First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
H-2


__ADS_3

***


Dua jam berlalu. Saat menatap jam di dinding, Gita yang tidur dalam pelukan Zico pun terbangun, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia tersenyum melihat Zefa yang tidur nemplok pada tubuh Zico. Terlihat seperti anak koala yang sedang memeluk induknya. Namun, saat melihat ke sisi kanan Zico, ternyata Zayn sudah tidak ada di sana.


"Zayn ke mana, ya?" gumam Gita, kemudian turun perlahan dari ranjangnya, dan pergi ke lantai bawah, meninggalkan Zico dan Zefa yang masih terlelap.


"Sus Kiki, Kok rumah sepi? Pada ke mana?" tanya Gita sambil menghampiri suster Kiki yang sedang berbincang dengan bu Wati sambil membantunya memasak.


"Tuan, Nyonya dan Kak Zayn pergi ke mall, katanya pergi ke salon milik Nyonya besar, Nyonya," tutur suster Kiki.


"Ooh," sahut Gita sambil mengangguk.


"Oya, nanti kita sama Non Zefa diminta menyusul ke sana, Nyonya," ucap suster Kiki.


"Ya sudah, nanti kalau Zefa sudah bangun kita menyusul," jawab Gita. Ia pun merasa bosan karena seharian kemarin ia hanya tinggal di mansion bersama kedua buah hatinya.


Kemudian Gita menghampiri bu Wati dan berdiri di belakangnya, lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu bu Wati. Gita memang sangat dekat dengan bu Wati, karena bu Wati selalu mengingatkannya pada almarhum sang nenek.


"Masak apa, Bu? Aku bantu, ya?" ucap Gita.


"Ah jangan, Non. Non kan mau jadi pengantin, nanti kalo kecipratan minyak gimana coba? Sudah Non duduk manis saja." Bu Wati melarangnya karena tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Gita.


"Iya deh iya," jawab Gita tersenyum. Suster Kiki pun tersenyum melihat Gita yang benar-benar tidak menjaga jarak sama sekali dengan para pekerja di rumah ini.


"Oya, Bu. Vitaminnya sudah habis belum? Nanti kalo habis bilang, ya. Biar aku belikan lagi," ucap Gita. Ia memang selalu memberikan vitamin kepada bu Wati.


"Masih ada kok, Non. Masih banyak."


"Kok bisa masih banyak? Harusnya itu sudah habis lho, Bu. Ibu jarang minum vitaminnya, ya?" omel Gita.


"Saya terkadang lupa, Non. Sering ketiduran," sahut bu Wati merasa tidak enak pada Gita.


"Hmm, Ibu! ... Sus Kiki, saya minta tolong, mulai hari ini, ingatkan Bu Wati untuk rutin minum vitaminnya, ya," pinta Gita pada suster Kiki.


"Baik, Nyonya," jawab suster Kiki tersenyum.


Gita pun pergi ke ruang keluarga, kemudian ia menelpon Yolla.


"La, lo lagi di kantor, ya?"


(Iya, Git. Kenapa?)


"Nggak apa-apa, gue seneng aja kalo lo udah bisa kerja lagi," tutur Gita.


(Oya, Git. Gue mau cerita sesuatu sama lo.)


"Cerita? Cerita apa?" tanya Gita mengernyitkan dahi pada Yolla yang ada di sebrang telpon.


(Sean ngelamar gue, Git.)


"What's? Secepat itu? lo serius? Eh maksudnya, dia serius?" kaget Gita. Ia tak menyangka jika Sean akan melamar Yolla secepat itu. Tapi ia juga turut bahagia mendengarnya. Ternyata apa yang ia takuti tidak terjadi. Karena sebelumnya Gita mengira Sean hanya sekedar obsesi saja pada Yolla. Namun nyatanya, Sean benar-benar serius pada Yolla.


(Dia serius kok, Git. Dia bilang sama gue kalo dia mau ke rumah gue sama ayah bundanya untuk menemui Mama dan Papa kalo mereka nanti sudah pulang,) terang Yolla.


"Ooh, syukurlah. Terus lo udah bilang sama Mama Papa lo?"

__ADS_1


(Belum, Git. Gue bingung jelasinnya kalo lewat telfon, mereka pasti bakal kaget kalo denger gue mau married tapi bukan sama Mike. Lo kan tau sendiri mereka respect banget sama Mike,) jelas Yolla mengeluh.


"Iya juga, ya. Ya udah telfon aja dulu Mama Papa lo, minta mereka untuk pulang secepatnya. Bilang aja ada hal penting yang mau lo bicarakan," ujar Gita memberi saran.


(Iya deh, nanti gue telpon mereka. Oya, Git. Sorry ya, gur mau meeting dulu. Nanti gue telfon lo lagi, ya.)


"Okay, La. Have a nice day!"


(You too!)


Mereka pun mengakhiri panggilannya. Melihat jam yang terlihat di layar ponselnya, Gita pun kembali ke kamarnya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.


"Sayang, udah siang nih. Katanya mau ke kantor? Kamu udah lewatin jam sarapan kamu lho, Sayang. Memang kamu nggak lapar?" ucap Gita berbisik di sebelah daun telinga Zico.


"Hmm? Iya, Sayang," sahut Zico dengan suara parau khas bangun tidur namun matanya hanya mengintip sedikit. Masih berat untuk membuka matanya.


"Terus ini Zefa gimana, Sayang?"


"Zefa, ayo bangun, Nak. Mau ikut Mommy nggak ke mall? Kita menyusul Kak Zayn, Genma dan juga Genpa," ucap Gita mencoba membangunkan putri kecilnya.


"Hmm? Kak Zayn ke mall, Mommy? Kok Jepa ditinggal?" ucap Zefa mengerucutkan bibir mungilnya. Benar saja dugaan mommy Celine, Zefa pasti akan merajuk jika tidak di ajak.


"Kan tadi Zefa nya lagi bobo sama Daddy sama Mommy," Zico menimpali.


"Tapi benelan kita mau ke mall juga, Mommy?" tanya Zefa memastikan.


"Iya, Sayang. Zefa ikut ke kamar dulu yuk sama Mommy, ganti bajunya dulu," bujuk Gita sambil membuka kedua  lengannya ingin menggendong Zefa.


"Pake baju yang cantik ya, Mommy?" pinta Zefa mulai terlihat antusias.


Zico pun tersenyum melihatnya. Ia pun mulai bangkit dari tidurnya dan memeluk kedua perempuan yang ada di hadapannya itu, kemudian mencium kening mereka bergantian.


"Sayang, aku ke kamar Zefa dulu, ya? Kamu mandi dulu sana. Oya, kamu mau makan di bawah atau di sini? Kalo mau makan di sini nanti aku bawain," tawar Gita pada suaminya.


"Kamu bilang kamu mau menyusul mommy, daddy, sama Zayn ke mall, 'kan? Ya udah nanti kita makan siang bareng aja di sana, sekalian aku antar kamu sama Zefa," ujar Zico.


"Lho? Memang kamu ke kantor jam berapa?"


"Aku ke kantor jam satu kok, Sayang. Soalnya meeting nya juga jam dua."


"Tapi apa kamu nggak lapar? Kan dari pagi perut kamu belum di isi. Aku bawain roti aja gimana?" tawar Gita membelai pipi Zico.


"Ya udah, Sayang. Makasih, ya," ucap Zico mencium pipi sang istri.


"Kok Jepa nggak dicium juga, Daddy?" cetus Zefa mengerucutkan bibirnya, cemburu pada sang Mommy.


Gita dan Zico pun terkekeh mendengarnya, kemudian mereka mencium Zefa di kedua belah pipinya dengan gemas.


Setelah itu, Gita menggendong Zefa dan turun ke kamar Zefa.


Sedangkan Zico bergegas pergi mandi dan bersiap, namun seperti biasa, ia menunggu Gita yang memasangkan dasinya. Gita pun tahu akan tugas barunya, setelah menggantikan Zefa pakaian, ia mengantarkan Zefa pada suster Kiki, dan mengambil dua lembar roti yang sudah di oleskan selai coklat di atasnya. Kemudian membawakannya untuk sang suami.


"Sayang, ini sambil dimakan, bentar ya, aku cariin dulu dasinya," ucap Gita sambil memberikan roti itu pada Zico kemudian ia pergi ke walk in closet mengambilkan dasi yang akan dipakai Zico hari ini.


Kemudian ia kembali menghampiri Zico dan memasangkan dasinya di kerah baju Zico dan juga memasangkan jas nya.

__ADS_1


"Sayang, kamu lupa, ya? Kemarin udah libur, masa hari ini libur lagi?" gerutu Zico sambil menarik lengan Gita yang hendak pergi mengambil tas selempangnya.


"Apanya yang lupa, sih?" tanya Gita mengernyitkan dahi, tak mengerti maksud Zico.


Lantas Zico pun memonyongkan bibirnya menagih jatah morning kiss dari sang istri.


"Ini kan udah siang, Sayang. Mana ada morning kiss siang-siang?" ucap Gita terkekeh menggoda Zico.


"Ya udah kalo nggak mau!" ketus Zico hendak meninggalkan Gita. Namun, dengan cepat Gita menarik lengan Zico kemudian menarik kerahnya dan melu mat bibir suaminya tercinta dan tentu saja Zico menyambutnya, ia melu mat bibir Gita dan melesakkan li dahnya pada rongga mulut Gita. Mereka menghabiskan waktu lima menit hanya untuk jatah morning kiss saja, karena Zico yang tak mau melepaskannya.


Setelah Gita hampir kehabisan napas, barulah Zico melepaskannya.


"I Love You, Istriku," ucap Zico kemudian mengecup bibir manis Gita sekilas.


"Love you more, My Hubby," balas Gita.


Mereka pun pergi ke lantai bawah mengajak Zefa dan juga suster Kiki dan mulai melajukan mobilnya ke mall.


"Sayang, kenapa nggak pake supir aja? Memang kamu nggak capek?" tanya Gita pada sang suami yang sedang mengendarai mobilnya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kan tadi udah tidur lama, jadi udah segar lagi badan aku," jawab Zico sembari mencium punggung tangan Gita yang sedang di genggamnya.


"Iiissh, Sayang. Malu iih ada Suster Kiki," bisik Gita menggerutu.


Zico pun terkekeh mendengar sang istri mengomel.


Setelah tiba di mall, mereka langsung menuju ke restoran di dalam mall itu, salah satu cabang restoran milik Zico.


Ya, milik Zico. Karena Zico memiliki bisnisnya sendiri di luar dari bisnis William Groups. Zico memiliki bisnis restoran sendiri yang bekerja sama dengan Sean. Sama dengan restoran tempat Sean melamar Yolla kemarin.


Zico menghubungi mommy Celine agar segera menyusul ke restorannya untuk makan siang bersama.


Sepuluh menit berlalu, mommy Celine, daddy Austin, Zayn dan suster Deby pun tiba di restoran, Zico memesankan meja khusus pula untuk para suster dan pak Hendra supir dari daddy Austin.


Sedangkan mereka berada di ruang private.


"Genma jahat! Genma tinggalin Jepa! Huh!" omel Zefa mengerucutkan bibirnya saat mommy Celine tiba.


"Maaf ya, Sayang. Genma ada perkejaan penting tadi, jadi Genma harus buru-buru ke sini. Ini saja Genma baru selesai mengurus pekerjaan Genma. Tanya saja Kaka Zayn kalau tidak percaya," tutur mommy Celine mencoba menjelaskan pada cucu perempuannya itu.


"Iya, aku saja belum bermain sama sekali di sini, Genmanya sibuk," gerutu Zayn.


"Zefa, nggak boleh cemberut-cemberut gitu ah! Nanti cantiknya luntur lho!" goda Gita pada sang putri.


"Ayo cium dulu Genma nya," seru Gita.


Mereka pun menikmati makan siang mereka dengan penuh keceriaan, karena tingkah Zefa yang menggemaskan.


Setelah selesai makan siang, Zico pergi ke kantornya karena ada meeting penting dan daddy Austin pulang bersama Zayn dan Zefa, juga bersama para suster. Sedangkan mommy Celine dan Gita kembali ke salon mommy Celine karena Gita akan melakukan treatment di sana.


***


Keesokan paginya, seperti biasa di kediaman keluarga Austin William selalu mengawali hari mereka dengan berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama, hari ini adalah H-2 Sebelum pesta resepsi pernikahan Zico dan Gita.


Gita mulai dilarang untuk keluar rumah oleh Zico, karena ia tak ingin ada sesuatu hal yang terjadi pada sang istri.

__ADS_1


Gita hanya menemani kedua buah hatinya bermain di ruang bermain. Dan juga mengajarkan pelajaran yang ingin diketahui oleh Zayn.


__ADS_2