First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Tuhan Jangan Ambil Dia!


__ADS_3

Gita terhenyak saat mendengar suara dengung panjang yang berasal dari monitor itu, tatapannya tiba-tiba kosong dan tubuhnya terkulai lemah jatuh di atas lantai di depan pintu ruang ICU.


Air matanya terus mengalir, tanpa suara isakan seperti sebelumnya. Ia benar-benar sudah lupa bagaimana caranya membuat air matanya itu berhenti mengalir.


Tiba-tiba memorinya saat kehilangan sang ibu terlintas di benak Gita, membuat hatinya seperti terkoyak. Mengingat dulu ketika ia kehilangan sang ibu, ada Zico yang selalu mendampingi dan selalu berusaha untuk menenangkannya.


Namun sekarang? Ia hanya sendiri, hanya ditemani oleh dinginnya ruangan yang terasa begitu sepi. Karena ruangan ICU itu berada di satu lantai yang hanya di huni oleh orang-orang yang sedang terbaring koma saja. Tidak ada yang menemaninya saat ini, apalagi menghiburnya seperti saat ia kehilangan sang ibu.


Ketika ia sedang melamun, tiba-tiba Yolla dan Sean berlari keluar dari lift menghampiri dirinya yang sedang terkulai lemas.


"Git!" teriak Yolla panik sambil berlari.


Sebelum dokter Gerald menghampiri Zico ke ruang ICU, ia menghubungi Sean sambil bergegas ke ruang ICU. Beruntungnya Sean sudah berada di lobi rumah sakit bersama Yolla.


Sejak mereka berdiskusi tentang Priscilla, mereka menjadi dekat dan selalu pergi ke rumah sakit berdua.


"La, gue nggak sanggup kalo Zico pergi, La. Gue nggak sanggup," lirih Gita dengan air mata yang terus mengalir deras dan tatapan yang kosong sambil menggeleng lemah.


"Enggak, Git. Zico pasti kuat, Zico pasti bisa melewati semua ini. Buktinya selama satu bulan ini dia kuat 'kan bertahan," tutur Yolla sambil menatap wajahnya dan memegang kedua bahunya, mencoba menenangkan Gita dari pikiran-pikiran kacaunya.


Sedangkan di dalam ruangan ICU, para petugas medis sedang berusaha mengembalikan denyut jantung Zico menggunakan alat kejut jantung. Sudah berapa kali alat itu digunakan untuk membangunkan tubuh senyap Zico.


Setiap hentakkan listrik di dada Zico, membuat tubuhnya melonjak ke udara.


Berkali-kali dokter Gerald sebagai saudara sepupunya, merasakan hidupnya hilang begitu saja karena Zico yang tak kunjung membuka matanya setelah jantungnya diberi kejutan listrik olehnya. Hampir saja ia menyerah, Namun ...


"Denyut jantungnya kembali, Dok!" teriak seorang dokter jaga ketika suara dengung berhenti dan berganti dengan bunyi titik-titik nada detak. Akhirnya para tenaga medis menghela nafas panjang. Mereka semua menoleh, perlahan tertegun memandangi layar monitor.


Gita terperangah, "Zico!" teriaknya melepaskan diri dari pelukan Yolla dan berlari menerobos masuk, ia langsung merengkuh jemari Zico.


"Jangan pergi lagi ya, Sayang. Kamu nggak boleh tinggalin aku dan anak-anak, Zi. Enggak boleh."


Gita menyadari jemari Zico terasa bergerak perlahan. Dokter Gerald berharap itu bukan gerakan reflek semata, ia berharap memang kesadaran Zico akan segera kembali.

__ADS_1


"Tuhan ... jangan pernah kau ambil Zico dari hidupku, hanya dia alasan aku untuk terus tetap menjalankan hidupku setelah dulu kau ambil ibuku," isak Gita dengan tangis yang pecah. Ia menggenggam jemari Zico dan membelai wajah Zico dengan lembut, terlihat di sudut mata Zico yang masih terpejam ada bulir bening lagi yang mengalir.


Dalam beberapa detik ruangan menjadi sunyi, semua tenaga medis saling pandang, mereka terus melihat ke berbagai alat monitor, untuk memastikan angka-angka itu telah sesuai standar dan bahwa mereka sudah berhasil membawa Zico kembali ke dunia.


Namun ternyata takdir baik belum berpihak pada Gita, perlahan gerakan jemari Zico melemah dan akhirnya berhenti. Tidak ada sama sekali gerakan lagi.


Bersamaan dengan berhentinya jemari itu, "Flatline lagi, Dok!" teriak suster saat dengungan monitor detak jantung kembali memecah kesunyian.


"Enggak! Enggak, Zi! Jangan pergi, Zi! Kamu jangan tinggalin aku, Zi. Kamu nggak boleh pergi, Zi! Enggak boleh!" teriak Gita histeris melihat detak jantung calon suaminya itu menghilang lagi.


Yolla langsung kembali menarik Gita menjauh dari ranjang, Yolla kembali mendekap erat Gita.


"Git, lo harus kasih ruang buat Dokter Gerald dan tenaga medis lainnya, biarkan mereka mencoba mengembalikan Zico seperti tadi, hmm?" Yolla pun tak bisa lagi menahan air matanya, tak tega melihat hati sahabatnya hancur seperti ini, karena rasa kehilangan terbesar adalah saat dipisahkan oleh kematian. Bahkan jika Zico benar-benar pergi, Yolla merasa Tuhan sepertinya benar-benar tidak adil pada Gita. Kenapa Gita harus terus kehilangan orang-orang yang di cintainya, dari mulai Ayah, Ibunya dan sekarang Zico.


"Zico nggak boleh pergi, La! Dia nggak boleh tinggalin gue sendiri, gue nggak mau kehilangan dia lagi, La. Gue nggak mau anak-anak kehilangan Daddy nya ... Aku mohon kamu jangan pergi, Zi. Aku mohon ... Tuhan, tolong jangan ambil Zico, kembalikan Zico ya, Tuhan," teriakan Gita meruntuhkan hati siapapun yang ada di ruangan itu, terlebih dokter Gerald. Ia menitihkan air matanya memandang wajah senyap Zico.


Semua ini benar-benar terlalu berat untuk dihadapi dan dilalui, jiwa raga Gita tak sanggup untuk menghadapi kenyataan sesakit ini lagi, sudah cukup dulu ia kehilangan ayah dan ibunya. Yolla tidak dapat berkata apapun lagi, hanya memeluk erat Gita sembari terisak.


Dengung flat line masih terus mengiris dan mencabik jiwa semua orang yang ada di ruangan itu, tangis kepedihan dan penyesalan tumpah ruah menjadi satu, terlebih karena jeritan Gita. Tidak ada perubahan meski dada Zico telah berkali-kali dipompa dan diberi kejut jantung.


"Recharge!" seru Dokter Gerald kepada perawat, memerintah agar alat kejut jantung segera dipersiapkan untuk mencoba kembali mengembalikan detak jantung Zico.


"Clear?" seru dokter Gerald.


"Clear!" jawab perawat dibelakang, memastikan alat kejut jantung telah siap digunakan.


Kedua tangan dokter Gerald mencengkram erat dua alat itu, ia gosokkan beberapa kali permukaan dua benda tersebut, lalu ia tekankan alat kejut jantung itu ke atas dada Zico, memasukkan aliran listrik untuk merangsang jantung Zico agar kembali berdetak.


Seluruh mata memandang ke arah monitor, tetapi tetap tidak ada perubahan. Dokter jaga itu menggelengkan kepalanya sambil menatap dokter Gerald sembari menyeka peluh yang memenuhi dahi dan wajahnya.


Entah sudah berapa kali pompaan serta kejutan listrik yang diberikan, tetap saja tidak dapat mengembalikan detak jantung Zico, semua tenaga medis semua saling tatap dan akhirnya... mereka mengangguk penuh sesal. Mereka memutuskan bahwa usaha mereka telah mencapai akhirnya. Ini adalah waktunya bagi mereka untuk menyerah dan merelakan takdir untuk mengambil alih.


"Maafkan kami, Sya ...,"

__ADS_1


Dokter Gerald tak sanggup meneruskan kalimatnya, ia menatap Gita dengan bulir bening yang jatuh di sudut matanya. Teriakkan Gita beberapa menit terakhir tadi membuat hatinya seperti teriris, terlebih lagi pasien yang baru saja kehilangan nyawanya ini adalah saudara sepupunya sendiri. Meskipun ia sering berkelahi, tapi sejujurnya ia selalu menganggap Zico seperti adik kandungnya. Oleh karena itu ia senang sekali menggoda Zico dan membuatnya marah.


"A-Apa maksud Kak Gerald?" Gita terbata, seluruh tubuhnya lemas dan gemetar.


"Maafkan kami Sya, kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, tapi ...."


"Enggak! Nggak mungkin!!!" jerit Gita memberontak dan melepaskan pelukan Yolla. Ia berlari masuk ke ruangan dan memeluk Zico, "Sayang ... Sayang, Kamu nggak mungkin tinggalin aku 'kan? Sayang ... please bangun! Kamu udah janji sama aku nggak akan pernah tinggalin aku, kamu yang bilang kalo kita akan menua bersama, tapi kenapa, Zi? Kenapa kamu malah pergi! Bangun, Zi. Bangun," Gita terisak sembari menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah dingin Zico yang tampan.


"Son!!!" teriak mommy Celine, ia datang lalu menerobos masuk ke ruangan, ia menangis terisak ikut memeluk tubuh senyap Zico.


"Mom! Zico, Mom ... Zico nggak mungkin tinggalin kita kan, Mom?" keluh Gita terisak sambil menggelengkan kepalanya.


"Son! Kamu nggak boleh tinggalin mommy daddy, Nak. Bangun, Nak. Bangun!!! Kamu harus bangun, Son!" mommy Celine terus mengguncang-guncang tubuh Zico sambil menangis meraung. Mencoba membangunkan putra semata wayangnya yang saat ini sudah tak bernyawa, tidak ada lagi detak pada jantungnya.


Yolla hanya terisak menangis sembari mengusap-usap punggung Gita dan mommy Celine yang sedang meraung-raung menangisi kepergian Zico.


Kemudian Zayn dan Zefa untuk pertama dan mungkin untuk yang terakhir kalinya pula masuk ke ruangan ini. Zayn dan Zefa tidak pernah bertemu sang daddy sejak kejadian nahas yang menimpa Zico. Karena anak kecil memang tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruang ICU karena banyaknya virus di sana.


Mereka di bawa masuk setelah mendapatkan izin dari dokter Gerald, Zayn digendong oleh daddy Austin, sedangkan Zefa digendong oleh Sean.


Kedua pria dewasa dan paruh baya ini masuk ke dalam ruangan menggendong si kembar dengan air mata yang sudah membasahi wajah mereka.


"Daddy," panggil Zefa sambil duduk di tepi brankar tempat Zico terbaring.


"Daddy kok tidulnya lama banget, Daddy? Daddy nggak kangen cama Jepa?" tanya Zefa dengan polosnya, membuat yang mendengarnya merasa tersayat hatinya.


Berbeda dengan Zayn yang sudah pintar membaca situasi. Melihat semua orang di dalam ruangan itu sedang menangis, Zayn meminta turun dari gendongan daddy Austin.


Ia berjalan menghampiri brankar Zico dan naik ke tepi ranjang sebelahnya.


"Daddy ... Daddy bangun, ya? Aku janji mulai sekarang aku akan memanggilmu Daddy, aku nggak akan memanggil Uncle lagi," tutur Zayn menangis dengan tangan kanan memegang jemari Zico, dan tangan kiri menyentuh wajah dingin sang daddy.


Untuk pertama kalinya Zayn akhirnya mau memanggilnya dengan sebutan yang sangat dinanti-nantikan oleh Zico.

__ADS_1


Namun, apakah mungkin Zico mendengar Zayn memanggilnya dengan sebutan nama itu?


__ADS_2