First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Honeymoon


__ADS_3

***


Jam sembilan pagi Zico dan Gita sudah tiba di bandara, dan hanya di antar oleh Yolla dan Sean, karena jika mengajak kedua anaknya, sudah pasti Zefa akan merengek meminta ikut dengan mereka.


Ini saja mereka membuat alasan jika Zico dan Gita ada perjalanan bisnis ke luar kota untuk beberapa hari, jadi Zefa tidak merengek meminta ikut bersama mereka.


"La, gue titip anak-anak, ya. Lo sama Sean kalo pulang kerja sempetin ke rumah mommy, temenin mereka main gitu. Gue kasian sama mommy takut mommy kecapean. Kan dari sebelum hari pernikahan gue mommy udah sibuk banget urusin semuanya," tutur Gita meminta tolong kepada Yolla.


"Iya, Git. Tenang aja. Besok dan lusa gue nggak ke kantor dulu, gue mau bawa mereka main di apartemen gue aja, biar si mommy bisa istirahat," jawab Yolla.


"Beneran, La? Emang lo nggak banyak kerjaan?"


"Banyak lah pasti, tapi biarin aja, gue sekalian lagi mau kasih warning buat mama papa biar mereka cepetan pulang. Pasti kan kalo gue nggak ke kantor dua hari tanpa kabar, nanti Mika pasti laporan ke papa. Terus mereka pasti langsung on the way pulang," ucap Yolla terkekeh.


"Dasar!" cetus Gita kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Thank's ya, La," lanjutnya.


"Iya, Sayangku. Selamat bikin adik bayi buat Zefa, ya! Haha," ucap Yolla terbahak.


"Iisshh," omel Gita mencubit pipi Yolla yang mulai terlihat agak chubby lagi sejak berpacaran dengan Sean.


"Zefa nggak mau punya adik bayi tau, La," sahut Zico yang baru saja menghampiri mereka berdua bersama Sean. Mereka baru saja selesai membahas pekerjaan yang harus Sean handle ketika dirinya honeymoon dengan Gita.


"Serious? Why?" tanya Yolla terbelalak menatap Gita.


"Dia bilang katanya takut daddy nya nggak gendong dia lagi karena daddy nya sibuk gendong adik bayi," jelas Gita terkekeh.


"Ya ampun, sesayang itu sama daddy nya. Padahal daddy nya kayak kulkas gitu," cibir Yolla mengejek Zico.


"Dia tuh kalo sama Zefa cerewet banget tau, La. Depan orang lain aja dia kayak kulkas," balas Gita.


"Udah ngerumpinya, tar ketinggalan pesawat lho," timpal Sean. Karena memang private jet milik keluarga William yang akan membawa mereka sudah siap untuk lepas landas.


"Nggak mungkin lah mereka terbang kalo kitanya masih di sini," balas Gita terkekeh.


"Ya udah kita berangkat dulu, ya. Titip anak-anak sama mommy daddy, ya. Kalo keluar rumah mereka harus selalu di jaga bodyguard. Gue takut terjadi sesuatu sama mereka," pesan Zico pada Sean.


"Okay, Zi. Safe flight and take care!" jawab Sean memeluk Zico sambil menepuk punggungnya. Yolla dan Gita pun saling berpelukan seperti mereka.


"Jangan lupa nanti kado dari gue dipake, ya!" bisik Yolla pada Gita, membuat wajah Gita merona dan mengulum senyumnya.


***


Enam jam berlalu, mereka pun akhirnya tiba di Bandara Internasional yang ada di Maladewa.


Tour guide yang akan membawa mereka ke Maldives pun sudah tiba dan segera menyambutnya, kemudian bergegas mengantarkan mereka.


Gita benar-benar terpukau saat tiba di sana. Karena Maldives yang identik dengan pantai yang indah dan suasana alam yang tenang membuat para pengunjung benar-benar merasakan ketenangan ketika berada di sana.


Zico sengaja memilih resort terbaik yang ada di Maldives, yaitu resort Constance Moofushi. Di resort ini terdapat water villa atau yang biasanya disebut dengan penginapan apung di atas air.

__ADS_1


Saat kita keluar dari ruangan kita langsung dapat menyaksikan hamparan lautan. Pemandangan yang sangat indah dan menyegarkan mata.


Gita benar-benar merasa nyaman berada di sini. Rasa lelah yang dirasakannya tadi seolah lenyap seketika saat berada di resort itu.


Semuanya tergantikan dengan rasa senang saat melihat pemandangan yang menyejukkan matanya.


Saat Gita sedang menikmati pemandangan hamparan lautan yang begitu jernih, tiba-tiba tangan Zico melingkar di perutnya.


"Sayang, kamu suka?" tanya Zico seraya mencium pipi kanan Gita sambil meletakkan dagunya di bahu kanan sang istri.


"Iya, Sayang. Aku suka banget pemandangan dan suasana di sini. Nyaman banget rasanya," tutur Gita.


Zico yang sudah tidak tahan lagi menahan gairahnya pun mulai mencium tengkuk Gita setelah menyibakkan rambutnya.


"Sayang, sekarang, ya?" bisiknya pada daun telinga Gita.


"Baru juga sampai, Sayang. Istirahat dulu dong sebentar. Satu jam aja, aku belum siap kalo sekarang," Gita yang masih merasa lelah karena perjalanan tadi pun berusaha agar Zico mengurungkan niatnya untuk menggempur dirinya.


Alih-alih menuruti permintaan Gita, tangan Zico justru mulai bergerilya di dua buah kehidupan Gita, mere masnya pelan sambil menye sap ceruk leher Gita.


"Eunggh," Gita mulai mele nguh saat tangan dan bibir Zico sudah mulai menyentuh daerah sensitifnya. Zico pun tersenyum dibuatnya saat Gita sudah mulai mengeluarkan suaranya yang membuat gai rahnya semakin berge jolak.


Zico dapat merasakan jika gai rah Gita pun sebenarnya sudah mulai bangkit, sama seperti dirinya.


Tanpa menunggu lama, Zico membalikkan tubuh Gita. Tanpa aba-aba lelaki itu langsung meraup bibir sang istri. Ia mengakses semua yang ada dalam rongga mu lut Gita. Gita yang sudah tidak malu-malu lagi pun ikut membalas ciu man Zico. Mereka saling melu mat dan bertukar sali va.


"Bibir kamu tuh kenapa manis banget sih, Sayang? Bikin aku candu tau nggak," celetuk Zico setelah melepaskan bibirnya yang saling bertaut.


"Sayang, kamu masih capek?"


"Boleh kita melakukannya sekarang? Aku udah nggak bisa tahan lagi, Sayang. Please?" tanya Zico dengan wajah yang memelas dan tatapan sayu. Gita pun membalasnya dengan anggukan kecil.


Tak menunggu lama, Zico langsung menyambar bibir manis Gita lagi sembari menanggalkan semua pakaian yang ada di tu buh Gita sambil berjalan menuju ranjang. Sehingga membuat wanita yang sekarang berada di bawah kungkungannya menjadi polos tanpa sehelai benang pun.


"Aaaght!" Gita mulai mende sah lagi dan juga membusungkan da danya saat merasakan sentuhan - sentuhan yang diberikan Zico.


Lelaki itu langsung menjadi bayi besar. Ia mengi sap kuat pucuk buah kehidupan milik istrinya hingga membuat wanita yang berada di bawah kungkungannya itu pun melenguh.


"Aaaaght, Sayang," Gita terus mende sah memanggil sang suami, ia benar-benar tidak tahan dengan kenikmatan yang diberikan oleh Zico padanya.


Zico terus menye sap dua buah kehidupan milik istrinya secara bergiliran, kemudian turun ke bawah. Hingga Zico berhenti di benda lembut yang kini tengah berkedut.


Zico langsung menenggelamkan kepalanya di benda ke nyal dan lembut tadi. Ia mengu lum dengan gemas benda tersebut hingga membuat Gita memekik karena merasakan sensasi nikmat yang berbeda.


"Aaaght, Sayang!" jerit Gita sambil mencengkram seprai ranjang yang berwarna putih itu. Gita mulai merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang akan meledak.


"Zi, Please! Aku nggak kuat lagi, Sayang. Aku nggak tahan," pekik Gita. Ia sudah tidak sabar ingin Zico melakukan sesuatu yang lebih dari ini.


Zico menyeringai, ia suka melihat Gita memanggil namanya ketika mereka sedang bercin ta seperti ini.


Tanpa menunggu lama lagi, Zico segera menaikkan kedua kaki Gita ke bahunya.

__ADS_1


"Aku akan mengabulkan apa yang kamu inginkan, Sayang."


Gita yang melihat kakinya diangkat seperti itu oleh sang suami pun langsung memanggilnya dengan suara lembutnya.


"Sayang, pelan-pelan, ya. Aku takut sakit kayak dulu."


"Iya, Sayang. Aku tahu. Akan aku lakukan dengan lembut, ya," jawab Zico dengan lembut.


Gita memekik saat ia merasakan ada sesuatu yang besar masuk di bawah sana dan terasa penuh. Lubang di dalam inti tu buh Gita pun telah dimasuki oleh pusa ka milik Zico.


"Sayang, sakit nggak?"


Gita menggelengkan kepalanya. Walaupun memang ada rasa sakit, namun rasa nikmat lebih besar dibanding rasa sakit yang dirasakannya.


"Enak nggak, Sayang?" ucap Zico seraya menggoyangkan pinggulnya dengan pelan.


Gita yang sudah mulai hilang kendali pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Melihat itu, Zico langsung menyeringai. Zico kembali memompa tubuhnya dengan ritme yang sedikit lebih cepat membuat dua buah kehidupan milik Gita pun bergoyang sesuai dengan kencangnya hentakan dari Zico.


Gita hanya mampu mende sah, dan desa han yang dikeluarkan Gita tentunya membuat gai rah Zico semakin bergejolak, ia semakin bersemangat memompa tu buh Gita.


Bukan hanya Gita yang dibuat melayang karena aksi Zico. Namun, Zico sendiri pun merasakan hal yang sama, ia merasakan melayang saat dirinya termanjakan oleh himpitan di bawah sana.


Himpitan yang hanya tiga kali ia rasakan bersama Gita enam tahun yang lalu yang menghasilkan sepasang anak kembar yang menggemaskan, Zayn dan Zefa.


"Zi, faster, Please!" pinta Gita dengan menikmati hujaman demi hujaman dari pusa ka milik suaminya.


Gita dapat merasakan kalau gelombang itu akan segera datang dan ia ingin Zico mempercepat gerakannya di tu buhnya.


"Sayang, kita keluar sama-sama, ya."


Mulut Gita menganga saat merasakan pelepasan itu akan segera tiba. Dan benar saja, tidak lama kemudian mereka mendapatkan pelepasan yang sangat hebat.


"Aaght!" Zico menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Gita.


Zico tidak langsung melepaskan penyatuan tersebut, ia ingin memberikan jeda untuk menikmati pelepasan tadi. Ia dapat merasakan inti Gita yang masih berkedut menghisap ujung pusa ka miliknya.


Setelah beberapa saat barulah Zico melepaskan penyatuan mereka, ia menci um mesra kening Gita, merebahkan dirinya di samping Gita sambil menghadap Gita dan memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Gita.


"Sayang, sekali lagi, boleh?" bisik Zico di ceruk leher Gita.


Hal ini langsung membuat Gita terkejut, matanya terbelalak. Ia terkejut atas apa yang barusan ia dengar. Tidak percaya jika Zico benar-benar akan terus menggempurnya di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang tenang dan nyaman ini.


"Sayang, aku capek banget, lagian itu aku masih perih, Sayang," rengek Gita manja.


"Ya udah sekarang kita tidur dulu. Nanti malam kita lanjut, ya?" pinta Zico.


"Hmm," sahut Gita bergumam.


Mereka pun membenarkan posisinya, Zico menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala Gita. Mereka pun mulai memejamkan matanya saling mendekap erat tubuh yang masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Akan tetapi, tiba-tiba saja perut Gita berbunyi, membuat Zico seketika membuka kelopak matanya. Ia baru ingat jika mereka berdua memang belum makan dan telah melewatkan jam makan siang.


"Ya ampun, Sayang. Maaf, ya. Aku lupa, kita kan belum makan siang!"


__ADS_2