
Saat membuka Video itu, hati Gita terasa sakit sekali seperti tertancap ribuan duri yang menusuk-nusuk relung hatinya. Nafasnya tiba-tiba saja terasa sangat sesak.
Bagaimana tidak? Di video itu terlihat jelas kalau Zico sedang berbaring telan jang da da di atas ranjang bersama Priscilla berbalutkan selimut, wanita yang dulu pernah mengurungnya di toilet saat SMA. Zico terlihat tertidur lelap sambil memeluk Priscilla.
Ingin sekali rasanya ia menampar Zico saat itu juga, tapi ia tak sanggup melakukan itu pada Zico, karena Gita sangat mencintainya, ia tak sanggup berbuat kasar kepadanya, terlebih lagi Zico selama ini selalu memperlakukannya dengan lembut.
Ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenaran akan video itu.
Menyadari raut wajah Gita yang tiba-tiba saja berubah saat membuka ponselnya.
Zico pun penasaran dan bertanya padanya, "Sayang, kamu kenapa? Itu pesan dari siapa?" selidik Zico yang penasaran kenapa raut wajah Gita tiba-tiba berubah seperti itu.
"Enggak ... Aku nggak apa-apa ... Zi, Maaf, aku harus pulang!"
__ADS_1
"Lho? Kenapa pulang? Kamu kenapa, sih? Siapa yang tadi kirim pesan ke kamu?"
"Bukan siapa-siapa, kok," kilah Gita sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Zico lagi dengan wajah paniknya.
"Aku pulang dulu, Zi!" pamit Gita tanpa menjawab pertanyaan Zico dan berlalu begitu saja.
Zico pun mengeluarkan dompetnya dan menaruh beberapa 8 lembar uang seratus ribuan di atas meja dan berlari mengejar Gita, kemudian ia menghalangi jalan Gita dan menggenggam jemari Gita, "Sayang, aku antar kamu pulang, ya?"
"Nggak, Zi. Aku bisa pulang sendiri, kok!" tolaknya.
"Enggak! Aku nggak bisa biarin kamu pulang sendiri! ini udah malam, Gita!" sentak Zico sambil menarik pergelangan tangan Gita, ia merasa sangat kesal menghadapi sikap Gita yang tiba-tiba berubah seperti itu, terlebih lagi ia sedang merasa lelah karena aktivitasnya yang padat belakangan ini.
__ADS_1
'Kamu bahkan sekarang tega membentak aku, Zi! Apa karena sekarang bukan cuma aku yang ada di hati kamu?' Air mata yang sedari ditahannya pun mengalir begitu saja di pipinya karena sentakan Zico, namun dengan cepat ia hapus dengan kasar air matanya dengan satu tangannya.
"Lepasin Aku, Zico!!!" jerit Gita saat di depan pintu restoran. Sampai membuat semua orang yang ada di sekitarnya pun menatap ke arah mereka.
Saat Zico melepaskan pergelangan tangannya karena jeritannya, Gita pun berlari dan segera menaiki taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan restoran itu.
Akhirnya rasa sesak yang sedari tadi ia tahan pun sudah tak sanggup terbendung lagi, air matanya akhirnya pun meleleh lagi ketika Gita di dalam taksi.
Sedangkan Zico masih berdiri mematung ditempatnya berdiri tadi sambil terus menatap taksi yang ditumpangi Gita.
'Kamu kenapa, sih? Kenapa kamu sampai teriak seperti itu ke aku, apa salah aku, Gita?' batin Zico. Ia tak mengerti apa yang membuat Gita sampai menjerit seperti itu, ia tak sadar kalau tadi dirinya sempat agak menyentaknya.
Zico pun memilih membiarkan Gita untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu, karena jika disusulnya sekarang pun tidak akan membuat kemarahan Gita mereda begitu saja. Apalagi tubuhnya pun merasa sangat lelah hari ini, ia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya di mansionnya.
__ADS_1
Ia memutuskan untuk membujuk Gita besok pagi-pagi saja sekalian mengantarnya ke kampus, karena kemarin Gita sempat bilang akan ke kampus karena ada beberapa hal yang perlu di urus.