First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Ketakutan Gita


__ADS_3

Baru saja dua suapan Gita menyuapkan makanannya pada Zico, tapi Zico sudah membungkam mulutnya. Zico sengaja melakukannya agar Gita mau mengeluarkan suaranya.


Bukannya bersuara, Gita justru menaruh piringnya di atas meja makan yang ada di hadapan Zico itu, kemudian memainkan ponselnya.


Zico menatap tajam Gita, Gita tetap tak peduli, ia hanya sibuk dengan ponselnya.


Mommy Celine yang menyadari hal itu pun berinisiatif untuk segera mengajak daddy Austin dan cucu-cucunya untuk kembali ke mansion.


"Sayang, kita pulang dulu, ya? Kasian anak-anak kalo terlalu lama di rumah sakit," ujar mommy Celine sambil menghampiri Gita yang sedang duduk di kursi samping ranjang Zico.


Gita pun menatap wajah kedua buah hatinya, memang benar wajah Zayn dan Zefa terlihat lelah karena semalam dibangunkan oleh mommy Celine dan di ajak ke rumah sakit karena kondisi Zico yang kritis.


Namun, Gita malas sekali berada di kamar itu hanya berdua saja dengan Zico. Ia benar-benar merasa kecewa pada Zico. Rasa kesalnya begitu sulit untuk dihilangkan.


"Mom, Maaf. Boleh nggak Gita pulang sama anak-anak? Mommy keberatan nggak kalo mommy yang temenin Zico sehari ini saja?" pinta Gita.


"Aduh, Sayang ... Maaf sekali, ya. Kepala Mommy agak sedikit pusing hari ini, Mommy ingin sekali istirahat. Besok saja baru kita bergantian menjaga Zico ya, Sayang?" bohong mommy Celine. Karena mommy Celine ingin sekali melihat Gita kembali berbaikan dengan Zico. Ia merasa kasian pada putra kesayangannya, baru saja sadar sudah didiamkan seperti itu oleh Gita.


"Ya udah, Mom. Nggak apa-apa, Mommy istirahat aja," ucap Gita tersenyum.


Setelah mereka berpamitan dan sekarang Zico dan Gita hanya tinggal berdua di dalam ruangan. Gita menjauh dari Zico dengan duduk di sofa.


"Sayang," panggil Zico lembut. Namun Gita hanya diam saja tak bergeming. Zico pun terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu yang akan membuat Gita menghampirinya.


"Sayang, aku haus," rengek Zico.


Gita pun bangkit dari sofa dan menuangkan segelas air putih hangat dari dispenser yang berada di sudut ruangan kemudian memberikannya pada Zico tanpa bicara.


Zico yang sedang duduk pun memeluk pinggang Gita dan menyandarkan kepalanya di perut Gita.


"Sayang, kamu jangan diemin aku kaya gini, dong. Maafin aku," rengek Zico memeluk erat Gita kemudian mendongakkan wajahnya menatap Gita.


Gita mencoba melepaskan tangan Zico dari pinggangnya, namun Zico terlalu erat memeluknya, sehingga sulit untuk melepaskannya. Gita menghembuskan nafas kasar sambil menatap ke arah lain.


"Sayang, Please? Aku nggak bisa kamu diemin kaya gini. Apalagi cuma gara-gara cewek laknat itu."


"Sayang," panggil Zico manja.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Gita malah menitihkan air matanya hingga jatuh mengenai pipi Zico sambil menahan isakannya masih menatap ke arah lain dan sesekali memejamkan matanya.


"Sayang, kok kamu nangis? Maaf, Sayang. Maafin aku," Zico melepaskan pelukannya meminta Gita duduk di sampingnya.


Ia memeluk Gita kembali sembari mengusap lembut punggung Gita dan mencium pucuk kepalanya.


Setelah tangis Gita agak mereda Zico melepaskan pelukannya menangkup wajah Gita sambil mengusap air matanya.


"Sayang, aku tau aku udah bikin kamu kecewa karena memaafkan dia, aku dulu nggak pikir panjang saat mengiyakan perkataan Sean. Waktu itu aku lagi sibuk banget di kantor waktu Sean membicarakan masalah itu, jadi aku asal jawab aja. Tapi aku udah sedikit kasih dia pelajaran kok, Sayang. Aku udah batalin beberapa kontrak kerjasama perusahaan kita sama perusahaan keluarga dia," jelas Zico.


"Zi, aku takut dia nekat celakain anak-anak kita lagi, kemarin aja yang dia coba celakain tuh Zayn, 'kan? Aku nggak kebayang kalo saat itu nggak ada kamu, mungkin ... mungkin aku nggak akan pernah bisa liat Zayn lagi ... melihat kamu terbaring aja tuh, hati aku tersiksa banget, Zi. Aku takut banget kamu tinggalin aku seperti Ibu sama Ayah. Aku nggak bisa kehilangan kamu sama anak-anak, Zi. Kalian berharga banget untuk hidup aku, aku nggak bisa kalo sampe kehilangan kalian. Aku nggak bisa, Zi ... kalo memang Priscilla benci sama aku, kenapa sih dia nggak celakain aku aja? Kenapa harus kamu, apalagi anak-anak," tutur Gita panjang lebar sambil terisak.


"Aku nggak akan biarin dia sentuh kamu apalagi anak-anak. Kamu tenang aja ya, Sayang. Aku udah minta Sean untuk cari bodyguard untuk mengawal semua keluarga kita," ucap Zico kemudian mengecup kening Gita lagi. Gita pun memeluknya erat.


"Kamu tenang aja, Sean sama Yolla lagi kerjasama cari dia sama anak buahnya itu, sebentar lagi pasti mereka akan tertangkap."


Gita pun mengangguk sambil melepaskan pelukan dan menghapus air matanya.


"Sayang, kamu sekarang kurus banget, sih? Kecapean ya jagain aku?" tanya Zico mengelus pipi Gita.


"Enggak, kok. Aku emang lagi nggak nafsu makan aja, aku jarang makan."


"Iya belum, aku nggak laper, Zi," jawab Gita.


"Sayang, laper nggak laper kamu harus makan, kamu kan butuh tenaga untuk jagain aku ... sekarang kamu pesan online aja beli makanannya, kamu jangan pergi sendiri, aku takut cewek ****** itu celakain kamu," titah Zico.


"Iya, Sayang," sahut Gita gantian mengelus pipi Zico.


Cup!


Zico mengecup bibir Gita.


"Iissh, kamu! Baru juga bangun udah cium-cium," omel Gita dengan pipinya yang merona.


"Pasti selama aku koma kamu kangen kan sama ciuman aku?" goda Zico terkekeh pelan.


"Aku kangeeeeen semuanya yang ada di diri kamu. Aku kangen senyumnya kamu, kangen marahnya kamu, kangen cemburunya kamu, kangen juga pelukan kamu, pokoknya aku kangeeeen banget semuanya tentang kamu," ujar Gita yang hatinya sudah mencair.

__ADS_1


"Sama bibir aku nggak kangen? Apa jangan-jangan waktu aku nggak sadar kamu sering cium bibir aku, ya?" goda Zico lagi memicingkan matanya sambil tersenyum.


"Ngaco! Ya nggak lah! Mulut kamu kan pake oksigen!" ketus Gita.


"Berarti kalo mulut aku nggak pake oksigen kamu bakal cium bibir aku terus, dong?" goda Zico lagi sambil menaik-naikkan alisnya.


"Tau ah!" cebik Gita hendak beranjak dari ranjang Zico menuju ke sofa.


Namun dengan cepat Zico menarik tangan Gita hingga Gita terduduk kembali di tepi ranjang sambil menghadap Zico, kemudian Zico melu mat bibir Gita yang sedang mengerucut.


Seperti biasa, Gita pun selalu terhanyut dalam ciuman yang Zico berikan. Ia sangat merindukan sentuhan dari bibir Zico. Mereka saling melu mat lembut satu sama lain.


Gita melepasnya lebih dulu. Ia teringat kalau Zico baru saja sadar dari komanya.


"Sayang, udah ya? Kamu kan baru bangun, istirahat dulu. Nanti kalo kamu udah bisa pulang, kita lakukan sepuasnya," tutur Gita sambil mencolek ujung hidung Zico.


"Sepuasnya? Beneran? Kalo sepuasnya berarti lebih dari ciuman, 'kan?" goda Zico lagi.


"Ya itu tergantung kamu lah. Jadi apa nggak nikahin aku," lirih Gita.


"Lho? Bukannya kita udah nikah ya, Sayang?"


"Nikah? Kapan nikahnya? Kamu aja kecelakaan dua hari sebelum pernikahan kita, kok."


"Berarti itu cuma mimpi, ya? Aku kira aku udah nikahin kamu."


"Wah, kamu besok perlu CT scan deh, Sayang. Nanti aku bilang Kak Gerald deh biar besok kamu jalanin CT scan. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Ya udah terserah Sayangku aja, deh. Apapun kata kamu aku bakal nurut," tutur Zico. "Oya, Sayang. Kamu selama ini kan jagain aku terus, lalu kerjaan kamu gimana? Kamu cuti?" lanjut Zico.


"Aku ... aku berhenti, Zi," lirih Gita dengan wajah sedihnya. Ia sebenarnya tidak rela kalau harus berhenti bekerja, karena ia begitu mencintai pekerjaannya. Namun ia tidak sanggup menjauh dari Zico saat Zico terbaring koma.


"Beneran kamu berhenti, Sayang?" tanya Zico terdengar antusias.


"Kok kamu malah keliatan seneng gitu sih aku berhenti kerja?"


"Iyalah aku seneng, kan kamu bisa sering-sering nemenin aku jadinya."

__ADS_1


Gita pun menghela nafas panjang.


__ADS_2