First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Jejak kepemilikan


__ADS_3

"Ayo dong sayang.. please???" Lagi-lagi Zico memasang wajah memelas, tapi kali ini Gita tidak terpengaruh sama sekali.


"Nggak Zi, aku males ketemu Sean... Percuma juga nanti disana aku cuma cemberut aja, apalagi kalau dia bawa cewek tadi." Tolak Gita.


"Ya udah deh... Terus kamu gimana? Aku antar sekalian aja yuk ke asrama?" Tawar Zico.


"Aku masih pengen disini sayang..." Jawab Gita.


"Ya udah kalau kamu gak balik ke asrama aku gak jadi latihan deh, aku di sini aja." Sahut Zico.


"Lho? Kok gitu? Janganlah... Temen-temen kamu pasti udah nunggu kamu Zi." Seru Gita.


"Biarin aja... Percuma juga aku gak semangat latihannya, mending di sini kita berduaan." Goda Zio.


"Iih kamu..."


Cup


Belum selesai Gita mengucapkan kalimatnya, Zico menangkup wajah Gita dan mengecup bibirnya.


Yang tadinya hanya sebuah kecupan, Zico tak mampu menahan gejolaknya untuk tidak melu mat bibir mungil Gita yang selalu ia rindukan itu.


Tangan kirinya ia letakkan di tengkuk Gita dan mendorong perlahan Gita ke posisi terbaring di sofa sekarang dan Zico berada di atasnya, Gita pun mengalungkan tangannya di leher Zico, Zico mulai melu mat bibir bawah mungil Gita, begitu juga dengan Gita.


Mereka terus saling melu mat bergantian bibir atas dan bawah, tak lupa juga lidah mereka saling menyapa, ciuman yang tadinya lembut lama-lama menjadi begitu bergairah, deru nafas mereka saling memburu, mungkin karena posisi mereka ini yang membuat mereka lupa diri, bahkan Zico mulai menyesap leher putih nan mulus Gita dan meninggalkan jejak kepemilikan disana, Gita yang awalnya menikmatinya, tiba-tiba saja mendorong pelan bahu Zico, netra mereka saling menatap dengan nafas yang saling memburu, sangat terlihat wajah dan tatapan mereka yang saling menginginkan, tapi Gita menggelengkan kepalanya, Zico tahu benar, pasti Gita teringat pesan Ibunya.


"Maaf ya sayang." Zico mengecup pipi Gita dan melepaskan Gita, ia sudah duduk sekarang, begitupun pula dengan Gita.


Zico menenggak air mineral botol hingga tandas.


"Sayang, aku ke toilet ya." Pamit Zico, ia ingin meredakan hawa panas ditubuhnya.


Gita hanya menganggukkan kepalanya, melihat Zico masuk ke dalam toilet, Gita pun pergi ke kamarnya untuk bercermin, benar saja dugaan Gita, Zico meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


Gita bingung bagaimana cara menutupinya, ia buka lemarinya mencari baju turtle neck yang ia miliki, setelah menemukannya, ia pun segera mengganti pakaiannya.


Zico yang sudah keluar dari kamar mandi pun mencari Gita, "Sayang...." Panggil Zico, Gita belum menyahut, Zico pun mencoba membuka pintu kamar Gita.


Ceklek


"Zico JA.....!!!" Teriak Gita yang sedang mengganti pakaiannya, tetapi terlambat, Zico sudah keburu membuka pintunya, Gita segera menutupi bagian depan tubuhnya yang hanya memakai bra itu dengan baju turtle neck yang akan digunakannya, Zico yang terkejut pun segera menutup pintunya, "Maaf sayang!" Teriak Zico setelah menutup pintunya, gairah di tubuhnya yang baru saja mereda, akhirnya terbakar lagi, ia merasakan hawa panas lagi ditubuhnya, ia pun kembali lagi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Gita telah keluar dari kamar dengan menggunakan turtle neck nya, ia duduk di sofa menunggu Zico keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Zico yang keluar dari kamar mandi menghampiri Gita, "Sayang, kamu kenapa ganti baju?" Tanya Zico dengan wajah tanpa dosa.


"Pake tanya lagi! Nih lihat leher aku jadi merah!" Ketus Gita sembari membuka bagian leher putih nan mulusnya, menunjukkan jejak kepemilikannya kepada Zico lalu menutupnya lagi, membuat Zico meneguk salivanya.


Zico menunjukkan barisan gigi putihnya seperti kuda.


"Kok malah nyengir sih!" Ketus Gita lagi.


"Kamu juga kan tadi nikmatin sayang." Goda Zico mencolek dagu Gita, membuat Gita tersipu malu, pipinya memerah menjadi seperti kepiting rebus.


Zico memutuskan untuk berhenti menggodanya, ia tidak ingin Gita merajuk lagi.


"Ayo sayang kita pulang, ikut aku aja yuk, temenin aku latihan basket, please sayang???" Bujuk Zico lagi sambil menangkup wajah Gita dengan kedua tangannya.


Gita menghela nafas panjang.


"Okay okay! Tapi aku gak mau dekat-dekat sama Sean!" Sahut Gita ketus.


"Iya sayang.. terserah kamu aja, yang penting kamu ikut ya." Tutur Zico.


Gita menganggukan kepalanya, mereka pun keluar dari apartemen dan Zico mulai melajukan mobilnya.


Setibanya di Sport Hall kampusnya, Gita dan Zico berpapasan dengan Sean, ternyata benar saja dugaan Gita, Sean membawa gadis yang tadi siang mereka lihat di Resto, membuat Gita bertambah kesal berkali lipat pada Sean, ingin rasanya memaki-maki Sean.


'Ck.. cepet banget dapet yang baru, untung aja Yolla nolak kamu Sen!' gerutu Gita dalam batinnya kemudian ia tinggalkan Zico, Sean dan Giselle gebetan baru Sean dengan wajah yang sangat terlihat kesal.


'Gita kenapa ya? Kok jadi jutek gitu sama gue?'  pikir Sean dalam benaknya.


"Sen, sorry ya gue susul Gita dulu!" Seru Zico menepuk bahu Sean.


Gita yang sedang melangkahkan kakinya cepat dengan perasaan kesal sampai tak menyadari di depannya ada orang, ia pun menabraknya.


Brukkk


Hampir saja Gita terjengkang ke belakang, untung saja Kenzo segera meraih Gita dengan melingkarkan lengan di pinggangnya, Gita pun refleks mencengkram bahu Kenzo.


Netranya saling menatap beberapa detik, saat melihat kedatangan Zico, Kenzo segera melepaskan Gita.


"Sorry!" Ucap Kenzo.


"Nggak! aku kok yang salah, aku yang udah nabrak kamu, maaf ya Ken."  Jawab Gita.


Kenzo hanya menganggukkan kepalanya dan pergi ke toilet.

__ADS_1


Zico yang melihatnya pun merasa jengkel, entah kenapa, sudah lama ia curiga kalau Kenzo menaruh hati pada Gita, ingin rasanya ia merajuk mengabaikan Gita, tapi ia sudah berjanji tidak akan pernah mengabaikan Gita lagi, terlebih lagi, ia yang sudah mengajak Gita untuk melihatnya latihan basket.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Zico.


"Nggak kok, aku baik-baik aja." Sahut Gita.


Mereka saling menautkan jemari mereka dan melanjutkan langkah kakinya ke pinggir lapangan.


"Sayang, aku mau ganti baju dulu, kamu tunggu di sini sebentar ya." Pinta Zico sambil membelai rambut Gita.


Gita hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


Ponsel Gita pun berdering, dan ia segera menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


(La, kok baru telpon sih? Kenapa kemarin seharian gak ada kabar?)


(Gue kemarin banyak tugas Git, maaf ya gue baru telpon lo.)


(Iya gak apa-apa La, lo sehat kan La?)


(Yes, i'm fine.. lo sendiri?)


(gue juga baik-baik aja kok.)


(Lo lagi ngapain Si?)


(Gue lagi nemenin Zico latihan basket Bel.)


(Oooh...)


'Aku gak mungkin bilang sama Yolla kalau Sean udah punya cewek, Bahkan cewek itu ada disini sekarang, aku gak mau Yolla sakit hati.' batin Gita.


(La, gue kangen banget sama lo.) Keluh Gita.


(Gue juga .) Jawab Yolla terdengar lesu di sebrang telpon.


(Kok lo lesu gitu sih La? Beneran lo sehat? Lo gak lagi sakit kan La?) Tanya Gita mengerutkan dahinya, ia terlihat sangat cemas, saat Gita sedang berbicara seperti itu kebetulan Sean sedang lewat didepan Gita, ia mendengar pembicaraan Gita.


Sean pun refleks bertanya pada Gita.


"Yolla sakit Git?!" Tanya Sean yang juga terlihat cemas.


Gita tidak menjawabnya, ia hanya melirik sinis memutar bola matanya, lalu menjauh dari Sean.

__ADS_1


'Sebenarnya Gita kenapa sih jutek banget sama gue kaya gitu? Gue harus tanya Zico nih!' Batin Sean lagi, ia pun bergegas ke ruang ganti untuk menanyakannya pada Zico, bahkan meninggalkan Giselle begitu saja tanpa pamit.


__ADS_2