First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Nyonya Muda William


__ADS_3

"Tapi, La. Mike harus tetap di hukum atas apa yang udah dia lakuin ke lo! Setidaknya kita cukup buat dia nggak bisa balik lagi ke negara ini!" tutur Zico. Walaupun ia berteman baik dengan Mike, namun ia tidak membenarkan perilaku Mike pada Yolla.


"Itu bener, Honey. Dia tetep harus dikasih pelajaran biar nggak ngulangin kesalahan yang sama," bujuk Sean menimpali sambil membelai rambut panjang Yolla.


"Ya udah terserah kalian aja deh. Tapi jangan bikin dia di penjara, ya," jawab Yolla.


"Ya udah, Sean. Ayo, kita urus dia," ajak Zico.


"Lho, Sayang. Kamu kan katanya mau meeting." Gita mengingatkan suaminya yang sedang emosi.


"Gampang, Sayang. Nanti bisa aku cancel," sahut Zico.


"Oh iya, Zi. Ini meeting sama klien penting. Dia nggak bisa di cancel, Zi. Kalo sekali kita cancel dia, nanti dia nggak akan mau nyediain waktunya lagi untuk perusahaan kita," terang Zico mengingatkan, "mana kita kan lagi butuh banget investasi buat dia di salah satu anak perusahaan William Groups yang di Bali itu," lanjut Sean.


"Ck ... ya udah deh. Lo bisa urus ini sendiri?" tanya Zico pada Sean.


"Bisalah! Gue kan udah biasa urus ginian. Tenang aja," jawab Sean.


"Sayang, kamu ikut aku ke kantor, yuk! Aku bete sendirian di kantor, lagian nanti meeting nya kan di luar. Kamu mau kan temenin aku?" ajak Zico pada Gita.


"Aku mau temenin Yolla, Sayang," tolak Gita.


"Udah nggak apa-apa, Git. Kan ada Sean. Gue tau pasti Zico tuh pengen pamerin istrinya yang cantik ini ke orang-orang," goda Yolla mulai terlihat tersenyum.


"Iya, Git. Udah ikut aja, Yolla ada gue kok yang jagain. Gue tau Zico risih sama sekretarisnya klien ini. Soalnya suka cari perhatian sama dia," ucap Sean menimpali.


"Bener itu, Sayang?" tanya Gita menoleh kepada suaminya yang tampan itu.


Zico menjawabnya hanya dengan menaikkan alisnya. Hingga Gita tersenyum dibuatnya.


"Ya udah, ayo!" ajak Zico mengulurkan tangannya mengajak Gita.


"Tunggu, Sayang. Masa aku begini doang, sih? Aku kan mau temenin kamu meeting, masa pakai pakaian santai kayak gini?"


"Udah nggak apa-apa, Sayang. Kamu tuh udah cantik banget. Kamu itu sekarang udah jadi Nyonya Muda William, nggak akan ada orang yang berani protes sama penampilan kamu, tenang aja," tutur Zico tersenyum membelai rambutnya.


"Dih, apa sih!" ketus Gita terlihat keberatan dengan julukan barunya.


"Lho, kenapa?" Zico terkekeh melihat istrinya cemberut.


"Aneh aja dengernya!" ketus Gita lagi dengan bibir yang mengerucut.


"Lah, memang bener, Sayang. Kan Nyonya besarnya Mommy, ya Nyonya muda nya kamu lah. Iya nggak, La?" terang Zico terkekeh sambil mencari dukungan dari Yolla.


"Iya, bener itu, Git," ucap Yolla menimpali.


Gita hanya memicingkan matanya bergiliran pada mereka berdua.


"Oh ya, lo pakai blazer gue aja, sebentar ya gue ambil dulu," tawar Yolla kemudian masuk ke dalam walk in closet nya dan mengambil blazer berwarna putih tulang, yang akan membuat penampilan Gita semakin cantik.


"Nih, lo double ini aja dressnya," ucap Yolla sambil menyodorkan blazer itu pada Gita.


Gita pun memakainya.


"Iya, Sayang. Udah gitu aja, udah kelihatan formal, kok," ucap Zico.


"Ya udah, ayo!" ajak Gita memeluk lengan sang suami.

__ADS_1


"La, tapi beneran lo nggak apa-apa gue tinggal?" tanya Gita lagi, merasa tidak enak pada Yolla.


"Nggak apa-apa, Git," jawab Yolla tersenyum.


"Beneran?"


"Iya!"


"Ya udah kalo gitu. Sean, gue titip Yolla, ya!"


"Nggak perlu diminta juga pasti gue jagain, Bu Boss," sahut Sean menaik-naikkan alisnya.


"Dih apa sih! Ah, kalian aneh-aneh!" ketus Gita salah tingkah, kemudian menghampiri Yolla memeluknya dan pergi meninggalkan unit apartemen Yolla sambil memeluk lengan Zico.


"Sayang, kamu apa nggak ada niatan jadiin Sean direktur atau apa gitu? Masa dia cuma jadi sekretaris kamu terus, sih?" tanya Gita sambil berjalan ke basemen tempat Zico memarkirkan mobilnya.


"Tenang aja, Sayang. Sebentar lagi direktur marketing bakal pensiun, jadi rencananya aku bakal tempatin Sean di posisi itu nanti. Nggak mungkin lah selamanya dia aku jadiin sekretaris doang, kan ayahnya dia punya saham juga di perusahaan kita," jelas Zico.


"Oh gitu, syukur deh," jawab Gita tersenyum.


Mereka yang sudah berada di basemen parkir pun segera masuk ke mobil Zico dan Zico pun mulai melajukan mobilnya menuju ke perusahaannya untuk mengambil beberapa dokumen yang di perlukan untuk meeting.


Salah satu sekretaris Zico pun ikut meeting bersama mereka. Dia adalah seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan. Zico sengaja mencari yang sudah berumur matang, karena ia tidak suka jika sekretaris nya masih muda dan berusaha mencari-cari perhatian padanya. Ia sangat tidak menyukai para gadis yang kecentilan terhadapnya.


Setelah tiba di salah satu restoran milik William Groups, mereka pun sudah berada di dalam ruang privat yang berada di restoran itu. Lima belas menit berselang, klien mereka pun tiba di ruangan itu.


"Selamat siang, Tuan Aryo Adhinata," sapa Zico seketika berdiri menyambut kedatangan kliennya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria paruh baya yang terlihat awet muda itu.


"Selamat siang, Tuan Zico," sahut Aryo.


Mendengar nama belakang Adhinata membuat Gita terperangah. Ia terus memandangi wajah Aryo. Karena mendengar nama itu membuat Gita teringat akan sang ayah.


"Oh iya, ini istri saya, Tuan ... Sayang, kenalin ini salah satu klien perusahaan kita, Tuan Aryo," ucap Zico pada Gita sambil merangkul bahu sang istri.


"Om Aryo?" ucap Gita tiba-tiba sambil  menatap lekat wajah Aryo Adhinata.


"Om? Apa kamu mengenal saya sebelumnya?" tanya Aryo bingung.


"Aku Gita, Om. Gita Adhinata. Aku anak Almarhum David Adhinata, sepupu Om," tutur Gita dengan netranya yang mengembun.


Begitu terkejutnya ia, karena saudara sepupu sang ayah yang ia cari saat ia memutuskan untuk kabur ke London, ternyata ada di Indonesia dan ada di hadapannya saat ini. Pantas saja ia sulit menemukan keberadaannya saat di London.


"What's? Serius kamu anak David?" tanya Aryo memastikan.


"Iya, Om. Aku anak Ayah David," sahut Gita menitihkan air matanya.


"Ya Tuhan ... Selama ini Om cari kamu sama ibu kamu di Kalimantan, karena yang Om tahu, sebelum ayahmu wafat, kalian tinggal di Kalimantan, 'kan?"


"Iya, Om. Memang dulu kita tinggal di Kalimantan, tapi setelah kepergian ayah, aku dan Ibu memutuskan untuk kembali ke Jakarta," jelas Gita.


"Oh, begitu. Pantas saja Om cari kalian ke mana-mana tapi tidak ada hasil ... Oh ya, lalu bagaimana kabar ibumu?"


"Ibu sudah lama meninggal, Om," jawab Gita tersenyum namun sambil menitihkan air matanya namun secepatnya ia seka air mata yang membasahi pipinya itu.


"Maaf, Sayang. Om tidak tau ... jadi, selama ini kamu tidak memiliki family sama sekali?"


Gita hanya menggelengkan lemah sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo duduk!" kata Aryo mempersilakan Gita dan Zico untuk duduk.


Zico yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka pun tersenyum, ia senang karena ternyata Gita tidak benar-benar sendiri. Masih ada seorang paman yang di miliki Gita.


Setelah mereka duduk di kursinya masing-masing, Aryo pun melanjutkan percakapannya.


"Om tidak menyangka ternyata Nyonya Muda William adalah keponakan Om sendiri," tutur Om Aryo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi Tuan Aryo ini Om yang katanya kamu cari di london itu, Sayang?" tanya Zico pada Gita.


"Iya, Sayang. Ini Om Aryo yang aku cari-cari," jawab Gita.


"Jadi kamu cari Om ke London?" kaget Aryo.


"Iya, Om. Waktu itu aku nekat pergi ke London untuk menemui Om. Aku mempunyai alamat Om dari buku catatan milik ibu. Tapi ternyata saat aku mendatangi alamat itu, Om sudah tidak tinggal di sana," jelas Gita.


"Ooh, Om memang sudah tidak tinggal di situ, Sayang. Itu alamat sudah lama sekali. Bahkan sebelum ayahmu wafat pun, Om sudah tidak tinggal di alamat itu lagi. Om sudah menetap di Bali sejak lima belas tahun terakhir," imbuh Om Aryo.


"Om tidak menyangka kita akan bertemu di sini. Untung saja Anda membawanya Tuan Zico."


"Ah, jangan panggil seperti itu lagi, Om. Panggil Zico saja. Om kan pamannya Gita, berarti kan paman saya juga," tutur Zico sambil tersenyum.


"Oh, Baiklah, Zico," jawab Om Aryo terkekeh.


"Oh ya, kapan pesta resepsi kalian akan di gelar?" tanya Om Aryo.


"Hari minggu besok, Om. Om bisa datang, 'kan?" tanya Gita dengan raut wajah penuh harap.


"Oh, tentu saja. Om pasti akan datang!"


Mereka pun berbincang panjang lebar, Gita menceritakan semua kejadian yang menimpa orangtuanya, Zico pun ikut menjelaskan tentang penyelidikannya atas kasus Malpraktek David Adhinata. Mendengar itu, Aryo pun akan membantu proses penyelidikannya.


Setelah selesai membicarakan tentang kehidupan Gita. Zico dan Om Aryo akhirnya membicarakan bisnis mereka. Meeting yang harusnya selesai dalam waktu satu jam, berakhir menjadi empat jam lamanya karena pertemuan yang tidak terduga antara seorang paman dan keponakannya.


Saat ini sudah pukul tiga sore, mereka pun kembali ke kediamannya masing-masing. Tentunya Om Aryo pun mengajak Gita dan Zico untuk berkunjung ke rumahnya. Namun, Gita mengatakan jika ia akan berkunjung setelah resepsi pernikahannya nanti. Ia berencana akan mengunjungi Om nya itu dengan membawa serta kedua buah hatinya, Zayn dan Zefa.


Gita sangat bahagia karena akhirnya ia telah bertemu dengan pamannya yang selama ini ia cari. Ia tak menyangka jika pamannya itu ternyata sudah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan yang ia rintis dari nol.


Karena keluarga Adhinata bukanlah keluarga terpandang seperti keluarga William. Mereka berasal dari keluarga sederhana yang tidak begitu mapan, hanya saja gen di keluarga mereka memang mempunyai IQ di atas rata-rata.


Gita tak sabar ingin sekali bertemu dengan anak Om Aryo, yaitu Bryan  Adhinata.


Dulu Gita begitu menyayangi Bryan yang sudah seperti adik kandungnya sendiri. Bryan begitu manja pada Gita. Ia tidak sabar ingin sekali bertemu dengan adik kecilnya itu. Namun, karena Gita sudah terlalu lama meninggalkan kedua buah hatinya bersama mommy Celine dan kedua baby sitter nya begitu lama, ia pun merasa tidak enak jika harus mampir terlebih dahulu ke kediaman sang paman.


Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya karena kemacetan jakarta yang hakiki, akhirnya mereka pun tiba di mansion kediaman keluarga Austin William.


"Mom, maaf ya Gita lama keluarnya, Zico tadi minta di temenin meeting, jadinya lama," terang Gita pada mommy Celine yang sekarang sudah berubah status menjadi mertuanya.


"Tapi bersyukur kan ikut aku meeting, kamu jadi bisa ketemu Om kamu," tutur Zico.


"Hehe, iya sih," jawab Gita menunjukkan barisan gigi putihnya.


"Om? Om siapa?" tanya mommy Celine bingung.


"Om Aryo, Mom. Beliau itu sepupunya Ayah, waktu Gita kabur ke London Gita cari beliau, eh ternyata beliau udah lama pindah ke Bali, tadi kita nggak sengaja ketemu, ternyata beliau itu klien yang tadi Zico temui. Untung saja Gita ikut, Mom. Kalau nggak ikut, Gita belum tentu bisa ketemu sama Om Aryo," jelas Gita panjang lebar.


"Oh gitu, Mommy ikut seneng dengernya, Sayang," ucap mommy Celine tersenyum sambil membelai pipi Gita. Ia ikut bahagia melihat menantu kesayangannya itu terlihat begitu bahagia karena pertemuannya dengan paman yang selama ini di carinya.

__ADS_1


"Oh ya, Sayang. Kebetulan kamu sudah bertemu Om kamu, gimana kalau nanti pas resepsi, yang dampingi kamu beliau aja?" tanya mommy Celine memberikan pendapatnya.


"Oh iya ya, Mom. Ya udah deh nanti Gita telfon beliau," jawab Gita terlihat antusias.


__ADS_2