First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Perhatian Seorang Suami


__ADS_3

Ingin rasanya mommy Celine mengumpat pada putra semata wayangnya itu, namun ia tidak mungkin melakukannya di depan kedua cucunya.


"Son, setelah sarapan mommy mau ngomong sama kamu," ucap mommy Celine dengan tegas.


"Emmm," sahut Zico sambil mengunyah makanannya.


Mereka pun menyantap sarapannya masing-masing dengan hening, hanya terdengar bunyi dentingan dari suara piring dan sendok yang saling beradu.


Mommy Celine semakin merasa gelisah karena Gita yang tak kunjung tiba di ruang makan. Ia pun menghentikan sarapannya.


"Dad, Mommy samperin Gita dulu, ya. Mommy khawatir sekali sama dia kenapa dia nggak turun-turun," pamit mommy Celine sambil melirik kesal pada Zico.


Setelah mendapat jawaban dari daddy Austin, mommy Celine pun beranjak pergi ke kamar Zico dan Gita.


Tok... Tok... Tok...


"Gita, Sayang. Ini Mommy, Nak. Apa Mommy boleh masuk?" tanya mommy Celine. Namun, karena tak ada jawaban dari Gita, ia pun membuka pintunya.


Ceklek...


Mommy Celine melihat Gita sedang meringkuk dengan berbalut selimut yg hampir menutupi semua bagian kepalanya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak enak badan?" tanya mommy Celine yang duduk di tepi ranjang sambil menyentuh dahi Gita dengan punggung tangannya. Namun, ternyata tidak ada demam sama sekali.


"Kamu nggak panas, tapi kok wajah kamu pucat sekali, Sayang? Kamu kenapa? Apa ada yang lagi kamu rasain?"


"Perut Gita sakit, Mom," lirih Gita sembari memegangi perutnya dengan peluh keringat di dahinya dan wajah yang pucat pasi.


"Sakit gimana?"


"Gita lagi datang bulan, Mom," rintih Gita.


"Ya ampun, Sayang. Jadi Zico marah sama kamu karena kamu datang bulan? Bener-bener ya anak ini!" omel mommy Celine yang kesal pada putra semata wayangnya itu. Ia mengira Zico marah karena Gita datang bulan dan tidak bisa melayaninya.


"Bukan, Mom. Bukan karena itu, kok. Ada masalah lain, tapi bukan itu," tutur Gita.


"Oh, kirain. Beneran bukan karena itu?" tanya mommy Celine lagi memastikan.

__ADS_1


"Beneran, Mom," jawab Gita lirih.


"Ya sudah, terus ini kamu gimana? Kamu udah biasa kalau datang bulan perutnya sakit seperti ini?" tanya mommy Celine lagi.


"Biasanya nggak sakit banget kayak gini, Mom. Ini nggak tau kenapa sakit banget," keluh Gita.


"Ya sudah mommy panggilkan dokter dulu, ya. Nanti mommy minta Gerald kirim dokter SpOG ke sini," tutur mommy Celine kemudian pamit pergi ke bawah, ia sudah gemas ingin menegur putra semata wayangnya.


"Mommy tinggal dulu sebentar ya, Nak."


"Iya, Mom. Makasih ya," Sahut Gita.


Mommy Celine pun bergegas turun ke lantai bawah, ia mencari Zico ke lantai ke ruang makan namun ternyata Zico sudah tidak ada di sana lagi. Mereka sudah selesai menyantap sarapannya.


Mommy Celine pun bergegas pergi ke ruang keluarga, namun ia tetap tidak menemukan keberadaan Zico.


"Aduh, nih anak ke mana sih!" gerutu mommy Celine.


"Sus!" panggil mommy Celine saat melihat suster Kiky melewati ruang keluarga.


"Kamu lihat Zico?" tanta mommy Celine.


"Oh, ya sudah. Terima kasih, Sus," ucap mommy Celine sambil menepuk pundak suster Kiky.


Mommy Celine pun bergegas pergi ke taman menghampiri Zico yang sedang bermain bola bersama Zayn.


"Zico!" panggil mommy Celine sambil menghampiri sang putra. Mommy Celine selalu memanggil Zico dengan namanya jika sedang marah.


"Apa, Mom?" sahut Zico menghentikan permainannya dengan Zayn.


"Kamu nggak tau kalau Gita sakit?" omel mommy Celine dengan raut wajah kesal.


"Hah? Sakit? Sakit apa, Mom? Semalam dia baik-baik aja, Kok."


"Itu perutnya sakit katanya, wajahnya sampai pucat banget. Memangnya benar kamu semalam tidur di ruang kerja?" selidik mommy Celine. Ia ingin memastikan bahwa semalam Zico benar-benar tidur di ruang kerja, karena kalau semalam Zico tidur di kamarnya, Zico pasti sudah tahu kalau istrinya itu sedang sakit, dan tidak mungkin Zico mengabaikannya.


"Zico kan udah bilang, Zico tidur di ruang kerja, Mom ... ya udah Zico ke Gita dulu ya, Mom. Zico titip anak-anak," sahut Zico panik kemudian berlari menghampiri sang istri yang sedang terbaring di kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zico sambil duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahinya dengan punggung tangannya.


Gita menepis tangan Zico kemudian menutup kepalanya lagi dengan selimut, membuat Zico menghembuskan kasar nafasnya.


"Sayang, udah dong jangan marah lagi. Maafin aku, ya. Please?"


Bukan menjawab Zico, Gita malah terisak di balik selimut. Mendengar Gita menangis, Zico pun merasa kesal pada dirinya sendiri, ia meremas dan mengacak rambut sendiri.


Zico hanya diam mematung masih duduk di tepi ranjang. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk membujuk Gita.


Setelah mendengar isakan tangis Gita mereda, Zico mencoba membuka selimutnya. Kali ini Gita tidak lagi menepis tangan Zico.


"Sayang, maafin aku, ya. Aku janji aku nggak akan tinggalin kamu tidur sendiri lagi," lirih Zico sambil memeluk Gita dengan menindih tubuhnya.


Gita pun akhirnya membalas pelukan Zico dengan menautkan lengannya di punggung Zico sambil terisak lagi. Gita hanya butuh di bujuk saat sedang marah, bukannya malah di abaikan dan ditinggalkan begitu saja seperti semalam. Saat tangisnya mereda Zico melepaskan pelukannya.


"Kata mommy perut kamu sakit? Kita ke rumah sakit, ya? Wajah kamu pucat banget, Sayang," ucap Zico membelai wajah Gita dan menghapus air matanya.


"Enggak, Sayang. Nggak usah ke rumah sakit. Aku cuma butuh kompresan aja buat kompres perut aku," jawab Gita.


"Ya udah sebentar, ya. Aku ambil dulu ke bawah, ya."


"Iya, Sayang. Makasih, ya."


Zico pun beranjak pergi ke dapur mengisi kantung kompres dengan air hangat dan membawakannya untuk Gita. Ia pun tak lupa meminta bu Wati membawakan makanan untuk Gita, ia dengan telaten menyuapi Gita dan merawat Gita sampai tertidur lelap.


***


Di lain tempat, Sean sedang mengunjungi Yolla seperti biasa di setiap jam makan siang, ia selalu menyempatkan untuk makan siang bersama Yolla. Jika Yolla sedang tidak sibuk, mereka makan siang di luar, namun jika Yolla sedang sibuk mereka hanya memesan makanan melalui aplikasi online dan menyantap makam siangnya di kantor Yolla seperti saat ini.


"Honey, kamu makan dulu dong. Ini makanannya udah dateng, lho. Tunda dulu sebentar kerjaannya," pinta Sean pada Yolla yang terus sibuk membaca berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.


"Iya bentar, Han. Tanggung ini," jawab Yolla tanpa menoleh pada Sean yang sedang duduk di atas sofa. Yolla memanggil Sean dengan sebutan 'Han' singkatan dari 'Honey'.


Hubungan mereka pun semakin lengket, namun Yolla masih belum memutuskan hubungannya dengan Mike.


Sean menghampiri Yolla yang terus fokus menatap berkas-berkasnya. Ia berdiri di samping kursi Yolla kemudian memutar kursi kerja Yolla dan di arahkan ke hadapannya. Kemudian Sean pun membungkukkan tubuhnya dan melu mat bibir Yolla dengan mesra. Yolla pun membalas lumatannya dan mengalungkan lengannya di leher Sean.

__ADS_1


Namun, saat mereka tengah menikmati ciuman mereka, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu ruangan Yolla tanpa mengetuknya.


__ADS_2