First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Yolla Mengamuk


__ADS_3

"Stop it, La. Please!" ucap Gita tegas.


"Lo tau kan, Git? Gue tuh benci banget sama dia, Kenapa lo malah ajak dia ke sini?" sungut Yolla. Ia benar-benar tak mengerti dengan pikiran Gita. Mengapa harus bawa Zico ke kantornya, sudah jelas Yolla sangat merasa kesal pada Zico.


"Maaf ... bisa tolong tinggalkan kami?" pinta Gita tersenyum ramah pada Mika. Ia tidak ingin orang luar mengetahui tentang pertengkaran mereka.


"Baik!" sahut Mika, kemudian keluar dari ruangan Yolla.


Yolla masih melirik Zico sinis dengan tatapan kebencian, Zico pun yang katanya ingin meminta maaf pada Yolla malah melirik cuek tidak perduli. Gita menatap mereka berdua bergantian kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Zi, kamu bilang kamu mau ikut ke sini karena mau minta sama Yolla, kan? Ya udah cepetan minta maaf sekarang," tegur Gita menatap kesal pada Zico. Sedangkan Zico hanya diam saja tetap belum memulai meminta maaf pada Yolla.


"Zi!" tegur Gita lagi.


"Iya, Maaf!" sahut Zico singkat yang entah meminta maaf pada siapa.


"Lho? Kok gitu doang? Kamu minta maaf sama siapa itu?" hardik Gita memicingkan matanya pada Zico yang sedang duduk di sofa sambil membuka-buka majalah bisnis yang ada di meja tamu di ruangan Yolla.


"Ya sama dia lah," sahut Zico lagi masih berpura-pura membaca majalah, membuat Gita mendengus kesal.


"Udahlah, Git. Orang egois kaya dia mana mau sih minta maaf! Lo bawa pergi aja dia dari sini. Muak gue liat dia! Lagian lo semudah itu maafin orang kaya dia! Cinta boleh, bodoh jangan, Git!" hardik Yolla pada Gita sambil duduk di kursinya.


"Maksud lo apa? Lo bilang Gita bodoh?" sahut Zico menatap nyalang pada Yolla.


"Iya! Dia tuh bodoh karena terlalu cinta sama lo! Padahal mending sama Kenzo daripada sama cowok egois macem lo!" cibir Yolla pada Zico.


Mendengar ucapan Yolla membuat Zico seketika berdiri dan membanting majalah yang sedang dipegangnya ke atas meja.


Gita yang menyadari Zico yang sedang emosi pun segera menghalangi Zico yang ingin menghampiri Yolla, ia peluk erat tubuh Zico.


"Sayang, tolong dong, kamu jangan dengerin Yolla, ya? Dia kan lagi emosi. Kamu minta maaf aja sama dia biar masalahnya cepet selesai, okay?" bujuk Gita berbisik sambil mendongakkan wajahnya pada wajah tampan Zico dan menatapnya penuh harap.

__ADS_1


Zico menghembuskan nafas panjang, tatapan Gita tak dapat ditolaknya sama sekali. Ia lepaskan pelukannya perlahan dan berjalan perlahan mendekati meja kerja Yolla.


"Mau apa lo? Mau ngehajar gue?" tanya Yolla menyolot.


Zico seketika berlutut di hadapan Yolla. Sontak membuat Yolla dan Gita membelalakkan matanya. Mereka tak menyangka, seorang Zico yang gengsinya tinggi bisa berlutut seperti itu di hadapan Yolla hanya untuk meminta maaf.


"Gue minta maaf, La ... gue tau kata-kata gue tempo hari emang udah keterlaluan banget. Sampai detik ini pun gue selalu nyesel kalo udah inget kata-kata gue hari itu, La. Gue terlalu cinta sama Gita, gue nggak rela liat dia sama orang lain, La," tutur Zico panjang lebar.


Yolla hanya diam termenung, ia memang tahu betul seberapa besar cinta Zico pada Gita. Karena hampir setiap hari dia menanyakan kabar tentang keberadaan Gita pada Mike, walaupun hanya melalui pesan singkat.


Apalagi Nadhira sering sekali mengirim video Zico saat sedang mabuk. Zico selalu meracau memanggil manggil nama Gita.


Yolla yang sekeras batu pun mulai luluh, bahkan ia menitihkan air mata yang kemudian dengan cepat ia menyekanya.


"Zi! Lo tau kan seberapa sayang gue sama Gita? Gue nggak rela kalo ada yang ngehina dia, Zi. Dia udah cukup kesulitan selama ini menjalani hidupnya sendiri dengan dua orang anak. Dia melewati masa kehamilan, melahirkan, dan membesarkan Zayn dan Zefa tanpa lo! Dan lo udah tau 'kan? Bahkan alasan dia meninggalkan lo itu demi lo, Zi. Demi lo!" terang Yolla dengan bulir bening yang terus tumpah membasahi pipinya.


Gita pun ikut menangis dibuatnya. Bahkan Zico juga menitihkan air matanya. Kata-kata Yolla benar-benar menusuk di relung hatinya. Membuat perasaan bersalahnya kian membesar. Ia hanya bisa terdiam, tak mampu membalas perkataan Yolla.


"Dan lo tau, Zi? Di saat Zefa menanyakan tentang Daddy-nya, Gita nggak pernah bisa jawab pertanyaan Zefa, dia cuma bisa ngurung diri dan menangis semalaman di kamarnya. Selalu kaya gitu, Zi ... terus di saat dia nggak sengaja liat video lo lagi mabuk yang di kirimin Nadhira ke gue, dia sampe kehilangan akal, Zi. Dia nangis meraung-raung di kamar mandi sampe pingsan, dia ngerasa bersalah banget udah buat lo kaya gitu! Badan dia sampe kurus kering karena dia nahan rindunya sama lo, dia nggak mau makan sama sekali selama 2 hari setelah liat video lo lagi mabuk, Zi. Sampe gue bawa dia terapi ke psikiater Zi buat sembuhin luka batinnya. Dia ..." imbuhnya lagi panjang lebar, namun segera di hentikan oleh Gita.


Zico menatapnya sendu dan memeluk Gita begitu erat.


"Maafin aku!" ucapnya sambil terisak di pelukan Gita. Zico merasa, berapa kali pun ia meminta maaf pada Gita, rasanya tidak akan pernah cukup.


Gita mencoba mengulas senyumnya, walaupun air matanya tetap meluncur di pipinya.


"Zi, itu semua sudah berlalu. Forget all that, Okay?" ucap Gita sambil mengusap-usap punggung Zico.


Setelah Zico dan Yolla lebih tenang, Yolla pun sudah mulai memaafkan Zico. Mereka berbincang dan bersenda gurau di ruangan Yolla. Mendadak ada suara ketukan pintu.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Masuk!" sahut Yolla setengah teriak.


Mika pun mendorong pintu kaca itu, "Maaf, Bu! Ada tamu ingin bertemu Tuan Zico," tutur Mika tersenyum merekah, seperti sedang berbunga-bunga. Yolla yang menyadari itu pun menjadi penasaran. Ia mengernyitkan dahi.


"Siapa tamunya? Kok kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Yolla sambil menyesap kopi yang di suguhkan Mika.


"Hehe ... Itu, Bu ... sekretaris Pak Zico," jawab Mika menahan senyumnya.


Siapa yang tak mengenal Sean? Ia adalah sosok yang selalu berada di sisi Zico ke manapun Zico pergi. Bukan hanya Zico yang mendapatkan julukan CEO tertampan, Sean pun mendapatkan julukan Sekretaris Eksekutif tertampan. Mereka berdua terkenal di kalangan para staff-staff perkantoran. Para gadis sangat mengagumi mereka berdua, tidak sedikit dari mereka berkhayal menjadi pasangan dua cogan tersebut.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Mendengar jawaban Mika membuat Yolla tersedak kopi yang sedang disesapnya.


"La, lo nggak apa-apa? Pelan-pelan dong minumnya, Kok bisa sampai kesedak gitu sih? Kaya Zefa aja," omel Gita sambil memberikan tissue pada Yolla.


"Taauuuu ... cuma denger ada sekretaris gue aja langsung keselek gitu ... Jangan-jangan lo masih ...."


"Apa sih lo? Nggak jelas!" cebik Yolla jutek, Zico belum selesai bicara Yolla sudah berkilah, kemudian kembali ke meja kerjanya.


Mika dan Gita hanya mengerjapkan matanya tar mengerti akan maksud perkataan Zico dan Yolla. Zico yang melihat Mika hanya diam mematung, segera menegurnya.


"Tolong suru masuk, ya!" titah Zico pada Mika dengan nada datar dan dingin. Padahal baru saja ia tersenyum saat menggoda Yolla tadi.


"Baik, Pak," jawab Mika, kemudian keluar menemui Sean dan mempersilahkannya masuk ke ruangan Yolla.


Sean pun melirik Yolla sambil berjalan menghampiri Zico yang sedak duduk dengan Gita di sofa double. Namun Yolla berpura-pura fokus pada dokumen-dokumennya.


"Duduk dulu!" Zico memintanya duduk di sofa single.


Zico segera menandatangani dokumen-dokumen yang di bawa Sean. Sembari menunggu Zico menandatangani dokumennya, Sean terus melirik-lirik ke arah Yolla.

__ADS_1


Hingga Gita yang sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya pun menyadari gelagat aneh Sean dan Yolla. Karena gelagat Yolla pun terlihat sama anehnya dengan Sean.


"Mereka berdua sebenernya kenapa, sih?" batin Gita.


__ADS_2