First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Upaya Sean


__ADS_3

Setelah terdiam beberapa saat, Yolla pun tak ada pilihan selain ikut dengan Sean. Ia naik ke dalam mobil Sean. Setelah menutup pintu mobilnya, Sean memutari mobil sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Yolla hanya diam saja tidak memakai seat belt-nya, ia sedang memikirkan perkataan Gita tadi.


Melihat Yolla hanya melamun, Sean mendekati Yolla dan meraih seat belt di sisi dekat bahu kiri Yolla, hingga pipi Sean tepat berada di depan wajah Yolla, karena Yolla tersentak, bibir Yolla tak sengaja menabrak pipi Sean. Mereka terdiam sejenak kemudian Sean melanjutkan niatnya untuk memasangkan seat belt Yolla sambil tersenyum. Ia mulai menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya.


Yolla hanya terus memandang ke kiri jalan memandang ke arah luar jendela. Hati nya benar-benar berdebar saat ini, berdebar antara gugup dan malu karena tak sengaja mencium pipi Sean.


Ternyata Sean masuk ke sebuah parkiran restoran, seperti niatnya tadi, ia ingin mengajak Yolla makan siang bersama terlebih dahulu.


"Lho? Kok ke sini? Katanya lo mau antar gue ke kantor, Sen?" tanya Yolla menatap kesal pada Sean.


"Makan dulu sebentar, biar kamu meeting-nya bisa fokus nanti," ucap Sean sambil melepaskan seat beltnya. Sedangkan Yolla malah masih menatap kesal pada Sean.


"Kenapa, Sayang? Mau aku bukain seat belt-nya?" goda Sean tersenyum membuat pipi Yolla seketika merona, kemudian ia bergegas melepas seat belt-nya dan turun dari mobil Sean, ia berdiri di luar mobil sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri.


Sean pun terkekeh melihatnya, kemudian ia turun dari mobil, menggenggam jemari Yolla dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.


"Sean, lepasin dong tangan gue," rengek Yolla. Mungkin kalau itu adalah pria lain Yolla akan memberontak dan menampar keras pipi pria itu.


"Kalo aku lepasin nanti kamu kabur," sahut Sean sambil terus menarik tangan Yolla.


Setelah tiba di meja yang masih kosong, Sean menarik kursi untuk Yolla dan meminta Yolla untuk duduk di sana, lalu Sean duduk di hadapan Yolla.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Sean begitu lembut pada Yolla.


"Bisa nggak, nggak usah panggil sayang-sayang gitu? Gue bukan pacar lo! Gue udah punya Mike!" ketus Yolla. Padahal apa yang ada di hatinya sangat berbeda dengan yang terucap dari bibirnya.


"Iya aku tau," lirih Sean. Seketika raut wajah Sean pun berubah menjadi murung, membuat Yolla menjadi tak enak hati.


Sean memanggil pelayan restoran tersebut. Setelah ia dan Yolla memesannya, mereka hanya fokus menyantap makanan mereka masing-masing, setelah selesai menyantap makanannya, Yolla yang merasa tidak enak pada Sean pun, meletakkan lima lembar uang seratus ribuan di atas meja dan segera berpamitan pada Sean.


"Sean, gue ke kantor naik taksi aja, gue duluan ya, Bye!" pamit Yolla kemudian pergi ke arah pintu keluar restoran.

__ADS_1


Sean seketika mengejarnya. Ia menggenggam jemari Yolla lagi kemudian menarik Yolla ke arah mobilnya. Yolla menepis kasar tangan Sean.


"Lepasin gue! Gue bisa ke kantor sendiri!" teriak Yolla.


"Enggak, La. Biar aku yang anter kamu, okay?" Sean tetap berusaha bersikap lembut pada Yolla walaupun Yolla sudah bersikap kasar pada Sean.


"Itu taksi online gue udah dateng, Bye!" pamit Yolla bergegas masuk ke taksi online tersebut meninggalkan Sean.


"Kenapa kamu segitunya menghindar dari aku sih, La?" gumam Sean kemudian bergegas kembali ke kantornya.


***


Di dalam taksi online Yolla duduk di kursi penumpang, ia sedang menatap ke arah luar jendela sambil memikirkan Sean. Sejujurnya ia sangat merasa bersalah pada Sean. Namun, ia sengaja melakukannya agar Sean merasa kesal padanya.


Di saat Yolla memandang ke arah luar, ia melihat sosok perempuan yang nampak tidak asing sedang bersama lelaki yang juga ia rasa pernah melihatnya.


"Astaga! Itu kan orang yang nabrak Zico, berarti itu Priscilla!" pekik Yolla.


"Pak! Tolong berhenti dulu Pak, minggir dulu sebentar!" pinta Yolla pada supir taksi online.


"Tunggu aja dulu pokoknya, Pak! Saya telfon temen saya dulu, itu ada buronan soalnya! Harus buru-buru di tangkep!" ujar Yolla sambil mencari nomor kontak Sean.


"Hallo, Sean! Lo di mana?" tanya Yolla pada Sean yang berada di seberang teleponnya dengan mode panik. Tentunya membuat Sean khawatir mendengarnya.


"Aku ini lagi di jalan, La. Kamu kenapa? Kok panik gitu?" tanya Sean ikut panik.


"Priscilla, Sean. Ini dia ada di deket gue sama cowok yang nabrak Zico itu!"


"What's? Priscilla?! Kamu di mana sekarang? Kirimin lokasi kamu sekarang, ya. Kamu jangan nekat, kamu diem aja di dalam taksi. Jangan coba-coba melakukan apapun, okay?" Sean mengingatkan. Ia takut Yolla nekat ingin menghajar Priscilla.


"Iya-iya! Cepetan ya, jangan lama-lama nanti orang nya keburu kabur!"


"Sip!" sahut Sean lalu mengakhiri panggilannya. Ia pun bergegas menghampiri Yolla sesuai titik lokasi yang Yolla kirimkan ke ponselnya.

__ADS_1


"Pak! Kita tunggu di sini nggak apa-apa kan ya, Pak? Tenang aja nanti saya lebihin fee nya," ujar Yolla pada supir taksi online tersebut.


"Iya, Mbak. Ndak apa-apa," sahut sang supir yang berusia sekitar 40 tahun tersenyum ramah.


Melihat wajah Yolla yang begitu khawatir dari kaca spion, pak supir pun bertanya lagi.


"Memang mereka siapa, Mbak?"


"Mereka itu buronan, Pak. Mereka bersekongkol menabrak calon suami sahabat saya, sampe koma lima minggu lho, Pak," jawab Yolla.


"Oalah, ya sudah ayo kita tangkap saja mereka, Mbak. Tenang saja, saya ini jago silat, Mbak. Daripada nanti mereka keburu kabur kalo nunggu temen Mbak datang," ajak sang supir.


"Beneran Bapak jago silat?"


"Beneran, Mbak. Di kampung saya sering sekali menangkap maling-maling."


Setelah lima menit berlalu Sean masih belum kunjung tiba, sedangkan Priscilla dan pesuruhnya itu sudah terlihat masuk ke dalam apartemen itu.


"Lho? Kok mereka masuk? Berarti si Nenek sihir tinggal di sini?" gumam Yolla.


"Tuh, Mbak. Nanti mereka keburu kabur lho, Mbak. Ayo kita masuk saja, Mbak," ajak Pak supir.


"Ya udah. Ayo, Pak!"


Mereka pun masuk ke dalam apartemen itu. Namun, ternyata lift yang Priscilla dan pesuruhnya naiki itu sudah ke atas menuju lantai 20, lantai teratas di apartemen tersebut. Mereka pun mengikutinya. Untung saja ayah Yolla mempunyai beberapa saham di apartemen itu, jadi ia sangat mudah untuk masuk ke apartemen tersebut.


"Pak, nanti Bapak handle si cowoknya ya, Pak. Kalo yang cewek itu biar saya yang menghajar," titah Yolla.


"Baik, Mbak."


Saat keluar lift Yolla mengintip dulu, ia melihat Priscilla sedang berjalan menuju tangga darurat dan berjalan ke arah lantai teratas apartemen tersebut. Yolla dan supir taksi itu mengikuti nya setelah suara langkah kaki Priscilla tak terdengar lagi.


Yolla dan pak supir mengendap-ngendap berjalan menyusul Priscilla dan pria itu ke atap gedung apartemen tersebut.

__ADS_1


Namun saat Yolla membuka pintu yang menuju ke atap gedung tersebut tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya.


"Eummmph!"


__ADS_2