
"Kamu datang bulan? Berarti kita nggak bisa?" tanya Zico lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Gita menjawabnya dengan anggukkan sambil menundukkan pandangannya.
Zico menghela nafas panjang. Sejujurnya ia merasa kecewa. Namun, mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia marah pada Gita hanya karena masalah ini. Justru ia tak tega melihat wajah Gita yang terlihat merasa bersalah kepadanya.
"Maaf," lirih Gita masih menundukkan kepalanya. Zico menangkup dan menengadahkan wajah Gita agar menatap wajahnya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kan bisa pake cara lain, nggak cuma lewat bawah," goda Zico tersenyum menaik-naikkan alisnya, kemudian mendekatkan dahinya hingga dahi dan ujung hidungnya saling menyentuh satu sama lain, dengan tangan Zico yang menghinggap di kedua sisi pinggang Gita.
"I Love You, Istriku," ucap Zico mesra.
Gita yang mendengarnya pun merasa terhanyut dengan kata-kata mesra yang Zico ucapkan, hingga membuatnya lupa untuk menjawabnya.
"Sayang, kok nggak di jawab, kamu nggak cinta sama aku?" tanya Zico.
"Love you more, Suamiku," balas Gita.
Zico tersenyum kemudian mulai melu mat lembut bibir manis milik Gita. Gita pun membalasnya hingga bibir mereka saling bertaut.
Gita mengalungkan lengannya di leher Zico, mereka pun berciu man dengan mesra, saling melu mat dan menghisap bibirnya satu sama lain.
Zico terus melu matnya sambil berjalan mundur menuntun Gita ke atas ranjang.
Zico duduk di tepi ranjang dan Gita pun duduk di atas pangkuannya. Setelah merasa kehabisan nafas, Gita pun melepaskan luma tannya.
Zico mulai menyusuri setiap inci leher jenjang milik Gita. Menghisapnya di beberapa titik hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Tangannya mulai menyusup ke dalam baju tidur yang di kenakan Gita dan mere mas pelan sebelah buah kehidupan Gita.
"Aaaght," Gita mulai mendesah saat daerah sensitifnya itu mendapat sentuhan dari sang suami.
__ADS_1
Zico mulai melepaskan kancing baju Gita satu persatu. Namun, tangan Gita menghentikannya.
"Sayang, Jangan. Nanti kita kebablasan lho," Gita mengingatkan Zico yang gejolak gairahnya semakin meningkat.
Zico menghela nafas kasar. "Ya udah, ayo kita tidur aja," ucap Zico kemudian menyesap bibir Gita sekilas dan membaringkan Gita di atas ranjangnya.
Zico tidur menyamping menghadap sang istri. Akhirnya Zico bisa tidur sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya. Dulu itu hanya sebuah khayalan. Namun, khayalan itu menjadi sebuah kenyataan sekarang. Ia bisa tidur sambil memeluk wanita yang sekarang menjadi istrinya itu setiap malam.
"Sayang," ucap Zico lembut menatap lekat manik mata Gita.
"Hum?" sahut Gita dengan posisi saling berhadapan.
"Makasih ya kamu udah mau terima aku untuk jadi suami kamu. Aku janji aku akan buat kamu dan anak-anak kita bahagia," tutur Zico sambil membelai lembut pipi Gita.
"Aku juga makasih sama kamu, kamu udah bener-bener setia menjaga hati kamu hanya untuk aku. Kamu sanggup nunggu aku selama itu," balas Gita yang juga membelai pipi Zico. Zico pun membalasnya dengan senyuman kemudian mencium keningnya.
"By the way, kamu bener-bener nggak ada tergoda sedikit aja gitu sama perempuan lain?" tanya Gita.
"Mmmm ... kamu mau aku jujur?"
"Ada sih, Sayang. Tapi setiap aku lagi sama dia, wajah kamu selalu terlintas di benak aku. Karena dia tuh berhati lembut sama banget kayak kamu, mungkin karena faktor itu juga yang membuat aku sedikit tertarik sama dia," terang Zico sambil terus menatap lekat manik mata Gita.
"Yakin cuma sedikit?" selidik Gita memicingkan matanya.
"Sayang ... kamu itu udah melekat di hati aku, kenangan kita terlalu banyak dan terlalu indah untuk dilupakan. Jadi, kalaupun aku di takdirkan untuk menikah dengan wanita lain, semua kenangan yang udah kita lalui itu akan selalu ada di sini. Aku nggak akan bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintai kamu," imbuh Zico sambil menggenggam erat jemari Gita dan meletakkannya di dadanya.
"Berarti kalo aku balik ke sini setelah sepuluh tahun, mungkin kamu udah nikah ya sama dia," sindir Gita mulai menampakkan raut wajah kesal.
Bagaimana tidak kesal, ia saja selalu menjaga perasaannya pada Kenzo. Walaupun kesehariannya ia hampir selalu bersama Kenzo yang terus ada di sisinya, mendampinginya mengurus kedua buah hatinya dengan Zico, namun Gita tak pernah ada perasaan spesial sedikitpun pada Kenzo.
"Jangan marah gitu dong, Sayang. Kan tadi kamu yang tanya, kamu yang minta aku jujur, kenapa sekarang kamu malah marah?"
__ADS_1
Gita seketika membalikkan tubuhnya memunggungi Zico, air matanya pun mengalir dari sudut matanya.
Zico bangkit dari tidurnya dan pindah ke hadapan Gita, namun Gita memilih menutupnya dengan selimut hingga tak terlihat sehelai rambut pun, membuat Zico mendengus kesal. Namun, saat mendengar isakan tangis Gita dari balik selimut, Zico menjadi merasa bersalah pada Gita, ia pun lekas memeluk Gita. Namun, Gita terus memberontak hingga Zico terjatuh ke lantai.
Zico yang sedang merasa lelah karena acaranya seharian tadi pun menjadi kesal pada Gita. Zico keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang kerjanya yang berada di samping kamarnya.
Malam pertama mereka yang seharusnya dipenuhi suasana romantis seketika rusak karena membahas sebuah permasalahan yang semestinya tidak perlu untuk di bahas pada momen ini. Apalagi Gita pun sedang sensitif karena dirinya sedang datang bulan yang membuat hormonnya sedang tidak stabil.
***
Keesokan paginya Gita yang biasa bangun pagi pun masih meringkuk di atas ranjangnya karena perutnya yang terasa sakit karena masa datang bulan.
Sedangkan Zico sudah bangun dan turun ke bawah ke ruang makan bergabung dengan yang lain setelah mencuci muka dan membersihkan giginya. Semalam ia tertidur di sofa di dalam ruang kerjanya.
Di ruang makan sudah ada mommy Celine dan daddy Austin beserta kedua buah hatinya, hanya Gita yang tidak ada di sana.
"Lho, Son? Istri kamu mana? Kok kamu turun sendiri?" tanya mommy Celine.
"Masih di kamar, Mom," sahut Zico singkat dengan raut wajah dinginnya sambil mencium pipi kedua buah hatinya bergantian.
"Tumben Gita masih di kamar? Masih tidur?" tanya mommy Celine lagi sambil menatap serius wajah Zico. Ia tahu kalau Zico dan Gita pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Iya kali, Mom," sahut Zico sambil menuangkan nasi goreng seafood favoritnya ke atas piring.
"Lho? Kok kali? Kan kamu baru saja keluar dari kamar, masa kamu nggak tau Gita lagi ngapain?" omel Mommy Celine.
Zico diam saja tak menggubris omelan sang mommy.
"Zico! Jawab mommy kamu!" tegas daddy Austin.
"Zico semalam tidur di ruang kerja, Mom," Zico menjawabnya sambil terus menyantap makanannya.
__ADS_1
"What's? Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya mommy Celine lagi beruntun. Ia merasa heran, kenapa dengan anak dan menantunya itu, di saat orang-orang menghabiskan malam pertamanya dengan bergulat di atas ranjang. Namun, mereka malah bertengkar dan tidur di ruangan yang terpisah.
Sedangkan daddy Austin hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya.