
"Tuhan, jangan ambil Ibu, aku mohon jangan ambil Ibuku, tolonglah Tuhan... Ayah jangan ajak Ibu Ayah..." Tangis Gita terisak hingga air matanya membasahi dada Zico. "Jika Ibuku pergi, aku tidak punya siapapun lagi, Kasihanilah aku Tuhan... Aku mohon kembalikan Ibuku..."
Perawat, Dokter jaga dan Dokter Felix sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan Sophia ke dunia ini, Mereka membawa alat kejut jantung dan sudah berapa kali digunakan untuk membangunkan tubuh senyap Sophia.
Setiap hentakkan listrik di dada Sophia yang mengakibatkan tubuhnya melonjak ke udara, setiap itu pula satu nyawa Gita serasa keluar dari dalam dadanya.
Berkali-kali ia merasakan hidupnya hilang begitu saja karena Sophia tak kunjung membuka matanya selepas diberi kejutan listrik pada jantungnya.
"Denyut! Denyut jantungnya kembali!" Teriak seorang perawat ketika suara dengung berhenti dan berganti dengan bunyi titik-titik nada detak. Wajah-wajah tegang tenaga medis semua menoleh, perlahan tertegun memandangi layar monitor.
Gita terengah, "Ibu!" Teriaknya melepaskan diri dari dekapan Zico dan berlari, ia langsung merengkuh pergelangan tangan Sophia.
"Jangan pergi lagi ya Bu, Ibu gak boleh tinggalin aku Bu..."
Gita menyadari jemari Ibunya terlihat bergerak perlahan.
Semua berharap itu bukan gerakan reflek semata, berharap memang kesadaran Sophia sudah mulai kembali.
"Tuhan.. terimakasih sudah mengembalikan Ibu... Aku mohon jangan bawa Ibu pergi lagi..." Isak Gita dengan tangis yang pecah. Ia menggenggam tangan Ibunya dan membelai wajah Ibunya, terlihat di pelupuk matanya yang masih terpejam ada air mata yang mengalir.
Beberapa detik ke depan ruangan menjadi sunyi, hanya terdengar suara Gita yang terisak, semua saling pandang, para tenaga medis terus melihat ke berbagai alat monitor, harus yakin angka-angka itu sesuai standar dan bahwa mereka telah berhasil membawa Sophia kembali ke dunia.
Sophia membelai lembut jemari Gita dengan Ibu jarinya.
Namun ternyata takdir baik belum berpihak pada Gita, perlahan gerakan jemari Sophia melemah dan akhirnya berhenti total.
Bersamaan dengan berhentinya jemari itu... "Flatline lagi!" Teriak perawat saat dengungan monitor detak jantung memecah kesunyian.
"Nggak! Nggak Ibu! Jangan pergi lagi Bu!" Teriak Gita histeris melihat detak jantung Ibunya menghilang lagi.
Zico langsung kembali menarik Gita menjauh dari ranjang, Zico kembali mendekap Gita seerat mungkin.
"Sayang... Beri ruang untuk Uncle Felix dan tenaga medis lainnya, biarkan mereka mencoba mengembalikan Ibu seperti tadi." Zico pun tak bisa menahan air matanya, tak tega melihat hati kekasihnya hancur seperti ini, karena rasa kehilangan terbesar adalah saat dipisahkan oleh kematian.
__ADS_1
"Ibu gak boleh pergi Zico! Ibu gak boleh tinggalin aku sendiri Bu, aku gak punya siapapun lagi selain Ibu, aku gak mau hidup sebatang kara Bu, aku mohon jangan pergi Bu, aku mohon.... Tuhan, tolong jangan ambil Ibuku, kembalikan Ibuku Tuhan...." Teriakan Gita meruntuhkan hati siapapun yang ada di ruangan itu.
Semua ini benar-benar terlalu berat untuk dihadapi dan dilalui, jiwa raganya tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan seperih sekarang.
Zico tidak bisa berkata apapun, hanya mendekap Gita dan terisak dalam diam.
Kenangan sejak pertama kali bertemu Sophia dengan sikap keramah-tamahannya, akan selalu ia ingat.
Dengung Flatline masih terus mencabik jiwa semua orang yang ada diruangan itu, tangis kepedihan dan penyesalan tumpah ruah menjadi satu.
Tidak ada perubahan meski dada Sophia berkali-kali dipompa dan diberi kejut jantung.
Dokter Felix dan Dokter Jaga berkali-kali saling beradu pandang dengan wajah yang mulai frustasi.
"Recharge!" Seru Dokter Felix kepada perawat, memerintah agar alat kejut jantung segera dipersiapkan untuk mencoba mengembalikan detak jantung Sophia.
"Clear?"
"Clear!" Jawab perawat dibelakang, memastikan alat kejut jantung telah siap digunakan.
Seluruh mata memandang ke arah monitor, tetap tidak ada perubahan. Dokter jaga itu menggelengkan kepalanya sambil menatap Dokter Felix sembari menyeka peluh yang memenuhi dahi dan wajahnya.
Sudah hampir satu menit mereka mencoba mengembalikan detak jantung itu lagi, tetapi mereka gagal dan lagi-lagi... Gagal.
Entah sudah berapa kali pompaan serta kejutan listrik yang diberikan, tetap saja tidak ada perubahan, semua Tenaga medis saling tatap dan akhirnya... Mereka mengangguk penuh sesal.
Tanpa suara, tetapi mereka memutuskan bahwa usaha mereka telah mencapai akhirnya.
Bahwa ini adalah waktunya bagi mereka untuk menyerah dan merelakan takdir untuk mengambil alih.
"Maafkan kami, Gita..."
Dokter Felix tak sanggup meneruskan kalimatnya, ia menunduk dan setetes air mata jatuh di pelupuk matanya, teriakkan Gita beberapa menit terakhir tadi membuat hatinya ikut merasakan sakit.
__ADS_1
"A...Apa maksud Uncle?" Gita terbata, Seluruh tubuhnya lunglai dan gemetar.
"Maafkan kami Gita, kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, tapi...."
"Nggak! Gak mungkin!!!" Jerit Gita berontak dan melepaskan dekapan Zico, ia berlari masuk ke ruangan dan memeluk Ibunya, "Ibu.. Ibu gak mungkin tinggalin Gita kan bu? Ibu... Please bangun Bu, Gita mohon Bu, bangun Bu!" Gita terisak sembari menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah dingin sang Ibu.
"Git!" teriak Yolla, ia datang lalu menerobos masuk ke ruangan, ia menangis terisak memeluk Gita dari belakang.
"La! Ibu La... Ibu gak mungkin tinggalin gue kan La? gue cuma lagi mimpi buruk kan La?" Keluh Gita terisak.
Yolla tak sanggup mengeluarkan kalimat apapun, ia hanya terisak menangis sembari menatap wajah Sophia yang matanya sudah tertutup rapat.
Ia mengingat pesan Sophia kepadanya saat pertama kali Sophia di vonis kanker.
Flashback On
"Yolla... terimakasih ya nak, kamu sudah sangat care pada Ibu dan Gita…. kalau suatu saat nanti terjadi sesuatu pada Ibu, tolong temani Gita ya Nak, jangan biarkan dia sendiri, dia tidak punya siapapun lagi didunia ini selain Ibu.” Imbuh Sophia.
Yolla tersenyum tetapi air matanya jatuh di pipi chubby nya, ia memeluk Sophia begitu erat, “Iya bu, Yolla janji akan selalu ada untuk Gita, Yolla akan selalu jaga Gita.”
“Terima kasih ya Nak.” Sophia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Yolla dengan Ibu jarinya.
Flashback Off
Ia benar-benar tak bisa melupakan betapa lemah lembut nya sosok Sophia.
Zico ada dibelakang mereka, "Sayang, kamu harus ikhlas ya... Kamu gak sendiri, kamu punya aku, kamu punya Yolla, iya kan La?" Ucap Zico dengan matanya yang sembab.
"Iya Git... benar kata Zico, lo gak sendiri, lo punya kita." Ucap Yolla sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Gita dan menyeka air matanya dengan Ibu jarinya.
"Nggak La... Pokoknya Ibu gak boleh tinggalin gue!" Teriak Gita menangis kencang.
Yolla dan Zico hanya saling beradu pandang, mereka tak tahu dengan cara apa lagi untuk menghibur Gita.
__ADS_1
Tiba-tiba saja...
BRUUUKKKK!!!