First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kecupan Singkat


__ADS_3

Gita menunduk malu-malu, “Iya aku mau jadi pacar kamu!”


Seketika Zico tersenyum, ia berdiri dan memeluk Gita dengan erat, “Makasih Git.” Ia pun mengecup pucuk kepala Gita.


“Hmmm.” Jawab Gita singkat sembari menganggukkan kepalanya yang berada di dada Zico.


Zico merenggangkan pelukannya sambil menatap manik mata Gita yang sedang tersenyum manis, “Ayo kita kebawah!” Ajak Zico sembari tangan kanannya menggenggam jemari Gita.


Gita memapah Zico berjalan dengan merangkulkan tangan kiri Zico dibahunya, dan ia mengaitkan tangan kanannya pada pinggang Zico, Zico berjalan tertatih, ia menolak saat Gita memberikannya tongkat, ia tak mau jika Mommy nya akan melarangnya untuk pergi ke sekolah lagi besok karena memakai tongkat itu.


Lagi pula rasa linu pada pergelangan kakinya sudah mulai berkurang karena rasa bahagianya yang saat ini ia rasakan, karena status hubungannya dengan Gita yang sudah jelas.


Saat mereka tiba diruang makan Sean dan Celine menatap mereka tersenyum.


Gita menarik kursi disebelah Celine untuk Zico, dan Gita duduk disebelah Zico, Saat mereka mulai menyantap makanannya, Celine malah pamit pergi ke salon karena sudah janjian dengan teman arisannya, sedangkan Sean beranjak pergi tidur dikamar tamu karena kelelahan.


Setelah selesai menyantap makanannya, mereka berdua kembali ke kamar Zico, Gita mengambilkan obat untuk diminum Zico. Setelah Zico meminum obatnya, Gita mengambil buku pelajaran dari tasnya dan mempelajarinya, sedangkan Zico hanya duduk bersandar diatas ranjangnya memandangi Gita yang sedang serius belajar dimeja belajar Zico.


Lama-lama Zico merasa jenuh karena di abaikan oleh Gita, ia pun beranjak dari ranjangnya dan mulai berjalan pelan menghampiri Gita lalu memegang kedua bahu Gita, “Serius banget sih belajarnya?” Goda Zico.


Gita yang sedang serius mengerjakan rumus-rumus fisika sampai tidak mendengar langkah kaki Zico, ia tersentak membelalakkan matanya dan mendongakan wajahnya ke atas menatap wajah Zico dari bawah.


“Kamu kenapa? Kaget?” Tanya Zico yang sambil tertawa kecil saat melihat reaksi Gita.


“Kamu tiba-tiba pegang pundak aku, gimana aku nggak kaget coba?” Gita mengerucutkan bibirnya.


“Oh jadi kalau aku mau pegang kamu harus izin dulu ya?” Goda Zico lagi.


“Tau ah!” Ketus Gita.


Zico sedikit duduk ditepi meja.


“Kamu tuh bisa nggak sih kalo ngambek jangan gemesin kaya gini?” Goda Zico lagi sembari memegang dagu Gita.


“huuh, gombal mulu!” sahut Gita masih ketus.


“Dih siapa yang gombal? Aku serius, kamu tuh kalo lagi ngambek gemesin banget tau!” sebenarnya ia jujur dengan perkataannya, karena ia memang sering kali merasa gemas ketika Gita mengerucutkan bibirnya seperti itu, hanya saja, kata-katanya memang lebih terdengar seperti gombalan semata.


Gita hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia pun mulai mengalihkan topik pembicaraan.


“Kamu kenapa samperin aku? Kamu butuh sesuatu?” Tanya Gita.

__ADS_1


“Enggak kok! Aku cuma jenuh aja seharian ini cuma duduk sama tiduran doang.” Keluh Zico.


“Ya mau gimana lagi, kaki kamu kan lagi sakit, sabar aja dulu, nanti kalau udah sembuh juga bisa jalan-jalan.” Ucap Gita yang tanpa sadar memegang tangan Zico.


“Kalau kaki aku udah nggak sakit kita ngedate ya? Okay?” tawar Zico.


“Iya iya!” Sahut Gita.


“Janji?” Zico memastikan.


“Iya Janji!” tegas Gita.


“Hoaaammm..” Gita mulai mengantuk, ia menguap sembari menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


“Kamu ngantuk?” tanya Zico.


“Hehe.. sedikit.” Jawab Gita memamerkan barisan gigi putihnya.


“Ya udah tidur di kasur aku ya? Biar aku disofa aja.” Pinta Zico mengusap lembut pipi Gita dengan ibu jarinya.


“Nggak usah Zico, aku bentar lagi juga pulang kok.. Oya, aku nanti pulang sama Sean lagi? Kasian dia nanti capek antar jemput aku terus, aku naik taksi aja ya?” Tanya Gita, ia merasa tidak enak hati dari kemarin sudah merepotkan Sean.


“No! Kamu pilih pulang sama Sean atau diantar pak wahyu? Cuma itu pilihan kamu, aku nggak bisa biarin kamu naik taksi, titik!” Tegas Zico tak mau dibantah, tentu dengan wajah dinginnya.


Zico tersenyum, ia benar-benar merasa gemas, ia mengecup pipi Gita sekilas.


"Cup"


Gita membelalakkan matanya, Wajah Gita seketika berubah merah benar-benar seperti kepiting rebus.


Sedangkan Zico membuang muka pura-pura melihat ke arah lain, mereka berdua jadi merasa canggung.


Tok… tok… tok…


Tiba-tiba Sean mengetuk pintu kamar Zico dan membuka pintunya sebelum dijawab Zico, ia masih dengan kebiasaannya, lupa kalau saat ini ada Gita juga dikamar Zico.


“Kebiasaan banget lo, kalau masuk nggak pernah ketuk pintu!” Ketus Zico.


“Lah gue kan udah ketuk pintu tadi, emang lo nggak denger?” kilah Sean.


“Gue kan belum jawab, Lo main masuk aja!” ketus Zico lagi.

__ADS_1


“Emang lo berdua lagi melakukan aktifitas yang nggak bisa diganggu ya?” Tanya Sean mengejek.


“Apa sih lo!” ketus Zico.


Lantas Sean melihat wajah Gita yang masih memerah dan mengejeknya, “Lo kenapa Git? Kok wajah lo merah begitu? Abis di apain hayo sama Zico?” Sean mengejek sambil nyengir seperti kuda.


Gita tidak menjawab, ia semakin menundukkan kepalanya, andai saja ada lubang di kamar Zico, ingin rasanya ia menenggelamkan kepalanya saat ini juga.


Zico menatap tajam pada Sean, akhirnya Sean pun mengganti topik.


“Gita, lo mau pulang jam berapa?” Tanya Sean.


Bukannya Gita yang menjawab malah Zico yang menjawabnya dan bertanya balik.


“Nanti malam aja! Kenapa lo nanya gitu? Lo pasti di ajak nongkrong ya sama Gilbert dan Keenan?”


“hehe.. iya, kok tahu sih?” Sahut Sean nyengir kuda.


“Mereka nggak ada niatan apa buat nengokin gue?” cebik Zico.


“Astaga! Gue lupa Zi belum kasih tahu mereka kalo lo kecelakaan.” Sean menepuk dahi nya, iya benar-benar lupa, karena saat disekolah mereka tidak bertemu karena pada jam istirahat Sean hanya tidur dikelas.


Zico menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Parah lo emang!”


“Sorry Zi, gue telpon mereka deh ya, biar mereka yang kesini aja?” Sean membutuhkan jawaban Zico, karena takutnya keberadaan mereka mengganggu pasangan baru ini.


“Ya udah terserah lo!” Sahut Zico.


“Yaudah gue main PS dulu ya dibawah, lo mau ikutan nggak? Emang nggak bete apa di kamar mulu?” ejek Sean.


“Ya bete lah, tapi mau gimana lagi.” Seru Zico.


“Ya udah, gue ke bawah ya! Gita gue ke bawah ya, silahkan bisa dilanjutkan aktifitasnya, ahahaha..” Sean tertawa terbahak-bahak sambil menutup pintu, ia ngeri akan di lempar sesuatu oleh Zico, dan benar saja, Zico yang kesal sekali pada Sean melempar ballpoint ke arah Sean, untungnya saja pintu sudah tertutup, jadi hanya mengenai daun pintu saja.


Gita mulai mengeluarkan suaranya, “Zico, kata Ibuku maximal jam 8 aku harus udah ada dirumah.”


“Ya udah nanti aku bilang Sean ya kamu pulang jam 7.” Ucap Zico sembari membelai rambut Gita.


Gita menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Oya, Maaf ya tadi aku cium pipi kamu tanpa izin.”


__ADS_2