aja sana, biar aku yang jagain Zefa," ujar Gita tersenyum. Padahal jelas terlihat kalau wajahnya terlihat sangat kelelahan.
"Sayang, kamu aja yang istirahat, biar aku yang jaga Zefa, ya? Sini kamu baring di samping Zefa," titah Zico sambil menepuk seprai di samping Zefa.
"Daddy, Daddy temenin Jepa bobo, ya?" rengek Zefa.
"Okay, Daddy temenin, ya," Zico pun berbaring disamping Zefa di tepi ranjang.
"Sayang, kamu kayanya capek banget, deh. Tidur di kamar aku aja, biar aku yang tidur di sini temenin Zefa sama Zayn," titah Zico.
"Zayn di mana?"
"Oh iya, Zayn di bawah lagi main PS sama Sean."
"Ooh ... ya udah aku istirahat dulu ya, Sayang. Badan aku pegel-pegel banget," pamit Gita.
__ADS_1
"Iya, Sayang," sahut Zico.