First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Obat Perangsang


__ADS_3

"Ooh ... itu Priscilla," sahut Zico singkat. Kemudian bertanya pada Alex. "Lo kok bisa undang dia sih, Lex?"


"Nggak tau ... Kayaknya bokap gue deh yang undang keluarga dia," jawab Alex.


"Priscilla? Siapa dia, Beib? Mantan kamu, ya? Kan kamu udah janji sama aku nggak akan undang mantan-mantan kamu!" omel Nadhira panjang lebar.


"Bukan, Beib! Dia tuh cewek yang dari dulu deketin Zico," terang Alex panik, takut kekasihnya yang kini sudah jadi tunangannya itu akan mengamuk di pestanya.


"Oh! Kirain mantan kamu!" cibir Nadhira yang membuat Alex mendengus kesal.


"Bukanlah, Beib."


"Lex, gue ke sana dulu ya," pamit Zico sambil menunjuk ke arah yang agak sepi, ia sebetulnya sangat tidak suka menghadiri acara pesta seperti itu, ia datang hanya karena ini adalah pesta sahabatnya. Bahkan Daddy nya sering mengajaknya untuk ikut ke beberapa acara penting bersama kolega bisnisnya, sekalian ingin memperkenalkan calon penerus perusahaannya, tapi Zico selalu menolak.


Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, ia mencoba mengirim pesan pada Gita.


[Sayang, kamu udah selesai belum operasinya?]


Setelah tiga puluh menit berlalu Gita masih belum membalas pesan Zico.


Zico yang merasa haus pun berjalan menghampiri meja yang berisi bermacam-macam aneka minuman. Namun saat belum sampai meja, tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang menghampirinya sedang membawa nampan yang berisi jus jeruk dan ditawarkan kepada Zico.


Zico pun mengambilnya dan menenggaknya hingga habis.


Sepuluh menit berlalu, kepala Zico mulai terasa pusing, ia merasakan hawa panas yang luar biasa di seluruh tubuhnya bahkan bulir-bulir keringat sudah memenuhi dahinya, dan yang ia bayangkan pun hanya wajah Gita. Entah mengapa, ia merasa sangat menginginkan Gita saat ini juga.

__ADS_1


Ia mulai merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya, ia mencoba menghubungi Gita.


"Hallo ... Sayang ... Aku ... aku ... tunggu aku di apartemen kamu, Sayang," ucap Zico yang sedang merasakan pusing dan hawa panas pada pada tubuhnya, dan segera menutup telponnya.


***


Di rumah sakit ...


"Zico kenapa, sih? Kok nafasnya seperti tersengal gitu? Apa dia sakit?" gumam Gita setelah Zico memutuskan panggilannya.


Saat ini ia baru saja keluar ruang operasi, dan ketika Zico menelpon kebetulan ia baru saja membuka ponselnya.


"Prof, aku sudah boleh pulang kan, ya? Aku harus pulang ke apartemen soalnya," Gita meminta izin kepada dr.Felix agar bisa segera pulang ke apartemennya.


Di rumah sakit Gita selalu memanggil uncle Felix dengan sebutan Prof atau Profesor, sedang kalau sedang berkumpul di mansion Zico, ia selalu memanggilnya uncle Felix sama seperti Zico.


"Terima kasih, Prof."


***


Di apartemen Gita ...


"Zico kemana, ya? Kok nggak datang-datang sih udah tengah malam gini? Aku udah cepat-cepat pulang juga," gerutu Gita yang sedang menunggu Zico.


Gita menunggu Zico di ruang keluarganya sembari menonton TV, ia sangat kelelahan karena aktivitasnya yang sangat padat seharian ini, ia pun tertidur di atas sofanya.

__ADS_1


Saat ini sudah jam satu malam, ketika ia sedang terlelap di atas sofa, tiba-tiba saja ada seseorang yang melu mat bi birnya dengan penuh gairah.


Sontak Gita pun membelalakkan matanya, saat menyadari itu adalah Zico, Gita seketika mendorong bahunya.


Melihat tatapan Zico yang begitu menginginkannya dengan deru nafas yang begitu memburu, Gita pun bertanya apa yang terjadi.


"Kamu kenapa, Zi? Kamu sakit?"


"Aku ... Aku nggak tahan, Sayang," jawabnya dengan nafas yang tersengal.


'Zico kenapa, ya? Dia nggak pernah seperti ini, selama ini dia selalu bisa menahan gairahnya. Apa jangan-jangan ...,' pikir Gita dalam benaknya.


"Sayang ... tolong ... bantu aku ... Aku nggak tahan lagi, Gita!" Zico pun menyambar bi bir Gita lagi begitu kasar dan menahan kedua tangan Gita, ia mengungkung Gita di atas sofa itu.


Gita yang diperlakukan kasar seperti itu hanya bisa menangis karena tangannya yang ditahan oleh Zico, air matanya terus saja mengalir dari sudut matanya.


Lama-lama Gita mulai terisak, Zico pun yang sedari tadi memejamkan matanya sambil terus melu mat bi bir Gita dengan penuh gairah, akhirnya ia menyadari tangisan Gita, ia lepaskan bibir Gita dengan nafas yang masih begitu terdengar memburu, ia pun menyadari kesalahannya yang membuat Gita menangis.


Selama ini ia selalu memperlakukan Gita dengan lembut, tak pernah kasar seperti ini.


"Sayang, Maaf ... Maafin aku, ya? Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku seperti ini ... Tiba-tiba tubuh aku menginginkannya, seluruh tubuh aku merasakan panas yang luar biasa," terang Zico yang sangat merasa bersalah.


"Kamu mabuk, ya?" tanya Gita masih sedikit terisak.


"Enggak, Sayang. Setahuku aku hanya minum jus jeruk, aku nggak minum-minuman beralkohol. Tetapi aku tiba-tiba merasakan seperti ini setelah meminum jus jeruk itu," jelasnya.

__ADS_1


'Apa mungkin ada seseorang yang menaruh obat perangsang ke dalam jus jeruk itu?'  gumam Gita dalam batinnya.


__ADS_2