
Gita tiba-tiba terisak, dadanya terasa sungguh sesak, air mata nya meleleh tanpa bisa mengucapkan satu kata pun.
“Aku mohon, jangan beritahu Zico tentang hal ini, Aku malu pada Zico, Aku tidak ingin Zico menjadi manusia egois sepertiku.” Tutur Austin melanjutkan ucapannya.
Ia sangat malu pada Istri dan anaknya kalau mereka mengetahui sifat egoisnya yang mementingkan diri sendiri daripada sahabatnya.
Gita masih hanya diam dengan tangisnya, dadanya sangat sesak setiap mendengar perkataan kalau ayahnya melompat dari atap gedung, membayangkan wajah ayahnya yang putus asa membuat hati Gita terasa sangat perih.
Bruukkk…
Gita pun terjatuh dari kursi, ia tak sadarkan diri karena terlalu shock.
Austin segera menggendong Gita dengan tangannya sendiri, membawanya ke dalam mobil, Bayu terkejut melihat CEO nya menggendong Gita dengan tangannya sendiri seperti itu, ia segera membukakan pintu mobilnya dan mengemudikan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Dirumah sakit setelah diperiksa diruang IGD ia segera dipindahkan ke ruang VIP.
Akhirnya Gita tersadar setelah kurang lebih dua jam ia tak sadarkan diri.
Saat Gita terbangun ia memanggil-manggil sang Ayah, sepertinya ia sedang bermimpi.
“Ayah.. Ayah.. jangan tinggalin Gita Ayah..” mata Gita masih terpejam tetapi air matanya mengalir.
“Gita… Gita… bangun Gita.” Austin mencoba membangunkan Gita.
Gita pun membuka matanya.
“Ibu.. dimana Ibu? Aku mau bertemu Ibuku.” Gita menangis terisak lagi.
“Kamu makan dulu ya, dan minum obatnya, nanti Aku antar kamu ke tempat Ibumu, Aku juga ingin bertemu dengannya.” Sahut Austin.
“Tidak, jangan temui Ibuku, jangan beri tahu Ibuku tentang hal itu!” Ucap Gita.
“Memang kenapa? Aku harus meminta maaf darinya juga.” Tanya Austin.
“Aku gak mau trauma Ibu kembali lagi, ditambah lagi Ibu sedang sakit, Aku takut keadaan Ibu bertambah parah.” Jawab Gita.
“Baiklah, Aku tidak akan menemuinya, tapi tolong izinkan aku menanggung semua biaya rumah sakit ibumu dan juga kebutuhan hidup kalian, kamu fokus saja pada sekolahmu, jangan lagi bekerja di Toko itu.” Pinta Austin dengan nada tegas.
__ADS_1
“Tapi…?” belum selesai mengucapkan kalimatnya sudah dipotong oleh Austin.
“Tidak ada kata ‘Tapi’! Aku ingin menjalankan amanat dari sahabat terbaikku, dan juga menebus kesalahanku yang telah mengabaikan permintaan tolong darinya.” Sahut Austin tak mau dibantah.
“Tuan..” lagi-lagi ucapan Gita dipotong Austin.
“Jangan panggil aku Tuan, panggil aku Daddy saja.” Sahut Austin.
“Tapi kenapa aku harus panggil Daddy?” Tanya Gita polos.
“Kamu kan pacarnya Zico, Aku sudah pasti merestui kalian, suatu saat kalian harus menikah, jadi panggil saja aku Daddy, kamu boleh anggap aku seperti ayahmu.” Tutur Austin.
“Baiklah...” Sahut Gita menurut, ia melanjutkan, “Dad.. Daddy gak perlu menyalahkan diri Daddy sendiri, ini memang sudah jalan takdir keluarga kami.” Lirih Gita.
Austin hanya termenung tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
Setelah kurang lebih lima menit mereka sama-sama terdiam, akhirnya Austin memecah keheningan itu.
“Gita, kalau kamu dan Ibumu mendapat kesulitan atau masalah apapun, kamu ceritakan pada Daddy ya.” Pinta Austin.
“Okay, Daddy melakukan ini bukan karena tanggung jawab, tapi karena amanat yang Ayah kamu tinggalkan, dia meminta Daddy untuk menjagamu dan juga Ibumu.” Ucap Austin tegas. Ia melanjutkan, “Seperti yang Daddy bilang sama kamu, mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi bekerja, kamu fokus saja pada cita-citamu, kamu ingin menjadi dokter seperti ayahmu kan?” Tanya Austin.
“Ya Daddy, tapi entahlah...” Gita menggantung kalimatnya.
“Kenapa?” Tanya Austin penasaran.
Gita diam saja tak mau menjawabnya.
“Ya sudah pokoknya kamu harus menuruti Daddy, mulai sekarang kamu tidak boleh lagi bekerja.” Ucap Austin tegas tak ingin dibantah, saat seperti ini Gita merasa seperti sedang diceramahi oleh Zico. Memang buat jatuh tak jauh dari akarnya.
“Iya Daddy.” Sahut Gita menundukkan kepalanya.
Zico tiba-tiba datang dan menerobos masuk ke kamar itu.
“Daddy!!!” teriak Zico, wajahnya merah padam, terlihat sangat marah pada Daddy nya.
“Apa yang Daddy lakukan pada Gita? Kenapa Gita bisa sampai begini?” Tanya Zico dengan emosinya yang bergejolak, karena ia benar-benar sangat tidak suka jika Daddynya mencari tahu soal Gita, apalagi sampai menemuinya.
__ADS_1
“Zi, kamu nggak boleh bentak-bentak Daddy kamu seperti itu!” Gita memegang tangan Zico, mencoba meredam amarahnya.
“Apa yang sudah Daddy lakukan pada kamu Git?” Tanya Zico tegas.
“Daddy nggak melakukan apapun Zi, Daddy malah nolong aku, Daddy yang bawa aku ke rumah sakit ini, aku tadi pingsan karena kelelahan Zi.” Tutur Gita.
Barulah emosi Zico mulai mereda.
“Mulai besok kamu jangan biarkan lagi dia bekerja Zico! laki-laki macam apa kamu membiarkan pacarmu bekerja seperti itu!” Tegas Austin.
Zico menatap Gita, ia bingung kenapa Austin bisa luluh seperti itu pada Gita.
Gita hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
Zico pun akhirnya mengerti, ternyata Daddynya tidak melakukan apa yang Zico pikirkan.
“Kamu kok bisa tahu aku disini?” Tanya Gita.
Flashback On…
Saat Zico sudah mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit, ia baru menyadari kalau ponsel Gita tertinggal di dalam mobilnya, akhirnya Zico pun putar balik kembali ke Mini Market, ia mencari Gita untuk mengembalikan HP nya.
Ternyata kata Manager Toko itu Gita diajak pergi oleh Austin William, ia menjadi sangat kesal mendengarnya,ia mengira Austin akan meminta Gita untuk menjauhinya.
Akhirnya ia pun meminta Sean untuk menelpon Papanya yang tidak lain adalah Bayu, setelah Sean memberi kabar padanya tentang keberadaan Daddynya dan Gita, ia bergegas datang ke restoran itu, tetapi saat ia tiba disana ternyata Austin sudah pulang dari restoran itu, Zico mendengar dari pelayan restoran itu bahwa gadis yang bersama Daddynya itu pingsan dan dibawa ke rumah sakit, mendengar itu Zico merasa darahnya mendidih, sudah merasa sangat kesal pada Daddynya.
Akhirnya ia menyusul ke rumah sakit terdekat dari restoran itu.
Flashback Off…
“Kamu nggak apa-apa sayang? Ini Hp kamu tadi tertinggal didalam mobil, jadi aku datang lagi tadi ke toko, tapi yang jaga manager toko, dan dia bilang kamu pergi sama Tuan Austin William.” Tutur Zico menegaskan kata 'Tuan Austin William', sembari mengembalikan Hp Gita, matanya melirik tajam pada Daddynya.
“Oh!” Sahut Gita singkat.
“Zico, Daddy titip Gita sama kamu, kamu harus selalu jaga dia, lindungi dia ya seperti waktu kalian masih kecil dulu.” Ucap Austin.
“What’s?” Sahut Zico dan Gita serempak.
__ADS_1