First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Akibat merajuk


__ADS_3

"Lho? Kan Non Gita sudah pulang tadi den di antar Pak Hendra, kalau Tuan dan Nyonya tadi kembali ke kamarnya." Sahut Bu Wati.


"Hah? Gita udah pulang?!" Zico terkejut mendengar Gita sudah pulang.


"Ya udah makasih ya Bu." Zico bergegas pulang pergi menyusul Gita ke asrama.


Zico berlari menghampiri mobilnya hendak menyusul Gita, dari balkon kamar ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan Zico dan itu adalah Austin dan Celine.


"Rasain kamu son! minta dibujuk malah harus membujuk... suruh siapa kamu pakai merajuk segala." Kikik Monik mentertawakan sikap anaknya yang sedang kelabakan mencari Gita, walaupun mereka melihatnya dari jauh, tapi sangat terlihat jelas kepanikan Zico yang dari tadi terlihat mondar-mandir sambil menelpon Gita.


"Kamu ini sayang.. anaknya sedang panik malah kamu tertawakan.. bukannya dia itu anak kesayanganmu?" Goda Austin.


Celine menghela nafas dengan berat.


"Hemmm... Aku kesal sayang.. tadi itu Zico sudah berani membentak Aku, kamu tau sendiri kan? Dia itu gak pernah seperti itu padaku sebelumnya." Lirih Celine menitihkan air matanya.


"Sabar ya sayang, biar bagaimana pun dia itu kan anak kita, nanti Aku akan ke kamarnya bicara empat mata dengannya." Tutur Austin. Ia memang terlihat tegas dan berwibawa didepan banyak orang termasuk anaknya sendiri, tapi lain halnya jika ia sedang bersama Celine Istri tercintanya, ia selalu bersikap manis dan lembut.


Sebelum masuk ke mobilnya, Zico mencoba untuk menghubungi Gita.


Tut... tut... tut...


Berulang kali Zico mencoba menghubungi Gita, tetapi tetap tidak ada jawaban dari Gita sepertinya Gita memang enggan mengangkat telepon dari Zico.


"Sayang... please dong angkat telponnya." Gumam Zico sembari mondar-mandir di samping mobilnya.


Ia pun bingung harus bagaimana caranya menemui Gita, karena kalau ke asramanya, ia tidak akan di izinkan untuk masuk, karna Asrama itu adalah khusus perempuan.


Jika menemuinya dikampus harus menunggu hari senin, bagaimana bisa ia tidak mendengar suara Gita walau satu hari saja.


Ia pun mencoba mengirim pesan pada Gita.


{Sayang, kamu kok pulang duluan? Aku kan mau antar kamu pulang, tadi aku ke kamar karna mau mandi sayang, bukannya bermaksud tinggalin kamu.}


Tadinya Zico memang kesal dan marah pada Gita karena penolakannya, tetapi sebenarnya saat ia diberi tahu oleh Mommy nya kalau Gita di toilet sedang menangis, ia pun luluh, rasa kesalnya hilang entah kemana karena membayangkan Gita yang sedang menangis, karna ia paling tidak bisa melihat kekasihnya itu menangis, hatinya ikut merasakan sakit jika melihat Gita sedang menangis.


Setelah menunggu selama satu jam di dalam mobilnya, Masih tidak ada juga balasan pesan dari Gita.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk turun dari mobil dan kembali ke kamarnya, ia berpikir untuk menunggunya didepan gerbang asrama saja besok pagi, karena ia teringat tentang permintaan Gita semalam saat Gita meminta Zico untuk menemaninya membersihkan apartemennya.


Ia berbaring di atas ranjangnya, ia sangat menyesal dengan sikapnya tadi sore yang sudah membuat Gita menangis, membayangkan Gita menangis saja sudah menyakitkan baginya, ditambah lagi Gita menangis karena sikapnya tadi sore yang mengabaikannya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Zico.


"Masuk Mom." Sahut Zico.


Ceklek...


Terdengar suara handle pintu yang di putar, dan ternyata bukan Mommy Celine yang mengetuk pintu kamar Zico, tetapi Austin.


"Lho? Daddy? Zico kira Mommy." Zico terkejut karena ternyata yang datang ke kamarnya adalah Daddy nya bukan Mommy nya.

__ADS_1


"Daddy ingin bicara sama kamu Zico!" Ucap Austin dengan tegas.


"Bicara apa Dad?" Tanya Zico sembari menggosok-gosok leher belakangnya tanpa menatap Austin.


"Kamu jujur sama Daddy! Ada masalah apa sebenarnya kamu dengan Tasya?" Tanya Austin lagi.


"Nggak ada masalah apa-apa kok Dad." Kilah Zico.


"Gak mungkin kamu gak ada masalah, tadi Daddy perhatikan kamu dan Tasya tidak saling menegur sejak Tasya turun dari kamarmu ini." Selidik Austin.


Zico menghela nafas dengan berat.


"Tadi Zico ajak Gita nikah Dad, terus dia langsung menjawab gak mau, Zico jadi kecewa, Zico jadi merasa Gita gak sayang sama Zico." Tutur Zico yang akhirnya mau jujur pada Daddynya.


"Ada angin apa kamu tiba-tiba ajak Tasya nikah? Kamu harus izin Daddy dulu kalau mau nikahin dia." Tegas Austin seolah ia adalah Ayahnya Gita.


"Daddy tuh Daddynya Zico atau Gita sih?"  Tanya Zico mengerutkan dahinya.


"Ya semuanya lah... Kamu anak laki-laki Daddy, dan Tasya anak gadis Daddy." Sahut Austin tersenyum.


"Gita tuh menantu Daddy donk." Balas Zico.


"Menantu? Kamu saja sudah ditolak sama Gita... Hahaha..." Austin terbahak-bahak meledek Zico.


"Siapa bilang ditolak?" Elak Zico cemberut, padahal ia sendiri tadi yang bercerita.


"Lho? Kan kamu sendiri tadi bilang kalau kamu mengajak Gita menikah lalu ditolak." Sahut Austin masih tertawa.


Zico pun Tak dapat mengelak lagi hanya diam saja.


"Memang apa alasan Tasya menolak kamu?"


"Katanya dia mau selesaikan kuliahnya dulu Dad." Lirih Zico.


"Ya sudah tunggu aja dia lulus kuliah, nanti kita lamar dia." Sahut Austin.


"Iya Dad." Jawab Zico tertunduk lesu.


"Kamu tuh jangan abaikan dia kaya tadi, kasian Tasya... benar seperti yang Mommy kamu bilang kalau di dalam toilet tadi dia pasti menangis, karna Daddy lihat sendiri, saat dia keluar dari toilet matanya sembab seperti habis menangis, dia juga langsung pamit pulang pada Daddy dan Mommy." Tutur Austin.


Zico terdiam mendengar perkataan Daddynya.


'Maafin aku ya sayang.' gumam Zico dalam batinnya. Ia benar-benar sangat menyesal telah mengabaikan Gita begitu lama tadi.


"Ya sudah... besok kamu harus segera meminta maaf padanya ya... Kamu ingat ya Zi, Daddy gak mau kamu sakitin hatinya Tasya, Daddy sama Mommy sayang sekali sama dia." Ujar Austin. Ia melanjutkan, "Oh iya, sekarang juga kamu ke kamar Daddy dan Mommy, kamu minta maaf sana pada Mommy mu, Mommy sakit hati sama kamu." Titah Austin.


"Iya Dad." Zico pun beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar Sang Mommy yang berada di lantai tiga, Sedangkan Austin pergi ke ruang kerjanya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mom... Mommy... ini Zico Mam." Panggil Zico.


Karena tidak ada jawaban, dan Daddynya pun sedang tidak ada didalam kamar sana, Zico langsung membuka pintunya.

__ADS_1


Ceklek...


Mommy yang sedang duduk membaca novel diatas ranjangnya hanya melirik putranya itu sekilas.


Zico menghampiri Mommy nya yang sedang merajuk itu. Zico segera memeluk sang Mommy, tapi Celine diam saja tetap membaca novelnya.


"Mam... Zico minta maaf ya Mam, tadi Zico sudah ketus pada Mommy... Habisnya sih Mommy tadi membentak Zico." Seru Zico masih memeluk Celine.


Celine seketika melepaskan pelukan Zico.


"Gimana Mommy gak membentak kamu! Kamu nya aja dipanggil gak menyahut, malah pura-pura gak mendengar." Ketus Celine.


"Masa sih Mom? Zico gak dengar Mom, Zico kan lagi serius baca komik tadi.. hehe." Jawab Zico nyengir kuda.


"Iisshhh... Kamu tuh!" Ketus Celine, ia melanjutkan, "Oya, kamu gimana? Sudah ada kabar belum dari Gita?" Tanya Celine penasaran.


"Belum Mom..." Lirih Zico.


"Lagian kamu tuh... Mommy bilang Gita sedang menangis di toilet bukannya di samperin Gita nya, malah naik ke kamar." Omel Celine.


"Tadi Zico mandi Mom, Zico memang berniat mau mengantar Gita, makanya Zico mandi dulu, karena Zico mau ngajak ngedate Gita dulu sebelum pulang ke asramanya, kan ini malam minggu Mom, eh malah dia nya marah seperti ini... Kelabu deh malam minggu Zico." Keluh Zico.


Bukannya kasihan pada putranya, Celine malah mentertawakannya.


"Hahaha.. memang enak!" Ejek Celine.


"Iissh.. Mommy bukannya bantu Zico malah mengejek." Cebik Zico.


"Ngapain juga Mommy bantu kamu? Itu kan salah kamu, Kamu usaha aja sendiri." Ucap Celine.


"Hmmm.... Mommy! Ya udah Zico balik ke kamar ya Mam... Love you Mam." Pamit Zico mencium pipi sang Mommy dan kembali ke kamarnya.


Ia mengecek ponselnya berharap ada balasan pesan dari Gita, tapi ternyata masih saja Gita enggan membalasnya.


Keesokkan harinya...


Pukul tujuh pagi, Zico sudah standby di gerbang asrama Gita. Untung saja dia berinisiatif menunggu Gita disana, karena benar saja, pukul 7.30 Gita terlihat keluar dari gerbang asramanya.


Zico pun bergegas turun dari mobilnya, melihat Zico, Gita pun mempercepat langkahnya, Zico segera berlari menghampiri Gita dan menarik pergelangan tangannya.


"Sayang! Tunggu!" Panggil Zico.


Gita terpaksa menghentikan langkahnya, tetapi ia sama sekali tidak menoleh ke arah Zico yang sekarang berada di sampingnya.


"Sayang... aku minta maaf ya, aku bener-bener minta maaf banget."


"Zi, please jangan ganggu aku dulu, aku lagi pengen sendiri!" Tegas Gita tanpa melirik sedikitpun pada Zico.


"Sayang, kamu jangan gitu dong... kamu mau ke apartemen kan? Kan kita udah janjian mau membersihkan apartemen kamu, yuk kita kesana ya, kita bersihkan apartemen kamu." Bujuk Zico.


"Gak perlu, aku bisa sendiri." Sahut Gita lalu menghentikan taksi, ia pun bergegas masuk ke dalam taksi dan meminta supirnya untuk segera melaju.


"Sayang!" Teriak Zico memanggil Gita.

__ADS_1


Melihat taksi melaju cepat Zico bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti taksi itu.


__ADS_2