
"Aaaaaaa!!!" teriak Miss Cantika yang melihat Zayn hampir tertabrak oleh sebuah mobil SUV berwarna hitam. Namun dengan cepat Zico menarik lengan Zayn dan mendorongnya ke sisi jalan sehingga Zico lah yang tertabrak oleh mobil SUV itu, Zico tertabrak hingga terpental sekitar lima meter dari titik lokasi kejadian. Kemudian mobil itu pun kabur begitu saja dari tempat kejadian.
Zayn yang terjatuh karena di dorong oleh Zico pun tersentak karena melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika sang daddy tertabrak karena menolongnya.
Miss Cantika menggendong Zefa kemudian berlari menghampiri Zayn. Ia mencoba menutup mata Zefa dan Zayn untuk tidak melihat sang daddy yang terkapar di atas aspal dan bergelimangan darah yang keluar dari kepalanya. Ia takut kedua anak didiknya itu akan merasakan trauma saat melihat kondisi sang ayah.
Dengan tangan yang gemetar, Miss Cantika mencoba menelpon ambulance dan juga polisi. Kemudian ia pun menghubungi Gita. Namun ternyata tidak ada jawaban dari Gita, karena Gita sedang ada meeting bersama para staff.
"Daddy!" Zefa terus memanggil-manggil Zico sambil memberontak dari gendongan Miss Cantika.
Setelah berhasil turun, ia pun berlari menghampiri Daddy nya yang sudah tak sadarkan diri.
"Daddy! Daddy kenapa beldalah? Daddy bangun Daddy ... Daddy ... Huaaaaa ..." Zefa menggoyang-goyangkan badan Zico sambil menangis, karena tak mendapatkan respon apapun, Zefa semakin menangis kencang. Sedangkan Zayn masih shock, ia masih mematung di tempatnya tadi ia terjatuh.
Miss Cantika mencoba mencari ponsel Zico di saku jas yang dikenakan Zico. Namun layar ponselnya terkunci. Beruntung ada Sean yang tiba-tiba menelpon ke ponsel Zico.
Miss Cantika pun menjelaskan tentang kejadiannya kepada Sean secara detail. Kemudian Sean memerintahkan Miss Cantika untuk membawa Zico ke rumah sakit milik keluarga William agar bisa ditangani langsung oleh dokter Felix.
Setelah ambulance tiba, Miss Cantika pun meminta supir ambulance untuk membawa Zico ke rumah sakit yang dimaksud Sean.
Sean menghubungi mommy Celine dan daddy Austin memberitahu tentang musibah yang menimpa Zico. Mereka pun bergegas ke rumah sakit. Saat Zico tiba, Sean sudah menunggu di lobi rumah sakit, bahkan ia ikut mendorong brankar-nya, ia sangat panik melihat kondisi Zico yang kepala dan wajahnya penuh darah segar.
Saat tiba di ruang IGD para suster dan dokter jaga berbondong-bondong memasuki ruangan.
Sean diminta untuk menunggu diluar ruang IGD sambil terus mencoba menghubungi Gita.
__ADS_1
Sean menitihkan air mata memandang pedih pada Zico yang sedang dikerubungi tenaga medis.
Dokter Felix yang kebetulan sedang standby di rumah sakitnya pun bergegas pergi ke ruang IGD bersama putranya, dokter Gerald, setelah mendapatkan panggilan dari sang kakak, daddy Austin.
Saat ia tiba dan masuk ke ruang IGD, dengung panjang terdengar dari monitor jantung yang alatnya baru saja dipasangkan pada tubuh Zico.
"Flatline, Prof!" teriak dokter jaga ketika melihat garis lurus di layar monitor. Detak jantung Zico telah berhenti.
Perawat, dokter jaga dan dokter Gerald sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan Zico ke dunia ini, Mereka membawa alat kejut jantung dan sudah berapa kali digunakan untuk membangunkan tubuh Zico yang mulai senyap.
Setiap hentakkan listrik di dada Zico mengakibatkan tubuhnya melonjak ke udara.
Berkali-kali dokter Gerald sekaligus sepupu dari Zico itu mencoba mengembalikan Zico dengan netranya yang mengembun, namun Zico tak kunjung membuka matanya selepas diberi kejutan listrik pada jantungnya.
Beruntung organ dalam yang lain baik-baik saja, namun cedera di kepala Zico akibat benturan ke aspal, membuat kondisinya kritis. Setelah daddy Austin dan mommy Celine tiba, mereka bergegas membawa Zico ke dalam ruang operasi.
Sean yang terus menghubungi Gita tetap tidak mendapat jawaban dari Gita, mommy Celine pun berulang kali mencoba menghubunginya, tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya daddy Austin meminta Sean untuk menjemput Gita ke perusahaan tempatnya bekerja.
Miss Cantika masih menemani Zayn dan Zefa di depan ruang tunggu operasi bersama mommy Celine dan daddy Austin.
Mommy Celine sudah meminta Miss Cantika untuk pulang saja, namun Miss Cantika tak tega untuk meninggalkan Zayn dan Zefa. Zefa terus merengek meminta agar bisa bersama Zico, sedangkan Zayn ia hanya diam termenung dengan air matanya yang berlinang. Daddy Austin pun segera menggendong sang cucu. Ia tak tega melihat Zayn yang hanya diam mematung seperti itu.
***
__ADS_1
Gita baru saja selesai meeting bersama para staff perusahaan, membahas mengenai kebijakan baru perusahaan. Ia sedang berjalan menuju ruangannya. Ia berjalan sambil membuka ponselnya, ia tercengang melihat begitu banyaknya panggilan tak terjawab dari Miss Cantika, Sean dan juga mommy Celine.
Deg!
"Ada apa, ya? Kok perasaan aku jadi nggak enak gini," gumam Gita memegang dadanya. Jantungnya tiba-tiba terasa bergemuruh dan hatinya tiba-tiba merasa bertambah perih.
Sebenarnya dari saat sebelum meeting pun entah kenapa Gita merasakan firasat aneh, hatinya tiba-tiba terasa perih sejak terakhir berbincang dengan Zico di telpon tadi, ketika Zico hendak menjemput anak-anaknya.
Sean menghubungi Gita lagi ketika Gita telah sampai di ruangannya.
"Hallo, Sean? Lo kenapa telfon gue sampe berkali-kali?" tanya Gita yang sudah sangat merasa penasaran.
(Git! Lo udah selesai kan meeting-nya? Lo ikut gue pulang sekarang, ya? Lima menit lagi gue sampe di depan kantor, lo tunggu gue di lobby, okay!) jawab Sean panjang lebar kemudian memutuskan panggilannya sepihak.
Gita menyatukan alisnya, ia semakin bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Gita pun bergegas pulang, ia melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju lobi perusahaan. Saat Gita tiba, mobil Sean pun juga tiba, Gita bergegas naik ke mobil Sean, dan Sean segera melajukan mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Sean, sebenernya ada apa, sih? Kita ini mau ke mana? Terus Zico ke mana? Kok bukan dia yang jemput gue?" tanya Gita beruntun dengan netranya yang mengembun. Perasaannya makin tak karuan saat ini, debaran jantungnya kian bergemuruh.
Apalagi Sean yang ditanyai pun hanya diam saja, tak menjawab sepatah kata pun pertanyaannya.
Bulir bening yang sedari tadi mendesak ingin keluar pun akhirnya tumpah dan meluncur tanpa hambatan di pipi mulusnya.
"Sean, Lo kenapa diem aja, sih? Ngomong dong! Zico ke mana, Sean? Zico ke mana?" tanya Gita lagi sambil merengek menarik-narik lengan baju Sean yang sedang menyetir.
__ADS_1