
“Tapi kenapa, Sayang? Tolong jelasin sama, Aku. Apa alasan kamu? Kenapa kita harus putus sedangkan sejauh ini hubungan kita baik-baik aja. Bahkan tadi malam kita dinner. And then, kamu tiba-tiba meminta putus sekarang, apa sebenarnya salah aku, Sayang? Seberapa keras pun aku berpikir aku tetap nggak bisa mengerti kenapa kamu tiba-tiba mau mengakhiri semuanya seperti ini, tolong jelasin sama, Aku, heummm? ... Aku cinta banget sama kamu, Gita. Kamu tahu itu, kan?” Zico menatap Gita begitu lembut dan tatapan memohon dengan manik mata yang mulai mengembun sambil memegang dan mengelus tangan Gita dengan ibu jarinya.
Gita menghempaskan kasar tangan Zico lagi, ia menyunggingkan sudut bibirnya.
"Hah?! Cinta, kamu bilang?! Maaf! Aku udah nggak bisa percaya sama kamu lagi, Zico! Kamu tuh udah tega bohongin aku! Tolong! Jangan pernah kamu cari aku lagi!!!" ancam Gita sambil menunjuk wajah Zico dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Gita menampar keras wajah Zico karena telah membohonginya, tetapi ia tidak sanggup, cintanya untuk Zico terlalu besar dibandingkan rasa bencinya, apalagi selama mereka menjalani hubungan, Zico selalu ada disaat masa-masa tersulit yang dihadapi Gita, Zico adalah laki-laki yang penuh perhatian dan kasih sayang kepadanya.
"Bohong?! Maksud kamu, bohong apa?! Aku nggak pernah bohongin kamu, Gita!" sentak Zico marah. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Gita, ia lupa kalau ia pernah membohongi Gita tentang siapa yang ia temui di pesta itu. Karena pada saat itu ia ada dibawah pengaruh obat perangsang dan obat tidur yang telah dibubuhkan di dalam jus jeruk itu, sampai detik ini pun ia tidak pernah menyadari apa yang sepenuhnya terjadi pada malam itu, yang ia ingat hanyalah dirinya yang tiba-tiba terbangun di sebuah kamar hotel dengan bertelan jang da da dan setelah itu ia segera pergi ke apartemen Gita dan melakukan hal itu dengan Gita, itupun ia sudah meminta maaf pada Gita berulang kali dan Gita sudah memaafkannya.
“Pokoknya aku mau kita putus! Tolong mulai sekarang anggap kita nggak pernah saling kenal, dan jangan pernah kamu menghubungi aku lagi!!!” sentak Gita pula dengan wajah yang merah padam, dan segera berlari pergi meninggalkan Zico, ia sudah tidak sanggup menahan perih dimatanya dan juga hatinya, ia segera menghentikan taksi, ia ingin sekali melepaskan tangisnya. Di dalam taksi Gita menangis sejadi-jadinya, air matanya mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Dengan air mata yang tiba-tiba menetes, Zico tidak mampu lagi untuk berkata-kata, ia hanya berdiri mematung ditempatnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Gita barusan. Apa maksud dari membohongi? Apa yang sebenarnya dimaksud Gita? Kemudian setelah ia tersadar dari lamunannya ia pun bergegas mengejar Gita, tapi sayang taksi yang ditumpangi Gita pun sudah tak terlihat lagi.
Zico memutuskan untuk menyusulnya ke apartemen saja. Ia lajukan mobil sport miliknya dengan kecepatan penuh, tapi ternyata saat ia mencoba memasukkan kata sandi pada pintunya, kata sandinya telah diganti. Ia mencoba menekan bel-nya, tapi ternyata yang membuka pintu apartemen itu adalah orang lain. Ternyata Gita sudah menjual apartemennya sejak kemarin. Zico terduduk lemas di depan pintu apartemen Gita sambil meremas rambutnya.
‘Pantas aja kemarin dia diam aja waktu di restoran dan bersikeras menolak untuk diantar pulang. Ternyata Gita yang sudah merencanakan semuanya. Ada masalah apa sebenarnya sama dia? Kenapa harus sampai menjual apartemen peninggalan Ibunya ini? Dan kenapa dia seperti benci sekali sama aku? Apa ini semua ada hubungannya dengan apa yang ia katakan kemarin bahwa ada sesuatu hal yang harus aku tau? Tapi kenapa Gita nggak mengatakannya aja? Kenapa dia malah meminta putus seperti ini? Apa hubungan kita bener-bener berakhir seperti yang aku takutkan selama ini, Git?’ pikir Zico dalam batinnya sambil meremas rambutnya.
__ADS_1