
"Iya, Git. Maaf ya, gue benar-bener udah nggak sanggup lihat dia lagi, Git." Lirih Yolla lagi-lagi menitihkan air matanya.
Gita memeluknya, "Iya, La. Nggak apa-apa, kalo emang itu bisa membuat hati lo merasa lebih baik. Nanti kalo gue sama Zico liburan, gue yang ke sana, ya?" Gita mencoba menghibur sahabat terbaiknya.
Mendengar perkataan Gita membuat Yolla seketika melepaskan pelukannya dan menatap wajah sahabatnya itu.
"Beneran, Git? Lo mau ke Paris?!" Yolla yang sedang menangis pun tiba-tiba mengulas senyumnya, ia merasa senang karena Gita akan mengunjunginya ke sana.
"Iya, La. Sebenarnya waktu itu Zico pernah ngajak gue saat gue nangis karena kangen sama lo, tapi gue bilang sama dia tunggu waktu liburan aja." terang Gita.
"Janji ya lo benar-benar mau ke sana?" Ucap Yolla lagi meminta Gita berjanji.
Gita pun mengulas senyum menganggukkan kepalanya.
Akhirnya hubungan mereka pun kembali membaik setelah kejadian kemarin.
Sejujurnya Yolla sangat kesal pada Gita karena telah memberitahu Sean tentang perasaannya, tetapi ia benar-benar tidak bisa marah pada Gita, oleh sebab itu ia hanya pergi meninggalkan Gita begitu saja kemarin, dan melampiaskan amarahnya pada alkohol sampai mabuk.
Sebenarnya sebelum Gita membuka matanya, Yolla sudah terbangun terlebih dahulu karena kepalanya yg sedikit pusing.
Saat menyadari dirinya ada di kamar hotel dan dalam keadaan sudah berganti pakaian, ia sempat takut untuk membalikkan tubuhnya yang sedang memunggungi Gita, ia berpikir mungkin yang ada di balik punggungnya saat ini adalah laki-laki hidung belang yang sudah menemukannya di bar itu semalam.
Dirinya berusaha keras mengingat kejadian semalam, dan tiba-tiba saja sekilas ingatan saat dirinya sedang memaki dan mendorong Gita pun terlintas, ia seketika membalikkan tubuhnya, dan akhirnya ia bisa bernafas lega, karena ternyata yang berada di atas ranjang kamar hotel itu adalah Gita, bukan lelaki hidung belang seperti yang ia pikirkan tadi.
Ditatapnya wajah cantik Gita yang sedang tertidur pulas, perasaan bersalah pun berkecamuk di dalam dirinya, ia merasa sangat bersalah karena telah berlaku kasar pada Gita tadi malam.
Pesan Sophia kepadanya tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya yang membuat dirinya semakin bersalah kepada Gita.
Ia sudah berjanji kepada Sophia untuk selalu menjaga Gita, tapi ia malah meninggalkan Gita jauh ke belahan bumi lain, dan semalam ia malah berlaku kasar pada Gita, bulir bening pun menetes dari sudut matanya ke atas seprai putih di bawah pipinya itu.
Saat melihat Gita bergerak, ia seketika menyeka air matanya dan memejamkan matanya berpura-pura tertidur dan mendengarkan semua perkataan yang di ucapkan Gita.
***
Tiga minggu pun berlalu, Yolla sudah lama kembali bersama Mike ke Paris tanpa berpamitan langsung pada teman-temannya yang lain karena menghindari bertemu Sean, ia hanya berpamitan melalui telpon saja pada Nadhira dan Giselle.
Giselle sudah pulang kembali dari rumah sakit, Gita lebih sering menginap di kamar kost Giselle untuk menjaganya daripada pulang ke asramanya, karena kesehatan Giselle yang belum benar-benar pulih.
Giselle masih harus istirahat sekitar 3 sampai 4 minggu lagi agar benar-benar pulih dan bisa melakukan aktifitasnya lagi di kampus.
Sedangkan kedua orangtua Giselle sudah kembali ke kampung halamannya karena adik-adiknya yang terus menelpon meminta mereka kembali, membuat Giselle pun meminta orangtuanya untuk kembali saja ke rumahnya.
***
"Mommy!" sapa Gita berlari kecil ke arah Celine yang ada di ruang tamu dan memeluknya.
Ia sangat merindukan mommy Celine karena sudah lama tak berkunjung ke rumah Zico, jadi ia memutuskan untuk berkunjung ke mansion Zico sekalian ingin membujuk Zico yang sedang merajuk.
"Lho? Gita?! Kok tumben datang pagi-pagi sekali, Sayang? Kamu datang sendiri pula nggak sama Zico, Zico aja masih tidur sepertinya," tanya mami Celine panjang lebar, karena memang Gita selalu datang ke kediamannya bersama Zico, tidak pernah sendirian seperti ini.
"Zico lagi ngambek, Mom. Gita datang ke sini karena mau bujukin dia, hehe," terang Gita sembari menunjukkan barisan gigi putihnya.
Zico sangat jarang marah padanya, apalagi hanya karena masalah sepele, tapi beda ceritanya jika Zico melihat Gita berbincang dengan Vino teman sekelas Gita saat SMA yang sejak lama tertarik pada Gita, bahkan sebelum Zico tertarik pada Gita.
"Lho? Ngambek kenapa? tumben dia ngambek sama, kamu? Padahal Mommy perhatikan kalian sudah lama sekali tidak pernah bertengkar, kan?" tutur Mommy Celine.
__ADS_1
"Biasalah, Mom. Jealous," sahut Gita mengerucutkan bibirnya.
Mommy Celine menghembuskan nafasnya kasar.
"Hemmm!!! Benar-benar sama seperti Daddynya!" gerutu mommy Celine.
"Lho? Memang Daddy juga cemburuan seperti Zico, mam?" kaget Gita.
"Sangat! Daddy tuh dulu sampai membayar orang untuk mengawasi Mommy tau nggak, Mommy merasa kesal sekali sama Daddy waktu itu sampai Mommy meminta putus akhirnya, dan satu tahun kemudian Mommy baru mau balikan sama Daddy dan langsung menikah dengannya, itu pun karena Daddy tiba-tiba melamar Mommy." jelas Mommy Celine.
"Oh! ternyata love story Mommy dan Daddy nggak mudah ya, Mom. Gita kira hubungan Mommy dan Daddy mulus-mulus aja." tutur Gita.
"Setiap hubungan pasti memiliki masalah tersendiri, Sayang. Jadi, kamu dan Zico kalau sedang ada masalah, selesaikan lah baik-baik, dan kalau ada perasaan kesal harus diungkapkan, jangan dipendam sendiri, karena kalau dipendam hanya akan jadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja, biasanya kalau bom itu sudah meledak, sudah susah untuk diperbaiki lagi." pesan Mommy Celine pada Gita.
"Iya, Mom. Gita akan selalu ingat pesan Mommy." sahut Gita mengulas senyumnya.
"Ya sudah, kamu langsung naik saja ke kamar Zico, nanti kalau Daddy sudah turun, pasti akan ada banyak pertanyaan untuk kamu dan Zico." titah Mommy Celine.
"Baiklah, Mom. Gita ke atas dulu ya, Mom." pamit Gita.
"Iya, Sayang. Naiklah." Sahut Mommy Celine.
Ia pun bergegas naik ke kamar Zico.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk, Mom!" sahut Zico dengan suara yang terdengar sedang tidak baik-baik saja.
Ceklek...
Gita pun menekan handle pintu kamar Zico dan mendorongnya.
"Lho, Sayang?! Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Gita sambil menyentuh dahi Zico.
"Lho? Kamu kok di sini, Sayang?" Zico malah bertanya balik dengan suara khas orang yang sedang sakit flu.
"Kamu nggak balas-balas pesan aku, ditelpon juga nggak di angkat-angkat, Aku kira kamu ngambek sama aku, makanya aku ke sini," sahut Gita.
"Kepala aku pusing banget, Sayang." Lirih Zico dengan mata yang hanya setengah terbuka.
"Iya lah pasti pusing, suhu badan kamu aja tinggi banget begini. Badan kamu tuh panas, Sayang. Aku ke Mommy dulu ya, biar Mommy panggilkan dokter untuk kamu." tutur Gita sembari beranjak pergi.
"Sayang! Kamu aja yang merawat aku, ya? Nggak usah panggil dokter, aku cuma flu biasa kok." pinta Zico.
"Okay! Aku mau ke bawah dulu ambil kompresan, ya?" bohong Gita, padahal ia ingin segera memberitahu mommy Celine kalau putra semata wayangnya itu sedang sakit, untuk urusan memanggil dokter atau tidak, biar mommy Celine sendiri yang memutuskannya.
Zico pun mengangguk lemah.
Saat tiba di lantai bawah Gita mencari mommy Celine di ruang tamu tapi tidak ada mommy di sana, ia pun mencari ke ruang keluarga tetap tak kunjung menemukan keberadaan mommy Celine, ia pun segera beranjak naik kembali menuju kamar mommy Celine dan Daddy Austin.
Tok... Tok... Tok...
"Mom!"
Ceklek...
__ADS_1
"Lho? Kenapa, Sayang? Zico nya masih ngambek?" tanya Mommy Celine.
"Eng ..." baru Gita akan menjawab, Daddy Austin tiba-tiba bertanya dengan suara beratnya.
"Siapa yang ngambek?" tanya Daddy Austin.
"Eng-Enggak, Dad! Itu Zico sakit, badannya panas banget," jawab Gita menunduk.
"Hah? Zico sakit?!" pekik mommy Celine.
"i-iya, Mom." Jawab Gita masih menunduk.
"Kamu sejak kapan di sini Git? Kok Mommy nggak bilang Daddy kalau ada Gita datang? Kamu naik apa ke sini?" tanya Daddy Austin beruntun kepada Mommy Celine dan Gita.
"Tadi kamu kan sedang mandi saat Gita datang, jadi ya aku suru Gita langsung ke kamar Zico saja," Jawab Mommy Celine.
"Oh! Ya sudah cepat hubungi Felix, Sayang!" titah Daddy Austin pada mommy Celine.
"Panggil Gerald saja, Dad. Felix pasti sangat sibuk di rumah sakit," sahut mommy Celine.
"Iya, Dad. Dari suaranya sih sepertinya hanya demam karena flu aja," sahut Gita menimpali.
"Ya sudah, terserah panggil siapa saja, yang penting dokter." Balas Daddy Austin.
"Okay! Mommy telpon Gerald dulu ya, Dad." sahut Mommy.
Setelah menelpon Gerald mereka pun segera beranjak ke kamar Zico.
Ceklek...
"Sayang, kok lama banget sih?" lirih Zico saat mendengar pintu terbuka, ia bertanya tanpa membuka matanya, masih memejamkan matanya.
"Son! Kamu sakit, Nak? Kok nggak panggil Mommy, Git? Untung saja Gita ke sini Kalau Gita nggak ke sini Mommy mana tau kalau kamu sakit, Son!" tanya Mommy Celine yang sangat terlihat cemas.
Zico yang kaget mendengar suara mommy pun seketika membuka kelopak matanya, ia melihat mommy Celine yang duduk di tepi ranjangnya sembari menyentuh dahinya, sedangkan Gita dan Daddy Austin sedang berdiri di sisi ranjang, Lalu ia melirik tajam pada Gita.
Padahal ia sudah mengatakannya pada Gita kalau ia ingin dirawat Gita saja, karena berharap bisa seharian dimanja oleh Gita, tapi nyatanya Gita malah membawa Mommy dan Daddynya.
"Zico nggak apa-apa kok, Mom," sahut Zico menutup wajahnya dengan selimutnya.
"Nggak apa-apa gimana? Badan kamu aja panas sekali, kok." sahut mommy Celine.
"Mommy kamu sudah panggil Gerald ke sini!" tegas Daddy Austin.
"Apa? Memang Gerald udah pulang ke indo, Dad?" Tanya Zico sambil membuka kembali selimutnya.
"Udah kok, dua hari yang lalu!" mommy Celine menyahut.
Tok.. Tok... Tok...
"Itu pasti Gerald! Masuk, Ger!" teriak Mommy Celine.
Ceklek...
"Hallo Aunty, Uncle!" sapa Pria berwajah tampan itu.
__ADS_1
Ia pun berlenggang masuk dengan gayanya yang tengil, ia memandangi semua yang ada didalam kamar Zico, termasuk Gita yang menyapanya dengan senyuman di wajah cantiknya.
'Oh My Lord! Siapa nih cewek? So pretty girl!'