
Sontak Gita pun membuka matanya seketika. Ia tutup bibir Zico dengan telapak tangannya lalu mendorong wajah Zico yang saat ini hanya berjarak sekitar 5 cm saja.
Kemudian Gita beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi, ia kesal pada Zico yang terus saja menciumnya.
Sebenarnya ia juga merindukannya, namun ia takut lepas kendali dan tak bisa menahan hawa nafsunya, apalagi kerinduan mendalam yang dirasakan mereka berdua pasti akan membuat mereka lebih bergairah dibanding 6 tahun lalu saat mereka melakukannya untuk yang pertama kali.
Belum lagi, Gita takut jika anak-anaknya memergoki perbuatan mereka.
"Sayang, aku tunggu dibawah ya! Kita sarapan bareng di bawah. Daddy, Mommy sama anak-anak udah nunggu kita," teriak Zico dari depan pintu kamar mandi.
"Hemm!" sahut Gita tanpa membuka mulutnya.
Zico turun ke bawah, menghampiri mereka yang sudah berkumpul di ruang makan. Dan benar saja, ternyata Zayn sudah ada di sana.
"Daddy!" teriak Zefa saat melihat Daddy-nya menghampiri meja makan.
"Iya, Sayang. Gimana? Udah habis belum sarapannya?"
"Belum, Daddy. Jepa mau dicuapin Mommy!"
"Mommy-nya sedang mandi ... Daddy aja yang suapin Zefa, ya? Mau nggak?" tawar Zico.
"Mau-mau, Jepa mau di cuapin cama Daddy!"
"Okay! Zefa mau sarapan apa? Nasi goreng atau roti?"
"Naci goleng aja, Daddy!"
Zico pun mengangguk lalu mengambil nasi goreng dan menuangkannya di atas piring. Ia menyuapi Zefa begitu telaten, membuat Daddy Austin dan Mommy Celine tersenyum melihatnya.
Sedangkan Zayn menyantap makanannya sendiri karena ia sudah terbiasa mandiri, namun ia terus menatap tajam pada Zico dan Zefa.
"Zayn pintar sekali sudah bisa makan sendiri, Zayn nggak mau disuapin sama Daddy juga?" tawar Zico saat melihat tatapan tajam Zayn kepada dirinya.
Zayn hanya menggelengkan kepalanya, sejak tadi ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya pada Zico. Ia terlihat seperti sedang marah pada Zico.
"Daddy, Jepa cenaaaang cekali, ahilnya Jepa punya Daddy," ucap Zefa sembari menguyah makanan di mulutnya.
Zico tersenyum getir saat mendengar ucapan Zefa.
"Waktu di Palis, Jepa celing cekali ditanya cama Lucas ke mana Daddy Jepa, kenapa cuma Uncle Ken yang celing menjemput Jepa dan Kak Jayn," lanjut Zefa bercerita.
Netra Daddy Austin, Mommy Celine dan Zico pun mengembun dibuatnya, membayangkan bagaimana Zefa dan Zayn ketika di ejek oleh teman-temannya. Bagaimana sulitnya Gita, Zayn dan Zefa menjalani hidupnya selama 6 tahun ini.
"Maafin Daddy ya, Nak," lirih Zico memeluk erat Zefa. Hanya kalimat itu yang bisa di ucapkannya.
"Daddy kenapa nggak pelnah ke Palis temuin Jepa?"
Zico termenung tak mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Zefa. Benar apa kata Gita. Ternyata akan sangat sulit menjelaskan kepada anak-anaknya, itu baru pertanyaan dari Zefa yang polos, belum lagi dari Zayn.
"Kan Daddy sibuk, Nak. Daddy harus kerja di sini!" sahut Gita yang baru saja tiba di meja makan. Beruntung ada Gita yang menjawabnya.
"Oooh ... tapi, kenapa nggak pelnah video call kita cepelti Genpa?" tanya Zefa lagi sambil memandang Zico.
"Zefa, Zefa habiskan dulu makanannya, ya! Kan Mommy sudah sering bilang sama Zefa, jangan bicara saat sedang makan, nanti kalau lidahnya kegigit lagi gimana?" Gita mencoba mengalihkan pembicaraan agar Zefa lupa.
"Okay, Mom."
Daddy Austin, Mommy Celine dan Zico akhirnya bisa bernafas lega setelah Gita berhasil menjawab pertanyaan Zefa.
__ADS_1
"Sini, biar aku yang lanjut suapin Zefa. Kamu makan aja dulu, kamu mau ke kantor kan, nanti kamu telat, Zefa kalau makan lama banget soalnya," tutur Gita sambil mengambil piring yang berisi nasi goreng untuk Zefa.
Zico hanya menganggukkan kepalanya sambil menuangkan nasi goreng ke atas piringnya.
"Oya! Kamu kan juga harus ke kantor," tanya Zico pada Gita.
"Aku udah izin kok aku ke kantor jam 11 siang, karena aku harus balik dulu ke apartemen. Lagi pula, aku mulai efektif bekerja besok sebenarnya," jawab Gita sambil menyuapkan makanan pada Zefa.
"Lho? Kan kita ada meeting jam 9."
"Kita?" ucap Gita mengernyitkan dahinya.
"Iya, kita! Ini aku mau berangkat ke Biantara Group untuk meeting sama kamu dan staff-staff kamu. Memang kamu nggak tau?"
"Oh My God! Aku lupa!" pekik Gita menepuk dahinya.
"Ya udah, kamu siap-siap dulu sana, kita berangkat bareng," titah Zico.
"Iya, biar Zefa Mommy aja sini yang suapin," Mommy Celine menimpali.
"Tapi, Mom. Anak-anak gimana?" tanya Gita bingung, ia merasa tidak enak terus menitipkannya pada Mommy Celine dan juga Daddy Austin.
"Gimana apanya? Ya anak-anak di sinilah sama Daddy dan Mommy!" sahut Daddy Austin.
"Daddy Mommy nggak capek jaga mereka?" tanya Gita lagi yang khawatir pada mereka, apalagi Daddy Austin ada riwayat sakit jantung.
"Enggak, kok. Kami bahagia ada mereka di sini, rumah ini jadi nggak sepi lagi," jawab Mommy Celine tersenyum.
"Gita tetap adain baby sitter aja ya, Mom, Dad. Jadi, nanti Mommy sama Daddy nggak terlalu kewalahan jaga mereka, Gita khawatir takut Daddy kelelahan, itu nggak bagus buat kesehatan Daddy."
"Betul kata Gita, Mom. Kata Uncle Felix kan Daddy nggak boleh terlalu lelah," Zico menimpali.
"Baiklah, gimana baiknya menurut kalian aja," sahut Mommy Celine.
"Iya, Sayang."
"Zefa, Zefa makannya dilanjut sama Genma ya, Nak. Mommy mau pergi kerja."
"Iya, Mom."
Gita pun mulai melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah Gita baru ingat kalau dirinya tidak membawa baju ganti. Ia pun membalikkan badannya.
"Zi, aku baru ingat, aku kan nggak bawa baju ganti, kalau mampir ke apartemen dulu bisa telat nanti," keluh Gita.
"Pakai baju Mommy aja, ya? Mommy punya beberapa pakaian formal, nanti kamu bisa pilih sendiri. Ayo kita ke kamar Mommy," tutur Mommy bangkit dari kursinya lalu menggandeng Gita dan naik ke kamarnya. Zefa pun dilanjutkan disuapi lagi oleh Zico.
Gita memakai pakaian yang sudah pilihkan oleh Mommy Celine, untung saja Mommy Celine selalu menjaga bentuk tubuhnya. Tubuhnya masih sangat ramping meskipun umurnya sudah tak muda lagi.
"Kamu cantik sekali, Nak. Pasti anak semata wayang Mommy itu semakin cinta sama kamu," puji Mommy Celine yang sangat mengagumi kecantikan Gita yang sedang menggunakan pakaian formalnya yang membuat penampilan Gita terkesan lebih anggun dan berkelas.
"Lebih cantik Mommy lah, Mom," Gita membalas pujiannya kemudian memeluk wanita paruh baya yang sudah seperti ibu kandungnya itu.
"Ya udah, Ayo kita ke bawah," ajak Mommy Celine.
"Mommy duluan, ya. Gita mau ambil tas dulu di kamar anak-anak."
"Okay."
Mommy Celine pun kembali lebih dulu ke ruang makan.
__ADS_1
"Lho? Gita mana, Mom?" tanya Zico yang melihat Mommy-nya berjalan hanya sendirian.
"Lagi ambil tas dulu di kamarnya," sahut Mommy Celine sambil duduk di kursinya.
"Zefa sudah selesai makannya, Sayang?" lanjutnya bertanya pada Zefa.
"Sudah, Genma. Zefa sudah kenyang," sahut Zefa sambil mengangkat bajunya dan mengusap-usap perutnya membuat yang melihatnya tersenyum dibuatnya.
"Kalau Zayn? Sudah kenyang belum?" tanya Mommy Celine pada Zayn.
Zayn hanya menganggukkan pelan kepalanya dengan raut wajah datar dan dingin. Mereka pun terdiam melihat sikap Zayn yang seperti itu.
"Zayn, kalau di tanya itu di jawab dong, Sayang. Jangan cuma mengangguk seperti itu," tegur Gita yang baru saja tiba.
"Iya, Mom," akhirnya Zayn mengeluarkan suaranya.
Zico terperangah melihat penampilan Gita hari ini, benar kata Mommy Celine tadi, Zico sangat terpesona dengan penampilan Gita yang terlihat anggun dan elegan.
Mommy Celine mengambil serbet kemudian mengelap sudut bibir Zico.
"Di lap dulu nih ilernya!" goda Mommy Celine, membuat Gita, Zefa dan Daddy Austin terkekeh.
Zico pun menjadi salah tingkah, daun telinganya memerah karena malu.
"Ayo, Zi! Nanti kita telat," ajak Gita.
"Lho? Kamu kan belum sarapan," sahut Zico.
"Kalau aku sarapan dulu nanti kita telat, kalau kamu sih nggak apa-apa telat, kamu kan bos-nya. Nah, kalau aku kan malu kalau telat."
"Bu Wati!" panggil Mommy Celine.
"Iya sebentar, Nyonya!" sahut bu Wati sembari menghampiri ruang makan dengan membawakan kotak bekal yang sudah disiapkannya untuk Gita atas permintaan Mommy Celine, tadi sebelum kembali ke ruang makan Mommy Celine meminta tolong pada bu Wati agar menyiapkan kotak bekal yang berisi sandwich untuk sarapan Gita.
"Ini, Non!" ucap bu Wati sembari memberikan kotak bekalnya pada Gita.
"Lho? Apa ini, Bu?" tanya Gita sambil menerima kotak makannya.
"Itu sandwich buat kamu sarapan di mobil, Sayang," sahut Mommy Celine.
"Oh ... makasih banyak ya, Bu, Mom," ucap Gita tersenyum sambil mengusap lembut punggung bu Wati.
Zico pun bangkit dari kursinya, "Ayo kita berangkat, Sean kayanya udah nunggu tuh di mobil."
Gita pun menganggukkan kepalanya dan berpamitan kepada Mommy, Daddy dan juga kepada anak-anaknya.
"Zefa, Zayn ... Mommy kerja dulu ya, Nak. Kalian jangan nakal lho, apalagi berantem!"
"Baik, Mom!" sahut si kembar serempak.
Zico menghampiri Zefa dan mencium pipi Zefa, "Daddy kerja dulu ya, Sayang!" pamit Zico dibalas anggukkan dan pelukan oleh Zefa.
"Zayn, Daddy kerja dulu ya, Nak. Daddy titip Zefa, Genpa, sama Genma ya, kan Zayn jagoannya Daddy sama Mommy!" tutur Zico berpamitan pada Zayn mencium pucuk kepala Zayn. Namun lagi-lagi Zayn tak menyahut.
"Zayn! Tadi Mommy bilang apa sama Zayn?" tegur Gita.
"Iya!" sahut Zayn ketus.
Gita pun menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Zico tersenyum dan membelai lembut punggung Zayn.
Sepertinya akan sangat sulit untuk Zico mendapatkan hati Zayn.