First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Penolakan Zayn


__ADS_3

"Zayn!" sentak Gita. Ia benar-benar tak menyangka putranya itu sudah mulai berani menyentaknya, padahal selama ini Zayn selalu lembut pada Mommy nya.


"Sayang ... calm down, Okay? Kamu bawa Zefa turun, ya? Aku mau ngomong berdua sama Zayn," tutur Zico mencoba tersenyum di depan Gita sambil menangkup wajahnya, padahal sebenarnya ia sangat sakit karena penolakan Zayn barusan.


Gita pun menurut pada Zico dan membawa Zefa pergi ke ruang keluarga berkumpul bersama mommy Celine dan daddy Austin.


"Zayn, Daddy boleh tau nggak kenapa Zayn bersikap seperti ini?" tanya Zico lembut, ia benar-benar begitu berhati-hati saat bertanya kepada putranya itu.


"Uncle bukan Daddy aku!" ketus Zayn membuang mukanya, benar-benar tak mau menatap Zico.


"Daddy mengerti kalau Zayn belum bisa menerima Daddy, hal ini pasti membuat Zayn bingung, ya?" tanya Zico lagi.


Zayn hanya diam tak mau menjawab.


"Kalau ada yang mau Zayn tanyakan, coba saja tanyakan pada Daddy. Daddy akan menjawab semua yang ingin Zayn ketahui," tawar Zico.


"Kalau memang Uncle itu Daddy ku, kenapa selama ini Uncle tidak pernah mendatangi kami? Kenapa yang melindungi kami selama ini adalah Uncle Ken?" tanya Zayn yang memang pikirannya sudah melebihi anak-anak seusianya.


"Zayn, ada sesuatu hal yang membuat Mommy dan Daddy berpisah selama ini. Ada banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi di antara kami. Daddy bukannya tidak pernah mencari kalian, Daddy sudah mencari kalian selama ini, tapi Daddy tidak pernah berhasil menemukan kalian," jelas Zico panjang lebar.


"Kalau Zayn nggak percaya, Zayn bisa tanya Genma," lanjutnya.


"Tapi kan Genpa tau keberadaan kami, kenapa Uncle tidak tanya Genpa?"


"Genpa tidak pernah memberitahu Daddy dan Genma kalau Genpa tahu keberadaan kalian."


"Terus kenapa kemarin itu Uncle bilang kalau Mommy itu ******? Aku tanya Genpa katanya itu kata umpatan kasar, katanya aku tidak boleh berkata seperti itu kepada orang lain."


"Maaf ya, Sayang. Kemarin itu ada kesalahpahaman yang membuat Daddy marah sekali pada Mommy ... Daddy nggak bermaksud seperti itu," terang Zico dengan mata yang mengembun.


Zayn terdiam mendengar itu, nampaknya ia belum bisa menerima alasan Zico. Zayn membaringkan tubuhnya lagi dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa menjawab Zico sepatah katapun.


"Zayn masih ngantuk, ya? Kalau gitu, Daddy tinggal dulu ya, Nak. Kamu banyak istirahat ya, supaya cepat sehat," ucap Zico mencium kepala Zayn yang terhalang oleh selimut.


Zico pun kembali ke kamarnya dan menumpahkan kesedihannya di dalam kamar, terisak sendirian.


Gita yang tengah merasa gelisah menunggu Zico dan Zayn ikut turun dan berkumpul bersama mereka di ruang keluarga, akhirnya pun menyusulnya ke kamarnya, namun ia hanya menemukan Zayn yang sedang tertidur lagi, ia kecup kening Zayn kemudian ia menyusul Zico ke kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


Ceklek...


"Zi!" panggil Gita sambil membuka pintunya, namun saat ia melihat Zico sedang menangis terisak di tepi ranjang, dengan cepat Gita menghampirinya.

__ADS_1


"Zi, Kamu kenapa?" tanya Gita berlutut di depan Zico yang sedang menunduk. Dengan cepat Zico memeluk erat Gita.


"Maafin aku, Sayang. Maafin aku ...  maafin aku," Zico terus meminta maaf pada Gita. Ia benar-benar merasa bersalah pada Gita dan anak-anaknya.


"Kamu kenapa? Zayn bilang apa sama kamu?" tanya Gita sambil melepas pelukan Zico dan menangkup wajahnya.


Zico hanya menggelengkan kepalanya.


"Zi, Please! Bilang sama aku, Zayn ngomong apa?" tanya Gita lagi.


Setelah hatinya terasa lebih tenang, akhirnya Zico pun menceritakan tentang perbincangannya dengan Zayn.


Mendengar cerita Zico, Gita pun beranjak dan hendak pergi ke kamar Zayn.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Zico.


"Aku mau samperin Zayn!" sahut Gita sambil berjalan, dengan cepat Zico menangkap pergelangan tangan Gita.


"Jangan, Sayang! Untuk apa kamu ke sana?"


"Aku mau bilang sama Zayn kalau ini semua salah aku, dia nggak boleh benci sama kamu kaya gini, ini semua salah aku, aku yang udah ninggalin kamu, Zi! Aku yang salah!" teriak Gita.


"Enggak-enggak! Kamu nggak boleh bilang kaya gitu sama Zayn. Biarin Zayn benci aku aja, tapi dia nggak boleh benci kamu! Kamu itu ibu yang sudah melahirkan dia, dia nggak boleh benci sama kamu, Sayang!"


"Sayang, aku kan bertemu kalian aja baru 3 hari ini kan? aku yakin suatu saat nanti hati Zayn akan luluh sama aku. Aku akan selalu berusaha untuk ngambil hati dia. Kamu tenang, Okay?" tutur Zico memeluk Gita berusaha menenangkannya.


Gita hanya menangis di pelukan Zico, begitu pun dengan Zico. Mereka akhirnya sepakat akan menikah jika Zico sudah berhasil meluluhkan hati Zayn.


Setelah hari sudah menjelang siang. Dan suhu tubuh Zayn sudah mulai mereda, mereka pun pergi ke apartemen Gita.


Di mobil, Zayn hanya diam saja tak mengatakan apapun, berbeda dengan Zefa yang cerewet dan menanyakan banyak hal pada daddy-nya.


Setelah tiba di sana, ternyata Kenzo sudah menunggunya di dalam mobil.


Saat melihat Gita turun bersama Zico dan anak-anaknya, hati Kenzo terasa sakit sebenarnya. Namun, ia tahu betul jika kebahagiaan Gita hanya ada pada Zico.


Ia pun turun dari mobilnya, "Gita!" panggil Kenzo sambil keluar dari mobilnya.


Sontak Gita, Zico, Zayn dan Zefa yang sedang berjalan masuk ke lobi apartemennya pun menoleh.


"Uncle Ken?" ucap Zefa. "Daddy, tulunin aku, aku mau ke Uncle Ken!" Zico pun melepaskan Zefa dan membiarkannya berlari menghampiri Kenzo.


Kenzo pun menyambutnya dengan berlutut lalu menggendongnya dan memeluknya erat.

__ADS_1


Zico pun merasa cemburu sebenarnya, karena ternyata sang putri benar-benar lengket pada Kenzo. Namun ia teringat perkataan Gita dan juga daddy-nya tentang Kenzo yang selalu menjaga Gita dan juga anak-anaknya.


"Uncle Ken kangen Jepa, ya?" tanya Zefa polos, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Of course! I miss you so much!" ucap Kenzo sambil menciumi pipi Zefa dengan gemas.


Zico tak menyangka, Kenzo yang memiliki sikap lebih dingin darinya, ternyata bisa seceria itu jika bersama Zefa.


Gita pun mengajak Kenzo masuk ke apartemennya.


"Ken, mau minum apa?" tanya Gita.


"Enggak usah repot-repot, Git. Aku mau ajak anak-anak jalan aja, boleh?"


"Zi! Boleh 'kan?" Gita malah bertanya pada Zico.


"Terserah kamu!" jawab Zico acuh sambil membuka ponselnya.


Padahal Gita berharap Zico bisa saling sapa dengan Kenzo. Namun sepertinya rasa gengsi Zico terlalu besar untuk melakukan itu.


"Ya udah, Ken! Tapi jangan pulang terlalu malam, ya? Terus Zayn juga nggak bisa ikut, dia baru aja mendingan, tadi malam badannya panas banget," terang Gita.


"Oh, ya udah nggak apa-apa," jawab Kenzo sambil menghampiri Zayn.


"Zayn istirahat, ya! Biar cepet sembuh. Nanti kalau udah sehat Uncle ajak Zayn jalan lagi, okay?"


Zayn pun mengangguk lalu mengepalkan tangannya, dan melakukan salam tinju seperti biasa bersama Kenzo.


Zico begitu iri melihat keakraban Kenzo dengan Zayn, hatinya sakit sekali melihat anak kandungnya sendiri lebih dekat pada sahabatnya di bandingkan dengan dirinya.


Kenzo pun mengajak Zefa pergi ke mal yang terletak tak jauh dari apartemen Gita.


"Sayang, Kenzo mau ajak Zefa ke mana?" tanya Zico saat Kenzo sudah pergi dari apartemen Gita.


"Enggak tau! Tadi kenapa kamu nggak tanya Kenzo? Gengsi banget! Sama temen sendiri juga!" cibir Gita.


Zico hanya diam tak menjawab apapun, ia mencoba menghampiri Zayn yang sedang menonton TV sambil memainkan rubrik.


Zico memperhatikan sang putra begitu cepat memainkan rubrik itu dengan lihai.


Bahkan hanya dengan 1 menit Zayn sudah berhasil menyamakan semua warnanya membuat Zico tercengang melihatnya. Ia pun memandang Gita yang juga sedang menatap Zayn, sehingga mereka saling bertatapan.


"Kenapa? Kaget, ya?" tanya Gita tersenyum pada Zico.

__ADS_1


__ADS_2