First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Teman Baru


__ADS_3

"Dia ...?" tanya Zico menggantung sambil menatap kagum pada Gita.


Gita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sebenernya waktu di Paris dia di sarankan untuk ikut program akselerasi, tapi aku tolak," tutur Gita.


"Kenapa? Kok kamu tolak?" tanya Zico mengernyitkan dahi.


"Aku mau Zayn tumbuh bersama dengan anak seusianya, Zi. Aku nggak mau dia nantinya terlalu cepat dewasa karena bergabung dengan teman-teman yang umurnya jauh lebih tua di banding dia," jelas Gita.


"Ooooh ..." sahut Zico sambil menatap kagum Zayn.


Ternyata hanya wajah dan sikapnya saja yang mirip sepertinya, namun otaknya sama jeniusnya seperti Gita. Ia semakin bangga pada dirinya sendiri karena memiliki anak-anak yang luar biasa seperti Zayn dan Zefa dari rahim wanita yang sangat dicintainya. Seperti yang selalu ia impikan sejak dulu. Ia akan merasa hidupnya lebih sempurna jika ia dan Gita sudah resmi menikah, ingin rasanya ia menikah secepatnya, namun ia sudah berjanji pada Gita bahwa ia akan berusaha untuk mengambil hati Zayn terlebih dulu. Membuat Zayn menerima dirinya sebagai ayah kandungnya.


"Zayn ... Ada yang mau kamu makan nggak, Nak? Biar Daddy belikan," bujuk Zico.


Zayn hanya diam saja tak mau menjawab seperti biasa.


"Zayn! Kalau ditanya dijawab dong, Nak," tegur Gita.


"Aku nggak lapar!" sahut Zayn ketus.


"Yang bener? ... Daddy, Mommy mau pizza dong, kayanya enak deh makan pizza," ucap Gita pada Zico sambil memberi kode pada Zico.


Zico yang awalnya tak ngerti kenapa Gita mengedipkan matanya. Akhirnya ia mengerti saat Gita melirik ke arah Zayn.


"Oooh ... Okay, Mommy! Sebentar ya, Daddy orderin dulu," ucap Zico tersenyum.


Zico memesan melalui aplikasi di ponselnya, setelah 30 menit berlalu tiba lah pizza yang di pesan oleh Zico.


"Yeaaah ... Pizza nya datang," seru Gita sambil membuka box pizza yang di antar oleh kurir di depan Zayn.


"Eummm ... Enak sekali pizza nya ya, Daddy!" seru Gita sengaja menggoda sang putra yang hobby sekali makan pizza. Ia memperhatikan Zayn yang mulai meneguk salivanya sendiri. Zico hanya tersenyum melihat Gita menggoda sang putra.


"Zayn, ini dimakan dong, Sayang. Enak sekali, lho!" goda Gita.


Melihat putranya yang masih saja merasa gengsi. Akhirnya Gita pun menyuapkan pizza ke mulut mungil Zayn.


"Gimana? Enak, kan?" tanya Gita tersenyum.


Zayn pun mengangguk dan merampas sepotong pizza yang ada di tangan sang mommy, kemudian melahapnya.


Zico tersenyum melihat Gita dan Zayn yang sedang menikmati pizza yang dibelinya.

__ADS_1


"Zi, kamu nggak ikut makan?" tanya Gita sambil mengunyah pizza di mulutnya.


Zico pun menggelengkan kepalanya sambil membersihkan sisa makanan di sudut bibir Gita dengan ibu jarinya.


"Serius? Memang kamu nggak lapar?" tanya Gita lagi.


"Enggak, Sayang. Aku tadi kan sarapan nasi goreng. Jadi masih kenyang," terang Zico mengelus rambut Gita dengan lembut.


Zayn diam-diam terus melirik mereka, ia memperhatikan sikap lembut Zico pada Gita. Tapi perasaan kesalnya pada Zico belum bisa hilang begitu saja.


"Oya, Yolla!" pekik Gita.


"Yolla? Dia kenapa?" tanya Zico menyatukan alisnya.


"Aku lupa, dia itu kan lagi marah sama aku, aku harus bujukin dia, Zi," bisik Gita di daun telinga Zico. Ia tidak ingin Zayn mengetahuinya.


"Marah kenapa?" bisik Zico pula.


"Kamu lupa sama tamparan dia?" Gita malah bertanya balik masih berbisik.


"Oh iya! Lupa aku ... ya udah aku ikut kamu kalau kamu mau bujukin dia, aku mau minta maaf sama dia," bisik Zico lagi. Ia sangat tahu, Yolla sangat menyayangi Gita, ia pasti masih sangat marah kepadanya karena kejadian tempo hari.


Gita menganggukkan kepalanya, tapi ia bingung, bagaimana dengan Zayn, tidak mungkin ia membawanya ke rumah Yolla, ia tidak ingin Zayn melihat Yolla memaki Zico. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Yolla. Ia memutuskan akan menemui Yolla besok saja di kantornya.


Gita hanya diam saja, ia tak menyangka momen manis seperti ini bisa ia rasakan kembali bersama Zico.


Mendadak suara bel apartemennya berbunyi, Gita mengangkat kepala Zico dari atas pangkuannya. Zico pun duduk di sampingnya.


"Bentar ya, Zi. Aku buka pintu dulu," ucap Gita.


Saat Gita bangkit Zico menarik tangannya dengan cepat, sebelah tangannya menekan tengkuk Gita, kemudian melu mat bi bir manis Gita dengan lembut, Gita pun membalasnya, ia terhanyut oleh sentuhan bi bir Zico. Membuatnya lupa kalau saat ini ada yang sedang menunggunya membukakan pintu.


Bel pun kembali berbunyi.


Membuat mereka terkejut dan melepaskan bi birnya yang saling bertaut. Mereka pun terkekeh pelan setelah melepaskan bi birnya satu sama lain.


Gita segera berlari kecil dan menghampiri pintu lalu membukakan pintu.


"Gita!!!" teriak Nadhira yang seketika berhambur memeluk Gita.


Ya, yang sedari tadi menunggu Gita membukakan pintunya adalah Nadhira dan juga Alex yang sedang menuntun seorang anak laki-laki seumuran dengan Zayn dan Zefa.


Anak laki-laki itu Xavier Martinez, putra pertama dari Alex dan Nadhira. Vier adalah nama panggilannya. Usianya lebih muda lima bulan dari Zayn dan Zefa. Karena saat kejadian obat perangsang, Alex dan Nadhira baru saja bertunangan, sebulan setelahnya mereka baru menikah. Dan Nadhira mulai mengandung Xavier tiga bulan setelah pernikahan mereka.

__ADS_1


Sedangkan Zayn dan Zefa lahir prematur di usia kandungan Gita yang baru menginjak delapan bulan.


Gita membalas pelukannya, kemudian melepaskan pelukannya kembali.


"Kamu tau dari mana aku di sini, Ra?" tanya Gita menyatukan alisnya.


"Sean!" jawab Nadhira ketus.


Gita mengernyitkan dahinya, padahal barusan Nadhira tertawa walaupun sambil menitihkan air mata. Tapi tiba-tiba ia merubah raut wajahnya menjadi cemberut.


"Lo tega banget sih? Udah ninggalin kita nggak bilang-bilang, terus pulang juga nggak ada hubungin gue!" ketus Nadhira lagi mengerucutkan bibir.


"Maaf," lirih Gita. Ia hanya mampu mengucapkan satu kata itu sambil menitihkan air mata.


Nadhira menjadi merasa bersalah melihat Gita menangis, ia memeluknya kembali.


"Masuk dulu kali, duduk, baru peluk-pelukan," seru Zico yang sedang menghampiri mereka dan melihat mereka sedang berpelukan sambil menangis.


"Lo berdua udah baikan?" tanya Alex melihat Zico ada di sana juga.


Karena yang ia tahu dari Sean, saat itu Sean bilang kalau mereka belum baikan, karena ada kesalahpahaman di antara mereka berdua. Sean bercerita pada Gilbet kalau Zico sampai mengumpat Gita dengan kata '******'. Sean pun tak menyangka kalau Gita akan memaafkan Zico secepat itu.


"Udah, dong!" jawab Zico sambil tersenyum tengil dan merangkul bahu Gita.


"Iissh! Kamu kok semudah itu sih maafin dia?" omel Nadhira menatap sinis Zico.


"Lho? Kenapa?" sahut Zico ketus, ia sama sekali tak berpikir kalau Sean telah bercerita semuanya kepada mereka.


"Udah ah! Jangan ribut, ada anak-anak juga!" omel Gita sambil melirik Vier yang kemudian menarik pergelangan tangan Nadhira mengajaknya masuk ke dalam.


Gita pun menghampiri Vier lalu berlutut di hadapannya.


"Nama kamu siapa, Sayang?" tanya Gita lembut.


"Vier, Aunty! Umurku 5 tahun, aku suka main basket sama Papi," jawab Vier panjang lebar. Ia terlihat cerewet seperti Nadhira. Hanya ditanya satu kata saja oleh Gita, dia menjawabnya panjang lebar.


Gita terkekeh pelan sambil menatap Nadhira dan menggelengkan kepala saat mendengar jawaban Vier.


"Pintar sekali! Vier mau kenalan sama Zayn nggak?" tanya Gita lagi.


"Siapa dia?" tanya Vier polos.


"Dia anak Aunty ... mau ya kenalan sama Zayn?" bujuk Gita.

__ADS_1


Akhirnya Vier pun mengangguk dan mengajak Vier ke kamar Zayn, walaupun awalnya agak sulit, tapi akhirnya Zayn mau bermain dengan Vier.


__ADS_2