First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Ragu


__ADS_3

Disaat jam pelajaran, Gita fokus memperhatikan pelajaran sedangkan Yolla sibuk dengan pikirannya, ia melamun lalu bergumam pada Gita.“Nggak salah lagi Git, Zico sepertinya benar-benar suka sama lo deh.” Bisik Yolla kepada Gita saat jam pelajaran dimulai.


“Apa sih lo ini, sudah ah, perhatikan tuh pelajarannya, gue nggak mau bahas yang nggak penting, gue nggak mau ya beasiswa gue sampai dicabut gara-gara nilai gue turun.” Balas Gita berbisik kepada Yolla. Sebenarnya ia hanya mengalihkan pembicaraan saja karna hatinya masih sakit teringat perkataan Priscilla dan teman-temannya.


“Oke Oke, gue nggak akan ganggu lo Miss Jeni!” Bisik Yolla mengejek.


Miss Jenius adalah julukan yang tepat untuk Gita, karna Gita lah yang selalu mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade sains dan matematika, baik dalam tingkat nasional maupun internasional, dan selalu membawa tropy dan bahkan medali emas, karna ia selalu mendapatkan juara 1, Bahkan ia diterima disekolah itu karena Beasiswa yang diterimanya, padahal sekolah itu adalah sekolah international yang dimana muridnya adalah orang-orang kaya dan rata-rata mereka adalah anak-anak seorang pengusaha, sedangkan Gita hanyalah seorang anak yatim, karena ayahnya sudah lama wafat.


Setelah pulang sekolah Zico menunggu Gita didepan kelasnya, dengan tubuh menyandar ke dinding dan tangan dimasukkan ke saku celananya, dan tak lupa juga memakai earphone didaun telinganya, memang itulah style Zico.


Teman-teman wanita yang sekelas dengan Gita terpesona melihat prince disekolahnya itu ada didepan kelas mereka lagi, mereka memandang Zico dengan tatapan terpesona.


Disaat Gita keluar kelas bergandengan dengan Yolla, Zico segera menghampirinya, jantung Gita berdebar.


Deg... Deg… Deg…


Jangankan melihat wajahnya, mendengar namanya saja membuat hatinya berdebar luar biasa.


‘Kenapa perasaanku selalu tidak karuan seperti ini rasanya yaa, jangankan berhadapan sama dia, mendengar Namanya saja sudah membuat jantung aku seperti mau copot rasanya... eMmm... tapi benar kata Priscilla, aku nggak pantas untuk Zico, aku hanyalah gadis miskin.’ Gita bertanya-tanya dalam benaknya tentang perasaannya, ia pun merendahkan dirinya sendiri.


Gita memasang wajah tak ramah, sedangkan Yolla menyapanya.


“Hai Zico!” Sapa Yolla.


“Hai La! Hai Git!” Balas Zico tersenyum.


Ketika mereka berdua sedang bertegur sapa, Gita hendak berjalan melewati mereka, tetapi Zico menangkap lengannya.


“Gita tunggu!”


“Ada apa Zico? Aku mau pulang!” jawab Gita ketus.


“Kita pulang bareng lagi ya?” Pinta Zico.


“Maaf Zico, tadi kan aku sudah bilang nggak bisa!” Gita tambah ketus.


“Gita, please?!” ia memasang wajah melasnya lagi berusaha membujuk Gita.


Tapi sayangnya, Gita tidak terpengaruh, ia tetap menolak pulang bersama Zico.


“Aku sudah bilang nggak bisa ya nggak bisa Zico, lepasin aku, aku mau pulang!” Gita agak membentak Zico sambil menghempaskan tangan Zico agak kasar.


Zico dan Yolla pun terdiam, Yolla merasa kasihan pada Zico yang hanya terdiam, mau membantu Zico tapi tidak bisa, ia sangat tahu watak sahabatnya itu, sangat susah untuk dibujuk kalau sudah punya pendirian.

__ADS_1


“Maaf ya Zico, gue nggak bisa bantu lo, Gita itu keras kepala, dia sangat sulit untuk dibujuk kalau sudah seperti itu, gue pulang duluan ya Zico, Bye...” Terang Yolla.


“Iya la, nggak apa-apa, Bye...” Sahut Zico.


‘Aku nggak akan menyerah Gita, aku akan terus berusaha untuk mengambil hati kamu, tidak perduli kau mau acuh tak acuh padaku.’ Batin Zico.


Lantas Zico pun mengejar Gita, ia berlari dan sekarang berjalan disamping Gita. Sedangkan Yolla sudah pulang dijemput oleh supirnya.


Gita hanya meliriknya, Zico pun hanya diam mengikuti langkah Gita sampai tiba di halte bus. Hingga akhirnya Gita pun berbicara dengan ketus pada Zico.


“Mau apa kamu mengikuti aku sampai kesini?”


“Nggak apa-apa, aku hanya ingin pulang naik bus, kan kita searah.”


‘What? Naik bus? Dia kan selalu bawa mobil, mana mungkin dia mau naik bus?’ Batin Gita.


Ia hanya diam. Sampai bus tiba Gita naik ke dalam bus dan Zico pun ikut naik ke dalam bus nya.


Mereka tidak mendapatkan tempat duduk, mereka berdiri berdampingan, saat bus mulai melaju Zico yang tidak terbiasa naik angkutan umum pun terhuyung-huyung sebelum memegang pegangan yang berada diatas kepalanya, dan ia pun hampir membuat Gita terjatuh karena ia menyenggolnya.


Dengan cepat ia menangkap tubuh Gita sehingga sekarang Gita berada didalam pelukannya, wajahnya tepat berada didada bidang Zico.


Deg..Deg..Deg..


Gita mendengar degupan jantung Zico yang sangat kencang.


Gita segera melepaskan dirinya dari pelukan Zico.


“Maaf ya Gita, aku nggak sengaja.” Zico meminta maaf pada Gita karena sudah menyebabkan Gita hampir terjatuh.


“Hmmmm..” Gita hanya menjawab singkat dan membuang muka nya, karena takut Zico akan melihat wajahnya yang sedang merona itu.


Zico tersenyum melihat Gita, walaupun ia harus berdiri didalam bus, tapi ia bahagia bisa menemani Gita seperti ini.


Ketika tiba di halte dekat apartemennya, Gita pun menekan bell nya dan turun dari bus, Zico pun mengikutinya.


“Lho? Kok kamu ikut turun sih?” tanya Gita mengerutkan alisnya.


“Kan aku ingin mengantar kamu pulang.” Sahut Zico tersenyum.


“Kan aku tadi sudah bilang nggak usah!” gerutu Gita sambil mengerucutkan bibirnya, dan berjalan menuju apartemennya, Zico mengikuti langkahnya.


“Maaf deh maaf, aku cuma khawatir kalau kamu pulang sendirian Gita.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Zico Gita menghentikan langkahnya dan menatap Zico.


“Khawatir? untuk apa khawatir sama aku? memangnya aku anak kecil! nggak perlu lah khawatir-khawatir segala, aku sudah biasa kok pulang sendiri!” ia melanjutkan langkah kakinya.


“Serius Gita, aku itu mengkhawatirkan kamu, aku takut Priscilla dan teman-temannya itu mengganggu kamu lagi.” Terang Zico.


Gita menghentikan langkahnya lagi dan menatap ke arah Zico dengan wajah serius, “Kamu serius takut Priscilla mengganggu aku lagi?” tanya Gita menaikkan sebelah alisnya.


“Iyalah, masa bercanda.” Sahut Zico.


“Kalau begitu, kamu nggak usah dekat-dekat denganku lagi Zico, Priscilla itu cemburu kalau kamu berteman sama aku, makannya dia membully aku.”


“Nggak Gita, untuk apa aku menjauhi kamu hanya karena dia?”


“Kan tadi kamu sendiri yang bilang takut aku diganggu Priscilla, kalau kamu menjauhi aku dia akan akan mengganggu aku lagi Zico.”


“Jadi kamu nggak nyaman ya kalau berteman dengan aku?” Tanya Zico murung.


Gita pun jadi merasa bersalah melihat wajah Zico.


“Eng.. Enggak! Bukannya begitu Zico, aku.. aku.. Ck.. sudahlah, aku malas menjelaskannya.”


Ia pun melanjutkan langkahnya, dan Zico masih mengikuti dibelakangnya.


Mereka berjalan lagi tanpa mengucapkan satu kata pun.


Saat tiba didepan apartemen Gita, saat Gita hendak masuk ke apartemenya ia pun berbalik melihat Zico, Zico hanya tersenyum kecil menatap Gita.


“Aku sudah sampai, kamu nggak pulang?” Tanya Gita ketus.


“Apa kamu nggak mau kasih aku air minum? Aku haus sekali.” Keluh Zico sembari memegang jakunnya.


“Hah? Kamu serius mau masuk ke apartemen ini? Lagian rumah aku itu kecil sekali sempit sesak, pasti berbeda sekali dengan Mansion kamu, kamu nggak akan nyaman Zico dirumah aku.”


“Aku kan hanya ingin meminta minum bukan ingin tidur di rumah kamu Gita.” Zico mengatakannya sambil mencubit sebelah pipi Gita dengan gemas.


Blush!!!


Pipi Gita pun merona benar-benar seperti kepiting rebus.


Zico tersenyum melihat wajah Gita, dan ia melepaskan tangannya dari pipi Gita.


“Baiklah, Ayoo!” Ajak Gita. Ia berjalan sambil menangkup kedua pipinya dengan tangannya.

__ADS_1


Mereka pun berjalan masuk ke apartemen dan sesampainya didepan pintu rumahnya Gita segera membuka pintu apartemennya.


“Silahkan masuk Zico.”


__ADS_2