First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Belum Sah


__ADS_3

"Nanti sebelum flight lo periksa dulu ya ke dokter kandungan, untuk memastikan aja kalau kandungan lo kuat untuk flight lagi," pesan Gita pada Nadhira.


"Okay, Nyonya William," jawab Nadhira.


"Ih, apaan sih!" gerutu Gita.


Nadhira terkekeh, "Lo harus terbiasa sama panggilan itu lah, Git," cetusnya. "Oh ya, lo udah nggak kerja, 'kan?" tanya Nadhira.


Gita menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sendu.


"Kenapa? Zico ngelarang?" tanya Nadhira penasaran.


"Waktu Zico koma gue nggak sanggup ninggalin dia sendirian, jadi gue mutusin buat berhenti kerja. Sekarang jadi pengangguran, deh. Gatal banget rasanya gue pengen kerja lagi," ujar Gita.


"Oh, terus kenapa nggak coba lagi aja?" tanya Nadhira.


"Belum dapet izin dari suami, kok," sahut Gita menyindir Zico.


"Bukannya nggak ngizinin, Sayang. Aku cuma mau habisin banyak waktu sama kamu dulu. Kita itu terpisah jarak yang begitu jauh selama enam tahun, lho! Sekarang di saat kita udah bersatu kayak gini, masa iya kita jarang punya waktu berdua dan malah sibuk dengan kegiatan masing-masing?" tutur Zico.


"Iya bener tuh kata Zico, Git. Nikmatin dulu aja masa-masa pengantin baru kalian," ucap Giselle yang baru saja tiba di meja mereka.


"Sel!" Gita seketika berdiri dan memeluk erat Giselle.


"Kamu kok lama banget? Oh ya, suami kamu mana? Kok anak kamu di gendong Sean?" tanya Gita setelah menyadari tak ada suami Giselle di sana.


"Suami aku lagi ambil stroller buat nidurin Nasya, biar pas kita makan dia tidur di stroller dulu," jawab Giselle.


"Biar tidur di hotel aja kali, Sel. Nanti biar aku minta Susternya Zayn buat jagain Nasya," tawar Gita.


"Enggak usah, Git. Dia agak susah sama orang yang belum kenal, yang ada nanti pas dia kebangun dia nangis-nangis kejer kalo nggak ada aku atau ayahnya," tolak Giselle, karena memang anaknya agak susah bertemu dengan orang baru, tadi saja saat di pesta resepsi Zico dan Gita, Nasya tidak mau lepas dari gendongan Giselle dan Bimo karena terlalu banyak orang. Sekarang saja, kalau bukan karena sedang tertidur lelap, pasti Nasya akan menolak di gendong oleh Sean.


"Itu sama Sean dia mau, Sel," cetus Nadhira.


"Kan karena lagi tidur, Ra," sahut Giselle pada Nadhira.

__ADS_1


"Sini, Sean. Biar aku aja," ucap Giselle yang sudah duduk di kursi lalu menengadahkan tangannya meminta Nasya agar dipangkunya saja.


Sean pun memberikannya pada Giselle.


Mereka pun sudah berkumpul di sebuah meja bundar yang besar, di mana di sana ada Zico, Gita, Kenzo, Naura, Yolla, Sean, Alex, Nadhira dan juga Giselle. Sedangkan suami Giselle masih belum tiba. Sepuluh menit berselang baru lah Bimo tiba di sana.


"Maaf ya saya telat," ucap Bimo merasa tidak enak hati karena mereka semua ternyata menunggu Bimo untuk memulai makan malamnya.


"Enggak apa-apa, kitanya juga lagi pada keasyikan ngobrol kok," sahut Alex, sedang yang lain hanya tersenyum.


Mereka pun memulai makan malamnya sambil berbincang hingga jam sepuluh malam. Setelah selesai mereka pergi ke hotel yang sudah di booking oleh Zico dan Gita. Mereka semua yang sudah berpasangan sah masuk ke dalam kamarnya masing-masing dengan pasangannya, berbeda dengan Yolla dan Sean yang harus tidur di kamar terpisah. Sedangkan Kenzo dan Naura tidak menginap di hotel itu, mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Kenzo mengantar Naura pulang sebelum kembali ke rumahnya.


"Aku iri sama mereka, Han. Mereka berpasangan, kita doang yang pisah kamar, ya?" keluh Yolla mengerucutkan bibirnya.


"Makanya mama papa kamu suru cepetan pulang, aku juga nggak sabar pengen cepet-cepet kita nikah, Sayang," jawab Sean yang masih berdiri di depan pintu kamar Yolla.


"Mereka buat alasan mulu setiap aku minta pulang, Han. Kesal banget aku," gerutu Yolla.


"Alasannya apa, Sayang?" tanya Sean tersenyum menatap sang kekasih yang sedang menggerutu.


"Terus kamu udah cerita tentang kita belum?"


"Belum lah, Han. Aku bingung harus mulai dari mana ceritanya, sedangkan yang mereka tau aku kan pacaran sama dia bukan sama kamu. Selama ini mereka tanya terus kapan aku nikah sama dia, terus kalo tiba-tiba sekarang aku bilang mau nikah sama kamu, pasti mereka kaget banget," keluh Yolla.


"Ya justru harus dibuat kaget biar cepet pulang. Pasti kan mereka penasaran, Sayang," ucap Sean terkekeh pelan.


"Eh, Sayang. Masuk dulu yuk sebentar, temenin aku ngobrol, aku belum ngantuk. Nanti kalo aku udah ngantuk baru deh kamu pindah ke kamar kamu," ajak Yolla.


Sean menelan salivanya dengan berat. Ia takut kehilangan kontrol jika harus berduaan di kamar dengan Yolla. Tapi ia juga tak bisa menolak permintaannya. Ia hanya mengangguk kecil kemudian masuk ke kamar yang pintunya sudah dibuka lebar oleh Yolla.


Mereka duduk berdampingan di sofa, namun kemudian tiba-tiba Yolla berbaring dan meletakkan kepalanya di atas paha Sean. Lagi-lagi Sean menelan salivanya dengan berat, jantungnya mulai bergemuruh karena gairahnya yang mulai meningkat di dalam tubuhnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan mengibaskan kerah bajunya seperti orang kegerahan.


Yolla pun mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah Sean yang terlihat tidak tenang.


"Han, kamu kenapa? Gerah?" tanya Yolla polos. Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang sedang dirasakan pria yang dicintainya itu.

__ADS_1


"Eng ... enggak, Sayang. Aku nggak apa-apa, kok. Eumm ... aku mau minum air putih dingin dong, Sayang," pinta Sean.


"Oh, kamu haus? Bilang dong. Tunggu sebentar ya aku ambilin," tutur Yolla terkekeh, kemudian bangkit dari paha Sean dan beranjak ke arah lemari es kecil yang ada di sana. Yolla pun mengambil satu botol air mineral dingin yang sudah disediakan pihak hotel di dalam lemari es kecil itu.


"Ini, Han," ucap Yolla sembari menyodorkan botol air mineral itu pada Sean.


Sean pun meraihnya dan kemudian menenggaknya sekaligus hingga habis. Melihat itu Yolla kembali terkekeh. "Han, segitu hausnya apa kamu sampe langsung habis gitu?" goda Yolla.


"Iya, aku haus banget, Sayang," jawab Sean.


Yolla kembali duduk di samping Sean dan menyandarkan kepalanya pada bahu Sean.


"Han, aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Yolla.


"Tanya apa, Sayang?" jawab Sean.


"Memang bener ya kamu nggak pernah cium bibir Giselle?" tanya Yolla sambil menolehkan kepalanya menatap wajah Sean yang juga sedang menatapnya.


"Kamu tau dari mana?" tanya Sean menyatukan alisnya.


"Tau dari Giselle, lah. Kan tadi aku abis ngobrol sama dia. Jadi itu bener, Han?" jawab Yolla kemudian bertanya lagi.


"Kalian ngobrolin hal kayak gitu tadi? Kok bisa?" tanya Sean lagi, ia merasa heran, kenapa obrolan di antara dua wanita itu malah membahas mengenai hal-hal seperti itu.


Kemudian Yolla pun menceritakan semuanya pada Sean tentang pembicaraannya dengan Giselle.


"Oh, gitu," jawab Sean setelah mendengar penjelasan dari Yolla.


Ingin rasanya Yolla mendengar penjelasan dari Sean tentang kenapa jika dengan dirinya sering sekali mencium bibirnya, bahkan bisa dikatakan seperti kecanduan dengan bibirnya.


Yolla yang sedang mengantuk pun tertidur di bahu Sean. Menyadari itu Sean pun menggendong Yolla dan meletakkannya di atas ranjang, kemudian kembali ke kamarnya.


***


Keesokan paginya mereka pun menyempatkan sarapan bersama di restoran yang berada di hotel itu, kemudian Giselle beserta suami dan anaknya segera kembali ke tempat tinggalnya. Alex dan Nadhira kembali ke kediaman orang tua Alex, sedangkan Yolla dan Sean mengantarkan Zico dan Gita ke bandara.

__ADS_1


__ADS_2