First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Perpisahan Yang Kekal


__ADS_3

BRUUUKKKK!!!


"Gita!!!"


"Sayang!!!"


Teriak Yolla dan Zico bersamaan.


Ya, Gita tak sadarkan diri, tak sanggup menanggung beban ini, tak sanggup membayangkan dirinya kini kehilangan sosok Ibu tercinta yang melahirkannya, kehilangan orang yang paling dicintainya di dunia ini, ia benci dengan kenyataan ini.


***


Saat ini Sophia sudah disemayamkan dirumah duka, tak banyak para pelayat yang datang, karena memang Sophia yang notabenenya adalah anak konglomerat, memilih meninggalkan keluarga dan kehidupan mewahnya saat menikah dengan David Adhinata, karena hubungannya yang tidak direstui oleh sang Ayah.


Bahkan disaat ketika berita tentang bunuh diri David menyeruak di seluruh kabar berita, Ayah Sophia memintanya kembali, tetapi dengan tegas ia menolaknya, akhirnya membuat sang Ayah bertambah murka dengannya yang keras kepala dan tidak pernah lagi mencoba menghubungi atau mencari Sophia sampai akhir hidupnya.


Ia sudah ditinggalkan oleh sang Bunda bahkan ia saat umurnya belum genap satu tahun, jadi yang ia miliki hanyalah Ibu sambung yang tidak pernah menyukainya.


Ia mempunyai adik hasil dari pernikahan Ayah dengan Ibu sambungnya, yaitu Indira, yang tidak lain adalah Ibu dari Viola teman satu sekolah Gita, sahabatnya Priscilla yang pernah ikut mengurung Gita di dalam toilet sekolah.


Sebenarnya ia menjadi ahli waris dari perusahaan yang ditinggalkan sang Ayah, tetapi ia sama sekali tidak ingin menerimanya, karena ia tidak ingin Ibu sambungnya terus mengganggu hidupnya dengan Gita jika ia menerima harta peninggalan sang Ayah.


Gita yang sejak dua jam lalu tak sadarkan diri, akhirnya terbangun, netranya memandang langit-langit kamar VIP rumah sakit dengan air mata yang mengalir, ia berharap ini semua hanya mimpi buruk.


Zico yang menemani Gita diruangan itu, sedangkan Yolla mewakili Gita untuk menyambut para pelayat dirumah duka bersama Mommy dan Daddy nya Zico, Celine dan Austin.


Netranya yang sedang memandang langit-langit kamar pun akhirnya memandang Zico yang sedang duduk di kursi sebelah ranjangnya sembari menggenggam tangannya.


"Zi." Panggil Gita lemah.


"Iya sayang... Kamu sudah bangun? Kamu mau minum gak sayang?" Tanya Zico cemas melihat wajah pucat Gita.


"Antar aku ke kamar Ibu Zi, aku mau bertemu Ibu." Lirih Gita.


'Kamar? Sepertinya Gita mengira semua yang terjadi ini hanyalah mimpi.... Ya Tuhan.... Apa yang harus aku katakan pada Gita.' Gumam Zico dalam batinnya. Ia benar-benar tak tahu harus berkata apa pada Gita, ia hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Zi!" Panggil Gita lagi.

__ADS_1


"Hmmm? Iya sayang?" Zico tersadar dari lamunannya.


"Kamu kok diam aja? Apa kamu gak dengar aku ngomong apa?" Tanya Gita.


"Sayang... Kamu yang tabah ya, kamu gak sendiri sayang... ada aku, Mommy, Daddy dan juga Yolla, kita semua akan selalu ada untuk kamu." Ucap Zico membelai lembut pipi Gita.


"Maksud kamu apa Zi? Kenapa kamu ngomong seperti itu? Ibu dimana Zi? Ibu dimana?!!!" Sentak Gita yang seketika terduduk.


"Sayang.... Ibu... Ibu dirumah duka." jawab Zico menitikkan airmatanya dengan pandangan yang menunduk, tak sanggup ia melihat wajah patah hati Gita.


Karena patah hati yang paling sakit dan hancur untuk manusia adalah perpisahan kekal yang dipisahkan oleh kematian.


"Nggak!!! Gak mungkin! Kamu pasti bohong kan? Itu semua cuma mimpi buruk aku waktu tertidur tadi kan Zi... Ibu pasti ada diruangannya kan? Kamu bohong kan? Kenapa kamu tega bohongin aku Zico?!" Keluh Gita terisak.


"Sayang..." Zico seketika berdiri, mendekap erat Gita sambil menangis terisak, menciumi pucuk kepala Gita.


Gita memberontak, menginginkan sebuah jawaban dari Zico, sebuah jawaban yang ia harapkan, jawaban yang menyatakan kalau semua yang terjadi ini hanyalah sebuah mimpi buruk semata.


"Lepasin! Lepasin aku Zi! Jawab aku Zi! Jawab..." Lirih Gita menangis sambil berusaha melepaskan dirinya dari dekapan erat Zico.


Zico hanya terisak dan mendekapnya lebih erat.


Gita mulai bisa menerima kenyataan, ia meminta Zico mengantarkannya ke rumah duka.


Dirumah duka...


Netra Gita memandang wajah damai Ibunya, ya damai di keabadian.


"Bu, Gita akan berusaha untuk ikhlas Bu, Ibu jaga Gita dari atas sana ya Bu." Lirih Gita mencoba tersenyum walaupun dengan airmata yang tak hentinya mengalir.


Gita memutuskan untuk sesegera mungkin memakamkan sang Ibu.


Proses pemakaman terlihat sepi, hanya beberapa orang yang menghadiri pemakaman, termasuk keluarga dan ketiga sahabat Zico, Yolla juga hadir ditemani oleh sang Mama.


"Gita, kamu tinggal dirumah kami saja ya, mau gak?" Ajak Chintya Mama nya Yolla, ia sudah mendengar cerita Yolla kalau Sophia pernah berpesan pada Yolla untuk selalu menjaga Gita.


"Iya Git, ikut gue ya, tinggal sama gue, mau ya Git?" Bujuk Yolla sembari memeluk lengan Gita.

__ADS_1


Gita menghelas nafas panjang.


"Maaf ya Tante, La, aku baik-baik aja kok, aku mau tinggal di apartemen aja." Tolak Gita halus, ia tahu Yolla dan Mamanya mengkhawatirkannya, tapi walau bagaimanapun, semewah apapun rumah Yolla, tetap lebih nyaman dirumah sendiri bukan?


Yolla sebenarnya sudah menduganya, Gita pasti akan menolaknya.


"Nanti lo sedih Git kalau dirumah sendirian..." Lirih Yolla. Ia melanjutkan, "Oya mah, gimana kalau untuk beberapa hari ini Yolla tinggal di rumah Gita, gimana Mah? Boleh ya?" Tanya Yolla pada Mama nya.


"Ya Mama sih yes, tapi... Papamu itu lho! Kamu izin dulu ya sama Papa, kalau sudah dapat persetujuan dari Papa, gak apa-apa kamu tidur dirumah Gita." Titah Chindy.


"Baiklah Mah, aku Call Papa dulu ya Mah." Sahut Yolla, kemudian ia menjauh sedikit dari mereka karena ingin menelpon Papanya.


"Aku gak apa-apa kok tan sendiri di apartemen, aku sudah terbiasa di apartemen sendirian."  Ucap Gita pada Chintya.


"Kamu kan tau sendiri, Yolla tuh kalau sudah ada kemauan, pasti dia akan bersikukuh seperti itu." Jawab Chindy.


Mommy Celine datang menghampiri Gita, ia tadi pergi ke toilet sebentar.


"Gita... Ikut Mommy yuk nak, mulai sekarang, kamu tinggal dirumah kita, okay?" Titah Celine.


Zico membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar perkataan Maminya.


"Iya Gita, Daddy gak mau kamu tinggal sendiri di apartemen, tidak baik untuk anak gadis tinggal sendirian, nanti kalau ada orang berniat jahat bagaimana?" Tutur Austin khawatir.


"Nggak Dad, Aku mau tinggal di apartemen aja, semua kenangan tentang Ibu ada disana, aku gak mau begitu cepat melupakan Ibu." Jawab Gita tertunduk, lagi-lagi air matanya mengalir.


"Udah, udah... Kalau Gita gak mau jangan dipaksa lah Dad... Tenang aja, nanti Zico sama Yolla bisa bergantian menemani Gita di apartemen, kita akan menemaninya sampai malam, iya kan La?" Zico tidak ingin melihat Gita menangis terus, ia ingin menghargai apapun keputusan Gita.


"Baiklah... Tapi kamu harus sering main ke rumah kita ya sayang." Titah Celine, ia tak menyangka ternyata Gita adalah Gita anak dari David dan Sophia, sahabat suaminya.


Ia diberi tahu oleh Austin saat ia pulang shopping di Singapura bersama teman-teman arisannya.


Ia tidak menyangka tanpa menjodohkannya ternyata mereka bisa bersatu dengan sendirinya, tanpa ada paksaan.


Karena dulu ia sering bergurau bersama Sophia bahwa putra dan putri mereka terlihat sangat cocok.


Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing, Zico, Yolla dan Sean mengantarkan Gita ke apartemennya, mereka bertiga menemani Gita, ingin mencoba menghibur Gita, karena khawatir Gita hanya akan menangis terus jika hanya menyendiri di rumah.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara Bell, Zico bergegas membukakan pintunya.


"Malam, maaf, cari siapa ya?"


__ADS_2