First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Giselle dan Sean


__ADS_3

Seketika Gita mendongakkan wajahnya menatap Giselle, "Sel, jangan ngomong gitu dong Sel... Sebentar lagi Uncle Felix pasti akan kasih kabar baik untuk kita.. Kamu semangat ya... Kamu harus bertahan, Sel!" tutur Gita terisak.


"Sssst... Aku gak mau... lihat kamu Nangis, Git." Ucap Giselle yang terdengar bertambah lemah.


Gita yang sadar akan kondisi Giselle pun seketika memakaikan kembali masker oksigennya di wajah Giselle, ia beranjak dari kursinya dan hendak memanggil dokter, tetapi Giselle menarik jemari Gita.


"Git, Sean..." Lirih Giselle lemah dengan kelopak mata yang hanya setengah terbuka saja.


"Kamu mau aku panggil Sean Sel?" tanya Gita.


Kemudian Giselle menganggukkan lemah kepalanya.


"Okay, kamu tunggu sebentar ya!"


Gita pun bergegas ke luar bergantian masuk dengan Sean.


Setelah mengenakan APD, Sean pun segera masuk menemui Giselle, tapi saat Sean masuk ternyata Giselle sedang memejamkan matanya.


Digenggamnya jemari Giselle, ia kecup kembali punggung tangannya sembari membelai pipinya.


Merasakan tangannya ada yang menyentuhnya, Giselle pun membuka sedikit kelopak matanya. Netranya memandang lelaki yang sangat dicintainya itu, bulir bening pun mengalir dari sudut matanya, ia menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya.


"Hei, Jangan nangis..." tanya Sean tersenyum sembari menyeka air mata Giselle dengan ibu jarinya, walau sejujurnya ia pun tak sanggup menahan air matanya, bahkan netranya saat ini pun sudah mengembun.


"Sean... Maaf..." lirih Giselle dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Sssst... Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang banyak salah sama kamu Sel, aku yang selama ini mengabaikan kamu, aku minta maaf Sel... Aku minta maaf!" Bulir bening yang sedari tadi mendesak ingin keluar pun akhirnya pecah dan mengalir dari sudut mata Sean dengan suara terisak.


"Jangan nangis," ucap Giselle masih nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Sean pun menyeka air matanya dan mencoba tersenyum walaupun terlihat memaksa.


"Okay, aku nggak akan nangis lagi kok... Kamu janji ya sama aku, kamu harus kuat ya, Sel. Aku sayang sama kamu, Sel..." Tutur Sean semakin erat menggenggam tangan Giselle.


"Yolla ...," Ucap Giselle singkat.


Degh!


Jantung Sean berdegup kencang, walaupun hanya satu nama yang diucapkan Giselle tapi sudah membuat dadanya terasa bergemuruh hebat.


'Kenapa dia sebut nama Yolla? Apa mungkin dia tau tentang aku dan Yolla?' gumam Sean dalam benaknya.


"Kenapa Sel? Kamu mau Yolla ke sini? Itu nggak mungkin Sel, Yolla terlalu jauh untuk datang kesini." kilah Sean yang berpura-pura tak mengerti maksud Giselle.


Beberapa kali ia memergoki Giselle, Gita dan Nadhira sedang berbincang di telpon dengan Yolla, Jadi Sean tahu kalau Giselle sudah mengenal Yolla.


Giselle menggeleng lemah.


"Kamu? Kamu tau Sel tentang aku dan Yolla?!" Sean tersentak, ternyata dugaannya benar kalau Giselle tahu tentang masa lalunya dengan Yolla. Ia pun melanjutkan, "Gita yang bilang sama kamu, Sel?"


Giselle menggelengkan kepalanya lagi.


"Kamu ... Jangan bilang ... Gita ... ya," Pinta Giselle dengan nafas yang agak tersengal.


Ia tidak ingin Gita merasa bersalah pada dirinya karena menyembunyikan hubungan Sean dan Yolla, Giselle tahu betul posisi Gita itu serba salah, karena baik dirinya maupun Yolla adalah sama-sama sahabatnya.


"Iya aku nggak akan bilang Gita. Tapi ada yang perlu kamu tau, Sel ... Aku sama Yolla cuma masa lalu, masa depan aku itu kamu, Aku cuma sayang sama kamu sekarang. Jadi, kamu jangan pernah minta aku untuk sama Yolla ya? Please? Aku cuma mau kamu, Sel." tutur Sean lembut sambil membelai wajah Giselle.


Melihat Giselle yang ingin menjawabnya, Ia langsung memotongnya, "Udah Sel, kamu jangan banyak ngomong dulu ya, kamu istirahat aja, Aku temenin kamu di sini sampai jam besuk habis." Ucap Sean sambil menciumi punggung tangan Giselle berkali-kali, Seolah ia lupa kalau dirinya itu belum ada status hubungan apapun dengan Giselle.

__ADS_1


Kalau saja Giselle tak sakit, mungkin ia akan jadi gadis yang paling bahagia karena perasaanya yang kurang lebih sudah satu tahun lamanya ia pendam itu akhirnya mendapatkan balasannya.


Dua minggu pun berlalu...


Keadaan Giselle sudah jauh lebih baik, bahkan ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Zico memfasilitasi kamar Giselle di kamar VIP, karena Gita sering berada di rumah sakit menemani Giselle, jadi ia ingin kekasihnya itu merasa nyaman saat mendampingi Giselle.


Orang tua Giselle juga berada di rumah sakit mendampingi Giselle saat ini, sebenarnya orang tua Giselle ingin membawanya pulang ke kampung halaman saja, tapi karena Zico menjanjikan orang tua Giselle bahwa tidak lama lagi Giselle akan mendapatkan donornya, jadi orang tua Giselle pun mengurungkan niatnya.


Semakin hari Sean semakin perhatian pada Giselle, ia benar-benar selalu menemani Giselle di rumah sakit, bahkan saat Giselle berada di ruang ICU selama empat hari pun ia sampai tidak pergi kuliah sama sekali, baru satu minggu ini ia pergi ke kampusnya, itu pun setelah semua kelasnya selesai ia langsung bergegas kembali ke rumah sakit.


"Sel, Ibu sama bapak kamu kemana? Kok gak kelihatan?" tanya Sean saat baru saja tiba di ruang VIP itu, sambil melihat-lihat ke sekitarnya. Ia baru saja pulang dari kampus dan langsung bergegas ke rumah sakit untuk menemani Giselle.


"Ibu sama bapak ke apartemen Gita, kasian kalau di sini terus mereka gak bisa bener-bener istirahat." jawab Giselle.


Gita meminjamkan apartemennya untuk ditinggali oleh kedua orangtua Giselle, karena Gita tidak tega melihat orangtua Giselle yang sudah paruh baya itu tidur di sofa rumah sakit setiap hari, jadi ia memutuskan bergantian dengan mereka untuk menemani Giselle di rumah sakit.


"Oh ...Terus kamu udah makan belum?" tanya Sean lagi sambil membelai rambut Giselle.


"Udah kok, tadi disuapi ibu sebelum ibu pulang ke apartemen Gita. Kamu sendiri udah makan?" tanya balik Giselle, sekarang ia sudah mulai menerima Sean, bahkan ia sudah tidak sabar mendapatkan donor itu agar ia bisa cepat pulih dan menjalani hari-harinya dengan Sean sebagai sepasang kekasih seperti pasangan yang lainnya.


Ya, Memang pada saat Sean mengungkapkan perasaannya pada Giselle di ruang ICU hari itu, Sean sudah mengikrarkan kepada teman-temannya kalau sekarang Giselle adalah kekasihnya.


"Aku belum lapar, Sel." Sahut Sean singkat.


"Ya udah kalau kamu nggak makan nanti sore aku juga nggak mau makan!" Balas Giselle mengerucutkan bibirnya.


"Iisshh ngambek ... Iya sayang iya aku makan. Ya udah aku keluar dulu sebentar ya cari makan." Tutur Sean sembari mencium kening Giselle yang sedang duduk di ranjangnya, Giselle membalasnya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Sean yang sedang berdiri, menyandarkan wajahnya pada perut sixpack Sean dan Sean pun membalas pelukannya.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2